
Lingga dan Galuh masih cukup terkejut dengan celetukan Arya yang begitu ringannya mengatakan demikian.
"Orang kaya mah gitu ya Bang, mau bikin hotel kaya bikin mie. Instan! Aku mah apa atuh, mikir berbulan-bulan bertahun-tahun kali ya!", bisik Galuh pada Lingga yang masih cukup terdengar oleh orang di sekitarnya karena semua mendadak hening. Speechless dengan celetukan Arya tepatnya.
"Gitu-gitu papa mertua mu Yang!",balas Lingga berbisik pula.
"Papa dengar Lingga, Galuh!", bentak Arya yang sontak membuat sepasang suami istri itu terkejut.
Gita dan Puja terkekeh melihat ekspresi Lingga dan Galuh saat di bentak Arya.
"Maaf Pa!", sahut Lingga dan Galuh kompak.
"Ehem... sebenarnya begini, Puja bilang dia mau mengurus perusahaan kita. Berhubung papa sudah capek ngurusin perusahaan kalian, papa ingin beristirahat. Menikmati masa tua papa, dengan menghabiskan waktu bersama istri, anak, menantu dan cucu-cucu papa!",kata Arya lancar jaya.
Keempatnya pun tersenyum tipis, mereka setuju dengan apa yang Arya inginkan.
"Selama ini, papa sudah terlalu jauh dengan anak dan menantu papa. Papa ingin menebus waktu itu dengan bersama kalian."
Arya menatap wajah Galuh dan Lingga yang nampak terharu.
"Ehem... tidak sepenuhnya seperti itu, Ganesh ! Papa hanya tidak ingin jauh dari Ganesh!",ralat Arya.
Puja dan Lingga mendekati Arya bersama-sama padahal mereka tak bermaksud untuk janjian.
Arya di apit oleh kedua putranya.
"Papa gengsi!", kata Lingga dan Puja kompak. Lalu setelah itu justru dua kakak beradik itu tertawa bersama.
Mau tak mau Arya pun menyunggingkan senyumnya.
"Kapan terakhir kita tertawa bersama seperti ini?", tanya Gita yang langsung bergabung dengan suami serta dua putranya.
Mereka berempat saling berpelukkan. Masa-masa seperti ini pernah terjadi saat Puja dan Lingga masih duduk di bangku SMP. Tapi setelah masuk SMA, semua berubah. Arya lebih keras mendidik kedua anaknya. Tak ada lagi keakraban yang ada hanya belajar dan belajar.
Tapi sekarang? Di saat semua dewasa, rasa rindu akan masa-masa itu seolah terobati saat ini.
Pelukan orang tua dan anak itu pun mengendur. Hingga Arya menatap lekat menantunya yang menatap haru padanya dan keluarganya.
Lelaki dewasa yang sudah tak lagi muda itu pun mendekati Galuh. Lingga membiarkan papanya berbicara lebih dekat dengan menantu yang sempat tak dianggap tersebut hingga semua alasan terkuak dan semua bisa dalam kondisi seperti ini.
Arya mengusap puncak kepala Galuh yang sedang menatapnya berkaca-kaca. Perempuan cantik itu mendongak menatap mata papa mertuanya.
Ada senyum tulus yang terlihat di bibir lelaki arogan itu, dan Galuh pun membalas senyuman Arya.
"Terimakasih!", ucap Arya. Galuh tak tahu harus menjawab apa, karena sebenarnya dia tak tahu kata terima kasih itu untuk hal apa. Galuh hanya mengangguk bingung dan tersenyum sebisanya.
Selang beberapa detik kemudian, pasukan pun datang.
Syam datang dengan Helen dan Glen, sedang Sekar menyusul di belakangnya.
"Papa Arya?", sapa Syam pada Arya. Lelaki tua itu merentangkan tangannya lalu dengan cepat Syam menghambur ke pelukan lelaki itu.
Arya mengusap puncak kepala Syam dengan penuh kasih sayang.
"Papa pasti akan merindukan Syam dan Ganesh. Besok papa akan kembali ke kota!"
"Papa Arya juga pulang?", tanya Syam sendu lalu menoleh pada Glen yang juga sedang menatapnya. Arya melihat tatapan Syam yang di arahkan pada Glen.
"Syam!", panggil Lingga.
Bocah itu pun mendekat Lingga yang kini sudah berada di samping Galuh. Sekar berada di sisi yang lain.
"Heem, iya. Syam masih punya Abang!", kata Syam dengan cengiran khas nya. Lingga pun mengangguk lalu membuat Syam duduk di samping Galuh.
__ADS_1
"Apa Bu Sekar datang bersama Glen dan Helen?",tanya Arya pada besannya. Gita dan Helen duduk di sofa panjang. Sedang yang lain berdiri. Beruntung Arya memilihkan ruang VVIP. Coba kalau kelas biasa, mana bisa mereka seperti saat ini?
"Enggak pak Arya. Tadi syam memang ikut papanya, tapi kalau saya sama mang Salim!", jawab Sekar.
"Salim nya sekarang di mana?", tanya Arya.
"Ada di luar pak!", jawab Sekar. Lalu Arya merogoh kantongnya menghubungi Salim yang di suruh masuk ke dalam ruangan.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk Salim!", pinta Arya. FYI, anggap saja Arya yang paling berkuasa di sana 🤭
Salim pun memasuki ruangan Galuh.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?", tanya Salim sopan.
"Besok pagi, saya dan Gita serta puja kembali ke kota", ujar Arya. Salim pun mengangguk paham.
"Iya tuan!", jawab Salim.
"Kalau saya sudah tidak pakai kamu lagi di kota, bagaimana?", tanya Arya pada Salim. Semua menatap Arya dengan pandangan terkejut.
"Mak-maksudnya...tuan memecat saya?", tanya Salim tergagap.
Apa tuan Arya tahu jika selama ini aku memperhatikan Bu Sekar? Dia tak ingin aku berdekatan dengan besannya tersebut? Salim menerka-nerka.
"Pa....!", Puja, Lingga dan Gita memanggil Arya. Tapi Arya mengangkat tangannya agar anak-anak dan istrinya diam.
Mereka pasti keberatan, apalagi sudah dua puluh tahunan Salim ikut dengan papanya.
"Bukankah tadi anda mengatakan bahwa Anda sudah tidak memakai saya lagi di kota?", tanya Salim.
"Iya. Saya mengatakannya, tapi apa ada kata-kata saya memecat kamu?", tanya Arya balik. Salim menggeleng lemah.
"Tidak tuan!", jawabnya.
"Saya tidak pakai kamu lagi di kota karena saya ada rencana untuk tinggal di daerah sini. Jadi untuk sementara kamu di sini dulu, bantu-bantu Lingga juga boleh. Tapi saya tetap kasih gaji buat kamu. Kamu cari tempat tinggal yang jangan terlalu jauh dari rumah Lingga. Jadi jika sewaktu-waktu Galuh dan yang lain membutuhkan mu, kamu dekat dengan mereka. Paham?", tanya Arya.
Salim meneguk salivanya. Apakah dia harus senang saat ini?
"Pa-paham Tuan!", sahut Salim.
"Kamu kan pernah duduk di bangku kuliah Salim, pasti kamu bisa membantu Lingga atau Galuh!", kata Arya. Semua mata menatap Salim tak percaya.
Benarkah????
"Ba-baik Tuan!", Salim kembali tergagap tapi matanya tiba-tiba tertuju pada sosok perempuan yang tersenyum ke arahnya.
Salim pun turut menyunggingkan senyumnya dan siapa pun bisa menangkap tujuan senyum Salim ke mana.
"Puja, kita keluar. Biar mereka mengobrol tanpa kita!", ajak Arya pada si sulung. Puja pun mengiyakannya.
Glen cukup paham jika sebenarnya Arya punya tujuan lain untuk supirnya tersebut.
Glen! Jangan coba-coba bermain api! Batin Glen berperang.
Arya berbisik pelan saat melewati Salim.
"Jangan di kira saya tidak tahu, Salim!"
__ADS_1
Setelah Arya melewatinya dan begitu juga Puja, Salim menunduk pamit pada orang-orang yang ada di dalam sana.
Setelah sampai di luar....
"Pa, ada banyak hal yang sudah aku lewati?", tanya Puja.
"Salim, berkas yang kemarin masih ada copy-nya kan? Sisa di ambil Lukas?", tanya Arya pada Salim.
"Ada Tuan!", kebetulan Salim membawanya.
Setelah itu ia serahkan pada Puja untuk di baca olehnya.
Tapi sebelum Puja membacanya, Arya menjelaskan kronologis kejadian tentang Helen dan Shiena. Puja sempat tak percaya hingga papanya memberikan ia waktu untuk membaca surat perjanjian yang ada di tangannya.
Puja membaca tiap poinnya hingga ia menggeleng heran. Lalu tak lama kemudian, sesungging senyum merekah di bibir tipisnya.
"Apa Tante Helen tahu endingnya dari surat perjanjian itu?", tanya Puja pada papanya.
Arya terkekeh perlahan.
"Dia tak membaca dengan teliti Puja, itu salahnya sendiri!", sahut Arya. Salim yang tak tahu isinya pun memilih bungkam.
"Andai dia membacanya hingga selesai ya Pa!", Puja menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
"Ada untungnya juga."
"Poin-poin awal memang terasa cukup memberatkan, tapi seandainya dia teliti membaca sampai akhir....!"
"Papa sudah memperhitungkan, dia sedang kalut. Pasti dia tidak akan menyadarinya!", sahut Arya.
"Licik sekali, Pa!",ujar Arya terkekeh.
"Tapi setidaknya sekarang keadaan justru jauh lebih baik Puja!", kata Arya. Puja pun mengangguk dan mengiyakannya.
"Perjanjian itu berlaku jika pihak kedua menyetujuinya. Jika tidak, pihak kesatu berhak untuk merubah sewaktu surat perjanjian tersebut tanpa pemberitahuan terlebih dulu pada pihak kedua", kata Puja.
Salim cukup jelas mendengarnya.
"Dan papa, merubah Surat perjanjian itu sebelum di serahkan pada om Lukas! Bahwa.... tidak semua poin-poin itu berlaku, kecuali tentang hak waris dan perusahaan Shiena?"
Arya mengangguk.
"Papa hanya menekan Tante Helen agar Syam masuk ke dalam keluarga Surya Atmaja? Papa memanfaatkan momen yang pas!", kata Puja terkekeh.
Salim di buat tak percaya mendengar obrolan para majikannya.
"Sebut saja papa egois, jahat! Mencampur adukkan urusan pribadi dengan perusahaan. Tapi....papa hanya berusaha untuk memberikan keadilan untuk Syam! Dia berhak bahagia dengan merasakan bahwa dia juga di inginkan, tidak di buang!", kata Arya dengan nada suara datar dan tegas.
"Terimakasih, pa! Maafkan aku jika selama ini selalu berburuk sangka pada papa. Aku ingin kita benar-benar memperbaiki hubungan antara keluarga kita!", kata Puja.
"Papa yang harusnya minta maaf selama ini selalu memaksa mu menuruti kemauan papa!", Arya menepuk pundak Puja pelan.
"Dan kamu Salim, apa kamu sudah tahu seperti apa rasanya tertarik pada lain jenis? Kamu sudah tua, menikahlah!", pinta Arya. Salim hanya tersenyum tipis.
"Dan, Bu Sekar kah orangnya?", tebak Puja yang entah dari mana bisa menebak seperti itu. Otomatis, tubuh Salim pun menegang.
"Bercanda mang!", Puja gantian menepuk bahu Salim. Tapi Arya paham jika apa yang Puja katakan memang benar adanya.
**********
22.40
Adakah yang menunggu Mak othor??? 🤭🤭🤭
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏