
"Wah...akrab banget ya Syam sama anak baru!", kata salah seorang teman Syam.
Ia mendapati Syam dan Riang yang sedang duduk di beton pinggiran pohon. Mereka tengah memakan bekal makanan yang Sekar bawakan tadi pagi.
Baik Syam maupun Riang tidak ada yang menggubris perkataan temannya tersebut hingga dia kesal sendiri.
"Memang ya... mereka cocok berteman kaya begitu, apa jangan-jangan jodoh lagi hahahahah!", ocehnya yang di sambut tawa oleh teman lainnya.
Tapi lagi-lagi Syam dan Riang tak menanggapinya. Keduanya sama-sama fokus dengan makanan mereka.
"Buset...aku di cuekin sama dua anak ha**m! Hahahaha!", lanjut anak itu lagi.
Syam mulai terpancing emosi, ingin sekali ia menarik kerah bocah itu. Tapi yang ada nanti malah menambah runyam.
"Kok diem aja sih? Wow... sama-sama sadar diri rupanya! Bagus dong! Yang satu...anak hasil zi** yang satu anak pelakor! Hahahaha besok-besok masuk sinteron azab ikan terbang tuh hahahahah!"
Syam memejamkan matanya beberapa saat hingga saat dirinya mulai tenang, ia bangkit dan menghampiri temannya itu.
Teman Syam yang tadi tertawa lepas, perlahan tawa nya memudar. Syam berdiri di hadapan temannya tersebut. Tubuh tinggi tegap Syam jelas jauh lebih besar di banding temannya tersebut. Campuran Sunda dan timur tengah, wajar jika ada gen dari Glen yang menurun padanya.
"Kenapa kamu hobi sekali mengusik ku? Apa status ku menyakiti kamu? Menyusahkan mu? Iya?", tanya Syam dengan tangannya yang ia masukkan ke dalam kantong celananya.
Temannya tak menjawab apa-apa.
"Apa...aku yang anak ha*** ini tidak berhak berteman dengan siapa pun?", tanya Syam yang sekarang sudah mulai pandai mengolah emosi agar tak lagi meletup-letup. Begitu yang Abahnya ajarkan padanya.
"Ckkkk...ya tentu saja boleh! Tapi ya...gimana ya? Pada dasarnya anak ha*** sama anak pelak** kan sama aja? Kalian berdua senasib cuma beda versi aja ,ya ngga sih?"
Riang menunduk diam tak mengomentari ucapan temannya itu.
Baru beberapa hari ini ia mulai bisa berteman dengan anak lain dan tersenyum perlahan. Sayangnya, semua tidak seperti harapannya.
"Aku heran sama kamu! Kamu punya mulut, tapi yang keluar hanyalah kata-kata sampah! Orang tua kamu pasti menyesal jika tahu anak yang mereka banggakan tidak sesuai ekspektasinya. Selain kalah di akademi, dia juga kalah di attitudenya. Aku yakin, mereka sangat ke-ce-wa!", kata Syam yang sengaja mengeja kata terakhirnya itu.
Wajah teman Syam itu memerah menahan marah. Diawal dia ingin mempermalukan Syam, tapi justru akhirnya malah dia yang kena.
Tanpa ba-bi-bu, bocah itu meninggalkan Syam. Setelahnya, Syam kembali duduk di samping Riang yang menunduk.
"Ri, kamu ngga apa-apa?", tanya Syam. Riang menggeleng pelan.
"Dia memang seperti itu, tidak usah di ambil hati!", kata Syam yang menyodorkan makanannya agar lebih dekat dengan Riang.
"Benarkah kita sama Syam?", tanya Riang sambil menatap mata dengan bulu mata lentik dan alis pekat.
"Sama?",Syam membeo.
Riang kemudian menggeleng. Ternyata, sesulit itu menjaga aibnya. Tapi...ada sebuah rahasia yang justru lebih menyakitkan dari sekedar aib dirinya di cap sebagai anak pelak**!
"Lupakan Syam!", kata Riang. Gadis cantik itu memang bernama Riang, tapi entah kenapa wajahnya selalu muram. Banyak hal yang menyakitkankah hingga dia seperti itu???
"Heum!", gumam Syam. Sepertinya dia tahu, Riang tak ingin membahas tentang kejadian dan ocehan tak penting temannya itu.
Riang tak mau tahu urusan pribadi Syam, pun sebaliknya.
Ada pedagang aksesoris yang menggantung beberapa pernak-pernik yang biasa di sukai anak-anak SD pada umumnya.
Dari stiker, iket dan jepit rambut, bahkan mainan murah meriah lainnya.
__ADS_1
Syam melihat ada sebuah gelang manik-manik berwarna hitam seperti berbahan biji atau kayu, entah lah.
Tiba-tiba terlintas di otaknya untuk membeli gelang itu untuknya juga untuk Riang dan Deni. Karena Syam merasa, keduanya adalah sahabat dekatnya.
"Aku ke sana dulu ya ,Ri!", pamit Syam. Riang pun mengangguk. Di tempat ia duduk, Riang bisa melihat Syam yang tengah memilih aksesoris di tukang jualan itu.
Syam nampak mengambil tiga buah gelang yang ada di sana. Setelah membayar, Syam kembali pada Riang.
"Nih....!", Syam menyerahkan gelang dengan inisial SR di sana pada Riang.
"Buat ku?", tanya Riang. Syam mengangguk.
"Tadinya aku pikir ada yang cuma R aja atau S aja atau D aja, ternyata...yang SR ada dua, lalu DS ada satu. Ya udah, kita samaan. Nanti yang DS buat Deni Suryana hehehe!", kata Syam.
Riang menerima gelang dari Syam tersebut sambil tersenyum.
''Terimakasih Syam!", kata Riang sambil memakainya di tangan kirinya.
"Sama-sama. Tapi maaf, harganya cuma lima ribuan! ", kata Syam tersenyum tipis.
"Bukan masalah di harga Syam, tapi niat dan ketulusan kamu yang bersedia berteman sama aku. Terimakasih!", kata Riang tulus. Syam pun mengangguk.
"Bentar lagi masuk, kita ke kelas!", ajak Syam pada Riang. Gadis kecil itu pun mengangguk lalu mengekor di belakang Syam.
Jam pelajaran berakhir, anak-anak berhamburan keluar dari kelas masing-masing.
"Ri, kamu di jemput?", tanya Syam, Riang menggeleng.
"Kalo aku di jemput, kamu ikut aku aja Ri!", ajak Syam. Riang mengangguk setuju. Kedua calon remaja itu berjalan menuju ke pintu gerbang. Belum lama mereka tiba di gerbang, sebuah mobil mewah menghampiri Syam dan Riang.
"Adek, ayo!", ajak Arya tanpa turun dari mobilnya.
Dua bocah itu memasuki mobil. Syam duduk di depan dengan Arya, Riang di belakang.
"Teman baru Syam?", tanya Arya dengan suara khasnya.
"Iya Pa, rumahnya yang dekat tanjakan perempatan Pa!", jawab Syam. Arya hanya mengangguk tipis.
"Eum...kok papa Arya yang jemput? Abah atau abang, ke mana? Apa besok-besok Syam naik sepeda aja?", tanya Syam.
"Jangan Syam! Justru mulai sekarang, kamu harus lebih berhati-hati. Di larang ke mana-mana sendirian!", ujar Arya.
"Kenapa?", tanya Syam yang selalu mode penasaran. Riang yang duduk di belakang bingung sendiri.
Temannya bilang , Syam anak har**. Kemarin dia panggil laki-laki dewasa dengan sebutan Abah, dan sekarang menyebut lagi laki-laki yang tak kalah tampan dengan sebutan papa? Jadi ada berapa papanya Syam?
"Abang sama Abah sedang menangani kebakaran di gudang pabrik penggilingan beras, dek! Dan pak Udin juga sedang mencari tahu tentang... sayuran kamu yang teridentifikasi beracun hingga menimbulkan korban sampai masuk rumah sakit."
"Innalilahi, bagaimana bisa Pa?", tanya Syam yang ikut cemas.
"Anak buah Abah mu sedang menyelidikinya Syam!", jawab Arya. Syam menatap jendela samping. Terlihat di ujung sana, sebuah bangunan terbakar. Beruntung bangunan itu tak dekat dengan rumah warga.
Sekali pun rugi, setidaknya hanya si empunya saja yang rugi. Tidak membahayakan warga sekitarnya.
"Itu rumah Riang?", tanya Arya pada Syam dan Riang yang sepertinya larut dengan pikiran masing-masing.
Riang mengangguk cepat setelah menyadari jika mobil Arya sudah berhenti tak jauh dari pintu gerbang rumahnya.
__ADS_1
"Terimakasih Om!", kata Riang yang hanya di jawab dengan anggukan.
"Aku...duluan ya Syam! Makasih", pamit Riang pada Syam.
"Iya Ri, sama-sama!", sahut Syam. Setelah Riang masuk ke dalam rumah, mobil Arya kembali melesat menuju ke rumah Syam yang masih cukup lumayan.
.
.
.
"Ibu, nitip Ganesh ya! Ibu di kamar aja, kalau urusan Kakak udah selesai, nanti kakak panggil ibu. Ya?", kata Galuh pada ibunya. Dia mendapatkan laporan dari karyawan kebunnya.
Tentu dia tak ingin membuat ibunya yang tengah hamil akan panik. Jadi lebih baik, dia sendiri yang menemui Udin atau yang lain, Galuh tak tahu.
"Tapi Kak....!"
"Ibu, tolong! Ya? Ibu temani Ganesh dulu!", pinta Galuh lagi.
"Hati-hati ya Kak!", kata Sekar. Galuh mengangguk lalu menutup pintu kamar ibunya. Perempuan itu mengangkat ujung gamisnya takut terinjak oleh nya sendiri.
Galuh menemui orang kebun di belakang rumah. Ternyata banyak laki-laki di sana, pun termasuk para tukang bangunan dan anak buah abahnya, sepertinya. Kenapa? Galuh sangat mengenal pekerja kebun, dan mereka bukan salah satu dari pekerja kebun miliknya.
"Mang Udin, gimana?", tanya Galuh setelah ia duduk.
(Maafkan kehaluan othor yang hqq so much! ππππ)
"Benar Neng Galuh, ada bahan berbahaya yang terkandung dalam sayuran yang tersisa bekas panen kemarin!", kata Udin.
"Ya Allah, kok bisa Mang? Bukankah mereka mencuci sayur lebih dulu sebelum di masak?", tanya Galuh. Udin pun menjelaskan tentang apa yang sudah di periksa. Apalagi, dia langsung menuju ke rumah sakit sesuai instruksi bosnya untuk mencari tahu.
"Dan... huffft...ada serangan tikus liar yang sepertinya jumlahnya tidak sedikit Neng Galuh. Bisa di lihat banyaknya gorong-gorong baru buatan tikus di sekitar tanaman. Dan ...ini tidak lazim! Jika memang tikus ini datang secara alami, tikus-tikus itu tidak akan menyerang semua tanah perkebunan. Maaf Neng, tapi sepertinya...ada yang sengaja menurunkan tikus-tikus itu untuk merusak tanaman sayur."
Astaghfirullah! Galuh beristighfar dalam hatinya. Dia tak habis pikir, untuk apa ada yang melakukan hal seperti itu.
Seingatnya, Galuh tak merasa punya musuh selama ini. Tapi...kenapa sekarang sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan keluarganya.??
"Ya udah Mang, terimakasih! Kalian beristirahat saja!", pinta Galuh pada semua lelaki yang ada di sana, termasuk para tukang bangunan.
Setelah semua membubarkan diri, Galuh kembali masuk kedalam rumah. Tidak semua menjauh, bodyguard yang berpenampilan seperti preman alias anak buah Salim berjaga lebih ketat saat ini.
Jika awalnya kebun yang jadi sasaran, bisa jadi nanti para majikannya yang menjadi korban selanjutnya?????
****
16.40
Pengen dobel up tapi kok yo angel men. Padahal mbiyen mah crazy up wae iso ππππ
Untuk Riang, udah ada ancang-ancang tapi sepertinya bukan squel Galuh deh hehehehe
Sudah otewe ke bab selanjutnya πππ
Bukan tempat mewah, tapi sejauh ini tempat ini paling nyaman buat menghalu dan cari inspirasi. Jangan heran klo Qt di sebut kaum rebahan βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ
__ADS_1
Terimakasih ππππ