Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 126


__ADS_3

Syam dan Deni menarik benang layang-layang mereka. Angin berhembus cukup kencang di sore hari itu. Niat hati ingin bermain bersama sang putra, Glen hanya mampu memandangi.


Masa kecil Glen tak pernah sempat bermain seperti Syam. Dia hanya bermain-main di rumah bersama mamanya atau artnya. Di sekolah dan kampus, dia bermain layaknya kaum atas yang mungkin sama dengannya, tak pernah bermain seperti Syam di tempat yang lapang seperti ini.


Syam menyadari papanya yang hanya diam, padahal dia mengatakan jika ingin bermain bersama.


"Kalau papa mau pulang dulu ngga apa-apa, kasian Tante Helen kalo lama nungguin papa!", kata Syam setelah ia menitipkan gulungan tali layang-layangnya pada Deni.


Glen menggeleng pelan dan tersenyum.


"Tante Helen masih ngobrol sama ibu mu!", kata Glen.


"Terus, kenapa papa cuma liatin Syam dan Deni, katanya mau main bersama?"


"Papa...ngga pernah main layang-layang Syam, semua pasti bisa melakukannya sih! Tapi ...saat papa kecil dulu, papa ngga pernah sekalipun memainkannya."


Glen menopang kedua tangannya di atas lutut. Dia menatap beberapa layang-layang yang terbang tenang di atas sana.


"Papa sangat bersyukur! Galuh, Lingga dan ibu mu mendidik kamu sebaik ini!", Glen mengusap kepala Syam dan tersenyum tipis.


"Jika ada yang bilang kalo kamu selama ini tidak beruntung karena...papa sempat mengabaikan kamu, tapi ... kenyataannya banyak yang sayang sama kamu Syam. Ibumu, kakak mu dan Abang. Yang sepertinya menyayangi mu melebihi pada saudara kandungnya sendiri!"


"Huum! Bagi Syam, Abang sudah Syam anggap seperti kakak kandung sendiri Pa. Abang juga bisa jadi ayah yang selalu memberikan contoh yang baik, penyemangat dan jadi pelindung keluarga kami."


Glen merengkuh bahu Syam.


"Sepertinya kamu akan bosan dengan permintaan maaf papa, Syam!", kata Glen. Syam tertawa pelan.


"Kata Kak Galuh, jika ada yang minta maaf, maka maafkan lah. Entah permintaan maaf itu tulus atau tidak, yang penting kita sudah memaafkannya."


Deg!


Didikan apa yang sudah Galuh dapatkan hingga ia bisa seperti itu?


"Kak Galuh sering bilang sama Syam, Abang bahkan ibu. Memaafkan memang mudah tapi yang susah itu melupakan. Dan...dengan memaafkan mungkin memang tak mengubah apa yang sudah terjadi, tapi setidaknya kita mendapatkan ketenangan."


Glen memandangi wajah Syam yang sedang berbicara, mengingat nasehat dari kakaknya.


"Syam ingat, Kakak pernah mengibaratkan dendam dan sakit hati seperti sayur yang di simpan. Sayur itu lama-lama akan busuk. Kalau sayur itu di simpan dengan sayur yang lain, sudah di pastikan yang lain pun akan turut busuk. Begitu juga dengan sakit hati, dendam dan tak ingin memaafkan. Mulanya...sakit hati itu jadi dendam, setelahnya dengki mungkin dan yang lebih parah jadi membuat orang itu benci lalu berbuat hal yang akan semakin merugikan diri sendiri atau pun orang lain."


Glen menautkan kedua alisnya mendengar 'pengandaian/perumpamaan' versi Galuh yang bisa di terima oleh Syam.


"Jadi?", tanya Glen.


"Syam hanya mengikuti apa yang kakak bilang Pa. Kalau bicara sakit hati dan maaf, mungkin...kak Galuh lebih paham karena banyak mengalami hal-hal yang menyakitkan. Banyak yang kak Galuh korbankan selama ini!", kata Syam menunduk.


"Kakak mengorbankan masa mudanya demi aku dan ibu. Merawat ku dari lahir karena ibu yang tak pernah sekalipun ingin melihat ku. Menjadi tulang punggung untuk kami. Menjadi pelindung kami dari cemoohan orang-orang dan dari segala hal yang kiranya bisa menyakiti kami."


Glen pun turut menunduk.


"Beruntung, Abang hadir di waktu yang tepat. Tugas kakak beralih di pundak Abang. Ibu mau menerima kehadiran Syam, karena bujukan Abang yang selalu mengatakan bahwa kehadiran Syam bukanlah sebuah kesalahan. Pokoknya....Kakak, Abang dan Ibu... sangat berarti dalam hidup Syam, Pa!"


Glen kembali merengkuh bahu kecil itu.


"Maafkan papa, nak!", kata Glen mencium puncak kepala Syam dengan lembut.


"Huum, Syam sudah maafkan papa."


"Galuh pun sudah memaafkan papa, sebelum papa ke sini untuk menemui kalian!", kata Glen. Syam tersenyum, tentu dia tahu jika kakaknya pasti akan memaafkan Papanya.


"Kakak emang baik Pa!"


"Iya, makanya dia berhasil mendidik kamu seperti ini Syam."


Tak ada lagi sahutan dari Syam yang fokus melihat layang-layangnya.


"Sudah hampir jam lima, mau pulang? Bukanya ibu mau ngajak kamu ke rumah sakit?", tanya Glen.


"Iya. Nanti mang Salim yang antar!", kata Syam.


"Kenapa harus Salim?", tanya Glen menoleh. Syam pun menoleh padanya.


"Memang kenapa? Mang Salim kan memang supir papa Arya yang di suruh nemenin kami selama papa Arya di sini!"


Glen terdiam. Takut pada Arya karena dia yang sudah menyuruh Salim secara langsung? Atau...ada alasan lain?

__ADS_1


"Papa keberatan?", tanya Syam. Glen spontan menggeleng.


"Ngga Syam!"


"Owh!", gumam Syam.


"Kamu.... terlihat begitu akrab sama mang Salim!", kata Glen.


"Memang kenapa?"


Glen tak menjawabnya.


"Mang Salim baik kok, kami biasa ngobrol pake bahasa daerah sini. Apa... karena Mang Salim hanya supir? Papa ngga suka Syam akrab sama mang Salim?"


"Hah? Bukan gitu Syam!"


''Pa, jangan pernah meremehkan profesi orang lain!", nasehat Syam yang cukup menggelitik hatinya.


"Bukan gitu Syam. Papa hanya iri, kamu dan ibumu terlihat begitu akrab dengan Mang Salim." Syam terkekeh.


"Iri? Atau.... cemburu?", tebak Syam. Glen menautkan alisnya.


"Sekarang, aku udah mau memaafkan papa dan menerima papa kan? Lalu apa yang harus membuat papa iri?", tanya Syam.


Glen tak menjawab pertanyaan Syam tersebut.


''Papa ngga cemburu karena mang Salim dekat sama ibu kan???", skakmat!


"Jangan coba-coba mengkhianati Tante Helen. Sekalipun papa dan ibu adalah orang tua kandung Syam, Syam ngga mau ada hati yang terluka seandainya kalian bersama! Tapi ibu juga ngga mau kok sama papa!", kata Syam tersenyum hambar. Dalam sudut hati seorang anak kecil sepertinya, siapa sih yang tidak ingin berkumpul dan bahagia dengan orang tua yang lengkap????


Sayangnya, Syam masih ingat betul ucapan Zea saat mereka sama-sama kecil. 'Jangan rebut papa dari ku!'. Sekarang hubungannya dengan Zea sudah membaik, tapi.... ingatan itu masih cukup jelas di otaknya.


Glen memalingkan wajahnya ke arah lain! Benarkah ia cemburu karena Salim dekat dengan Sekar????? Apa haknya????


"Den, aku pulang ya! Mau ke rumah sakit lagi!", pamit Syam berteriak pada Deni hingga membuyarkan lamunan Glen.


"Iya, Syam!", balas Deni. Syam melihat jam di pergelangan tangannya.


"Pulang pa!?", ajak Syam sambil menebah bokongnya karena duduk di rerumputan.


"Huum? Iya, Syam!", kata Glen. Ia pun melakukan hal yang sama seperti Syam, membersihkan bokongnya dari rumput yang menempel di celana.


Burhan dan Puja baru saja tiba di rumah sakit. Mereka berdua langsung menuju ke kamar rawat Galuh.


Tok...


Tok...


"Masuk!", terdengar perintah suara agar masuk.


Puja dan Burhan pun masuk ke dalam kamar rawat Galuh.


"Lho, Kak Puja? Kapan datang?", tanya Lingga cukup terkejut melihat kedatangan kakaknya yang dia pikir masih di Kanada.


"Tadi pagi landing Ga, tapi tahu Burhan mau ke sini ya kakak ikut Burhan aja!", jawab Puja.


"Kak Vanes, Angel?", tanya Lingga lagi.


"Mereka masih jetlag, ya sudah kakak tinggal sama bibik di rumah." Lingga pun mengangguk.


"Bagaimana keadaan kamu Luh?", tanya Puja penuh perhatian pada adik iparnya tersebut.


"Alhamdulillah sudah cukup baik , kak!", jawab Galuh. Puja pun mengangguk.


"Keponakan ku di mana ruangannya ya?", tanya Puja pada Lingga.


"Ada di kamar bayi kak, khusus bayi-bayi yang di inkubator!", jawabnya.


"Kakak pengen liat keponakan kakak! Laki-laki atau perempuan? Kakak belum sempat bertanya pada Burhan tadi."


"Alhamdulillah laki-laki kak!", jawab Lingga sumringah.


"Mending kakak sama Burhan istirahat dulu, baru liat Ganesh!", kata Lingga mengingatkan kakaknya.


"Ganesh? Sudah di beri nama rupanya heheh!", Puja berkelakar.

__ADS_1


"Huum, papa yang memberikan nama pada keponakan mu kak!",kata Galuh.


"Oh ya?", tanya Puja penasaran.


"Ganesh Rajendra Mahaputra!", lanjut Lingga dengan bangga. Puja menimpali dengan senyuman tipis.


"Syukurlah, jadi...papa benar-benar sudah berubah!", tiba-tiba wajah Puja menjadi sendu.


"Kak?", panggil Galuh.


"Eh? Heheh kakak cuma lagi ingat adiknya Angel, Luh! Dulu, Vanes sempat mengandung adiknya Angel sampai usia kandungannya empat bulan. Tapi....ada insiden yang membuat kami harus kehilangan calon adiknya Angel!", kata Puja.


"Kakak yang sabar ya, insyaallah itu yang terbaik untuk kalian!", kata Galuh mencoba menghibur kakak iparnya. Dia tahu sekali seperti apa rasanya kehilangan bayinya.


Lingga sontak menoleh pada kakaknya. Lelaki itu ingat di mana saat itu mereka semua sedang berkumpul di Kanada. Dan insiden itu terjadi karena Zea yang masih mungil itu berlarian di ruang keluarga yang cukup luas.


Zea yang masih berusia tiga tahunan itu sangat aktif hingga tak sengaja menabrak Vanes yang sedang membawa nampan berisi minuman panas.


Menghindari Zea agar tak tersiram air panas justru Vanes yang harus jatuh dan mengakibatkan dia kehilangan calon adik Angel tersebut.


Tidak ada yang menyalahkan Zea, semua memakluminya karena Zea memang masih balita.


Lingga pun menceritakan hal tersebut. Galuh cukup terkejut, tapi... kembali lagi! Semua sudah terjadi dan menjadi masa lalu. Karena saat itu Zea benar-benar anak kecil yang tidak sengaja melakukannya.


"Vanes sempat kepikiran saat tahu kamu harus melahirkan secara Caesar di usia kandungan mu yang cukup muda. Dia teringat pengalamannya yang membuat Angel terpaksa tak bisa memiliki adik. Apalagi....", Puja menggantung kalimatnya.


Lingga yakin Vanes pasti akan tertuju pada Zea. Jika dulu ia memakluminya karena Zea masih balita, sekarang? Zea sudah cukup besar untuk berpikir rasional tentang apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan!


"Apalagi apa kak?", tanya Galuh penasaran.


"Pelakunya sama Luh! Zea! Jika dulu kami memaklumi karena dia balita, sedang sekarang?", tanya balik Puja pada Galuh.


"Kak, kami sudah memaafkan Zea yang memang tidak ada maksud buat mencelakakan aku kok. Aku ambil hikmahnya saja kak, setidaknya ketidaksengajaan Zea membuat kita cepat bertemu dengan Ganesh. Iya kan???", tanya Galuh sambil tersenyum.


Kamu sungguh beruntung memiliki Galuh, Lingga! Batin Puja.


"Terimakasih sudah hadir dalam keluarga kami, Galuh!", kata Puja pelan tapi Galuh sendiri tak mendengar ucapan kakak iparnya tersebut.


"Burhan, ada yang mau kita bahas!", kata Lingga.


"Baik mas!", kata Burhan yang dari tadi menjadi obat nyamuk.


"Kakak juga mau liat Ganesh deh kalo gitu!", pamit Puja yang meminta Lingga memberitahu di mana ruangan bayi itu.


"Yang, Abang sama Burhan bahas kerjaan dulu di luar. Kamu sendiri dulu ngga apa-apa ya? Ibu sama Syam lagi jalan kesini kok di antar mang Salim!", pamit Lingga sambil mengusap kepala istrinya.


"Iya bang!", jawab Galuh. Setelah itu, Lingga dan Burhan pun meninggalkan ruang rawat Galuh.


*****


17.20


Terimakasih yang sudah mampir dan setia menunggu di up sama Mak othor 🤗


Boleh dong mampir ke judul yang lain sambil nunggu ini apdet 🤭🤭🤭🤭 gaya2an promo kaya kang nulis propesional aja yak? 🙈


Khusus Yuliana Tunru & Suci Dava udah khatam bacanya mah ngga usah di suruh yak 🤭✌️✌️✌️


Sok atuh mampir kadieu


Mahalnya Sebuah Kepercayaan


Bertahan Atau Lepaskan


Pesona Duda Ganteng tapi Jutek


Dan yang lain bisa di liat deh heheheh ✌️✌️✌️ Yang terbaru horor, tapi sepertinya belum bisa kalo bikin genre horor gitu sih. Kurang greget aja!


Kau Tak Sendiri


Cuma mo bilang, di judul yang Galuh Lingga ini tuh ngga ada bab yang 'anu' ya. Tahu kenapa???


Kalo lagi ga mood nulis, suka liat judul yang lama2. Eh....pas baca yang kaya begitu, malu sendiri! Astaghfirullah....kok bisa jari ku menuangkan tulisan semacam itu 🤣🤣🤣🤣


Jadi, mon maappp...di judul ini ya ...isinya begini ini heheheh

__ADS_1


Makasih banyak-banyak 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2