Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 209


__ADS_3

Tok...tok...


Kamar Puja di ketuk oleh si bibik art di rumah Puja. Tak butuh waktu lama, Puja keluar dari kamarnya.


"Iya Bik?", tanya Puja.


"Maaf tuan muda, di depan ada nyonya Lita!", kata si bibik memberi tahu. Dia sudah ikut keluarga Arya sejak Arya dan Gita menikah. Jadi paham betul siapa-siapa keluarga Arya dan Gita.


"Tante Lita?", tanya Puja.


"Iya tuan muda!", kata si bibik lagi.


"Ya udah, suruh tunggu sebentar ya bik! Makasih!", kata Puja yang juga langsung memanggil Vanes.


"Kenapa pa?", tanya Vanes.


"Baru di obrolin sama papa, udah datang aja tuh orang. Aku tuh ngga enak kalo mau kasar sama Tante Lita. Biar gimana juga, dia orang tua kan sayang?", Puja serba salah.


"Tadi papa bilang apa coba?", giliran Vanes yang bertanya.


"Ya...kata papa kalo aku ngga bisa, om Lukas yang akan menanganinya. Tapi ini udah malam, mana mungkin aku ganggu om Lukas yang pasti sedang bersama keluarganya."


"Bukti-bukti ada di siapa mas?"


"File aslinya di kantor tapi aku sama Om Lukas punya salinan sama soft copynya juga."


"Ya udah ayo kita hadapi. Barang kali Tante Lita bisa di ajak bicara baik-baik!", ujar Vanes. Sepasang suami istri itu pun menuju ke ruang tamu. Tapi ternyata di sana bukan hanya Lita yang datang, melainkan Inka pun turut datang. Tapi ada tamu lain yang Puja juga tidak duga. Ada Glen dan Helen yang entah memiliki tujuan apa malam ini karena mereka tak ada menghubungi Puja maupun Vanes.


"Om... Tante?", sapa Puja pada sepasang suami istri itu lalu beralih pada Lita dan Inka.


"Kayaknya Tante Lita ada perlu sama kamu Puja, biar Tante sama Om tunggu di belakang aja!", ujar Helen. Hawa panas terlihat dari wajah Lita sejak pertama kali Helen menyapa perempuan setengah baya tersebut.


"Iya Tante, makasih ya!", kata Puja. Glen dan Helen terpaksa menunggu di meja makan. Awalnya mereka memang ingin membicarakan hal penting yang bersangkutan dengan urusan pekerjaan meski tak mendesak. Tapi ternyata ada tamu lain yang memiliki kepentingan urgent, sepertinya.


Sekarang Puja beralih ke tamu 'agungnya'.


"Malam Tante Lita, Inka? Ada kepentingan apa sampai datang ke rumah kami?", tanya Puja sambil duduk di temani Vanes.


"Kalian memang benar-benar serakah ya!", kata Lita sambil menuding dengan telunjuknya ke wajah Puja. Untungnya, mereka duduk bersebrangan.


"Maaf Tante, sudah saya katakan sebelumnya. Lebih baik Tante menerima kenyataan bahwa Tante memang tidak berhak mendapatkan hak waris dari barang peninggalan Om Yudis. Bukan karena kami serakah, tapi kenyataannya perusahaan Om Yudis sudah koleps jadi mau tidak mau, kami mengambil alih semua asetnya tak terkecuali."


"Harusnya kalian berpikir yang lebih rasional dan kekeluargaan. Bukan malah memutuskan hal semua kalian."


"Maaf Tante, tapi apa yang kami ambil pun tidak sebanding dengan apa yang Om Yudis pakai untuk perusahaan Eyang. Asal Tante tahu, perusahaan mengalami defisit anggaran untuk produksi karena banyak nya pengeluaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Bahkan, banyak di antaranya justru pengeluaran pribadi Tante dan Inka."


"Puja! Kamu lupa bicara dengan siapa hah? Kamu hanya anak kemarin sore. Apa yang Tante dapatkan selama ini, itu kewajiban Yudis sebagai suami dan papa dari anak Tante. Ngga paham kamu rupanya", dengan nada suara berapi-api, Lita kembali menuding Lingga dengan telunjuknya.


"Maaf Tante, sekali lagi Puja minta dengan hormat. Tolong berhenti meminta hak yang memang tidak ada hak yang perlu Tante dapatkan."


"Kamu benar-benar ya Puja? Mana sini, biar Tante yang bicara sama papa kamu sekalian adik kamu di kampung sana hah! Kalian pasti sudah mencuci uang perusahaan."


"Bagaimana kami mau mencuci uang perusahaan sedang perusahaan ini milik kami. Lagi pula , Lingga dan istrinya tidak tahu menahu tentang apa yang Tante tuduhkan!"


"Kalau kamu tidak memberikan warisan Yudis pada Tante, lihat saja besok di media! Tante akan menunjukkan bahwa keluarga Arya Saputra adalah keluarga yang serakah harta janda dan anak yatim! Dan jangan lupa, Lingga dan istri kampungannya itu juga akan menerima akibatnya!", tuding Lita lagi.


"Bersikaplah kooperatif Tante dari pada nantinya Tante yang akan menyesal!", Puja memperingatkan.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyesal sedikit pun yang pasti aku akan menunjukkan ke publik seperti apa keluarga kalian."


"Bagaimana jika hal sebaliknya yang terjadi Tante? Kami yang akan mengungkapkan ke publik hingga Tante Lita tak bisa playing victim seperti sekarang!", Puja menyilangkan dan mengangkat salah satu kakinya. Dia sudah cukup geram mendengar setiap ucapan Lita.


"Ciiih...kamu mau menggertakku Puja??"


"Bukan menggertak Tante, hanya sedikit penawaran agar Tante tidak usah mendrama tersakiti seperti itu!", sindir Puja.


"Kamu....!", Lita berdiri lalu mendekati Puja dan bersiap akan menampar Puja yang tengah duduk. Tapi justru Vanes yang menahan lengan perempuan setengah baya tersebut.


"Jangan menggunakan kekerasan di rumah kamu Nyonya Lita!", pinta Vanes dengan suara pelan tapi penuh wibawa. Lita pun langsung melepaskan cengkraman tangan Vanes.


Puja tersenyum simpul lalu meminta istrinya untuk kembali duduk.


"Sepertinya Tante memang sudah tidak bisa di ajak bicara baik-baik. Baiklah, biar Puja jabarkan sebentar. Soal bukti fisiknya, Om Lukas yang menyimpannya. Tapi aku akan spill sedikit demi sedikit kok Tante?!"


Lita sudah kembali duduk tapi di sofa yang berbeda tidak bersama Inka.


"Maaf Inka kalau ini cukup menyakitkan kamu!"


"Maksud kamu apa?", tanya Inka.


"Om Yudis di diagnosa tidak bisa memberikan keturunan. Dan itu artinya... status kamu perlu di pertanyakan. Bukankah begitu, Inka?", tanya Puja. Inka menatap tajam mamanya yang masih ada kilatan emosi di wajahnya.


"Ma???", Inka masih menatap mamanya.


"Ngapain kamu dengerin Puja, Ka! Ngga usah percaya!", Lita mempengaruhi Inka.


"Terserah kamu mau percaya padaku atau mama kamu. Yang jelas, kamu bukan darah daging Om Yudis. Ibu kamu berselingkuh berkali-kali di belakang Om Yudis! Jangan tanya dari mana kami tahu, karena bukti sudah kami simpan dengan baik. Tapi...kalau Tante Lita masih mengharapkan apa yang bukan hak Tante apalagi sampai mengusik adik-adik ku, semua ini akan di up ke publik. Bukan hanya Tante yang tak mendapatkan apapun, tapi juga Inka yang akan menanggung malu atas perbuatan mamanya!", kata Puja panjang lebar yang sontak membuat Lita semakin geram.


"Kamu dan papa kamu sama saja Puja!", Lita kembali berdiri.


"Ngga bisa Ka! Kita harus menyelesaikan semuanya. Kamu jangan terlalu percaya sama omongan bocah kemarin sore ini. Kamu cuma boleh percaya sama mama!"


"Cukup Ma...stoppp!", Inka sudah tak bisa lagi membendung emosinya. Tanpa menunggu Lita, ia meninggalkan ruang tamu Puja dengan langkah kaki yang terhentak kuat.


"Urusan kita belum selesai!", kata Lita yang langsung mengejar Inka keluar dari kediaman mewah tersebut.


Puja menghela nafas kasar. Dia merasa begitu lelah seolah baru selesai lari maraton. Istri Om nya itu memang benar-benar tidak bisa di ajak bicara baik-baik.


"Sudah mas, apa yang kamu lakukan tadi tidak salah! Toh kamu belum mengungkapkan semuanya ke publik!", Vanes mengusap pelan bahu Puja.


"Tapi...aku merasa sebagai laki-laki yang begitu kasar sudah memaki perempuan yang lebih tua seperti tadi sayang!",Puja menunduk.


"Sudah-sudah! Tak apa! Sekarang kita istirahat dulu. Yuk! Biar nanti aku yang bilang ke papa!", kata Vanes. Puja pun setuju untuk naik ke kamarnya.


Seperti yang sudah Vanes katakan, dia yang akan mengatakan kejadian tadi pada papa mertuanya. Keduanya memang begitu dekat bahkan sebelum Puja dan Vanes menikah. Mungkin... karena mereka sederajat 🙈


[Begitu lah Pa ...]


Kata Vanes mengakhiri ceritanya pada sang papa mertua.


[Apa yang Puja katakan sudah benar! Kalau memang nanti Lita masih berbuat yang macam-macam terutama pada Lingga dan Galuh yang tak tahu apa-apa, biar itu jadi urusan Papa!]


[Baik Pa. Ya udah, papa istirahat deh. Udah malam. Assalamualaikum]


[Iya Nes, walaikumsalam!]

__ADS_1


Arya meletakkan ponselnya dan setelah itu ia menoleh pada istrinya yang sudah terlelap. Sepertinya obrolannya dengan Vanes tak mengganggu tidurnya sama sekali.


Tapi ternyata, Arya tak langsung tidur. Dia kembali mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


[Hallo, Salim ....]


Arya mengobrol beberapa hal dengan Salim.


.


.


.


"Abah dari mana?", tanya Sekar saat menyadari suaminya baru masuk ke dalam kamar.


"Eum...dari dapur Bu, tadi lagi kepingin minum air hangat."


Sekat tak menyahuti ucapan Salim. Dia kembali memejamkan matanya. Salim pun turut merebahkan diri usai melepaskan kacamatanya dan ia letakan di atas nakas.


Kedua tangan Salim digunakan sebagai bantal. Obrolannya dengan Arya membuat dia harus memikirkan beberapa hal esok pagi.


Setelah berkutat dengan pikirannya, Salim memiringkan tubuhnya untuk menghadap istrinya yang sudah kembali tertidur pulas. Beberapa menit kemudian, Salim menyusul istrinya ke alam mimpi.


.


.


.


"Abang!", Syam memanggil Lingga yang baru saja dari belakang setelah anak-anak selesai muat sayur sebelum di antar ke pasar induk.


"Kok udah bangun Dek?",tanya Lingga.


"Harusnya ini kan tugas Syam, bang! Kerjaan Abang udah banyak!", kata Syam. Lingga merangkul bahu Syam lalu mengajaknya masuk lagi ke dalam.


"Ngga apa-apa. Selama Abang ngga sibuk, itu tugas Abang. Yang penting tugas kamu itu belajar yang tekun. Kamu boleh gantiin tugas ini kalau Abang lagi ngga sempet. Ya?", Lingga mengacak rambut Syam.


"Iya bang!", ujar Syam.


"Udah gih , tidur lagi sana!", pinta Lingga. Syam pun mengangguk.


"Iya bang!", jawab Syam.


Lingga sendiri pun memasuki kamarnya lagi. Saat masuk, ternyata Ganesh sedang menyusu.


"Anak ayah ikut bangun heum...!", bisik Lingga.


"Stttttt.... jangan berisik atuh bang!", sekarang Galuh yang berbisik.


Lingga mengangguk paham. Dia tak mengganggu sang putra yang akan kembali terlelap. Setelah meletakkan buku catatan bagian sayur.


Dia meringsek mendekati sang istri lalu memeluknya dari belakang. Senyaman-nyamannya tidur di ranjang hotel bintang lima, masih kalah nyaman di banding tidur sambil memeluk istri dan anak dalam waktu bersamaan.


*****


12.13

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏🙏


Insyaallah up lagi nanti malam 😆


__ADS_2