
Bik Mumun menyiapkan sayuran yang akan di masak sebagai sarapan untuk para majikannya kali ini. Setelah libur kemarin, dia datang lebih pagi dari biasanya.
Di tambah lagi, ia membawa oleh-oleh yang dia bawa dari kampung mertuanya. Tak lupa, perempuan berbadan gempal itu menyiapkan untuk majikannya itu.
"Lho, bik Mumun pagi sekali?", tanya Sekar sambil mengikat rambutnya.
"Iya bu, tadi beres Solat sibuk bibik langsung ke sini."
"Kenapa atuh pagi-pagi sekali?", tanya Sekar yang mengambil gelas untuk meminum air putih.
"Ya kan kemarin teh saya ngga kerja Bu. Atuh ngga apa-apa dong kalo bibik teh sekarang lagian datangnya."
Sekar menggeleng dan tersenyum tipis.
"Ngga harus seperti itu juga bik Mumun. Bik Mumun kan juga punya kehidupan pribadi. Jangan malah mengutamakan kepentingan orang lain."
"Bagi bibik teh, keluarga ibu udah kaya keluarga bibik sendiri", kata Mumun.
"Ya sudah, baiknya menurut bibik aja gimana."
"Oh iya saya udah masak nasi Bu, tinggal goreng ayam sama bikin tumis kangkung. Ih....meuni kangen sama si adek. Betah mereunan ya di rumah Papanya."
"Huum, saya juga kangen adek bik. Tapi...ya gimana, papanya juga pengen dekat sama Syam. Bibik tahu sendiri kan apa yang terjadi dengan saya dan Syam."
Terdengar helaan nafas dari Sekar. Bik Mumun meraih tangan Sekar.
"Maaf atuh Bu, bibik teh malah bahas seperti itu. Jadi bikin ibu sedih!", kata Mumun merasa bersalah.
"Ngga apa-apa Bik."
"Tapi...bibik sekarang bersyukur banget. Ibu teh sudah menikah. Wajah ibu juga terlihat lebih bahagia akhir-akhir ini. Alhamdulillah, bibik teh senang banget Bu. Insyaallah, pak Salim bisa membahagiakan ibu dan keluarga ini."
Mumun mulai belajar memanggil Salim dengan sebutan bapak, meski agak sulit karena terbiasa memanggil nya mang Salim.
"Mama ya bik Mumun!", Sekat mengusap bahu artnya yang sudah ia anggap saudara sendiri.
"Ada apa ini, tumben pakai rangkulan begitu?", tanya Salim yang sepertinya baru pulang solat jamaah di mushola dengan Lingga. Karena terlihat Lingga menyusul Salim ke dapur.
"Ngga ada apa-apa Bah. Ini...ibu cuma bilang, bibik pagi bener udah datang", jawab Sekar.
"Bik Mumun kenapa pagi banget datangnya?" tanya Lingga sambil duduk mengambil gelas lalu mengisi air putih.
"Pengen aja den ya elah, ngga boleh banget sih!", canda Mumun pada majikannya yang selama ini memberi ia gaji.
"Kalo bisa tiap hari aja bik!", Lingga membalas candaan art nya tersebut.
"Astaghfirullahaladzim! Serius den?!", tanya Mumun mendekati Lingga dengan wajah penasaran. Lingga sampai memundurkan kepalanya menatap heran perempuan gempal itu.
"Nyak henteu atuh bik!", kata Lingga yang masih belum mahir juga bahasa daerah istrinya itu.
"Oh, kirain...", kata Mumun lega.
"Ya udah bik, ayo masak deh! Biar mereka ngobrol aja!", ajak Sekar pada Mumun.
"Siap nyonya!", kata Mumun.
Kedua perempuan itu pun menyingkirkan diri dari Salim dan Lingga.
"Oh iya bang, semalam ibu sama Abah udah ngobrol!", kata Salim membuka percakapan.
"Ngobrol apa bah?"
"Soal kalian yang mau bangun rumah di samping."
"Oh...terus, menurut ibu gimana?", tanya Lingga.
"Ibu setuju saja bang."
"Alhamdulillah. Jadi tenang kan kalo udah di setujui sama ibu."
"Iya bang, ibu justru senang kalo kalian tidak jauh-jauh dari ibu. Meski sebenarnya...Abah juga pengen bangun rumah sendiri bang. Tapi ... seperti yang sudah-sudah, nanti malah menimbulkan masalah."
__ADS_1
"Bah, lingga paham seperti apa perasaan Abah karena Lingga sendiri mengalaminya. Tapi maaf, bukan maksud Lingga menggurui. Sebagai anak, kami yang lebih muda tentunya yang jauh lebih baik untuk mandiri. Bukan berati Abah...maaf...menumpang hidup di rumah ini, bukan! Tapi yang Abah lakukan adalah yang terbaik bagi semuanya."
Salim mengangguk mengerti. Apa yang menantunya katakan memang benar. Dia tidak boleh egois hanya karena merasa tak punya harga diri.
"Bagaimana sama tempat yang mau Abah sewa?"
"Tuan...eh... maksudnya mas Arya bilang akan membantu Abah untuk membukanya. Sepertinya papa kamu tertarik untuk mencoba usaha kecil seperti itu."
"Oh ya? Papa tertarik? Tertarik yang bagaimana?", tanya Lingga antusias.
"Mas Arya yang memberi ide apa-apa yang akan Abah jual. Konsepnya, warung sembako itu seperti swalayan yang menyediakan barang kebutuhan sehari-hari dan juga sayuran mayur."
Lingga mengangguk mengerti.
"Abah ambil beras di penggilingan kita kan?", tanya Lingga. Salim sempat tertegun saat lingga mengatakan 'penggilingan kita'. Jelas-jelas itu adalah milik Lingga sendiri.
"Iya, Abah ambil di kamu Bang. Sayuran juga dari kebun Abang."
"Ckkk...bahas nya begitu. Apa susahnya bilang milik kita sih bah?"
"Ya jangan dong! Abah baru mau belajar usaha, tolong di bantu tapi jangan terlalu di manja seperti itu. Urusan pribadi dengan usaha jangan di satukan. Harus ada itung-itungan!", kata Abah.
Lingga tersenyum.
"Bah, kalo Abah mau tahu! Penghasilan penggilingan padi itu masuk ke rekening ibu. Dan kebun sayur itu, urusan Syam. Lingga cuma bantu aja kok! Nah kalo pabrik batako sama kafe dan minimarket di Jakarta, baru punya Galuh dan Ganesh!", kata Lingga menjelaskan pada bapak mertua tirinya.
Salim sampai berusaha mencerna apa yang Lingga katakan barusan. Menantunya bahkan sampai....
"Bang...!"
"Berhubung ibu udah punya Abah, jadi sebaiknya tanggung jawab penggilingan padi itu jadi tanggung jawab Abah ya. Kalo kebun sayur Syam, ngga apa-apa Abang dulu yang handel sampe Syam benar-benar bisa pegang sendiri."
Lingga mengunyah ulen goreng yang Mumun bawakan tadi untuk nya dan di letakkan di hadapan Salim dan Lingga.
Salim masih mengagumi sosok menantunya tersebut. Lingga yang ia kenal dulu, tidak seperti ini. Saat Lingga remaja, dia selalu ketus saat berbicara dengan siapapun meski ujung-ujungnya akan menuruti ucapan papanya.
Jangankan berbicara seperti sekarang, menegur saja segan. Usia memang mungkin merubah sikap dan watak seseorang. Atau mungkin.... Lingga menemukan pawang yang tepat.
"Kenapa Abah liatin Abang gitu?", tanya Lingga heran. Salim menggeleng dan tersenyum.
"Ngga kebayang aja Abah mah, jadi mertua Abang!", kata Salim terkekeh pelan. Lingga pun turut tertawa pelan.
"Memang kenapa? Abang berubah sekali gitu maksudnya?", tanya Lingga. Sebenarnya ia sedikit geli menyebutnya Abang pada Salim, tapi ya ...gimana, dia harus menyesuaikan bukan?
"Inget aja Abah mah, den Lingga waktu masih SMA. Cewek nya banyak!", kata Salim.
"Itu mah jaman dulu bah, astaghfirullah!", kata Lingga yang mendadak malu jika ingat masa mudanya dulu. Eh ...tapi sekarang juga belum tua kan???
"Mantan pacar abang banyak banget ya? Berapa? Dua, tiga apa lebih dari lima?", tanya Galuh yang tiba-tiba datang sambil menggendong Ganesh.
Salim menahan tawanya dan Lingga justru kicep menoleh ke sumber suara istrinya tersebut.
"Ehem, Abah ke kolam belakang deh!", kata Salim menghindari bibit perang dunia.
"Apa sih Yang!", Lingga meraih bahu istrinya untuk duduk. Galuh menautkan kedua alisnya melihat sikap suaminya.
"Kenapa?", tanya Galuh sambil memandangi suaminya heran.
"Kamu ngga usah cemburu sayang, itu kan masa muda. Maklumi lah Yang! Sejak kita menikah, Abang ngga pernah menjalin hubungan dengan siapapun lho. Sumpah deh! Jangan marah atau cemburu ya Yang!", kata Lingga sambil mengangkat jarinya membentuk V.
Galuh menyipitkan matanya lalu menggeleng pelan.
"Percaya diri sekali anda. Siapa yang cemburu coba ! Biasa aja kali. Itu ge masa lalu! Beda kalo terjadinya sekarang-sekarang! Siap-siap aja....wlekkk!!", Galuh bergaya seolah sedang menggorok jarinya.
Kalian paham apa yang Galuh maksud??? 😁😁😁
Lingga bergidik ngeri. Dia memang tahu jika istrinya tidak akan sampai seperti itu. Tapi seorang Lingga sama sekali tidak ada niat untuk macam-macam pada sang istri. Berpisah selama tujuh tahun lebih saja sudah membuat dia kembang kempis nyawanya, bagaimana dia berani macam-macam pada Galuh??? Yang ada dia rugi sendiri.
"Astaghfirullah Yang! Ngga gitu lah Yang!", lingga mencoba merayu istrinya lagi.
Mumun dan Sekar tersenyum melihat Galuh dan Lingga yang terlihat begitu romantis. Tak tahu saja mereka, apa yang Galuh dan Lingga obrolkan.
__ADS_1
.
.
.
"Bu, beres dari rumah sakit kita ke studio foto ya. Abang bilang, kita siapin foto buat bikin paspor."
"Iya bah, tapi ngga apa-apa pakai baju kaya gini?", tanya Sekar. Salim tersenyum.
"Memang apa yang salah sama baju ibu? Rapi dan sopan kok Bu. Justru bagus, ibu ngga pakai hijab putih atau warna sejenisnya."
"Memang kenapa bah?"
"Kan nanti teh background nya putih, kalo jilbab nya putih ya ngga keliatan atuh."
Sekar mengangguk paham.
"Abah kapan mau mengembalikan mobil mas Arya? Ngga enak atuh pinjam terus. Di rumah ada mobil Abang kan?!", kata Sekar.
"Iya, nanti coba Abah bilang ke mas Arya. Soalnya tiap Abah mau balikin, jawabnya selalu bawa aja dulu. Gitu terus." Sekar kembali mengangguk.
Setelah hampir satu jam perjalanan, Sekar dan Salim tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke dokter spesialis kandungan yang sudah Lingga hubungi lebih dulu.
Percayalah, orang yang memiliki 'kekuasaan' pasti punya privilege di manapun sekalipun di dunia halu 🤭. Lingga punya kekuasaan? Tidak! Tapi Lingga cukup di kenal sebagai salah satu orang yang 'cukup menonjol' di kota kabupaten dimana ia tinggal saat ini.
"Selamat siang dok!", sepasang suami istri menyapa dokter. Setelah itu mereka bertiga mengobrolkan tentang tujuan mereka kemari dan juga niat mereka jika akan memiliki anak.
"Begini bapak ibu, benar memang memiliki anak adalah hal prerogatif Allah. Akan tetapi sebagai manusia kita tetap berusaha. Hanya saja, maaf... untuk seusia ibu...akan lebih beresiko. Mungkin terdengar pesimis, akan tetapi di usia tersebut keguguran di awal kehamilan sering terjadi. Misalnya pun berlanjut ke akhir kehamilan, sering terjadi pre-eklampsia, bayi lahir prematur dan mohon maaf... biasanya harus melalui proses operasi Caesar."
Penjelasan dokter yang cukup panjang membuat sepasang pengantin baru itu gamang. Antara keinginan dan juga kondisi yang mungkin tidak mendukung.
"Jadi, apa sebaiknya saya... tidak boleh hamil lagi dok?", tanya Sekar. Salim mengusap bahu istrinya yang terlihat begitu sedih.
Dokter yang usianya tak berbeda jauh dari Sekar pun tersenyum.
"Bukan tidak boleh ibu, akan tetapi saya hanya menyarankan saja. Tapi seandainya pun bapak dan ibu tetap ingin program pun tidak apa-apa. Yang penting, bapak dan ibu menyiapkan segala sesuatunya. Baik itu mental ibu sendiri, atau kesiapan bapak yang harus menemani ibu di saat-saat yang di butuhkan."
Sepasang suami istri itu Salim berpandangan.
"Kami mau melanjutkan program kami dok!", kata Sekar yakin. Salim menoleh cepat pada istrinya.
"Ibu yakin?", tanya Salim. Sekar mengangguk yakin.
"Baiklah Bu, mari kita cek kondisi ibu!", kata dokter. Sekar pun mengikuti langkah dokter yang menuju ke bilik dimana brankar untuk memeriksa pasien.
Dokter di bantu perawat memulai memeriksa kondisi Sekar.
"Maaf Bu, terakhir ibu datang bulan kapan ya?", tanya Dokter tersebut.
"Tepatnya kurang tahu dok, mungkin tiga Minggu yang lalu!", jawab Sekar. Dokter dan perawat tersebut saling berpandangan.
(Anggap aja prosedurnya begitu ya...Mon maappppp🙏🙏🙏🙏🙏)
Perawat itu menyiapkan alat untuk di gunakan dokter.
"Maaf ibu, permisi sebentar. Ijin membuka bajunya ya Bu, dokter akan memeriksa perut ibu", kata perawat itu ramah. Sekar pun mengiyakan tak keberatan sama sekali.
Dokter mengoleskan gel di alat tersebut yang Sekar yakini adalah alat untuk mengetahui jenis kelamin bayi. Tapi... untuk apa dokter memeriksa perutnya????
Dokter itu saling melempar senyum dengan perawat. Setelah selesai, pakaian Sekar di rapikan kembali.
"Mari Bu, kita bicara di depan suami ibu!", kata Dokter sambil membawa kertas kecil berwarna hitam.
"Bagaimana dok?", tanya Salim pada dokter. Dokter itu tak langsung menjawab, melainkan tersenyum tipis. Lalu menunjukkan gambar hitam tersebut pada sepasang suami istri tersebut.
*******
Buat kalian Yuliana Tunru, Cah Kangkung, Siti.R , Risky Titi Sarlindra, Umirohi Azzaitun, Darra, Yusni, Yantie, Rizky Sandy, Zahbid Inonk dan yang lainnya yang ngga kesebut semua deh. Kalian yang ngarepin Ganesh punya uncle atau aunty baru 😁🤭
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
20.41