
"Lho...papa? Kapan datang Pa?", tanya Galuh kikuk. Ternyata papa mertua yang sedang ia bicarakan berada di belakangnya sedang menggendong Ganesh.
Tak lama kemudian bahkan sebelum Arya menjawab, tampak Lingga menguap sambil menutup mulutnya.
"Tadi Ganesh bangun Yang mau cari kamu, Abang gendong pas kebetulan papa ketuk pintu!", justru Lingga yang menjelaskan.
Arya tersenyum tipis melihat wajah pias menantunya. Dia tak marah dengan cara pikir sang menantu. Wajar saja Galuh berpikir demikian, menantu Arya itu sudah khatam seperti apa watak Arya yang sebelumnya.
Mulut Galuh hanya membentuk 'O' mendengar penjelasan suaminya.
"Belum jawab Luh, memang kalau papa kenapa?", tanya Arya dengan inti pertanyaan yang sama.
Galuh nyengir, Salim menahan tawa, Lingga bingung! Dah lah!!!
"Ng-ng-ngga apa-apa Pa!", jawab Galuh.
"Oke, papa yang akan menjawabnya!", kata Arya. Lingga menautkan kedua alisnya. Sungguh, dia tak tahu apa yang di bicarakan oleh istri dan papanya.
"Kalau papa di posisi itu, papa akan bungkam mereka dengan membuktikan bahwa papa tidak seperti apa yang mereka tuduhkan! Caranya???", justru Arya yang balik bertanya.
Galuh cukup penasaran mendengar jawaban apa yang akan mertua lelakinya katakan.
"Gimana pa?", tanya Galuh. Padahal... Salim sendiri juga kepo sih!
"Papa bakal bikin rumah yang lebih mewah dari ini. Habis itu niat awal cuma bikin warung, papa akan bikin minimarket. Ya...minimal toko grosir begitu lah! Kalo mereka masih saja komentar yang tidak-tidak ya... sudah! Yang penting sudah membuktikan kalau kita tidak seperti anggapan mereka."
Salim meneguk salivanya. Dia memang memiliki tabungan. Cukup lah untuk membuat rumah dua lantai sekaligus membuat minimarket seperti yang Arya katakan. Dua puluh tahun mengabdi pada Arya, jangan di tanya berapa tabungannya. Apalagi, dia sebatang kara.
"Heum, kalo mereka nanti ngomongin yang jelek-jelek lagi gimana? Misalkan...ngomong gini, Halah....paling di bantu sama si ini si itu bla...bla..."
"Kok mendadak kamu jadi suudzon Mulu sih Yang?!", Lingga merangkul bahu istrinya.
Salim sekarang memilih menyahut.
"Tinggal dengarkan kak!", kata Salim.
Mereka semua yang ada di sana terkekeh kecuali Ganesh tentunya.
"Sampe kapan mau berdiri di situ semua?", tanya Sekar yang baru keluar dari kamarnya dan sejak tadi samar-samar mendengar suara orang mengobrol. Dan ternyata benar, keluarganya sedang meeting dadakan.
Semua menoleh ke asal suara, si ibu hamil.
Setelah mendapatkan kesepakatan, akhirnya mereka pindah ke teras belakang. Dari kebun, orang-orang bisa melihat keluarga Galuh yang harmonis.
"Orang kaya mah emang bebas ya, nyantai gitu doang dapat duit. Ngga kaya kita begini! Kerja dari pagi, duitnya cuma cukup buat makan!", celetuk salah seorang pekerja perempuan.
"Yang kita lihat begitu, mungkin banyak yang ngga kita tahu juga. Barangkali mereka punya tanggungan banyak, kurang tidur karena mikirin usaha mereka. Ya kan? Udah lah, ngga usah kebanyakan omong! Pekerjaan kita yang begini memang ngga buat kita jadi kaya, tapi setidaknya bisa membuat kita melanjutkan hidup!", sahut salah seorang yang terlihat jauh lebih bijak.
Temannya memilih diam saat di nasehati seperti itu.
.
.
.
Pagi pun menyapa...
Salim dan Sekar sudah berada di warungnya. Ada tiga orang yang membantu mereka di sana. Awal warung di buka, cukup menyita perhatian warga sekitar. Salim mengadakan promosi dan juga diskon untuk tiga hari ke depan. Warga sekitar cukup antusias dengan promosi tersebut. Dari awal buka, karyawan Salim cukup keteteran.
Sedang Sekar sendiri, di larang melakukan aktivitas yang berat. Salim meminta Sekar untuk berada di kasir saja.
Hingga azan dhuhur berkumandang, masih ada beberapa orang yang berbelanja. Salim minta ijin pada istrinya untuk sholat dhuhur lebih dulu. Baru lah nanti akan bergantian dengan karyawannya.
Setelah di rasa sepi dan para karyawannya sholat, Salim meminta salah satunya untuk membeli makanan untuk mereka berlima. Karena ini hanya warung, tidak ada sistem shift. Tapi....entah nanti kedepannya mungkin akan ada perubahan.
Salah satu karyawan menyerahkan bungkusan makanan dengan menu yang sama antara bos dan anak buahnya.
Dari azan dhuhur sampai azan ashar, situasi cukup sepi. Tapi setelah ashar, warung kembali ramai.
"Bu, kayaknya ibu pulang aja ya! Kasian ibu di sini capek bantuin Abah!", kata Salim pada istrinya.
"Cuma di kasir bah, capek apa sih??", tanya Sekar.
"Bu, kondisi ibu berbeda sekarang. Harus ada yang ibu jaga di sini!", Salim mengelus perut istrinya.
"Ya udah, pulang sama Abah aja apa gimana?", tanya Sekar.
"Abang yang jemput ibu. Abah udah chat Abang tadi."
Sekar hanya mengangguk setuju dengan apa yang suaminya katakan. Itu memang untuk kebaikannya.
Tak berapa lama, mobil Lingga datang dan parkir di halaman warung Salim. Lingga menatap ke dalam, terlihat ada beberapa pembeli di sana. Dan pekerja Salim ada yang sedang membereskan rak dagangan, ada yang sedang menakar terigu dan gula pasir dan satunya lagi sedang membungkus wortel yang di minta pembeli.
"Assalamualaikum!", sapa Lingga.
"Walaikumsalam."
Lingga menghampiri kedua mertuanya.
"Rame ya bah?", tanya Lingga.
"Alhamdulillah bang, dari pagi lumayan banyak. Ide nya kakak emang bagus!", kata Salim.
"Alhamdulillah, ikut seneng dengernya bah. Galuh kan punya pengalaman buka warung makan Bah. Wajar kalo dia udah paham beginian", kata Lingga.
__ADS_1
"Minimarket Abang juga maju kan?", tanya Salim.
"Iya, Alhamdulillah bah!", kata Lingga tersenyum.
"Ya udah atuh Bu, balik sama Abang sekarang aja. Takut keburu magrib, pamali ibu hamil maghrib- maghrib di luaran."
"Iya Abah....!", sahut Sekar.
Dan rutinitas sehari-hari itu pun berulang setiap hari. Berhubung Salim sibuk di warung, Lingga yang tak sibuk ke mana-mana memilih untuk mengawasi proses pembangunan rumah.
Ya... walaupun gagal jadi miliknya, setidaknya dia memiliki kontribusi untuk membangunkan rumah orang tua...eh... mertuanya! Tapi sama-sama di sebut orang tua juga kan???
Bahkan Lingga yang menyediakan bahan bangunannya, sisanya tentu bapak mertua.
.
.
.
"Bang, Abang sendiri aja ke nikahan mas Alex ya?Aku ngga tega bawa Ganesh jauh-jauh ke Jakarta tapi ngga tega ninggalin juga?!", kata Galuh.
"Iya sih Yang, Abang juga kasian. Tapi kan...ngga enak sama Alex yang!", Lingga mengusap bahu Galuh.
"Kalau kamu mau ikut Abang ngga apa-apa kak, nanti ibu yang jagain Ganesh. Lagian, ibu juga ngga bisa pergi jauh-jauh sekarang. Mungkin kalo kondisi ibu udah aman, baru bisa bepergian!", kata Sekar.
"Huum...", Galuh nampaknya berpikir beberapa saat.
"Apa ngga ngerepotin ibu?", tanya Lingga.
"Ya ngga lah Bang!", sahut Sekar. Syam memperhatikan obrolan kedua orang tuanya.
"Adek mau ikut?", Lingga menawari adiknya.
"Ngga ah, adek mau di rumah aja sama Ganesh, sama ibu dan Abah!", jawab Syam.
"Memang kapan makan bersama pak gubernur?", tanya Galuh.
"Akhir bulan kak!", jawab Syam. Galuh mengangguk.
"Jadi gimana bang?", tanya Galuh pada suaminya.
"Abang ngga mau maksa ah, nanti salah lagi!", kata Lingga.
"Ya makanya kasih solusi dong Abang!"
Salim tersenyum melihat sepasang suami istri itu yang masih sama-sama ingin di mengerti.
"Ikut aja kak, mas Alex itu kan temen Abang dari SMP. Pasti nanti tamu undangannya banyak. Barangkali teman SMP, SMA bahkan kuliahnya juga. Ehem...mantan Abang banyak lho kak, ntar kalo Abang ke sana sendirian dikira masih single!", Salim mencoba mengompori Galuh.
Galuh menatap tajam pada suaminya yang pura-pura takut. Padahal emang takut beneran!
"Beneran bang?", tanya Galuh pada suaminya.
"Apanya?", tanya Lingga balik.
"Ya itu... mantan-mantan pacar Abang di undang mas Alex juga?", tanya Galuh cemberut.
"Ya Abang ngga tahu Yang. Kan alex yang bikin undangan, bukan Abang?!", jawab Lingga santai.
Galuh memanyunkan bibirnya yang membuat Sekar tertawa karena baru tahu ekspresi cemburu dari sang putri.
"Ikut aja kak, bahaya lho ...banyak mantan Abang!", Sekar ikut membumbui.
"Iya deh...tapi pasti bakal kangen sama Ganesh deh Bu?!'', Galuh menguyel-uyel pipi Ganesh yang ada di pangkuan Sekar.
Salim dan Lingga saling lirik, usaha mereka berhasil. Gimana ngga? Lingga memang sengaja ingin berduaan dengan istrinya, bukan tidak peduli pada Ganesh, tapi sebagai seorang suami dia juga butuh di perhatikan. Tidak selalu, hanya untuk waktu-waktu tertentu.
.
.
.
Bada subuh, Lingga dan Galuh berangkat menuju ke ibukota tapi sebelumnya ia menjemput kedua orang tuanya lebih dulu.
Alhasil, Lingga, Galuh, Arya dan Gita berada dalam satu mobil. Jika sesuai rencana, mereka akan tiba tengah hari nanti. Sedang acara resepsinya mulai pukul empat sore.
Jadi mereka bisa beristirahat sejenak di rumah Arya yang kini menjadi hak Puja.
Setelah mengantar kedua orang tuanya, Lingga mengajak Galuh ke kafe dan minimarket mereka. Burhan menyambut kedatangan bosnya tersebut. Karyawan Galuh dan Lingga antusias menyambut kedatangan Galuh. Mereka terakhir bertemu Galuh saat masih hamil dulu.
"Istirahat dulu mas Lingga, mba Galuh!", kata Burhan mengajak sepasang suami istri itu ke ruang khusus untuk beristirahat.
"Makasih mas Burhan!", kata Galuh. Setelah menutup pintu ruang khusus itu, Burhan pun keluar. Lingga memintanya juga untuk di bawakan menu yang ada di kafe.
"Yang!"
"Heum, apa bang?", tanya Galuh membuka hijabnya.
"Beres ke acara Alex, gimana kalo kita bulan madu tipis-tipis. Kita ngga pernah bulan madu sejak nikah lho Yang! Mau ya??", rengek Lingga yang sudah duduk di samping istrinya.
"Yang nikah kan mas Alex bang, kenapa jadi kita yang bulan madu?", Galuh mengernyitkan alisnya.
"Memangnya yang bulan madu cuma pengantin baru Yang, kita yang pengantin lama banget juga boleh kali Yang ...Abang juga pengen di perhatiin Yang!"
__ADS_1
Galuh menautkan kedua alisnya beberapa detik hingga akhirnya ia pun menyadari hal yang sudah lama tidak ia lakukan pada suaminya.
"Iya, kita bulan madu. Mau ke mana heum?", tanya Galuh menowel hidung Lingga.
"Disini-sini aja. Toh abang cuma mau abisin waktu berdua sama kamu Yang!", jawab Lingga.
"Heum, oke! Nanti malam habis dari acara mas Alex kita ngga jadi nginap di kak Puja, tapi ke hotel?", tanya Galuh.
"Heum, Abang rasa itu ngga buruk!"
.
.
.
Jam empat sore....
Lingga dan Galuh menuju ke ballroom hotel dimana acara pernikahan Alex di gelar. Arya dan keluarganya juga turut hadir hanya saja mereka tidak berangkat bersama.
Acara resepsi pernikahan salah satu pengusaha muda itu sangat meriah. Hampir semua kalangan hadir di sana.
Seperti yang Salim katakan, Alex mengundang teman-teman sekolahnya yang tak lain teman Lingga juga.
"Bang", bisik Galuh pada suaminya.
"Heum? Kenapa?", tanya Lingga saat telapak tangan istrinya basah dan dingin.
"Ngga pede aku bang!", bisik Galuh lagi sambil mengeratkan genggaman tangannya. Lingga tersenyum tipis.
"Apa yang bikin kamu ngga pede Yang? Kamu cantik, suami kamu ganteng!", Lingga ikut berbisik. Karena Galuh lebih pendek, Lingga sampai menunduk untuk membalas bisikan istrinya.
Dan momen itu cukup menyita perhatian para tamu undangan, terutama teman-teman sekolah Lingga di masa SMA dan kuliah dulu.
"Hans Arlingga bukan sih?",tanya seorang gadis bergaun merah muda dengan sepatu berhak setinggi sepuluh sentimeter mungkin.
"Iya!", jawab Lingga mendadak datar padahal tadi dia cengengesan saat berbicara dengan Galuh. Bahkan Lingga tak bertanya balik pada gadis itu.
"Lo lupa, gue Nancy mantan Lo waktu SMA dulu!", kata gadis itu mengulurkan tangannya di hadapan Lingga.
Galuh mewakili suaminya bersalaman dengan Nancy. Gadis itu hanya mengangguk heran.
"Iya, Lingga suami saya! Mohon maaf, suami saya tidak bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Maaf ya kak!", kata Galuh ramah.
Nancy membulatkan mulutnya ber'oh' ria.
"Begitu ya? Betewe...gue ke sini ngga sendiri lho Ga, Tania, Inka sama Jennifer juga ikut. Mereka ngga belum pada merit sih. Baru gue diantara mantan-mantan Lo yang udah punya suami!", kata Nancy pada Lingga.
Lingga meneguk salivanya perlahan dan melirik istrinya yang tampaknya biasa saja.
"Oh...?!", hanya itu yang keluar dari bibir Lingga.
"Kalo gitu, gue ke yang lain dulu deh Ga. Dan... selamat ya Kak, akhirnya ada juga yang meluluhkan hati seorang Lingga!", kata Nancy meninggalkan sepasang suami istri itu.
Sepeninggal Nancy, Lingga menatap istrinya yang mendadak melotot horor padanya. Berbeda sikapnya saat ada Nancy tadi. Ya iyalah, dia kan harus jaim sebagai seorang istri. Ngga salah dong...????
"Yang...!"
"Pssssssttttt....!", Galuh meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri. Lingga hanya pasrah jika nanti istrinya bakal meledak saat berdua di kamar mereka.
Arya melihat keberadaan anak dan menantunya itu. Gita yang berpakaian senada dengan Vanes pun mengikuti Arya menghampiri Lingga dan Galuh. Puja sendiri sedang mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya yang ada di pesta Alex.
"Lingga, Galuh!", panggil Arya. Sepasang suami istri itu menoleh.
"Eh...iya pa. Kak Vanes, apa kabar?", Galuh menyapa kakak iparnya itu sambil bercipika cipiki.
"Baik Luh! Wah...berduaan aja, Ganesh ngga di ajak sih! Mau bulan madu kayaknya nih?", celetuk Vanes.
Galuh tersenyum tipis.
"Bulan madu apa sih kak? Oh iya kak, boleh kan nanti malam aku nginep di rumah kalian?", tanya Galuh pada kakak iparnya.
Vanes menyahutinya dengan cepat.
"Boleh banget, ya kan Ma, Pa?", tanya Vanes pada kedua mertuanya. Arya dan Gita pun mengangguk. Berbeda dengan Lingga yang mendadak lesu.
Batal rencana yang sudah ia susun!!
"Permisi...!", semua menoleh ke asal suara seorang perempuan, lagi!
"Eum, Hans Arlingga kan?", tanya perempuan cantik itu.
Siapa lagi ini Ya Allah....! Gumam Lingga dalam hati.
******
GaJe?? Emang 😔😔
Beginilah kalo mood nya lagi jelek 🤧 tapi sehari-hari nya emang merasa bagus gitu??? 🤔🤔 Percaya diri sekali othor mah. Astaghfirullah 🙈
Kalo di real life lagi down, imbasnya ya kek gini. Mohon maaf aja yak yang sudah nungguin tapi malah gini doang.
Makasih banyak-banyak semua 🙏🙏🙏🙏
21.44
__ADS_1