
Hampir jam sepuluh pagi Arya sudah sampai di ibukota. Ia tak langsung pulang ke rumah nya melainkan ke rumah sakit di mana ayah dan juga kakak tirinya di rawat.
Benarkah seorang Arya yang arogan masih peduli pada dua orang itu?
Tak sulit seorang Arya menemukan keberadaan ruangan Pandu dan Yudis. Jika di depan ruangan Pandu saja anak buah Lukas berjejer rapi, di lorong yang lain ada di orang-orang Surya yang ada di depan ruangan Yudis.
Mana mungkin seorang Surya menjaga Yudis dua puluh empat jam? Kerabat dekatnya saja mungkin tak akan diperlakukan seperti itu oleh Surya.
"Selamat siang tuan !", sapa anak buah Lukas.
"Bagaimana kondisi pria tua itu?", tanya Arya datar.
"Dokter yang menangani beliau menjelaskan bahwa kondisi tuan besar cukup parah tuan!", jawab salah seorang penjaga.
"Kalian tahu kenapa dia bisa seperti itu?", tanya Arya lagi.
"Dari informasi yang kami dapat, beliau jatuh di depan kursi roda nya tuan!"
Arya menghela nafas berat.
"Dimana Puja dan Lukas?"
"Di kantor tuan. Tadi pagi sempat menjenguk tuan besar. Sedang nyonya Vanes baru saja pulang karena akan menjemput nona Angel."
Arya mengangguk paham. Dia pun masuk ke dalam ruangan Pandu. Beberapa alat bantu terpasang di tubuh tua nan renta tersebut. Usia delapan puluhan bukan lagi sekedar di sebut tua. Tapi bonus yang cukup lama di bandingkan usia manusia pada umumnya bukan?
Di pandangi wajah tua pria yang sudah keriput itu. Terlihat begitu banyak beban di wajahnya yang masih tersisa ketampanan di masa mudanya dulu. Terbukti, Arya mewarisi ketampanan seorang Pandu.
Arya memang mewarisi darah dari lelaki tua yang ada di hadapannya. Tapi tak sedikitpun ia merasakan seperti apa kasih sayang seorang Pandu selama hidup nya selain dia diijinkan tinggal di atap yang sama dengannya. Itu pun karena ibunya yang berstatus sebagai istri kedua sekaligus seorang art di rumah megah itu dulu. Miris!!!
"Semoga Allah segera mengangkat penyakit mu...Ayah!", kata Arya menatap wajah tua itu.
Arya berdiri di samping Pandu yang terbaring di brankar pesakitan itu.
Netranya menangkap bulir bening di sudut mata yang sudah keriput itu. Bola matanya tampak bergerak perlahan.
Arya memilih abai, setelah itu dia pun meninggalkan ruangan Pandu untuk melihat kondisi Yudis.
"Tuan, apa perlu kami antar ke ruangan tuan Yudis?", tawar penjaga saat Arya keluar dari kamar ayahnya.
"Tidak perlu. Kalian di sini saja!", kata Arya berjalan menjauh dari ruangan tersebut.
Tak berapa lama, ia pun sampai di ruangan Yudis. Beberapa orang penjaga menunduk hormat pada Arya.
"Maaf tuan Arya, tuan Surya sedang berhalangan kemari!", kata salah seorang laki-laki berkemeja hitam.
"Tidak apa-apa."
"Silahkan tuan!", orang itu membukakan pintu untuk Arya masuk menemui Yudis yang kondisi nya tak berbeda jauh dengan Pandu. Arya mendekati tubuh gempal yang terbaring di brankarnya.
Meski usia Arya tak lagi muda, tapi fisiknya masih terlihat kuat tak seperti kakak tirinya tersebut.
Mata Yudis terpejam dengan beberapa alat bantu juga infus yang ada di tangannya.
"Apa ini yang di sebut karma Yudis?", tanya Arya yang pasti tak akan di jawab Yudis.
__ADS_1
"Kamu sudah merebut paksa hak ku juga nyawa sahabat ku! Kamu membuat aku menjadi sosok yang kejam! Membuat ku memperlakukan istri dan anak sahabat ku dengan buruk dan membuat mereka terlunta-lunta karena kekejaman mu!"
"Karena mu, aku tidak pernah sekalipun di anggap ada oleh laki-laki yang katanya di sebut ayah!"
"Tapi... setidaknya aku lebih beruntung. Aku memiliki Gita yang selalu mendampingi ku meski kehadirannya karena perjodohan antara ayah mu dan ayahnya!"
"Aku lebih beruntung karena aku memiliki istri dan anak cucu serta menantu yang sangat sayang dan menghormati ku! Tak seperti kamu yang kini benar-benar sudah sendiri, Yudis!"
Mata Arya mengembun dengan rahang nya yang mengeras. Terlihat betapa ia sedang berusaha menahan emosinya. Bagaimana bisa ia ingin menghajar makhluk yang tak berdaya di hadapannya???
Setelahnya, ia tersenyum miris.
"Beruntung aku mendengarkan Arsyam ku Yudis! Jika tidak, mungkin aku tidak akan ke sini untuk melihat mu lagi! Bahkan aku sudah tak peduli apa pun yang terjadi pada mu sekarang atau nanti!"
Arya pun keluar dari ruangan Yudis tanpa menyapa pengawal-pengawal Yudis.
Di loby, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Zea yang ada di kursi roda.
"Zea?", panggil Arya yang cukup terkejut dengan kondisi Zea.
"Om?", sapa Zea dengan wajah pucat.
Glen dan Helen menghela nafas bersama-sama.
"Ze, apa yang terjadi sama kamu? Sakit apa kamu?", tanya Arya pada gadis kecil di hadapannya.
"Mas Arya kapan datang?", tanya Helen pada kakak iparnya tersebut.
"Jawab, Zea kenapa?", tanya Arya.
"Benar begitu?", tanya Arya pada kedua orang tua Zea. Sepasang suami istri itu mengangguk kompak.
"Alhamdulillah kalo memang tak ada yang perlu di khawatirkan!", kata Arya. Zea cukup terkejut melihat perubahan Arya sekarang. Dia lebih sopan dan lebih banyak bicara padanya sekarang.
"Mas Arya ,sedang apa di sini?", tanya Glen.
"Jenguk Pandu dan Yudis!", jawab Arya. Glen dan Helen yang cukup paham hubungan kakak iparnya dengan keluarganya tersebut pun tak lagi bertanya.
"Ya udah, Zea cepat sembuh! Biar bisa datang ke kampung, buat menghadiri pernikahan Tante Sekar dan Mang Salim!", kata Arya.
Glen meneguk salivanya perlahan agar tak terlalu kentara di hadapan Helen.
"Tante Sekar akan menikah dengan mang Salim?", tanya Zea. Arya mengangguk.
Zea tersenyum lalu menoleh ke belakang.
"Ma, Pa! Kita datang ke sana kan? Zea juga mau ketemu bang Syam dan Dede Ganesh. Boleh ya Ma, Pa!?", rengek Zea.
Baik Glen ataupun Helen tak punya alasan untuk menolak keinginan Zea.
"Iya sayang!", kata Helen.
"Memang kapan acara nya akan di langsungkan mas?", tanya Glen dengan nada suara sebiasa mungkin.
"Insyaallah Minggu depan, setelah Syam libur semester. Bukankah kamu bilang ingin mengajak Syam ke sini?", tanya Arya.
__ADS_1
Glen mengangguk. Dia sudah berkomunikasi lebih dulu dengan Helen agar tak ada kesalahan pahaman.
"Ze, om pulang dulu!", Arya mengusap puncak kepala Zea pelan. Zea pun mengiyakan dengan mengangguk tipis.
Sepeninggal Arya, Zea langsung menuju ke ruang dokter yang memeriksa kondisi Zea.
.
.
.
Kepulangan Arya ke rumah mewahnya di sambut dengan sukacita oleh Angel. Dia sangat merindukan cucu perempuannya.
"Kangen opa!", Angel memeluk Arya dengan erat. Kemudian Vanes menyusul mengecup punggung tangan papa mertuanya.
"Opa juga kangen. Bagaimana rasanya sekolah di Jakarta? Seru?", tanya Arya pada Angel.
"Heum, Angel kurang pintar bergaul Opa. Jadi belum punya teman akrab sih!"
"Ngga usah buru-buru! Lama-lama juga bakal akrab kok! Cucu opa kan cantik;", puji Arya.
"Papa sendiri aja, mama ngga ikut Pa?", tanya Vanes.
"Ngga, mama mertua kamu punya mainan baru di kampung Nes. Selain bermain dengan Ganesh, mama juga suka berkebun."
"Wah, pasti seru ya Pa!", ujar Vanes.
Mereka pun bercerita banyak hal. FYI sebelum bertemu dengan Galuh, Vanes adalah menantu ideal di mata Arya dulu. Tapi sekarang, di mata Arya baik Galuh atau Vanes sama pentingnya.
Keduanya memiliki porsi yang sama-sama berharga dalam kehidupan Arya sendiri. Obrolan mereka berhenti saat Gita menghubungi Arya.
Lelaki tampan itu lupa mengabari istrinya. Setelah mengatakan itu, dia kembali bercengkrama dengan cucu cantiknya.
"Lebih baik papa istirahat dulu, pasti capek!", kata Vanes.
"Iya, papa memang capek! Tolong bangunin papa nanti jam satu ya An!", pinta Arya pada cucu perempuannya.
"Siap Opa!", sahut Angel ruang.
Belum lama Arya masuk ke kamarnya, Puja menghubungi Vanes lalu meminta agar istrinya menyerahkan ponselnya pada Arya. Sayang nya Vanes tidak tega mengganggu papa mertua nya yang sangat lelah.
"Jadi gimana mas?", tanya Vanes.
"Aku harap papa tidak akan marah dengan keputusan ku!", kata Puja.
"Baiklah, kalo emang itu keputusan mas. Aku akan meminta orang-orang untuk menyiapkannya!", kata Vanes.
*******
Menyiapkan apa ya??? π€π€π€
Hehehe makasih yang udah mau menunggu tulisan receh iniππ
21.19
__ADS_1