
"Helen, aku tahu ini bukan kapasitas ku. Aku juga paham seperti apa perasaan kamu. Tapi kamu tak sepantasnya menyalahkan kehadiran Syam. Andai dia bisa meminta, mungkin dia lebih memilih tidak di lahirkan dari kebejatan papa kandungnya!", sindir Arya.
Glen menunduk sambil meremas kedua tangannya yang berkeringat dingin.
Apalagi sih mau nya mas Arya? Batin Glen.
"Aku tidak membenci anak itu!", kata Helen.
"Lalu?", sekarang Lingga yang bertanya pada tantenya. Helen menatap keponakan tersayangnya itu.
"Kalian hanya melihat dari sudut pandang anak itu, tapi tidak dari posisi ku! Aku sakit hati! Kalian paham?", tanya Helen.
"Kalo kamu sakit hati, harusnya kamu tunjukkan rasa sakit mu itu pada si pembuat onar! Bukan pada bocah kecil yang belum tahu apapun!", jawab Arya datar. Bukan Lingga yang menyahuti pertanyaan Helen.
"Sudahlah! Percuma aku bicara di sini! Kalian sudah terlanjur membela bocah itu yang tidak ada hubungan darah sama sekali, dari pada aku yang saudara kalian!", Helen bangkit dari bangkunya.
Arya dan Lingga tak mencegahnya, tapi tidak dengan Glen. Burhan memilih menyingkir dari perdebatan antar keluarga tersebut.
"Duduk!", titah Glen pada istrinya. Helen berdecak kesal tapi kembali ke posisinya.
"Tante ku tidak seperti ini sebelumnya!", kata Lingga. Helen menatap tajam pada Lingga.
"Keadaan yang merubah Tante, Ga!", kata Helen masih dengan suara kesalnya.
"Apa yang Tante Helen takutkan?", tanya Lingga.
Helen memalingkan wajahnya ke arah lain. Kesal??? Tentu saja!
"Posisi Zea sebagai pewaris Suryaputra terancam? Tante ngga usah cemas! Adikku tak silau dengan harta dan tahta seperti itu. Aku dan Galuh masih mampu menafkahinya bahkan maaf.... insyaallah kalau dia nanti ingin kuliah ke luar negeri pun, kami sanggup! Jadi...stop menyalahkan Syam!", ujar Lingga.
Glen yang sudah mendengar kalimat senada saat di kampung Galuh pun memilih bungkam.
"Kalian tidak paham!", kata Helen.
"Kalau begitu, katakan Tan! Apa yang Tante resahkan! Biar kami paham seperti apa yang Tante rasakan?!", kata Lingga pelan. Dia susah lelah masalah ini semakin panjang.
Selama ini mereka sudah tenang,tapi tiba-tiba terusik lagi karena tak sengaja bertemu dengan Glen saat itu hingga memicu kejadian seperti ini.
Helen tak menjawabnya. Benar! Papa Surya juga mengatakan bahwa Zea lah yang berhak atas semuanya! Meski dia tak mengharapkan harta papa Surya. Lalu, Glen! Dia tak ada niat untuk berpisah dengan Helen apalagi untuk bersama Sekar sekalipun Syam anak mereka berdua. Lantas? Apa sebenarnya yang Helen takutkan????
.
.
.
"Salim!", panggil Gita.
"Iya nyonya!", sahut Salim yang sedikit berlari menghampiri nyonya besarnya.
"Kamu sudah makan siang?", tanya Gita. Salim yang bingung hanya mengangguk pelan.
"Sudah nyonya, kenapa? Apa ada yang harus saya kerjakan?", tanya Salim.
__ADS_1
"Bisa ngga kamu ke kampung? Ngga harus sekarang sih!"
"Ke kampung? Maksudnya ke kampung neng Galuh?", tanya Salim. Gita mengangguk.
"Iya ,tapi sebelumnya kamu ambil dulu barang-barang di toko teman saya. Nanti saya share alamatnya. Habis itu kamu bawa langsung ke kampung. Buat acara tujuh bulanan Galuh besok. Jadi kita ke sana sudah tidak repot bawa apa-apa."
"Owh...iya nyonya! Kalo nyonya menyuruh hari ini juga, saya ngga masalah. Tapi, apakah Nyonya tidak ke mana-mana?", tanya Salim.
"Ngga. Gampang kalo mau pergi saya bisa bawa mobil sendiri kalo ngga pakai taksi."
"Baik nyonya!"
"Saya transfer ke rekening kamu saja ya buat bensin sama uang jalan kamu!", kata Gita.
"Iya nyonya!", sahut Salim. Wajahnya berbinar. Dia sama sekali tak keberatan ke kampung halaman Galuh lagi meski diperjalanan pasti lelah. Tapi...ada hal yang membuat ia semangat ke sana. Apa ya kira-kira???? Tapi...Salim hanya mampu melihat dari jauh, karena dia sadar diri dengan posisinya. Dan... itu sudah cukup membuatnya merasa bahagia.
.
.
.
"Ibu sama bik mumun doang?", tanya Galuh pada ibunya.
"Ya kan ada tetangga sama anak kebun yang lain Luh!", kata Sekar sambil merapihkan kerudungnya.
"Jauh ya rumah besannya si Amang?", Galuh duduk di bangku meja rias ibunya.
"Paling teh nanti malam ibu sampai rumah lagi."
"Galuh nitip aja ngga apa-apa nih Bu?"
"Ngga apa-apa lah. Si amang ge tahu, kamu tuh lagi hamil besar kaya gini!"
"Heum, kalo gitu salam aja ya Bu!", kata Galuh.
"Iya. Eh, kayanya Bik mumun udah nyamperin ibu. Kamu jaga diri baik-baik di rumah ya!", kata Sekar.
"Iya Bu, iya!", kata Galuh.
Galuh mengantar Sekar ke halaman rumah yang ternyata sudah ada bik Mumun dan beberapa tetangga.
Mereka menyewa mobil Elf yang bisa menampung beberapa orang. Setelah mobil menjauh, barulah Galuh memasuki rumahnya lagi.
Perempuan hamil itu mengecek laporan dari beberapa usahanya di kampung. Kalau kafe atau pun minimarket sudah ada pegawai administrasi yang mengerjakannya. Sedang di kampung, karena masih skala kecil di masih bisa melakukannya sendiri.
Sebuah mobil terdengar memasuki halaman rumah Galuh. Perempuan cantik itu bangkit dan keluar untuk melihat siapa kah tamu yang datang.
Dan...ya, Galuh cukup terkejut mengetahui siapakah yang menjadi tamunya saat ini. Dua pasang mata itu saling menatap. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka berdua saat ini!
.
.
__ADS_1
.
Lingga memarkirkan mobilnya yang Burhan kendarai. Mereka sekarang berada dihalaman rumah mewah dan megah yang tak lain milik Keluarga Arya.
Lingga menarik nafas dalam-dalam. Terakhir kali ia kemari, ada hal yang membuat nya sesak. Tapi... setelah mengetahui kebenarannya, dia sedikit merasa lebih baik. Meski rasa kehilangan putra pertamanya masih meninggalkan bekas di dadanya.
Jika Galuh lebih ikhlas padahal dia yang sudah mengandung bayi mereka, Lingga lebih merasa down. Kenapa?
Dia merasa gagal menjadi seorang ayah dan suami sekaligus yang tak bisa menyelamatkan anaknya saat itu.
"Masih mau bernostalgia?", tanya Burhan. Lingga menoleh.
"Ayo turun!", ajak Lingga pada Burhan. Setelah Lingga turun, barulah Burhan menyusul bosnya.
Gita dan Arya menyambut sang putra bungsu dengan sangat antusias. Meski baru beberapa hari kemarin bertemu di kampung, nyatanya.... setelah sekian lama Lingga baru menginjakkan kakinya dirumah ini lagi. Rumah dimana ia di rawat dan di besarkan penuh kasih sayang!
.
.
.
[Papa? Zea pulang ke rumah papa?]
Glen mencemaskan sang putri yang sudah hampir petang belum pulang. Glen sengaja pulang lebih cepat karena ingin makan malam bersama putrinya.
[Ngga Glen. Papa pikir justru pak Ujang di rumah kamu karena sejak pagi antar jemput Zea]
[Ya ampun, coba papa telepon pak Ujang. Mereka di mana sekarang?]
[Iya, papa telepon dulu!]
Panggilan Surya dan Glen terputus. Surya mencoba menghubungi pak Ujang, sopir yang di minta mengantarkan Zea tadi pagi. Tadi siang saja, pak Ujang masih ada di rumah Surya. Mungkin setelah menjemput Zea dari sekolah, Zea meminta pergi main atau kemana. Itu yang Surya pikirkan.
Tapi setelah berkali-kali di hubungi, barulah Ujang mengangkat telpon majikannya.
[Ujang...Zea kamu yang jemput kan? Glen mencarinya]
[......]
[Apa???? Ya Tuhan!!!]
Surya mengusap kasar wajahnya dengan tangan kirinya.
Bagaimana bisa??? Ya Tuhan, cucuku????!!! Gumam Surya.
****
Ada yang nunggu part selanjutnyakah???
Wkwkwkwk percaya diri sekali yak? Mak othor baru mendingan 😷.
Kalo emak2 bengek, kacau dunia perdapuran, perlaundrian, perojekkan deelel lah pokokna mah. Iya ga seeeh?
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mampir sini 😉😉😉🤗