
Di bab ini isinya orang berantem yak 🤭✌️🙏
****
"Aku mau pulang sendiri!", sergah Helen saat Glen menarik tangannya.
"Jangan kekanak-kanakan Len, ada Zea. Kita bicara di rumah. Oke??", Glen mencoba memberikan pengertian pada istrinya. Melihat Zea yang menyaksikannya pertengkaran kedua orang tua nya membuat dia merasa sedih.
"Mama papa ngga akan cerai kan?",tanya Zea saat mereka berada di dalam mobil. Sepasang suami istri itu yang sedang mode diam pun menoleh ke arah putri nya yang duduk di belakang. Lalu dua pasang mata itu pun bersitatap beberapa saat.
"Sayang, kamu dapat kata-kata itu dari mana?", tanya Glen penuh kelembutan pada Zea.
"Dari teman ku Pa. Katanya mama papanya cerai. Dia ikut tantenya yang galak. Terus, mama papanya udah pada nikah lagi. Dia punya adik dari mama baru dan papa baru nya. Dia udah ngga di sayang. Zea ngga mau mama papa cerai ya, Zea mau tetap di sayang!",kata Zea lirih dan sedikit terisak. Jika biasanya dia bawel dan resek, tidak kali kini. Kedua orang tua itu tak sanggup melihat putrinya menangis.
"Sayang...mama sayang sama Zea, sampai kapanpun!",kata Helen.
"Papa juga sayang sama Zea. Jangan pernah berpikir seperti itu sayang. Ya?", kata Glen lagi. Tapi Zea tak merespon, dia memilih menatap kaca jendelanya.
Dua puluh menit kemudian, mobil mereka memasuki rumah mewah bergaya minimalis. Zea langsung berlari ke kamarnya. Gadis itu tak ingin melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Karena sejak di mobil tadi, mereka masih dingin tak seperti biasanya.
Glen membiarkan gadis kecilnya masuk kedalam kamar lebih dulu. Lagi pula, sudah hampir jam sepuluh malam. Wajar jika dia sudah lelah.
Helena pun beranjak ke kamar diikuti Glen. Tapi saat tahu suaminya mengikuti, Helen menghentikan langkahnya.
"Kamu pakai kamar yang lain Mas! Aku butuh waktu sendiri!", Helen mencoba menutup pintu kamarnya tapi Glen mendorong nya dan meringsek masuk ke dalam kamar mereka. Akhirnya Helen memilih untuk membiarkan suaminya masuk.
"Kita perlu bicara!",ujar Glen.
"Apalagi? Kamu sudah mengakui nya bukan? Mau apa lagi?",tanya Helen menatap suaminya nyalang.
"Aku sudah bilang, saat itu aku mabuk Len."
"Tapi kamu memang berniat menikahi nya bukan? Kenapa tidak kamu lakukan saja!!"
"Dia yang menolak pertanggungjawaban dari ku!", Glen menyugar rambutnya.
"Dan seharusnya pernikahan kita tidak terjadi! Seharusnya kamu mengatakan padaku, pada keluarga kita bahwa kamu sudah melecehkan seorang perempuan! Gila kamu mas!!!", Helen mendorong bahu suaminya. Tubuh Glen sedikit mundur.
"Aku tahu aku salah Len, aku minta maaf!", Glen mencoba mendekati istrinya.
"Bukankah pernikahan kita ini terpaksa?", tanya Helen sambil menatap wajah suaminya.
"Dulu iya, tapi seiring berjalannya waktu...cinta itu ada. Kita saling mencintai Len!", kata Glen sambil tetap memegang bahu Helen. Helena melepaskan tangan Glen dari bahunya. Ia menghapus jejak air matanya dengan kasar.
"Setelah kamu tahu, kamu punya anak selain dari ku, apa yang akan kamu lakukan?", Helen menatap tajam pada Glen.
Glen menghela nafas berat. Ia memilih duduk di ranjangnya lalu mengusap wajahnya kasar. Helen tersenyum miris.
"Kenapa? Kamu bingung? Karena selama ini kamu memang menginginkan anak laki-laki bukan? Dan kamu sudah mendapatkannya sekarang!", kata Helen sambil beranjak dari hadapan Glen. Tapi belum selangkah, Glen menarik istrinya hingga ia terjatuh di atas ranjang mereka. Dan dengan tatapan tajam, Glen yang menindih Helen seolah mengintimidasi.
"Iya, aku memang menginginkan anak laki-laki tapi bukan berarti aku tidak menginginkan Zea. Aku menyayangi Zea sepenuh hatiku Len!",kata Glen tanpa beranjak dari atas tubuh istrinya.
__ADS_1
"Dan kamu sudah mendapatkannya! Bahkan mungkin sebelum Zea ada!", bentak Helen sambil terisak.
Sungguh, hati wanita manapun akan merasakan sesak yang sama seperti Helen saat mendapati kenyataan seperti itu. Menyakitkan!!???
Perlahan, Glen menurunkan bobot tubuh nya dari atas Helen. Setelah Glen jatuh di sampingnya, Glen memeluk Helen. Memeluk erat pinggang rampingnya meski Helen mencoba meronta.
"Maaf sayang, maaf!",ucap Glen lirih. Helen justru semakin terisak. Sosok perempuan di kursi roda dengan tatapan kosong membayangi pelupuk matanya. Mungkin benar, Helena sakit hati dengan apa yang suaminya lakukan. Tapi bagaimana dengan perempuan yang sudah menjadi korban suaminya???
Jika benar yang Zea ceritakan, itu artinya perempuan itu benar-benar depresi karena ulah suaminya! Apa masih pantas dia membandingkan rasa sakit hatinya meski dengan porsi yang berbeda?
"Jadi, Syam itu putra mu mas! Pantas, wajahnya sangat mirip dengan mu!", kata Helen mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Glen memejamkan matanya dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dia tak menjawab ucapan istri nya beranjak dari ranjang. Di balik pintu, Zea kecil tak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya.
Syam? Anak papa? Gumam Zea. Tapi setelah itu, dia memilih kembali ke kamarnya. Niatnya tadi, ia ingin meminjam ponsel mama atau papanya untuk bertanya tugas pada gurunya. Tapi niatan itu ia batal kan karena mendengar pertengkaran orang tua nya lagi.
.
.
"Mama ngga habis pikir dengan jalan pikiran papa! Papa tega bohongin mama selama ini!?", kata Gita.
"Apa yang papa lakukan semata-mata karena papa sayang sama mama dan mengkhawatirkan kondisi mama saat itu. Dan gadis itu yang merelakan dirinya untuk menjadi pendonor Mama. Papa ngga maksa. Dia yang tak sengaja menguping pembicaraan papa sama dokter, papa butuh donor ginjal buat mama. Dia langsung bersedia ma, karena dia butuh biaya operasi ibunya yang jadi korban pelecehan adik ipar mu itu!", terang Arya panjang lebar.
"Tapi kenapa papa harus bohong? Papa bilang pendonor nya sudah meninggal. Tapi kenyataannya apa? Dia justru menantu kita pa! Papa tega sekali membiarkan hidup nya begitu saja setelah ia menyelamatkan nyawa mama!?"
"Papa sudah membayar biaya operasi ibunya, mengazani dan memberikan nama untuk adiknya, papa berikan dia uang lima ratus juta. Ngga cukup Ma?",tanya Arya. Gita menggeleng tak percaya.
"Tapi jelas-jelas di surat perjanjian itu, papa menegaskan tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padanya. Dimana hati nurani papa?", tanya Gita dengan mata yang sudah terlanjur berembun sejak tadi usai makan malam.
Gita masih menggeleng tak percaya. Jika selama mereka menikah, Gita mengetahui suaminya laki-laki yang arogan tapi tak menyangka jika suaminya begitu tega pada anak dan menantunya sendiri.
"Lagian Ma, merasa cuma nikah siri! Mama lihat kan? Mereka menikah saat sama-sama masih labil, masih belia! Harusnya kita tanya tadi, apa alasan mereka menikah! Paling, gara-gara tahu kalo saat itu Lingga seorang mahasiswa dari kota. Penampilan Lingga yang terlihat mencolok di banding dengan teman-temannya, bikin gadis itu tertarik pada Lingga. Tidak lebih hanya karena harta Ma!",ujar Arya.
"Demi harta papa bilang? Papa lihat, apa mahar yang Lingga berikan? Hanya jam tangan seadanya dan yang tiga puluh ribu. Hanya itu papa!", kata Gita.
"Coba papa ngga kirim Lingga ke Kanada, sudah pasti gadis itu dan ibunya akan merongrong harta kekayaan Lingga."
"Ya Tuhan, Papa?!!", Gita sudah tak bisa berkata-kata lagi.
"Harusnya, menantu yang mama bilang tadi cuma jual ginjal itu pun demi mama dan ibunya. Coba kalo dia jual harga dirinya, bukankah anak kesayangan mu akan jauh lebih kecewa?", Arya semakin memantik emosi Gita.
"Papa benar-benar keterlaluan!!!", Gita berdiri dari sofa.
"Dan perjodohan dengan Shiena akan tetap papa lakukan. Ini semua juga untuk masa depan Lingga nantinya. Toh, Lingga dan gadis itu hanya menikah siri!"
Gita tak mampu menjawabi ocehan suaminya yang semakin keterlaluan. Perempuan setengah baya itu lebih memilih memasuki kamarnya dari pada meladeni ucapan suaminya yang sudah tak bisa ditolerir.
.
.
"Aku minta dokumen pribadi kamu Luh!",kata Lingga saat keduanya sampai di halaman warung sekaligus rumah Galuh.
__ADS_1
"Untuk apa?", Galuh bingung sebab sejak dari rumah mertuanya, keduanya sama-sama terdiam.
"Aku ingin melegalkan pernikahan kita!",kata Lingga. Galuh menghela nafas panjang.
"Kamu yakin akan melanjutkan hubungan kita yang tidak jelas ini?",tanya Galuh sambil menatap wajah suaminya.
"Hubungan yang tidak jelas seperti apa? Kita sudah menikah! Bukan sedang pacaran kan? Tapi...ya kita memang perlu pacaran setelah menikah!"
"Aku sudah menjadi penyebab pertengkaran kamu sama papa kamu mas!",kata Galuh lirih. Lingga mengusap kepala Galuh yang tertunduk.
"Jauh sebelum kamu hadir dalam kehidupan ku, hubungan ku dan papa memang sudah tak harmonis. Jadi, ini bukan salah kamu!"
Galuh melihat ketulusan di mata Lingga. Keduanya pun saling menatap hingga akhirnya sama-sama menyadari jika mereka saling menatap satu sama lain.
"Mau ikut masuk atau tunggu di sini?",tanya Galuh. Lingga menaikkan salah satu alisnya tanpa bertanya.
"Kayanya butuh dokumen pribadi ku?",tanya Galuh. Lingga pun mengembangkan senyumnya.
"Kalo boleh sih, nginep aja!",ledek Lingga. Meskipun sebenarnya sah-sah saja bukan???
"Ngga! Ya udah, tunggu di sini!",kata Galuh keluar dari mobil. Lingga tertawa pelan melihat istri siri nya salting seperti itu.
Mungkin setelah mereka mendapatkan surat nikah negara, mereka akan memikirkan bagaimana ke depannya nanti.
Tak sampai lima menit, Galuh sudah membawa apa yang Lingga butuhkan! Galuh langsung percaya?
Ya, dia percaya pada suaminya setelah melihat sendiri bagaimana suaminya membela dirinya saat papanya merendahkan dan meremehkan Galuh. Dimata Galuh, Lingga pun sama seperti dirinya. Korban dari waktu yang tidak tepat, entahlah!!!
''Ini mas!", Galuh memberikan berkas sesuai dengan yang Lingga minta.
"Terimakasih. Ya udah kamu masuk, istirahat! Besok aku kesini lagi sebelum ke kantor. Mulai besok aku kembali ke kantor papa."
Galuh mengangguk.
"Apa mas akan datang di acara makan malam besok?",tanya Galuh.
"Kalau kamu mau, aku mau. Kalau kamu tidak mau, aku pun sama!",jawab Lingga.
"Tapi....!"
''Liat besok saja ya?",kata Lingga. Galuh pun mengangguk.
"Masuk lah!", pinta Lingga.
"Mas aja dulu yang jalan!", sahut Galuh.
"Kalau kamu sudah masuk, aku langsung jalan ke rumah!"
Galuh pun akhirnya mengalah untuk masuk ke dalam warung lebih dulu. Tapi dia masih melongokkan kepalanya sampai mobil suaminya menjauh.
"Ehem, rujuk ya mba?",ledek Usman.
__ADS_1
"Rujuk? Emang cerai?",sahut Umar. Galuh memilih meninggalkan mereka berdua yang sedang meledeknya.