
"Mang, kita ke rumah sakit Mang. Abang nyuruh Syam nemenin kakak. Kira-kira kenapa ya Mang?", tanya Syam.
"Kurang tahu Den, mungkin memang Non Galuh butuh teman ngobrol." Syam pun mengiyakan dengan anggukan.
"Sebaiknya telpon ibu den, takutnya ibu cemas karena den Syam ngga balik-balik!", saran Mang Salim.
"Heum! Syam telpon ibu deh kalo gitu."
Tapi ia mengurungkan untuk menelpon ibunya. Takutnya ibunya berpikir macam-macam saat tahu Syam di minta menemani Galuh di rumah sakit.
"Kenapa nggak jadi?", tanya mang Salim.
"Belum beli kuota mang! ", jawab Syam tanpa beban. Padahal mah...mana mungkin ngga ada kuota, belum jadwal beli aja udah di bawain vocer.
Sesempurna itu????
"Ya udah pake hp mamang aja!"
"Nomor ibu ada kan?", tanya Syam pada Salim. Mang Salim mengangguk pelan.
'Jangankan nomor ibu kamu Syam, hati ku saja sudah di penuhi tentang ibu mu. Hanya saja aku harus sadar diri aku siapa Syam!' batin Salim.
.
.
.
Sekar memandangi ponselnya yang berdering dengan nama yang terpampang di ponsel, mang Salim calling.
"Angkat apa ngga ya?", monolog Sekar ragu-ragu. Tapi detik berikutnya ia mengangkat panggilan tersebut yang ternyata justru Syam yang menghubunginya.
Mendengar penjelasan Syam, setidaknya ia merasa sangat lega.
[Oh iya Bu, nanti ibu di jemput mang Salim ya. Langsung ke rumah sakit saja]
[Ibu bisa sendiri Syam!", tolak Sekar.
[Jangan Bu, nanti papa Arya marah sama mang Salim] Syam mencoba membujuk.
Akhirnya, Sekar pun terpaksa menyetujui perintah dari Arya meski terpisah jarak yang cukup jauh.
__ADS_1
Saat kembali ke kampung Lingga, ponsel Salim berdenting. Ternyata tuan Arya yang membutuhkan bantuannya. Salim hanya mengiyakan setiap titah dari majikannya tersebut.
"Lingga ngomong apa Ma?", tanya Arya pada Gita.
"Dia ngga pulang ke sini pa, Lingga pulang kampung."
"Apa terjadi sesuatu dengan menantu dan cucuku?", tanya Arya dengan nada cemas. Gita mengusap bahu suaminya yang tadi tiba-tiba berdiri.
"Pa, Lingga bilang tidak ada apa-apa. Galuh cuma kangen sama Lingga. Maklum lah Pa!", kata Gita mencoba menenangkan suaminya.
"Papa hanya takut terjadi apa-apa pada mereka!", Arya duduk kembali di sofanya.
"Mereka pasti baik-baik saja Pa. Amit-amit kalau terjadi hal buruk, Lingga pasti sudah mengatakannya sama kita."
"Heum! Mudah-mudahan ya Ma. Papa takut kalau harus merasakan kehilangan. Dulu kita kehilangannya Arsyam kita, dan juga cucu kita dari Lingga. Papa takut ...!"
"Stop Pa. Menantu dan cucu kita baik-baik saja. Tolong positif thinking Pa. Oke?"
Arya pun mengangguk.
"Mama ambil minum dulu ya Pa?!", Gita meninggalkan Arya ke dapur untuk mengambil minuman air putih.
Akhirnya setelah berpikir beberapa saat, justru ia menghubungi Salim.
[Kamu paham kan?]
[Iya tuan. Secepatnya saya mencari informasinya Tuan!]
[Terimakasih Salim, bonus ku transfer!]
[Masya Alloh, terimakasih banyak tuan....]
Tugas yang Arya berikan pada Salim adalah mencarikan tempat untuk di tinggali oleh keluarga Arya tersebut.
Tapi fokusnya sekarang justru pada tugas yang lebih ringan karena...dia harus menjemput Sekar. Dan pastinya di dalam mobil nanti mereka akan canggung. Tapi ya sudahlah!
.
.
"Anda masih di sini nyonya?", tanya dokter.
__ADS_1
"Iya dok!",jawab Galuh.
"Saya mau melihat Ganesh dok"
"Bersabarlah! Insyaallah keluarga kalian akan segera berkumpul."
Galuh pun mengangguk lemah.
"Iya dok, terimakasih."
Galuh masih betah melihat putranya yang sekarang sudah mulai banyak bergerak.
Selang beberapa menit kemudian, Syam tiba di rumah sakit.
"Kakak sakit?", tanya Syam yang tahu-tahu ada di belakangnya.
"Ngga dek. Ayo duduk!"
"Sama mang Salim?"
Syam mengangguk pelan.
Lalu keduanya memilih untuk tidak membahas selanjutnya.
.
.
.
Salim sudah berada di halaman, tapi dia sedikit ragu walau hanya ingin sekedar bertanya basa basi.
Tak berapa lama kemudian, sosok Sekar pun datang memberikan senyum pada Salim hingga supir itu sempat salah tingkah. Padahal sebelumnya Sekar tampak selalu menghindar, lampu hijau kah?
Keduanya lagi kasmaran kah???
***
Terimakasih 22.28
🙏🙏🙏🙏
__ADS_1