Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 226


__ADS_3

"Berikan nomor ponsel yang kirim pesan itu ke papa!", pinta Arya. Lingga menangkap layar nomor serta isi pesan tersebut lalu ia kirimkan pada Arya.


Setelah itu Arya mengirim nomor serta pesan itu pada Lukas. Tak lama kemudian, ponsel Arya berdering tanda panggilan dari Lukas.


[Iya Tuan?]


[Lukas, minta anak IT untuk mencari tahu nomor itu milik siapa! Segera laporkan pada ku secepatnya!]


[Baik Tuan, mohon di tunggu!]


Usai mematikan ponselnya, Lukas meminta tim IT andalan AS group untuk mencari tahu nomor yang 'meneror' Lingga tersebut.


Pegawai Arya tidak sembarangan. Mereka harus melalui seleksi ketat untuk bisa masuk ke sana. Dan jangan lupa, salary yang mereka terima pun tidak main-main.


Tak sampai sepuluh menit, Lukas sudah mendapatkan informasi dari nomor tersebut. Ia pun segera menghubungi Arya kembali.


[Bagaimana Lukas?]


[Nama yang tertera dalam registrasi kartu itu...Shiena Arunika, Tuan]


[Shiena????]


Arya meremas kedua tangannya dengan emosi.


[Benar tuan. Tapi...saya akan menyelidiki lebih lanjut]


[Puja sudah tahu?]


[Belum tuan, saya belum sempat mengatakan pada Puja]


[Setelah ini, tolong katakan padanya. Aku harap, kamu dan yang lain lebih waspada untuk menghadapi segala kemungkinan! Ternyata rubah kecil itu belum jera!!!]


Lukas menahan nafasnya di seberang sana. Dia tahu sekali seperti apa seorang Arya saat marah.


[Tapi...maaf tuan, dari hasil peretasan data chat dan panggilan ponsel nona Shiena, sepertinya bukan dia pelakunya]


[Maksud kamu?]


[Saya rasa, ada yang entah... mencuri atau menyalahgunakan ponsel nona Shiena]


[Lakukan apa yang menurut mu baik Lukas, dan pastikan semua kendali ada padamu selain instruksi dari ku]


[Siap tuan]


Arya mematikan ponselnya lalu ia masukkan kedalam saku nya lagi.


"Shiena?", tanya Lingga pada Arya.


"Nomor itu benar, terdaftar atas nama Shiena. Tapi..."


"Tapi apa pa?", Lingga penasaran.


"Sepertinya ada yang menggunakan ponsel Shiena. Papa rasa....orang terdekat Shiena. Mana mungkin orang asing bisa menyentuh barang pribadi gadis itu", lanjut Arya.


Lingga mengangguk lalu matanya menatap bangunan yang terlihat basah dan hitam pekat. Lagi-lagi bibirnya beristighfar melihat apa yang ada di depan matanya.

__ADS_1


"Menurut papa...ini ada hubungannya dengan Malik!", kata Arya.


"Papa nya Shiena? Untuk apa dia mengusik ku Pa? Bahkan aku tak pernah bertemu dengannya lagi?", tanya Lingga heran.


"Papa juga baru menduga, ini hanya menurut papa. Nanti Lukas akan mencoba mencari tahu semuanya."


"Lalu... bagaimana nasib mereka Pa? Apa aku harus merumahkan mereka?", tanya Lingga sendu.


Ada sekitar delapan belas orang yang bekerja di pabrik penggilingan beras tersebut. Apa Lingga tega membiarkan mereka menganggur cukup lama????


Mau menempatkan mereka di kebun sayur pun, sedang sama-sama bermasalah. Lalu kemana ia akan memberikan pekerjaan???


Arya menatap putranya yang terlihat begitu kacau. Kemejanya sudah berantakan tak karuan.


"Mungkin...papa keterlaluan Ga. Tapi ...Salim, Lingga! Kondisi kebun tidak sedang baik-baik saja. Ternyata tidak hanya sayuran beracun, tapi juga ada serangan tikus yang...entah dari mana asalnya karena memang sangat banyak dan ada di mana-mana."


"Tikus Pa? Bagaimana bisa ada tikus di kebun? Ini aneh Pa!", Lingga di buat makin bingung.


Kenapa masalah bertubi-tubi menghampirinya?


"Mungkin kamu lebih paham Ga, tidak dengan papa. Papa sudah meminta orang untuk mencari jalan keluar. Entah itu... merefresh kebun kamu! Untuk mengusir tikus-tikus itu, mungkin sebaiknya di bakar saja lahannya."


"Mungkin yang dikatakan mas Arya ada benarnya Bang! Bagaimana pun juga kita harus menetralisir zat yang terlihat di dalam tanah tersebut sampai bisa menyerap ke sayuran", kata Salim.


"Dibakar? Tapi... bukan kah itu akan merusak ekosistem Pa, Bah? Lalu asapnya, apa tidak berbahaya untuk kita semua?", tanya Lingga.


Dia pun takut jika keputusannya nanti justru membuat korban jiwa yang selanjutnya. Lingga tak mau!


Ting!


Ponsel Lingga kembali berdenting. Lagi, nomor asing tersebut mengirim pesan pada Lingga.


Lingga menyerahkan ponselnya pada Arya agar Arya dan Salim bergantian membacanya.


"Sepertinya...Papa paham dengan kalimat sarkas seperti itu! Lita!!", kata Arya.


"Tante Lita? Bukankah dia sudah di buat kapok sama kak Puja?", tanya Lingga.


"Puja hanya mengambil sebagian harta Yudis, kakak mu tak setega itu membiarkan orang lain kelaparan."


"Tapi Pa, bagaimana bisa dia menuduh aku serakah Pa. Bahkan nyaris saja aku lupa...."


"Abaikan saja ucapan itu! Papa pastikan akan mencari tahu kebenarannya. Dan soal kebun, papa akan memanggil ahlinya agar kebun mu kembali pulih!"


"Terimakasih Pa!", kata Lingga dengan senyuman tipis yang menatap ujung barat yang sudah menunjukkan warna lembayungnya.


.


.


.


"Astaga Papa!", pekik Shiena saat dirinya baru saja menemukan ponsel miliknya. Tapi bagaimana bisa batang pribadinya ada di tangan papa nya...?


"Apa sih Shiena?", tanya Malik.

__ADS_1


"Aku udah nyariin ponsel ku, tenyata ada sama papa."


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Shiena melihat perempuan baya keluar melewati Shiena begitu saja.


"Tunggu! Tante ngapain di kamar papa ku?", tanya Shiena.


"Jaga bicaramu Shiena?!",pinta Malik.


"Apa yang harus di jaga? Aku cuma tanya, ngapain dia di sini??", tanya Shiena.


Perempuan itu duduk di samping Malik.


"Hai Shiena, senang bertemu lagi! Wah... rupanya kamu sudah begitu penasaran ya?", tanya perempuan itu.


Ia dan Malik duduk berdampingan.


"Apa ini maksudnya?", tanya Shiena.


"Kami akan menikah!", kata Malik.


"Aku ngga peduli papa mau bermain dengan wanita manapun, asal jangan dia", tuding Shiena.


"Hei, Shiena! Tapi... sayangnya kami memang akan segera menikah."


"Tante Lita???!!!", pekik Shiena.


"Kenapa heran seperti itu Shien?", tanya Lita.


Belum menjawab ucapan Lita, ponsel Shiena berdenting. Puluhan pesan masuk yang langsung to the poin menanyakan tentang kondisi yang sebenarnya .


"Apa ini???", tanya Shiena.


"Papa kamu ini kan sahabat suami. Makanya...."


"Kalian berkhianat bahkan di saat mamaku di ambang hidup dan mati di ranjang pesakitan. Tapi kalian??? "


"Cukup Shien!" panggil Malik. Dia merangkul bahu Lita.


Shiena meras jengah dengan kelakuan dua manusia uzur itu tapi tak tahu waktu.


Shiena keluar dari rumah Malik. Ponselnya kembali berdenting.


[Tugas selesai tuan. Kebakaran sudah selesai di padamkan. Dan kami sudah menerjunkan tikus-tikus untuk merusak tanaman lingga]


Deg!


Mendadak dunia berputar cepat. Ternyata Papa masih belum kapok, gumam Shiena.


Shiena sendiri sudah ingin hidup damai tanpa berhubungan langsung dengan Arya. Tapi... Shiena yakin jika papanya terhasut oleh perempuan licik itu.


Apa yang harus dia lakukan? Arya tidak mungkin bisa ia lawan bukan????


****


Udah ngga tegang kan??? Selamat berakhir pekan 🤗🤗🤗

__ADS_1


Terimakasih 🙏✌️✌️


21.40


__ADS_2