Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 55


__ADS_3

Mobil milik Gita sudah masuk ke area perkampungan desa Galuh. Sudah cukup larut sebenarnya, karena saat di perjalanan tadi Galuh sedikit-sedikit minta ke toilet. Semua memaklumi kondisi ibu hamil tersebut.


"Ma, itu pabrik milik Om Glen."


Galuh menunjukkan sebuah bangunan yang besar dan panjangnya hampir sampai di ujung jalan.


"Iya, mama sering denger soal pabrik ini. Bahkan Helen sempat cerita kalau dia ketemu Lingga di sini."


"Jadi mama sudah tahu sebelumnya?", Galuh mendadak bingung.


"Ya, tapi mama hanya membaca chat dari Helen. Karena... justru mama bertemu kalian di minimarket kemarin."


Galuh tersenyum tipis. Lalu berikutnya ia menunjukkan pabrik batako dan batu bata merah milik suaminya juga.


"Apa di dalam pabrik itu ada karyawan yang tinggal?", tanya Gita karena ia melihat lampu menyala.


"Ada Ma, kebanyakan yang tinggal di sana laki-laki yang belom berumah tangga. Dan juga, supir truk yang mengangkut batu bata juga sayuran kami dari kebun. Dan juga...supir yang bertugas mengangkut padi atau beras dari pabrik penggilingan beras kami. Kami tahu, mungkin...apa yang kami miliki tak sebanding dengan apa yang tuan Arya miliki. Tapi Alhamdulillah, kami tetap bersyukur. Kami bisa memberikan lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang membutuhkan."


Puja dan Vanes tersenyum kagum pada adik iparnya tersebut.


Gita meraih bahu Galuh dengan mata berkaca-kaca. Entah hal sulit apa yang mereka lewati hingga berada di titik ini.


"Nah, itu di ujung sana, pabrik penggilingan beras!", Galuh menunjuk ke arah sebuah bangunan yang lumayan jauh dari jalan raya.


"Kalo yang sebelahnya, apa Aunty?", tanya Angel yang melihat bangunan mirip kandang.


"Eum, itu kandang ayam. Karyawan aunty yang membutuhkan telur atau daging ayam bisa ambil di sana. Sesuai kebutuhan mereka."


Gita semakin kagum pada menantunya karena dia bisa merubah seorang Lingga hingga seperti sekarang.


Rumah-rumah sudah mulai jarang. Hanya ada beberapa rumah dan sepertinya kebun sayuran yang luas. Tak terlalu jauh, ada rumah yang cukup besar dan kategori mewah jika berada di kampung.


"Mobil nya langsung masukin ke garasi aja ya mang?!", pinta Galuh pada supir kek Gitu.


"Baik Nona!", jawab supir.


Satu persatu penumpang mobil mewah itu pun turun. Angel menatap kagum pada rumah yang asri dan sejuk serta menenangkan seperti ini.


Tak berselang lama kemudian, pintu penghubung garasi terbuka. Muncullah sosok anak lelaki yang tampan bersama seorang perempuan setengah baya.


"Assalamualaikum!", Galuh memberikan salam pada Sekar dan Syam.


"Walaikumsalam!", jawab Syam dan Sekar.

__ADS_1


"Kak, Abang ngga ikut pulang?", tanya Syam saat melihat rombongan yang tak menunjukkan keberadaan Lingga.


"Abang nyusul dek!", jawab Galuh.


"Ibu, kenalin. Ini...mama Gita, mamanya Abang!", Gita mengulurkan tangannya pada sang besan.


"Sekar!"


"Gita. Ternyata Bu besan masih sangat muda dan cantik sekali ya!", puji Gita. Sekar tersenyum tipis di puji seperti itu.


"Syam udah besar ya?!", sapa Gita pada Syam. Syam hanya mengangguk pelan dan tersenyum seadanya. Dia memang agak susah berbaur dengan orang baru.


Kamu semakin mirip dengan Glen,Syam! Sekar juga masih cukup muda. Wajar jika Helen cemburu buta pada sosok Sekar. Batin Gita.


"Dan ini, kak Puja, kakaknya Abang. Sama kak Vanes dan yang cantik ini, Angel!", Galuh memperkenalkan satu persatu anggota keluarga suaminya.


Sekar mengangguk paham. Lalu matanya beralih pada sosok laki-laki dewasa di dekat mobil.


"Itu mang Salim, Bu."


"Oh!", hanya itu sahutan Sekar. Gita tahu jika Sekar pasti menanyakan keberadaan suaminya. Apa Galuh dan Lingga tak menceritakan hal sebenarnya tentang keburukan sang suami pada besannya?


"Udah malem banget, masuk Ma. Kak, Angel! Mang Salim juga!", kata Galuh mempersilahkan.


"Silahkan beristirahat dulu. Kalau mau bersih-bersih, kamar mandi nya di sini juga ada!", ujar Sekar.


"Iya Bu besan!", jawab Gita. Sekar pun meninggalkan tamunya lalu ke dapur untuk membuat minuman.


Galuh sendiri langsung ke kamar. Merapikan kamarnya.


"Dek!"


"Apa kak?"


"Adek bobo di sini sama kakak ya? Kamar adek di pake buat tamu dulu."


"Heum, iya. Syam beresin sebentar!", kata Syam langsung menuju ke kamarnya di lantai atas.


"Silahkan di minum dulu. Perjalanan menuju ke kampung Galuh pasti melelahkan sekali!", Sekar meletakkan minumannya dan beberapa cemilan.


"Mang Salim, sini gabung!", pinta Galuh. Salim yang menyadari hanya seorang supir itu hanya mengangguk tapi tak ikut bergabung.


Galuh tahu jika supir keluarga suaminya pasti tak enak hati.

__ADS_1


"Hayu atuh mang!", ajak Galuh.


"Saya di sini saja Non. Ngga enak sama Nyonya dan yang lain!", tolak Mang Salim.


"Ya udah kalo gitu. Atau mau istirahat aja? Ada kamar Burhan di sebelah dapur. Dia kalo menginap di sini tidur di kamarnya sana. Mang Salim mau?"


"Burhan sok ke sini?", tanya Salim.


"Iya atuh, kan mas Burhan mah orang kepercayaannya Abang buat mengelola kafe dan minimarket."


"Tapi saya ngga enak Non!"


"Saya tahu mang Salim mah capek. Ayo saya anterin ke kamar nya!", ajak Galuh. Salim pun mengekor di belakang Galuh.


"Silahkan beristirahat ya mang. Kalo mang Salim mau bikin kopi tinggal bikin di situ!", Galuh menunjuk dapur.


"Muhun non!", kata Salim. Setelah itu Galuh pun kembali bergabung dengan keluarganya.


"Ini lho Luh, Bu besan sama mas Puja pada ngga mau makan dulu!", adu Sekar.


"Kami sudah makan Bu Sekar!", kata Vanes ramah. Sedang Angel sendiri sibuk memandang Syam yang sepertinya tak terlalu antusias dengan kehadiran keluarganya.


Mereka pun mengobrol beberapa saat hingga kantuk dan rasa lelah menyerang mereka.


"Syam, anterin Angel dan om puja ke kamar mereka ya!", kata Galuh. Syam pun mengangguk.


Puja, Vanes dan Angel saling berpandangan melihat sikap cuek Syam. Puja seperti pernah melihat wajah Syam, tapi entah di mana. Sepertinya wajah itu tidak lah asing.


"Silahkan om, Tante. Ini kamar kalian. Dan...kak Angel, ini kamar kakak!", kata Syam.


Angel cukup kecewa di panggil kakak oleh seorang anak lelaki yang ia pikir seumuran dengannya.


"Terimakasih Syam!", kata Puja. Syam pun mengangguk lalu meninggalkan mereka bertiga.


"Selamat malam my princess!", sapa Vanes pada Angel.


"Malam ma, pa!", Angel pun masuk ke dalam kamar Syam yang rapi khas anak sekolah yang masih ABG.


"Oh...dia masih kelas empat SD ternyata!", ucap Angel karena ia melihat jadwal pelajaran di dekat meja belajar.


Meskipun di Kanada sistem pendidikannya tak seperti di sini, Angel cukup sering mendengar tentang hal ini dari kedua orang tuanya yang asli Indonesia tentunya.


Beralih ke para ibu-ibu. Gita di antar menuju ke kamar Sekar. Barulah Sekar bergabung dengan Syam dan Galuh di kamar Galuh.

__ADS_1


Malam mulai larut, mereka semua pun akhirnya tertidur lelap.


__ADS_2