
Inka dan Karen sudah masuk ke dalam mobilnya yang di supiri oleh rekannya.
"Kalo gue bilang, udah deh kalian ngga usah bikin masalah. Lingga udah punya anak istri! Masih banyak cowok di luaran sana yang lebih segala-galanya dari Lingga. Jadi lebih baik kalian ngga usah ngusik dia!", kata teman lelaki mereka.
"Lo ngga usah ikut campur deh, Dam! Itu urusan pribadi kita. Urusan Lo sama dia cuma sebatas pekerjaan. Itu juga karena Lo masih ada sangkut pautnya sama Alex. Jadi mending Lo diem!", kata Inka.
Lelaki yang bernama Adam itu hanya menggeleng. Dua perempuan itu memang cantik dan seksi, siapapun akan mengakuinya.
Tapi bagi seorang Adam, dia tak mau jika memiliki istri seperti mereka.
"Mikir apa Lo, Dam? Heh, sekalipun laki-laki di dunia ini tinggal Lo, gue juga ogah sama Lo!", ketus Inka seolah tahu isi hati Adam.
Karen menautkan kedua alisnya.
"Hati-hati Lo! Jangan-jangan ntar kalian malah jodoh!", celetuk Karen di sertai tawa mengejek.
"Lo aja kali yang jodoh sama si Adam ini! Gue mah jodohnya Lingga!", sahut Inka.
"Kalian pikir, gue mau sama kalian. Amit-amit! Sekalipun gue kagak tampan dan mapan, gue juga berharap punya istri yang baik yang bisa di jadiin contoh yang baik buat anak-anak gue. Bukan kaya Lo berdua. Harusnya kalian ngaca! Umur kalian bukan baru dua puluh tahunan, mikir! Ngga usah kebanyakan pemilih deh. Kalian bukan saatnya lagi untuk di pilih!", sahut Adam kesal pada dua perempuan yang ada di bangku belakang.
"Sialan Lo!", pekik keduanya pada Adam yang terlihat cuek. Dia kurang sreg jika harus bekerja sama dengan dua perempuan itu, sayangnya dia tak bisa menolak karena mereka di rekomendasikan oleh Alex.
"Langsung balik?", tanya Adam pada dua perempuan di belakang.
"Iya lah, mau kemana lagi? Di kampung begini mau ke mana coba! Kalo gue tahu rumah Lingga mah, gue ke sana! Eh ...ke proyek aja deh! Setor muka buar ngga di sangka makan gaji buta!", celetuk Inka.
Adam benar-benar tak habis pikir dengan isi kepala dua perempuan itu.
Mobil pun mulai melintasi jalanan sepi karena tempat mereka menginap sementara ada di sekitar perbukitan yang tak terlalu jauh dari villa yang sedang di bangun.
Alhasil, masih jarang ada kendaraan lalu lalang tidak seperti saat di jalan utama tadi. Adam melirik ke spion, feelingnya mengatakan jika ada beberapa kendaraan roda dua mengikuti mereka. Tapi setiap Adam memelankan roda mobilnya, motor-motor itu seolah mengikutinya.
Dan saat mereka berada di jalan yang benar-benar sepi, segerombolan motor itu menghadang mobil Adam. Dengan terpaksa ia membanting setirnya, jika tidak dia pasti akan berakhir di jurang sebelah.
"Dam,Lo gila ya? Mau bikin kita masuk jurang apa gimana?", cerocos Karin.
"Kalo Lo ga bisa nyetir, sini gue aja!", pekik Inka yang kesal. Tapi Adam tak sempat menyahuti ocehan dua perempuan itu karena kacanya di ketuk oleh pengendara motor.
Duk...Duk....Duk.
"Buka!", kata orang yang mengetuknya terlihat dari bibirnya yang bergerak.
"Dam! Jangan Dam! Mereka mau rampok kita ya Dan? Jangan di buka, gue takut!", kata Karen mulai ketakutan.
Suara ketukan kembali terdengar tapi kali ini Adam membukanya.
"Kamu bisa melanjutkan perjalanan, tapi tinggalkan dua perempuan itu!", kata lelaki yang tadi mengetuk kaca.
"Nggak! Kalian ambil saja apa yang kalian inginkan. Mobil, ponsel, uang , laptop..."
"Stop!"
"Akang....tolong jangan apa-apakan kami. Ambil saja apa yang kami punya bang, asal jangan nyawa kami!", Adam kembali menghiba.
"Stop saya bilang! Saya bukan mau merampok harta kalian yang tak seberapa!", kata lelaki itu. Adam tercengang beberapa saat.
"Kamu tinggalkan dua perempuan itu, kami menjamin keselamatan mereka selama mereka bisa di ajak bekerja sama!", kata lelaki berbadan tegap itu.
Karen dan Inka sudah ketakutan di dalam mobil mereka. Ternyata target mereka adalah Karen dan Inka, tentu saja keduanya ketakutan setengah mati.
"Tapi....!", Adam menoleh ke arah dua rekannya yang ketakutan itu.
"Pegang kata-kata ku! Selama mereka mematuhi ku, aku jamin mereka akan kembali ke tempat kalian dengan selamat!", kata lelaki itu.
Adam berada dalam kebimbangan. Di satu sisi dia tak bisa mempercayai lelaki yang tidak di kenalnya tersebut. Apalagi...jika ia meninggalkan kedua rekannya begitu saja, bukankah Adam terlalu pecundang????
"Apa... jaminannya mereka akan baik-baik saja tanpa kurang satu apapun?", tanya Adam dengan bodohnya, begitu yang Inka dan Karen pikirkan.
"Salah satu dari kami akan mengantarkan mu tiba di tempat kalian sebagai bukti bahwa kami tidak akan melakukan tindakan asusila atau bahkan melecehkan dua teman wanita kamu!", lanjut lelaki itu.
Adam meneguk salivanya dengan pelan. Kerongkongannya terasa begitu kering. Tangannya yang tremor membuka pintu mobil untuk Inka dan Karen. Dua perempuan itu menggeleng bersama-sama. Jujurly, mereka benar-benar takut setengah mati. Apalagi melihat badan mereka yang hah....tak usah di bayangkan!
"Kalian tidak apa-apa! Turun lah! Mereka berjanji tidak akan membuat kalian terluka atau melecehkan kalian!", kata Adam.
"Lo bener-bener ngga bisa di andalkan jadi cowo tau ngga!", sahut Inka ketus. Akhirnya dua perempuan itu pun terpaksa turun dari mobil.
Beberapa lelaki dengan jaket hitam sudah mengelilingi mereka.
__ADS_1
"Silahkan tunggu kedatangan mereka di rumah!", pinta lelaki itu pada Adam. Adam mengangguk cepat dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Salah satu lelaki yang mengikuti mobil Adam yang bersiap untuk kembali berjalan.
"Adam! Brengsek lo Dam!", teriak Karen. Tapi teriakan itu berubah menjadi suara ketakutan saat lelaki yang dari tadi bicara mendekati dua perempuan itu.
"Ikut kami!", pinta lelaki itu.
"Ngga! Kami ngga sudi ikut kalian!", teriak Inka.
Lelaki itu menatap tajam pada dua soso perempuan berpakaian seksi tersebut.
"Ikut dengan cara baik-baik atau aku akan melanggar janji ku pada teman kalian dan melempar kalian ke jurang agar di makan harimau!?", gertak lelaki itu. Spontan, Inka dan Karen hanya diam gak berani menjawab ucapan lelaki itu.
"Jalan!", pinta lelaki itu pada dua perempuan itu. Inka dan Karen berjalan bak tawanan yang di kawal oleh beberapa orang laki-laki berbadan besar.
Entah kenapa di saat genting seperti ini, tidak ada warga yang melintas sama sekali! batin Karen.
Para lelaki itu membawa Inka dan Karen ke area yang sedikit lebih dalam menuju hutan jati.
"Kami mau di bawa ke mana?", tanya Karen takut.
Tapi tak ada satu pun lelaki yang menjawab pertanyaannya hingga mereka semua berhenti dibawah sebuah pohon besar.
Tak lama kemudian muncul dua laki-laki yang keluar dari balik pohon tersebut. Inka dan Karen memicingkan matanya mencoba mengenali sosok itu. Tapi mereka tak mengenalnya sama sekali.
Lelaki yang membawa Karen dan Inka mengangguk pelan pada sosok berkaca mata itu.
"Kalian takut?", tanya lelaki itu pelan dengan nada suara yang begitu lembut. Karen dan Inka mengangguk cepat.
"Kalian tidak di apa-apain kan?", tanya nya. Baik Inka ataupun Karen menggeleng.
"Lalu apa yang kalian takutkan?"
Karen dan Inka meneguk salivanya lagi dan lagi.
"Ada rencana untuk mendekati Lingga?", tanya nya. Dua pasang mata lentik itu membulat. Mereka menebak-nebak sosok yang sedang berbicara pada mereka. Semenit dua menit tak terdengar jawaban dari dua perempuan itu hingga membuat lelaki berkacamata itu membentak.
"Kalian ingin mendekati Lingga?"
Sontak keduanya menggeleng begitu cepat. Lelaki yang bertanya tadi hanya mengangguk tipis.
"Rekam ucapan mereka yang berjanji tidak akan mendekati Lingga atau coba-coba mengusik kehidupannya. Jika mereka melanggarnya, jangan pernah lepaskan mereka!", kata lelaki berkacamata itu dengan pelan tapi penuh wibawa.
Inka dan Karen saling berpelukan. Istilah kata 'jangan pernah lepaskan mereka' terdengar begitu ambigu oleh telinga keduanya.
"Lakukan!", pinta lelaki itu. Akhirnya Inka dan Karen berjanji tidak akan mengusik Lingga dan keluarganya. Jika sampai hal itu terjadi, mereka akan menerima akibatnya yang tak akan pernah di sangka-sangka.
"Setelah ini, antar mereka pulang ke tempat temannya tadi. Dan jangan lupa ...!", lelaki berkacamata itu yang awalnya akan beranjak pun menoleh.
"Pastikan hari ini juga kembalikan mereka ke kota!", pintanya.
Para bodyguard itu pun mengiyakan ucapan lelaki berkacamata tersebut.
Inka dan Karen saling menyikut. Mereka benar-benar terlihat begitu bodoh!
"Masih mencoba mendekati lelaki beristri nona?", tanya lelaki yang tadi mengetuk kaca mobil Adam. Inka dan Karen menggeleng bersama. Lelaki itu tersenyum.
"Fisik di cantik-cantikin, tapi otak tidak di sekolahin!", katanya berlalu dan meninggalkan dua perempuan itu dengan anak buahnya di belakang.
Mereka akan mengantarkan Karen dan Inka ke tempat Adam berada. Tapi berhubung tidak ada mobil, dua perempuan itu terpaksa menaiki kendaraan roda dua yang para lelaki kendarai. Mereka mengancam akan meninggalkan dua perempuan itu di hutan, jika tidak menurut. Alhasil dengan wajah di tekuk mereka berdua naik motor di belakang para lelaki berbadan besar itu.
Di satu sisi lelaki berkacamata minus itu menghubungi seseorang via chat.
[Selesai mas. Mereka akan di kawal hingga benar-benar tiba di Jakarta]
Tak berapa lama, ada balasan pesan.
[Terimakasih]
Setelah membaca pesan tersebut, lelaki itu pun mengikuti para pemotor yang sudah lebih dulu berjalan di depan mobilnya.
.
.
.
Flashback on
__ADS_1
Setelah Lingga meninggalkan kafe, para bodyguard yang menyamar sebagai orang biasa pun ikut bangkit ingin mengikuti Lingga lagi. Tapi ternyata orang itu mendengar obrolan absurd antara Karen dan Inka yang berencana buruk pada Lingga. Alhasil, obrolan itu dia laporkan pada atasan mereka.
Gara-gara mendengar obrolan dua perempuan tidak tahu malu itu, para bodyguard bayangan itu hampir terkena masalah besar. Kenapa???
Jika sepersekian detik tidak ada yang menarik Lingga ketepi, mungkin kejadian buruk juga akan menimpa mereka.
Setiap kejadian pun mereka laporkan pada atasannya. Dan berakhir lah pada penyaderaan singkat Karen dan Inka.
Flashback off
.
.
.
Surya mengantar Syam ke rumahnya. Lelaki beruban itu begitu bahagia bertemu lagi dengan Syam. Meski mereka baru di pertemukan belum lama ini, nyatanya ikatan batin tetaplah terjalin.
Surya langsung jatuh cinta pada sosok Syam di saat pertama kali bertemu. Bocah tampan yang harus dibebani oleh masa lalu suram kedua orang tuanya. Dan mungkin hingga dewasa nanti, bayang-bayang itu akan tetap mengikutinya.
"Assalamualaikum! Ibu, kakak!", panggil Syam.
"Walaikumsalam! Ngga usah teriak gitu dek!", tegur Galuh. Syam tersenyum menunjukkan gigi putihnya.
"Eh, ada opa Surya? Masuk opa!", kata Galuh dengan suara seperti anak kecil. Perempuan mungil itu tengah menggendong Ganesh.
"Iya Luh. Wah... Ganesh sudah besar aja ya?", sapa Surya basa basi.
"Iya dong Opa!", jawab Galuh. Surya tersenyum memandangi bayi tampan itu.
"Adek ganti baju dulu, habis itu ajak Opa Surya makan siang!", pinta Galuh.
"Siap kak!", jawab Syam yang langsung berlari menuju ke kamarnya.
"Duduk dulu Opa!", pinta Galuh. Surya pun menurut.
"Sepi banget, pada kemana?", tanya Surya.
"Abah ke warung, Abang ketemu rekan bisnis katanya?!", jawab Galuh. Surya mengangguk pelan.
"Opa sendirian?"
"Ngga, sama Ujang. Paling Ujang masuk lewat belakang seperti biasanya kan heheheh, maaf ya nak Galuh!", kata Surya.
"Ngga usah minta maaf juga Opa!", kata Galuh.
"Ibu kamu ngga keliatan? Kemana?"
"Eeum... itu Opa, ibu lagi mual-mual terus dari tadi. Jadi sekarang istirahat di kamar. Atau opa mau ketemu ibu?", tanya Galuh.
"Udah ngga usah! Jangan ganggu istirahat ibu kamu, nanti yang ada malah makin ngga enak badan. Apalagi bawan hamil seperti itu, lemes dan mual."
"Hehehe kok Opa tahu?", tanya Galuh.
"Omanya Syam dulu seperti itu, bahkan Helen pun sama kok. Malah mereka sampai di rawat di rumah sakit gara-gara ngga bisa masuk makanan."
"Owh...ya Allah, kasian sekali ya Opa!", kata Galuh. Entah lah, dia harus memanggil apa pada Opanya Syam.
Tak lama kemudian, Syam pun turun dari kamarnya.
"Ayo opa makan siang sama Syam, biar Syam ada teman makannya ya! Jangan nolak!", kata Galuh. Surya tersenyum tipis.
"Iya...iya, Opa makan sama Syam!"
Baik Syam maupun Galuh, keduanya sama-sama tersenyum lalu berjalan menuju ke meja makan.
****
21.30
Lagi kurang DHA nih othornya maapkeun klo banyak typo bertaburan atau kagak konek 🙈🙈🙈 lagi berusaha tetap up meski jatuhnya malam2 heheheh 🤭✌️
DHA nya tuh Duit Healing dan Ayem 🤭 bukan ayam ya....
Kadang otak sama badan emang suka ngga sinkron sih 🤭
Terimakasih
__ADS_1