
"Assalamualaikum!", sapa Lingga dan Syam bersamaan.
"Walaikumsalam!", Arya dan Gita menyambut dua anak bungsu mereka. Kok dua???
Iya! Bungsu real nya ya tentu saja Lingga. Dan bungsu berikutnya pasti Syam!
Keduanya pun memasuki ruang tamu rumah Arya yang berbahan serba kayu tersebut. Meski bukan pertama kalinya datang ke rumah Arya, Lingga masih berdecak kagum karena ia merasa nyaman di rumah sederhana tersebut.
Sebenarnya tidak sepenuhnya sederhana, karena fasilitas nya pun sudah moderen. Hanya saja Gita menata ulang seolah kedua orang tersebut benar-benar menikmati kesederhanaan. Tapi... tidak berlaku di dapur. Gita tak bisa menggunakan tungku. Dia tetap memakai kompor gas yang modern tentunya.
"Belum makan kan Syam? Tadi papa bilang, kamu mau nginep di sini?", cerca Gita.
"Belum Mama Gita. Kan Syam mah mau makan di sini, tadi udah pesen sama papa Arya heheh!"
Arya hanya menggeleng pelan.
"Iya kah? Kok papa ngga cerita sih?", tanya Gita pada suaminya.
"Ngapain cerita sih Ma, ngga pakai cerita juga mama akan tahu sendiri. Tuh buktinya barusan?!", kata Arya santai. Gita yang sudah kebal dengan sikap monoton suaminya hanya memilih sabar.
"Ga, Ganesh udah bobo?",tanya Gita mengalihkan pembicaraannya dengan Syam dan Arya.
"Tadi sih belum, Ma!"
"Mama kangen, tadi dari pagi mama sama papa sibuk belajar berkebun. Hari ini kami belum ketemu sama Ganesh!", sesal Gita.
__ADS_1
"Ya udah ma, ngga usah sedih begitu. Masih ada hari besok."
"Huum, iya Ga."
.
.
.
Lingga sudah kembali ke rumahnya. Sedang Syam berada di rumah Arya, ingin menginap seperti yang sudah ia rencanakan.
"Udah mau magrib, jangan pada si luar!", pinta Gita pada suami dan juga Syam.
Tanpa mengomentari ucapan Gita, keduanya pun mengangguk lalu masuk kedalam rumah. Beberapa menit kemudian mereka pun sholat magrib berjamaah.
Arya melihat ponselnya di sela candaan dengan Syam. Dia hanya membaca serentetan pesan dari Surya.
Surya menceritakan kejadian yang menimpa Yudis. Lalu ia menghubungi keluarga Yudis. Sayang nya, baik istri atau pun keluarganya tak ada yang peduli. Bahkan saat rumah nya di sambangi pun tidak ada yang di sana.
Akhirnya ia menemui Puja yang berada di Jakarta. Tak memungkinkan meminta Arya untuk datang ke Jakarta saat itu juga.
Dari sanalah Surya mendengar cerita yang sebenarnya antara Yudis dan Arya.
Hingga akhirnya, Surya mencoba berulang kali menghubungi Arya.
__ADS_1
"Kok ngga di angkat Pa!?", tanya Syam. Gita membuatkan kopi untuk Arya dan susu untuk Syam.
"Heum? Ngga apa-apa."
"Dari Opa Surya? Papa lagi berantem sama Opa?"
"Ngga berantem Syam."
"Terus? Kenapa ngga di angkat?"
Arya terdiam. Syam pasti akan terus bertanya sampai dia mendapatkan jawaban yang memuaskannya.
"Opa Surya ngabarin kalo kakak Papa di rawat di rumah sakit."
"Papa punya kakak?", tanya Syam pura-pura tak tahu padahal Galuh sudah menceritakan semuanya. Makanya, ia punya misi yang harus di selesaikan.
"Iya. Papa pernah cerita dulu kan soal perlakuan mereka terhadap papa?"
Syam mengingat kisah Arya yang hampir sama dengan Syam. Makanya, mereka bisa saling mengerti satu sama lain.
Akhirnya, Arya pun menceritakan semuanya pada Syam.
"Papa tak mau memaafkan kakak papa?", tanya Syam. Arya menoleh dan menatap Syam dengan mata yang tak terbaca.
*****
__ADS_1
Kemarin libur update sekarang update sedikit....bgt. Lagi sibuk buat 17an 🤭🤭🤭🤭
Makasih 🙏🙏🙏