
Yudis keluar dari kediaman mewah milik Arya dengan emosi meluap-luap. Bagaimana tidak?
Arya benar-benar sudah memiskinkan dirinya. Dia tak memiliki apa pun lagi selain pakaian yang melekat di tubuhnya.
Dan beberapa uang yang ada di dompetnya tak akan sanggup membiayai hidupnya yang hanya satu Minggu sekali pun!
"Arya bang***!", teriak Yudis. Dia tidak tahu lagi kemana ia akan melangkah.
Menjual ponsel dan jam tangannya mungkin sebuah ide yang bisa ia membuat nya mendapatkan uang untuk bertahan hidup beberapa hari.
Gaya hedonisme yang selama ini melekat, pasti akan sangat susah di hilangkan meskipun sekarang posisinya sudah berubah.
"Malik!!", tiba-tiba terlintas nama sahabat nya tersebut.
Wait! Bukan sahabat, tapi partnernya untuk menghancurkan Arya. Sayangnya, seorang Arya bukan lah sosok yang lemah. Dia tidak mudah untuk di kalahkan!
Segala cara licik sudah pernah Yudis dan Malik lakukan untuk menghancurkan Arya. Termasuk lewat Shiena, tapi semua berakhir sia-sia. Seperti sekarang, dia benar-benar kehilangan segalanya.
Kakak tertuanya sudah menetap di negara yang berbeda. Dia sama sekali tak bisa dimintai bantuan barang seribu perak. Hubungan Yudis dengan saudara kandungnya saja tidak pernah baik!
Yudis terlalu serakah! Hal itu sudah terlihat sejak muda. Saudara kandung nya saja bisa ia libas, apalagi Arya yang hanya saudara tiri dan anak dari istri kedua.
Dengan bermodalkan uang yang ada di sakunya, ia menghentikan ojek yang ada di depan gerbang utama perumahan elit keluarga Arya.
Ini untuk pertama kalinya ia merasakan kesusahan. Dia selalu di layani dan mendapatkan apapun yang dia inginkan.
Naik ojek menuju ke perusahaan Malik yang kini sudah di akuisisi oleh perusahaan Arya, membuat seorang Yudis sewot sepanjang jalan.
Panas dan berdebu! Dia tak pernah merasakan seperti itu!
Setelah sampai di pelataran gedung perusahaan Malik, Yudis langsung masuk ke gedung tersebut.
Tapi saat ia tiba di resepsionis, beberapa satpam justru mencegatnya.
"Hei, apa-apaan ini?", Yudis meronta saat beberapa sekuriti menjegalnya yang akan masuk kedalam lift
"Maaf Pak, kami hanya menjalankan tugas! Atas perintah atasan kami, anda di larang masuk."
"Heh! Kalian lupa siapa saya? Kalian tidak mengenal saya?", tanya Yudis geram.
"Kami tahu anda pak Yudis, maka dari itu kami menahan anda masuk!", jawab salah seorang sekuriti yang berbadan tegap.
"Kenapa kalian melarang ku masuk hah?", pekik Yudis.
Disaat yang bersamaan, Malik keluar dari lift bersama Shiena. Yudis tersenyum miring pada para sekuriti.
"Kalian lihat siapa yang datang?!", tanya Yudis pada para sekuriti. Mereka pun kompak menoleh lalu melepaskan cekalan tangan pada lengan Yudis.
Malik dan Shiena menghampiri kekacauan yang ada di dekat resepsionis.
"Malik! Kamu lihat, betapa tidak sopannya karyawan kamu ini!", kata Yudis berkacak pinggang.
Malik hanya menghela nafas dan mendekati sahabat nya tersebut. Ia mengibaskan tangannya agar para sekuriti menjauh dari Yudis.
Yudis tersenyum, merasa menang karena Malik meminta para sekuriti nya menjauh.
Lalai setelah itu, ia mengeluarkan ponselnya. Beberapa detik kemudian, ia mengulurkan ponselnya tersebut kepada Yudis.
Yudis tak paham dan akhirnya Malik menyerahkan ponselnya tersebut di telapak tangan Yudis.
Mau tak mau, Yudis menerimanya. Ia membaca email dari perusahaan Arya yang memiliki kekuasaan penuh di perusahaannya.
Dada Yudis bergemuruh hebat. Dia tahu, perusahaan Malik memang di ambil alih oleh Arya tapi tidak ia duga ternyata kelicikan Arya juga membuat Malik kehilangan segalanya seperti Yudis.
Malik masih tak mengeluarkan suaranya, ia kembali meraih ponsel yang ada di genggaman Yudis.
Lelaki beruban itu menunjukkan chat dari Arya.
[Saat kamu membantu Yudis, itu artinya kamu pun harus bersiap merasakan apa yang Yudis rasakan. Aku masih berbaik hati menampung mu di perusahaan ini, tapi sekali saja kamu mencoba melawan ku. Kamu akan tahu akibatnya. Kita sudah saling mengenal sejak dulu. Jadi, kamu tahu seperti apa aku. Apa yang sudah ku putuskan, itu yang akan ku lakukan. Jangan pikir ini hanya sebuah gertakan. Camkan itu]
__ADS_1
Nafas Yudis kian memburu, ia meremas ponsel Malik karena terlalu emosi. Sebelum Yudis benar-benar melempar benda pipih itu, Malik merebut nya dari tangan Yudis.
Mungkin dulu ia dengan mudah membeli apa pun yang ia inginkan, termasuk mengganti ponselnya dengan segala merk. Tapi tidak sekarang.
Arya masih mau mempekerjakan dirinya di 'bekas' perusahaannya sendiri itu jauh lebih baik dari pada dia harus kehilangan segalanya.
Karena faktanya, pemindahan kekuasaan perusahaan tak di publikasikan kepada seluruh pebisnis. Entah apa yang Arya pikirkan! Yang jelas, orang-orang tahu perusahaan Malik masih miliknya. Tapi para karyawannya sengaja di beri tahu oleh pihak perusahaan Arya.
Lukas mempersilahkan karyawan yang masih ingin bertahan atau lepas dari naungan perusahaan Arya. Dan ternyata, semua masih berada di bawah perintah Malik tapi...atas kuasa Arya lewat Puja atau Lukas tentunya.
"Lebih baik, anda pergi dari sini sebelum semua menjadi semakin sulit saat Arya atau Puja mengetahuinya!", Malik mencoba mengingatkan. Sedang Shiena, perempuan itu memilih diam. Dia tak ingin salah langkah dari pada berurusan dengan sosok arogan seperti Arya.
"Kamu mengusir ku?!", tanya Yudis dengan tatapan nyalang.
"Aku masih mengatakan baik-baik. Jadi tolong pergilah, aku tidak ingin adanya kekerasan di sini!", kata Malik memalingkan wajahnya.
"Dasar tidak tahu diri! Kamu lupa aku lah orang yang sudah membantu mu, tapi sekarang...kamu benar-benar tidak tahu diri!", Yudis mendorong bahu Malik yang langsung di ambil alih oleh para sekuriti.
Yudis meronta dengan umpatan kata-kata kotor. Malik pun memastikan bahwa para sekuriti nya harus menandai agar Yudis tak lagi masuk ke perusahaannya.
.
.
.
Yudis emosi luar biasa. Ia merogoh sakunya, mencoba menelpon Arya. Ia ingin memaki-maki adik tirinya tersebut.
Dia berdiri di pinggir jalan dengan ponsel yang ia tempel di telinganya. Tapi setelah berdering beberapa kali, Arya masih saja tak menerima panggilannya.
"Arya brengsek!", pekik Yudis. Tubuh tuanya tak menghalangi dirinya terlihat bar-bar. Siapa pun akan mengakuinya.
Dia mencoba menghubungi Arya kembali, tapi tiba-tiba saja dua orang pengendara motor merebut ponselnya.
Wessss....motor itu pun langsung meninggalkan Yudis begitu saja.
"Woi...woi...jambretttt!", teriak Yudis yang mencoba mengejarnya. Tapi tubuh tuanya tentu tak sebanding dengan sepeda motor yang melesat cepat.
Karena terlalu lelah berlari, lelaki itu terengah-engah memegangi dadanya. Ibarat puasa, nafasnya sudah Senin Kamis. Mungkin tinggal menunggu...
Tiba-tiba saja badannya ambruk di pinggir jalan. Seketika tubuh Yudis di kerubuti oleh para pengguna jalan.
.
.
.
"Udah telpon sama kak Puja ?", tanya Galuh pada Lingga.
"Udah Yang!", jawab Lingga sambil mendesah pelan.
"Kalo emang mau cerita ada masalah apa, Abang bisa cerita ke aku. Itu pun kalo Abang mau berbagi. Tapi kalo tidak, aku juga ga akan maksa Abang buat cerita."
Lingga membaringkan kepalanya di pangkuan Galuh. Keduanya berada di teras samping sambil menjaga Ganesh yang tertidur pulas di stroller nya.
Lingga menceritakan apa saja yang ia obrolkan dengan Puja tadi. Bagaimana pun juga, Lingga berhak tahu karena setidaknya... mungkin Papa mereka akan luluh jika ada yang menasehatinya.
"Abang tahu seperti apa sakit hati papa meski dulu...di mata Abang, papa hanya lah seorang ayah yang diktator. Tapi setelah semuanya terbuka... ternyata papa menyimpan kesakitan yang sangat dalam."
Galuh mengusap rambut Lingga. Dia belum ingin mengomentari apa yang Lingga ceritakan.
"Yang!"
"Heum?"
"Om Yudis yang sudah membunuh bapak, apa kamu memaafkan nya?", tanya Lingga.
Galuh tak langsung menjawab, matanya menatap langit biru yang terlihat terik.
__ADS_1
"Entah dia atau bukan yang membuat ku kehilangan bapak, tapi yang jelas sekali pun aku membenci atau pun membalas nya... tidak akan membuat bapak hidup kembali."
Lingga menatap wajah istrinya dari bawah. Istrinya bukan hanya cantik wajahnya, tapi juga hatinya.
Entah apa yang sudah di tanamkan oleh kedua mertuanya hingga bisa membentuk pribadi istrinya seperti sekarang.
Kuat, tapi lembut hatinya. Keras kepala jika benar, tapi tetap menghargai orang lain. Dan yang pasti...dia mudah memaafkan!
Lingga mengeratkan pelukannya di perut Galuh. Galuh kembali mengusap kepala Lingga.
"Aku tahu bang, sepertinya aku memang tak boleh ikut campur dalam urusan papa. Tapi...aku hanya tidak mau kalau papa akan menyimpan rasa itu semakin lama."
"Tapi...kamu tahu betapa keras kepalanya papa Yang!"
"Iya, justru karena papa keras kepala. Kita tidak bisa keras kepala juga menyikapi papa. Kenapa? Papa akan merasa jika dirinya di lawan."
Lingga menatap wajah istrinya yang kini menunduk.
"Aku tahu siapa yang akan meluluhkan papa!", kata Galuh tersenyum. Lingga tak tahu siapa yang Galuh maksud, tapi dia percaya. Istrinya pasti punya banyak cara untuk menyelesaikan masalah keluarga mereka tanpa perlu kekerasan.
.
.
.
"Kopi nya A!", Sekar menyerahkan secangkir kopi di hadapan Salim yang di temani oleh Syam.
"Makasih!", jawab Salim sambil tersenyum.
"Jadi, kapan ibu sama mang Salim akan menikah?", tanya Syam.
"Mamang siap kapan saja, yang penting ibu kamu setuju!", kata Salim sambil tersenyum lalu beralih pada Sekar.
"Apa tanya sama Abang aja?", tanya Syam.
"Abang pasti akan menyerahkan sama mamang atau Ibu!", jawab Salim.
Sekar menatap dua laki-laki beda usia tersebut bergantian. Lalu menghela nafas berat.
"Adek kapan libur sekolahnya?", tanya Sekar.
"Seminggu lagi libur semester Bu, kenapa?", tanya Syam.
"Ya udah, nanti kalo adek libur sekolah aja. Jadi...adek punya banyak waktu untuk membantu acara pernikahan ibu sama mang Salim!", jawab Sekar pada akhirnya.
Salim dan Syam sama-sama menyunggingkan senyumnya. Tapi beberapa detik kemudian, senyum Syam luntur.
"Tapi...papa Glen...mau ngajak libur ke rumah Opa Surya, boleh ngga Bu?", tanya Syam pada Sekar.
Meski pernah membahasnya, Sekar masih saja belum bisa memberikan keputusan. Apakah ia mengijinkan Syam ikut papa kandung nya atau tidak?
"Tanya Abang saja!", kata Sekar.
"Apa ibu khawatir kalau Syam ikut papa Glen terus?", tanya Syam. Sekar menoleh ke arah lain. Nyatanya rasa takut itu memang ada.
Dia takut Glen menahan Syam untuk berada di sampingnya.
"Bu, papa udah janji ngga akan merebut Syam dari ibu. Syam bukan barang yang bisa di perebutkan!", kata Syam.
"Iya!", jawab Sekar singkat lalu mengusap puncak kepala Syam.
Mungkin, Sekar harus berusaha mempercayai Glen yang mulai berubah.
Kesempatan kedua, masih adakah????
*******
20.16
__ADS_1
Terimakasih 🙏