Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 116


__ADS_3

Arya masih berdiri dengan Helen dan Lingga di depan ruangan bayi. Sebenarnya ia ingin menjenguk sang cucu karena sudah sangat merindukan bayi mungil itu. Tapi ternyata ia mendengar Helen sedang berusaha membujuk Lingga untuk menolongnya.


Sepertinya ide yang sedang ia rancang akan segera ia realisasikan saat melihat keberadaan Helen.


"Sekali lagi aku tegaskan, kamu mau menerima syarat apa pun dariku?'', tanya Arya pada adik iparnya tersebut.


"Iya mas, apa pun itu. Asalkan tidak merusak repotasi keluarga kita terutama nama baik ku.''


"Baiklah ,sekarang ikut aku!'', ajak Arya. Akhirnya Helen dan Lingga pun mengekor di belakang pria matang tersebut. Langkah kaki Helen perlahan lambat saat ia melihat Arya yang berjalan menuju ke ruang rawat. Jantungnya mulai tak menentu saat melihat Sekar dan Gita yang ada di depan ruangan tersebut.


Dan tiba-tiba saja Helen melihat putrinya yang sedang berbicara akrab dengan Syam. Terlihat keduanya tampak tak canggung lagi saling memukul lengan meski tidak keras tentunya. Kedua anak itu tampak sesekali melempar candaan khas masing-masing. Zea yang memang ceria, Syam yang datar.


Lingga pun cukup terkejut melihat perubahan yang sangat cepat. Perasaan baru kemarin mereka bertengkar hebat. Tapi pemandangan saat ini sungguh menyejukkan mata Lingga. Adik iparnya sudah mau berkomunikasi secara normal dengan adik sepupu Lingga yang tak lain adik Syam meski hanya secara biologis.


Arya yang lebih dulu sampai ke ruangan itu memilih menghampiri Syam.


"Syam?', sapa Arya pada bocah tampan itu. Syam pun menoleh pada sosok gagah itu. Matanya berbinar menghampiri Arya.


"Papa Arya?", Syam tersenyum lebar menatap Arya.


Glen yang duduk agak jauh dari sana cukup iri. Kakak iparnya begitu dekat dengan buah hatinya. Wajar jika dia iri. Dia pun ingin dekat dengan darah dagingnya. Dia ingin membayar lebih dari sepuluh tahun waktu yang sudah Syam lewati tanpanya. Sayangnya dia memang belum bisa sedekat itu. Mungkin memang butuh waktu untuk bisa menghapus rasa sakit yang Syam rasakan.


Arya mengusap puncak kepala syam dengan lembut. Senyumnya merekah, arogansinya pun memudar seketika saat ia bersama Syam.


Lingga meminta ijin untuk masuk ke kamar Galuh meninggalkan orang tua dan keluarganya. Lelaki tampan yang baru merasakan menjadi ayah itu tersenyum melihat istrinya yang memejamkan matanya.


Pantas pada di luar, sepertinya baru beres minum obat sampai tidur pulas seperti ini. Batin Lingga. Sayangnya, Lingga salah tebak. Galuh membuka matanya saat menyadari seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya ada di dekatnya. Bagaimana dia tidak hafal aroma khas parfum suaminya itu.


"Lho, abang pikir kamu tidur Yang!", Lingga mengusap kening Galuh.


"Tadi emang tidur. Tapi pas cium bau kamu, jadi kebangun. Eh???? Yang lain mana Bang?'',tanya galuh celingukan. Saat ada Syam dan Zea serta Surya dan Glen, tanpa terasa ia tertidur pulas padahal dirinya mendengarkan mereka mengobrol.


"Ada di depan Yang!", kata Lingga mengecup kening Galuh.


"Di depan? Syam dan....?'"


"Mau di absen? Ada mama papa, Om surya, Om Glen dan Tante Helen, Syam dan Zea dan yang pasti ada ibu. Satu lagi, ada mang Salim juga'',canda Lingga.


"Ih...abang. Aku bukan guru yang harus mengetahui absen anak didiknya lho'', kata Galuh mencebik dan memanyunkan bibirnya.


Lingga yang merasa gemas pun dengan cepat mengecup serta ******* bibir kekasih halalnya. Sudah berapa hari ia tak merasakan bibir bawel yang selalu membuatnya candu sejak pertama kali mencicipinya. Galuh pun tak menolak, dia pun turut membalasnya. Sebagai istri yang sangat mengenal seperti apa suaminya itu, Galuh membiarkan suaminya puas meski hanya dengan berciuman. Kenapa? Dia akan menahannya sampai beberapa bulan ke depan.


(Mak othor ngga tahu kalo melahirkan secara caesar bisa 'begituan' membutuhkan waktu berapa lama. Beda kali ya sama yang normal???? hehehehe)


"Abang kangen tahu Yang!'',rengek Lingga bersandar ke bahu Galuh. Galuh mengusap kepala Lingga dengan sayang.


"Maaf ya Bang",kata Galuh lirih.

__ADS_1


"Ngga gitu yang. Ngapain kamu minta maaf. Ini kan memang siklus alamiah, bukan karena di sengaja. Abang akan sabar menunggunya kok. Tenang saja!'', Lingga menaik turunkan alisnya dengan tengil.


"Mulai......", kata galuh. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Beruntung adegan itu sudah selesai. Coba kalau tiba-tiba saja mereka masuk pas mereka sedang berciuman, malu dong! Ya kalau orang tua yang melihatnya, kalau Syam atau Zea bagaimana?


.


.


.


Beberapa saat sebelumnya.....


"Helen!'', panggil Arya pada adik iparnya yang berdiri agak jauh dari mereka semua. Perempuan cantik itu masih takut pada Glen yang tadi marah besar padanya. Wajah Glen saja sama sekali tak bersahabat. Jangankan untuk mendekati Helen, menatap pun sepertinya sudah enggan.


Gita harap-harap cemas saat suaminya memanggil Helen. Entah rencana apa yang sedang ia susun kali ini. Dia hanya tahu, apa pun keputusan Arya sudah di pastikan secara matang. Mengingat seorang arya tipikal orang yang akan berpikir jauh.


Contoh nyatanya, Arya menunjukkan ke hadapan banyak orang jika dia sangat membenci Galuh selama ini. Bahkan bertahun-tahun bertahan dengan arogansi dan kesombongannya hanya untuk menutupi bahwa sebenarnya sudah terlanjur menyayangi Galuh karena sudah berkorban untuknya. Tapi, ada rasa trauma yang hanya arya yang tahu. Dia paling takut kehilangan orang yang dia sayangi. Jadi dia memilih untuk di benci asalkan dia bia melihat mereka yang dia sayangi baik-baik saja meski tanpanya dan dengan kebencian padanya.


Back to Arya....


"Aku punya beberapa persyaratan untuk mu!'', kata Arya. Glen yang awalnya abai sekarang tertarik untuk mendengarnya. Begitupun dnegan Surya dan beberapa orang yang ada di sana.


"Baiklah Mas, katakan apa yang kamu inginkan mas?'',tanya Helen. Dia pasrah apa pun yang akan terjadi nanti yang penting Arya bersedia untuk membantunya.


"Di hadapan semua orang, kamu bersedia meminta maaf pada Syam dan Zea!'', kata Arya tegas.


"Kenapa? Kamu keberatan? Ya sudah! Aku tidak akan memaksa....", kata arya pelan.


" Oke..mas...oke! Syam,Zea mama minta maaf!", kata Helen. Tapi terlihat sekali jika dirinya tidak ikhlas. Dan semua orang cukup membaca mimik wajah Helen yang seperti itu.


"Kamu minta maaf tapi tidak tahu apa kesalahan mu? Eh...bukan! Kamu tidak menyadari kesalahanmu lebih tepatnya!'', ujar Arya.


Lalu mata elang itu pun beralih pada Glen yang pastinya juga sedang bertanya-tanya dalam hatinya kenapa Arya bersikap demikian. Tapi pandangan Arya ke Glen hanya sekilas. Setelahnya, perhatian Arya kembali pada helen.


"Aku sidah menghasut Zea untuk membenci Syam dan mempengaruhinya dengan ketakutan yang ku ciptakan sendiri!", kata Helen. Arya bertepuk tangan seorang diri.


"Wow...amazing....prok...prok...prok!",kata Arya.Glen dan Surya menggeleng heran mendengar pengakuan Helena.


" Hanya itu?'', tanya Arya. Sekar yang duduk di samping Gita merasa cemas jika nantinya semua yang ada di hadapan nya akan berakibat buruk pada Syam. Helen menarik nafas dalam-dalam agar ia kuat untuk mengeluarkan unek-uneknya.


"Aku tidak pernah membenci Syam sama sekali. Aku hanya sakit hati setiap melihat wajah anak itu yang begitu mirip dengan suamiku mas. Aku tidak apa jika nanti mas Glen atau papa akan mewariskan semua hartanya untuk Syam. Aku hanya takut jika nanti Zea akan terabaikan karena keberadaan Syam."


"Papa sudah bilang Len, papa tetap menyayangi Zea tanpa berkurang sedikitpun! Kamu lihat sendiri dua bocah itu. Mereka punya ikatan yang tak orang lain rasakan. Kamu lihat mereka Len! Lihat !!! Meski mereka lahir dari rahim yang berbeda, tapi pada dasarnya mereka memiliki ikatan batin!'', kata Surya.


Helen tak mampu untuk melihat kedua bocah itu yang mendadak akrab padahal sebelumnya, keduanya seperti dua anak yang tak mungkin bisa di satukan.


" Kalau kamu mau membenci, bukan syam yang harusnya kamu benci! Tapi suami bejat mu!", sindir arya. Glen cukup terkesiap meski memang kenyataannya dia pantas mendapatkan gelar terebut.

__ADS_1


"Lalu sekarang aku harus apa lagi?'',tanya Helen frustasi. Dia tak menyangka jika akan di sidang oleh kakak iparnya di depan keluarganya tersebut.


"Minta maaf pada suami mu, kelakuan mu sudah melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki, seorang suami!",lanjut Arya. Helen menoleh pada suaminya yang juga sedang menatapnya.


"Bukankah dia juga pernah melakukan kesalahan besar hingga hadir Syam? Aku hanya seperti itu saja, dia bisa semarah itu. Sakit hati melebihi ku. Lalu aku? Apa kalian pikir aku tidak berhak sakit hati ?Iya?'', tanya Helen.


"Aku melakukan itu saat aku sedang tak sadarkan diri Helen!'', Glen membela dirinya. Beruntung Zea di dekap oleh Gita, perempuan paruh baya itu menutup telinga Zea agar tak mendengar ucapan Glen dan Helen yang menjurus ke hal-hal yang sebaiknya belum boleh Zea dan Syam dengar.


"Aku pun sama mas! Aku juga tidak sadar melakukan itu. Semua juga gara-gara kamu dan papa."


Arya melipat kedua tangannya di dada memperhatikan sepasang suami istri yang sedang bertengkar.


Glen dan Helen sama-sama diam dengan nafas memburu menahan emosi yang sudah siap untuk meledak.


"Sudah?', tanya Arya pada keduanya. Tapi tak ada sahutan baik itu dari Helen atau pun Glen.


"Kalau sudah, aku ingin sampaikan inti dari syarat yang ku ajukan Helen!", kata Arya. Semua mata tertuju pada Arya. Tak terkecuali Sekar yang harap-harap cemas.


"Salim!!!!", panggil Arya pada supirnya.


"Ya, Tuan!'', sahut Salim yang memang berada jauh dari para majikannya.


"Ambil map merah di mobil, kalau kamu kembali dan aku tidak ada disini, berarti ada di ruangan Galuh!", titah Arya.


"Baik tuan!', jawab Salim setelah itu, ia meninggalkan kerumunan keluarga itu.


" Map apa mas?'',tanya Helen.


"Nanti kamu akan tahu, setelah membacanya sendiri di dalam. Galuh dan Lingga, sebagai wali sah Syam harus tahu!", kata Arya. Lalu ia beralih pada Sekar.


"Bu Sekar memang wali sah Syam, tapi Lingga dan Galuh akan jauh lebih paham akan masalah ini!', kata Arya.


"Iya pak Arya", sahut Sekar. Perempuan itu menyadari jika memang dirinya kurang begitu paham dengan masalah seperti itu.


"Mas Arya ngga akan minta Mas Glen buat cerein aku atau pun mengijinkan mas Glen berpoligami dengan menikahi bu Sekar kan?'', tebak Helen. Sekar terkesiap dengan tebakan Helen. Begitupun dengan dua bocah yang sama-sama mencerna ucapan helen.


Arya tak menjawab, justru dia melangkahkan kakinya memasuki ruang rawat menantunya.


******


21.16


To be continue ya.....


Terimakasih,,,,jangan lupa tinggalin jejak biar mak othor semangat heheheheh


Lanjut besok lagi 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


Sabar pemirsahhhh 😁😁


__ADS_2