Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 88


__ADS_3

"Pa...!",ulang Galuh. Arya menoleh pada menantunya itu. Menatap wajah teduh perempuan yang sudah menderita selama ini.


Galuh mendekati papa mertuanya. Alex yang merasa terselamatkan pun memilih menyingkir dari hadapan Arya. Lalu bersembunyi di punggung Lingga.


"Apaan sih Lo?", bisik Lingga.


"Bokap Lo galak banget njir! Takut gue, udah kena tabok ntar tinggal kena sleding. Beruntung ada bini Lo!", balas Alex sama-sama berbisik. Lalu kedua sahabat itu kembali memberikan perhatian pada Galuh dan Arya.


"Boleh Galuh bicara?", tanya Galuh pada Arya. Arya tak menjawab apapun.


"Galuh minta maaf!", kata Galuh lirih.


Arya heran, untuk apa Galuh minta maaf? Atas kesalahan apa? Bukankah selama ini dirinya yang memperlakukan Galuh seperti orang asing? Tak pernah menganggap jika Galuh adalah menantunya?


Arya masih diam di tempatnya. Jika iya mengiyakannya, maka runtuh lah arogansinya selama ini.


"Maaf, sudah berprasangka buruk sama papa. selama ini. Maaf, belum bisa menjadi menantu seperti yang papa harapkan! Maafkan galuh Pa!", lanjut perempuan hamil itu.


Arya menatap ke arah putranya yang juga sedang menatapnya.


"Pa...!", sekarang Lingga yang mendekati papanya.


"Papa mau istirahat! Nanti malam harus kembali ke kota?!", kata Arya meninggalkan sepasang suami istri itu tanpa menjawab satupun yang Galuh katakan tadi.


"Sayang, kamu yang sabar ya! Yang penting kamu sudah tahu kalau papa ngga pernah benci sama kamu!", kata Lingga merengkuh bahu kecil istrinya.


"Huum, iya bang. Mungkin benar papa butuh waktu. Ngga apa-apa papa belum mau bicara padaku. Tapi sikap papa sudah mulai membaik perlahan-lahan."


"Ehem... urusan gue udah selesai nih, boleh pamit pulang kan?", tanya Alex mengganggu romantisme sepasang suami istri itu.


"Kok pulang? Biasanya juga nginep?", tanya Galuh. Ya, Alex beberapa kali menginap di sini.


"Ngga lah, gue balik aja Luh! Takut di mutilasi sama om Arya. Belum keluar taringnya aja udah serem gitu. Gimana kalo gue di gaplok!", kata Alex.


Galuh hanya menggeleng heran pada sahabat suaminya.


"Terimakasih mas Alex, tanpa campur tangan mas Alex kami tidak akan pernah tahu yang sebenarnya", ucap Galuh tulus.


"Santai Luh. Harusnya gue cerita dari dulu ya. Sayangnya gue telat nyampein ke kalian. Coba lebih cepat, mungkin kesalah pahaman ini ngga sampai selama ini, bertahun-tahun."


"Ngga apa-apa mas. Mungkin waktu nya memang lebih tepat sekarang. Sekali lagi terima kasih!"


"Udah yang, ngga usah makasih mulu. Terbang nanti dianya!", kata Lingga.


"Posesif amat sih timbang ngomong makasih doang sama gue!", kata Alex.

__ADS_1


"Oh ya?? Eum...ngga sih. Biasa saja! Oh ya, pintu belakang dapur masih di buka dan belum pindah kok. Silahkan....!", kata Lingga.


"Ya Tuhan, gue di usir secara halus sama suami kamu Galuh ...!", drama Alex.


"Abang ih... bercandanya yang bener deh! Masa tega amat ngusir temen sendiri?"


"Ngga usah kemakan drama nya Alex Yang, dia mah emang begitu!", kata Lingga.


''Ya udah sana anterin mas Alex!", Galuh mendorong punggung Lingga.


"Iya, tapi ada syaratnya!", kata Lingga. Galuh memicingkan matanya. Begitu pula dengan Alex yang kepo dengan syarat dari Lingga.


"Apa???", tanya Galuh.


"Olahraga habis ini ya! Trimester kedua udah aman kan buat utun!", kata Lingga sambil menaik turunkan alisnya tapi menghadap Alex. Sedang tangannya mengusap perut Galuh yang buncit.


Wajah Galuh memerah karena suaminya berbicara seperti itu dihadapan sahabatnya. Jika suaminya mau mesum berdua sih ngga masalah. Yang jadi masalah tuh ...Alex masih sendiri. Bagaimana jika otaknya traveling ke mana-mana????


"Njir, bahasa Lo! Gue paham kali?! Dah lah, gue ngga perlu di anterin segala! Bener kata suami kamu Luh, pintu nya masih di situ. Belum pindah! Dah, gue pamit Luh!", kata Alex meninggalkan teras belakang.


Galuh mencubit pinggang suaminya dengan sedikit kencang.


''Ya Allah yang, sakit!", keluh Lingga.


"Iya yang, Abang keluar! Jangan marah-marah lho, nanti...!"


"Anterin mas Alex atau....??", ucapan Galuh sengaja di gantung.


"Oke ...Abang liatin Alex dulu!", kata Lingga menyerah. Tak lupa ia menyempatkan diri mengecup kening Galuh.


.


.


"Memang jadi pulang ke kota sekarang pa?", tanya Gita.


"Iya!", jawab Arya singkat.


"Sebenarnya mama masih betah di sini! Rumah ini ramai, hangat!", kata Gita.


Arya langsung menoleh pada istrinya. Jika boleh jujur, Arya pun sama nyamannya di sini. Tapi....


"Pekerjaan papa banyak! Mama tahu sendiri papa belum pensiun di usia setua ini! Anak-anak papa sibuk dengan urusan mereka sendiri!"


"Pa, anak-anak papa sudah dewasa. Mereka memiliki pilihan dan kehidupan sendiri!", Gita memeluk suaminya yang sedang memandangi kebun. Para pekerja mulai berdatangan.

__ADS_1


"Tapi...siapa yang akan meneruskan perusahaan papa yang sudah papa rintis sejak muda?", tanya Arya menoleh pada Gita.


Gita terdiam. Gita akui jika suaminya adalah pekerja keras sejak muda hingga ia begitu jatuh hati pada sosok Arya.


"Puja sendiri sudah meneruskan perusahaan keluarga mama di Kanada. Dan sepertinya mereka nyaman berada di negara sana dari pada meneruskan perusahaan papa!"


Tanpa mereka sadari, Puja sedang melintas di depan kamar mereka. Puja mendengar obrolan kedua orang tuanya.


Puja pun menghentikan langkahnya beberapa saat ketika sang papa menyebut namanya dan perusahaan milik keluarga dari pihak sang mama.


Puja pun semakin yakin jika dirinya ingin pindah di negara ini lagi. Lingga terlalu keras kepala jika di paksa meneruskan perusahaan papanya. Jadi, sebagai anak tertua mungkin ada baiknya jika Puja yang mengalah.


Masalahnya, apakah Vanes mau???


Puja melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Dia melihat Lingga dan Alex yang sedang mengobrol di depan pintu gerbang. Puja memutuskan untuk menemui dua sahabat itu.


Beberapa karyawan Lingga sedang memasukkan beberapa sayuran di bagasi Alex.


"Banyak banget sayurnya ?Mau di jual di pasar induk ya Lex?", sindir Puja.


"Kak Puja mah sebelas dua belas sama adeknya?!", kata Alex sedikit kesal. Tapi keduanya bersalaman dengan erat khas laki-laki.


"Kok pulang Lex?", tanya Puja.


"Ngga pulang ke Jakarta sekarang kok kak. Ini mau mampir ke proyek pembangunan villa di balik bukit itu kak!", jawab Alex.


"Oh, kamu bikin villa di daerah sini?", tanya Puja.


"Iya kak. Selain buat investasi, sekalian kalo lagi penat di kota ya... refreshing ke sini!", jawab Alex.


"Bener juga ya!", kata Puja.


"Kak puja tertarik sama bisnis Alex?", tanya Lingga.


"Belum sih, tapi bisa di coba!", kata Puja.


"Bisnis kak Puja kan real estate, mau bikin villa kecil-kecilan di kampung ku gini?", tanya Lingga sedikit sentimen.


"Ya kan bisa di coba Ga!", sahut Puja.


"Orang kaya mah bebas!", kata Lingga. Puja dan Alex terkekeh pelan. Kalo Lingga menyindir begitu, apa bedanya dengan dirinya???? Lingga juga bukan orang kismin????


******


Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2