Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 102


__ADS_3

"Zea ke sekolah dulu Pa, Ma!", pamit Zea pada kedua orang tua nya usai makan pagi.


"Tunggu sayang, kamu berangkat sama mama kan?", cegah Helen.


"Ngga usah. Zea udah minta di jemput sama supir opa."


Setelah itu ia pun meninggalkan kedua orang tua nya yang terlihat masih belum berbaikan. Glen melirik Zea yang menjauh ke pintu depan.


Semalam Zea memang sudah mengatakan pada papanya. Dia ingin di jemput supir opa Surya. Dan Glen juga tak keberatan akan hal itu.


Tak lama setelah Zea pergi, Glen pun bersiap untuk berangkat ke kantornya sendiri. Bukan ke kantor bersama yang ia jalani bersama sang istri.


"Mas!", panggil Helen pada suaminya. Glen pun menoleh pada istrinya tanpa mengatakan apa pun.


Helen menghampiri Glen yang masih terlihat marah.


"Aku minta maaf!", kata Helen.


"Minta maaf? Untuk?", tanya Glen mengetes nyalinya.


"Aku...aku....!"


"Selama kamu belum memberi tahu siapa yang sudah menjerumuskan mu ke tempat laknat itu, jangan harap aku bisa memaafkan mu??", pungkas Glen.


"Aku tahu aku salah. Itu salah ku sendiri mas. Aku benar-benar minta maaf!", kata Helen penuh sesal.


"Aku yakin ada orang yang mempengaruhi kamu di saat kamu sedang emosi seperti kemarin! Aku sudah lama mengenal mu Helen, dan menghampiri tempat seperti itu tidak pernah terpikirkan oleh otak mu!", kata Glen sambil meninggalkan Istrinya yang diam memaku.


Glen meninggalkan rumah dengan mengendarai mobil yang lain agar Helen bisa memakai mobil yang biasanya mereka pakai berdua.


Helen terduduk kembali ke kursinya. Sebenarnya ia bisa saja mengatakan bahwa Shiena yang mengajaknya ke sana. Tapi Helen takut jika nantinya Shiena yang di salahkan. Meski pun Shiena berkontribusi mengajaknya ke tempat itu. Tapi lagi-lagi, Helena lah yang salah karena sudah mengikuti Shiena. Dan seperti yang suaminya bilang, itu tempat laknat. Tapi kenapa dia ikutan maksiat?


Shiena mengirimkan pesan pada suaminya. Dia ingin agar keduanya makan siang di restoran Xxx. Helena tak mau urusannya semakin panjang.


Kerumitan atas kehadiran Syam dalam kehidupan keluarga mereka saja sudah menyita emosinya. Apalagi jika harus menghadapi masalah baru. Bisa-bisa Glen benar-benar akan meninggalkannya meski mungkin alasannya bukan karena Syam tapi karena hubungan keduanya yang renggang karena sikap egois nya.


Glen hanya membalas pesan 'Ya' yang artinya menyetujui ajakan sang istri.


Jam makan siang pun tiba-tiba keduanya bersamaan sampai di depan restoran tersebut. Aneh ya? Suami istri datang dengan mobil masing-masing hanya untuk sekedar makan siang bersama???

__ADS_1


"Mas!", panggil Helen. Glen mengangguk tipis. Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju ke dalam restoran. Belum sampai masuk ke dalam, Shiena keluar dari pintu kaca restoran dan berpapasan dengan Helen serta Glen.


Helena sempat terkejut melihat kehadiran sosok tersebut. Shiena yang tadi masam, tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya.


"Hai Tante Helena? Apa kabar hari ini? wah....udah baikan nih ceritanya?", ledek Shiena. Jika wajah Helene memucat, berbeda dengan Glen yang memasang wajah penasaran.


"Baik!", jawab Helena.


"Maksud kamu apa bertanya seperti itu?", tanya Glen. Hati Glen sedikit terusik saat Shiena menanyakan 'udah baikan' , kesannya...dia tahu sesuatu.


"Ya ...gimana ya Om! Waktu itu, aku sempat ketemu Tante Helen yang lagi galau ngga jelas gitu deh! Makanya aku ajak ke sebuah tempat yang bikin have fun dan ya...Tante Helen mengatakan semua unek-uneknya tentang dia yang sedang bermasalah dengan om Glen. Tapi syukurlah kalo sekarang sudah baikan!", kaya Shiena lalu dengan tidak sopannya ia meninggalkan sepasang suami istri yang baru akan berdamai tersebut.


Helena memang ingin mengatakan yang sejujurnya, tapi ternyata bertemu dengan Shiena di tempat ini.


"Mas, aku....!"


"Jelaskan saja di dalam nanti!", kata Glen tegas. Mau tak mau Helena mengekor di belakang Glen.


Mereka akan memilih duduk di dekat pintu masuk tapi siapa sangka jika mereka melihat kakak ipar dan keponakannya sedang mengobrol dengan senyuman yang terukir di wajah mereka.


Mas Arya? Gumam Helena.


Lingga???


Glen sendiri cukup terkejut melihat kehadiran kakak ipar dari anaknya yang ada dikampung sana. Rasa nyeri di hajar habis-habisan oleh Lingga kemarin masih cukup terasa.


Apa dia takut melawan keponakan istrinya tersebut? Sebenarnya tidak! Dia hanya sadar diri, wajar jika Lingga semarah itu padanya.


Kedua pasang mata itu saling menatap satu sama lain dengan pandangan dan pemikiran masing-masing.


Helena bangkit dari bangkunya menuju ke meja Lingga yang agak ke dalam posisinya. Glen cukup terkejut melihat sang istri justru mendekati meja Lingga dan Arya.


"Lingga!", sapa Helen tanpa menunjukkan wajah ramahnya.


"Eh, Tante Helen!", sapa Lingga balik.


"Mas!", sapa Helen pada Papa Arya. Lelaki itu hanya mengangguk pelan, tanpa senyum seperti sebelumnya.


"Duduk Tante!", pinta Lingga pada Helen. Helen menoleh ke belakang, seolah meminta Glen untuk menghampiri mereka. Lingga dan Arya menoleh bersamaan.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, ia pun mendekati keluarga istrinya tersebut.


"Mas, Lingga, Han!", sapa Glen pada ketiga orang yang ada di meja tersebut. Hanya ada anggukan tipis dari Arya dan Burhan, tapi tidak dengan Lingga yang sepertinya sudah ingin menghajar Glen lagi.


Setiap melihat Glen, Lingga selalu teringat adik iparnya yang harus menderita sejak kecil.


"Duduk?!", titah Arya. Kebetulan mereka berada di meja yang berisi enam bangku. Glen dan Helen pun menyetujui untuk duduk di sana.


"Bisa kebetulan sekali kita bertemu di sini?", kata Arya.


"Iya mas, kami memang rencana akan makan siang bersama!", jawab Helen.


"Oh!", sahut Arya datar.


"Mas Arya...sudah berdamai dengan Lingga?", tanya Helen. Arya tersenyum simpul.


"Seperti yang sudah kamu lihat!", jawabnya. Lingga dan Burhan tersebut. Sedang Glen masih harap-harap cemas.


"Syukurlah!", kata Helen.


"Boleh aku tanya sesuatu Len?", tanya Arya.


"Boleh mas, kenapa?"


"Apa kamu begitu membenci Syam? Takut jika Syam akan mengambil posisi Zea?", tanya Arya.


Helen meneguk salivanya. Dia tak salah dengar kakak iparnya itu turut turun tangan mengurus Syam?


"Maksudnya apa ya mas?", tanya Helen.


"Tanyakan saja pada suami mu. Aku tahu, aku tidak berhak ikut campur. Tapi kekhawatiran mu sungguh berlebihan, Syam bukan anak serakah yang mengharapkan hal yang bukan miliknya! Aku pastikan itu!"


Jemari Helen menggenggam erat. Dia heran, kenapa semua tak ada yang paham akan posisinya. Apakah mereka tak ada yang tahu seperti apa rasanya jadi seorang Helen????


*******"


12.33


Maaf kalo gaje ya, lagi ga enak body mamak nih 🤧😷🤒 Terimakasih sudah berkunjung kemari 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2