
"Syam masuk ya kak! Assalamualaikum!",pamit Syam saat motor kakak nya berhenti di depan gerbang.
"Walaikumsalam!", jawab Galuh sambil melihat punggung adiknya menjauh memasuki halaman sekolah lalu menuju ke kelas lantai dua.
Saat Galuh akan menjalankan motornya lagi, sebuah mobil berhenti. Zea turun dari mobil di antar oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tua Zea begitu memanjakan putrinya.
Galuh tersenyum miris. Alangkah tidak adilnya bagi seorang Syam yang bahkan tak mengenal papa nya. Jangan kan papanya, ibunya saja sama sekali tak ingin menyentuhnya.
Tanpa menghiraukan mobil yang di kendarai Tante dan om dari suami nya, Galuh menjalankan motornya melewati mereka begitu saja.
Glen tampak menyadari Galuh yang berlalu karena melihat mereka. Mungkin, Glen akan berbicara dengan Galuh nanti. Membicarakan masa depan Syam.
.
.
Galuh sudah sampai di warungnya. Ternyata, Lingga sudah berada di sana.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!", jawab semua yang ada di sana, kecuali Lingga yang mungkin memang kurang agamis di banding mereka yang ada di sana.
"Kapan samping mas?",tanya Galuh pada suaminya.
"Bisa ngga panggil nya Abang aja, kaya Syam dan Zea?",ucap Lingga. Galuh menghela nafas.
"Heum, iya... Abang!"
Lingga tersenyum tipis.
"Katanya ke kantor?",tanya Galuh sebelum ia masuk ke dalam warung.
"Mau sarapan dulu!",jawabnya. Galuh mengangguk, lalu ia menoleh ke belakang Lingga. Sosok lelaki muda yang hampir seumuran dengan nya tersenyum ramah.
"Mas Burhan?",sapa Galuh. Burhan yang disapa pun mengangguk pelan.
"Selamat pagi Nona Galuh!",kata Burhan.
"Nona? Panggil saja Galuh!",tolak Galuh di panggil Nona.
"Tapi nona...?", ucapan Burhan menggantung saat Lingga mengangkat tangan nya.
__ADS_1
"Panggil saja Galuh, seperti yang dia minta Han!",pinta Lingga. Burhan pun mengangguk paham.
"Baik Mas Lingga!", sahut Burhan.
"Ya udah, silahkan mau sarapan apa?",tanya Galuh pada suaminya dan juga supirnya.
"Kamu ambil saja dulu Han, terserah mau apa?!", perintah Lingga.
"Iya mas, permisi mba Galuh!", Burhan mengambil deretan makanan prasmanan. Lalu ia mengambil tempat duduk di ujung yang agak jauh agar majikannya bisa berbicara berdua.
"Kamu mau makan pakai lauk apa mas?",tanya Galuh. Lingga tak menjawab.
"Eum, maksud ku Bang!",kata Galuh mencoba mengoreksi.
"Apa pun yang kamu kasih!",jawab Lingga. Galuh langsung bangkit dari duduknya untuk mengambil nasi dan soto ayam tak lupa teh panas juga.
"Silahkan mas ...eh...bang!",kata Galuh.
Lingga menatap makanan itu.
"Kenapa? Ngga doyan?",tanya Galuh.
"Kamu sendiri sudah sarapan?",tanya Lingga. Galuh pun menggeleng.
"Emangnya...aku masak apa?",tanya Galuh bingung.
"Masakan mu yang pernah ku makan tuh, ikan asin sama sambal terus telor ceplok sambal kecap. Nasi nya hangat, cuaca pagi juga habis hujan."
Galuh terpaku beberapa saat. Suaminya masih mengingat itu semua? Padahal pertemuan keduanya sangat lah singkat! Dan membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga mempertemukan keduanya.
"Luh?", Lingga mengibas tangan nya di depan wajah Galuh.
"Ah, iya. Apa mas? Jadi kamu ngga mau makan ini?",tanya Galuh sedikit tergagap. Lingga tersenyum, mungkin dalam hatinya istrinya juga sedang mengenang masa itu.
"Mungkin menu nanti malam. Sekarang kan istri ku sudah menyiapkan soto untuk ku!",kata Lingga lalu meraih mangkok dan nasinya.
"Ya udah!", kata Galuh lalu beranjak bangku nya tapi Lingga menarik pergelangan tangan gadis itu.
"Temani suami mu sarapan!",pinta Lingga.
"Mas...eh...bang, ada baiknya kita jangan seperti ini dulu! Ak....!", ucapan Galuh terhenti saat Lingga berhasil mendudukkan Galuh lagi ke bangku. Melihat suaminya mulai makan, Galuh tak mengajak nya bicara lagi.
__ADS_1
Lingga memakan sarapannya tanpa melepaskan tangan Galuh yang ia pegang dengan tangan kirinya.
Tak butuh waktu lama bagi Lingga untuk menghabiskan sarapannya. Setelah itu, ia menenggak minumannya.
"Hari ini, aku mulai aktif di kantor."
Galuh hanya mengangguk saat suaminya berkata demikian.
"Setelah acara penyambutan sebagai pimpinan baru, aku ingin mengajak mu untuk mengurus pernikahan kita agar sah di mata negara. Jangan menolak ya?",kata Lingga sambil mengusap kepala istrinya.
Galuh tak bisa menjawab apapun. Dia serba salah. Dia menginginkan pernikahan sekali seumur hidup, meski diantara dirinya dan lingga belum ada perasaan apa pun. Tapi ...dia juga tidak ingin hubungan antara bapak dan anak hancur karena kehadirannya.
"Tapi Bang...?"
"Aku berangkat. Nanti siang aku jemput, pulangnya sekalian jemput Syam." Lingga berdiri dari bangkunya.
"Jangan terlalu banyak bekerja, istirahat lah!".
Lagi-lagi Lingga mengelus puncak kepala istrinya. Lingga berjalan ke kasir, lalu meletakkan selembar uang berwarna merah.
"Ngga usah bang!", Galuh mencoba mencegah suaminya. Tapi Lingga tetap meletakkan uang itu di atas meja kasir. Lusi yang jadi kasir kali ini serba salah. Menerima atau menolaknya???
"Nanti aku jemput!", Lingga menyempatkan mengecup kening istrinya. Galuh membulatkan matanya! Ia malu dengan para pengunjung warung terutama para pekerja warungnya.
Lingga meninggalkan istrinya yang masih terpaku. Sepeninggal Lingga, karyawan nya meledek Galuh.
"Cie... cie....yang mau nikah beneran!",ledek Sari. Hidung Galuh kembang kempis di ledek seperti itu.
"Ehem, kasian dong mas-mas yang pada ngantri selama ini? Ternyata, sudah punya pawang. Ngga tanggung-tanggung lagi, orang kantoran eung...!",Usman menambahi ledekan nya.
"Udah deh, ngga usah ngerumpi! Kerja aja gih!",Galuh menghentakkan kakinya menulis ke tangga untuk menuju ke lantai atas.
"Cie....yang salting!!!",ledek anak-anak kompak. Galuh pun berbalik badan.
''Ngeledek lagi, besok ngga gajian. Puas kalian???", ancam Galuh.
"Uuuh....takut!", sahut mereka lagi. Mereka tahu betul jika bos nya sangat baik dan itu hanya candaan. Tidak mungkin Galu akan menahan gaji mereka hanya karena meledek seperti itu.
Dalam hati kelima karyawannya, mereka bersyukur jika bos nya ternyata sudah memiliki pasangan yang sah. Persepsi orang lain selama ini sudah terbantahkan yang sering berprasangka buruk terhadapnya.
****
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏