
"Terimakasih nak Burhan sudah menjemput cucu-cucu saya. Sebenarnya, saya bisa saja mengantar mereka lho."
"Ngga apa-apa tuan, mas Lingga memang menugaskan saya untuk menemani dek Syam."
"Aku ngga?", protes Zea. Syam memutar bola matanya jengah.
"Iya, non Zea juga!", jawab Burhan.
Burhan tentu saja cukup tahu siapa Surya, hanya saja dia memang tidak pernah tahu dimana rumah besan dari mantan majikannya.
Burhan pun membawa dua kakak beradik beda ibu tersebut menuju ke kafe Galuh. Saat jam makan siang, situasi kafe memang cukup ramai. Syam tak menyangka jika warteg atau rumah makan kakaknya di sulap menjadi kafe sebagus ini.
"Ayok Dek, Non!", ajak Burhan pada dua bocah itu. Syam dan Zea pun mengekor di belakang Burhan.
Burhan memperkenalkan Syam pada karyawan Lingga yang ada di sana. Tentu saja mereka mengingat bocah kecil yang pendiam itu. Tapi sekarang mereka cukup pangling melihat perubahan fisik Syam yang terlihat sudah ABG.
Setelah sambutan alakadarnya dari pekerja kafe, Zea dan Syam memilih duduk di bangku yang memang khusus untuk karyawan karena bangku untuk tamu sudah penuh.
Burhan menawarkan menu yang dua anak itu inginkan. Jauh-jauh dari rumah kakeknya tentu tidak mungkin kan cuma mau duduk manis?
"Aku mau ini deh mas Burhan!", kata Zea.
"Kalo adek?", tanya Burhan yang memang cukup akrab dengan Syam.
"Samain aja Mas!", jawab Syam. Burhan pun menyerahkan daftar pesanan Syam dan Zea pada anak-anak.
Ternyata kali ini kafe benar-benar sangat ramai. Syam melihat Burhan ikut mengantar pesanan pada tamu kafe. Syam menggulung lengan kaos panjangnya hingga ke siku lalu berdiri.
"Mau kemana?", tanya Zea heran. Padahal dia sedang asyik bermain ponselnya tapi sadar jika Syam bangkit dari bangkunya.
"Kamu di sini aja, jangan ke mana-mana!",titah Syam pada adiknya tersebut.
"Iya, tapi kamu mau ke mana Syam?", tanya Zea lagi. Tanpa menjawab pertanyaan Zea, Syam meninggalkan gadis kecil itu. Melihat Syam ke arah dapur, Zea hanya mengedikkan bahunya.
"Mau sidak kali ya, gantiin Abang?", monolog Zea tapi tangannya masih fokus di benda pipihnya.
Di dapur....
"Lho, dek? Sebentar ya, pesanannya lagi di buatin dulu!", kata juru masak.
"Bikin satu aja dulu buat Zea. Syam nanti aja!", kata Syam.
"Oh, baiklah!", sahutnya lalu meneruskan pekerjaannya. Beberapa orang terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Bocah itu menghela nafas sesaat.
"Ini, udah selesai? Udah siap di antar ke meja tamu ya kak?", tanya Syam pada salah seorang pekerja di sana.
"Udah dek, tapi nunggu dulu. Masih antar ke meja lain", jawabnya.
"Biar Syam aja yang bawa, meja dua empat!", kata Syam siap mengangkat nampan.
"Eh, jangan dek. Biar nanti kakak aja yang antar!", pelayan itu melarang Syam.
"Ngga apa-apa kak, Syam bisa kok. Kasian pelanggan kalo nunggu kelamaan!", kata Syam memberi alasan.
"Tapi....!",ucapan pelayan itu terhenti saat Burhan mengijinkan Syam untuk mengantarkan pesanan tersebut.
Dengan pelan Syam mengangkat nampan berisi dua gelas minuman dingin serta desert. Untuk ukuran badannya, Syam memang terlihat tinggi dibandingkan anak seusianya. Wajar saja, jika nampan sebesar itu tak membuat nya kesusahan.
"Permisi, silahkan kak pesanannya?!", kata Syam meletakkan pesanan si pelanggan.
"Terimakasih. Eh, kamu masih kecil banget lho. Kok bantu kerja kaya gini sih? Wah...ini namanya eksploitasi anak nih.... ngga bener ini, mana sini manajernya atau owner nya sekalian!", kata pelanggan tersebut yang tampaknya tak suka ada anak kecil yang bekerja seperti itu.
"Maaf kak, kakak-kakak waiters sedang sibuk semuanya. Saya hanya bantu-bantu saja kok, ngga kerja!", sahut Syam.
"Ngga bisa, saya kerja di dinas **** lho. Mana ini manajer nya?", tanya nya lagi. Syam menghela nafas berat. Niat hati ingin membantu tapi justru dia menjadi biang masalah.
"Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu?", tanya Burhan yang melihat Syam masih berada di meja yang dia antar tadi.
"Bapak manajer kafe ini? Iya?", tanya si ibu.
"Iya Bu, maaf ada apa ya?", tanya Burhan.
"Pak, bisa-bisanya bapak mempekerjakan anak di bawah umur begini!", katanya sewot.
"Mempekerjakan anak di bawah umur?", tanya Burhan membeo.
"Ngga usah pura-pura b*** deh. Keliatan sekali dia masih anak-anak walaupun badan nya tinggi begini. Paling berapa usianya, tiga belas empat belas tahun kan?", cerca si ibu.
"Tapi Bu, dia....!"
__ADS_1
Ucapan Burhan berhenti saat suara Zea menginterupsi.
"Sebelas tahun Bu, ibu salah!", kata Zea yang kini berdiri di samping Syam. Syam memutar bola matanya malas.
"Eh, kamu juga? Kerja di sini? Iya?", tanya si ibu lagi.
"Diiih...ya ngga lah, orang tadinya aku sama dia mau makan. Eh...liat karyawannya kerepotan, dia malah ikut bantu anterin pesanan. Maaf ya Bu, kafe kakak kami ini tidak akan mempekerjakan anak di bawah umur", kata Zea menjabarkan fakta pada si ibu.
"Maksudnya? Kalian pemilik eh ... kerabat pemilik kafe ini?", tanya si ibu.
"Ehem, iya Bu. Adik-adik ini, adik dari owner kami. Sekali lagi maaf atas ketidaknyamanan anda!", kata Burhan bijak.
Si ibu menatap Zea dan Syam bergantian. Dia memang melihat kemiripan di antara dua anak remaja itu.
"Oh, oke! Sorry, saya pikir kafe sebesar dan seramai ini menyalahi aturan!", kata si ibu.
"Insyaallah kami masih mengikuti aturan ketenagakerjaan yang berlaku Bu!", jawab Burhan.
"Udah kan salah paham nya Bu? Ayo Syam, aku lapar! Habis ini ke kantor papa!", Zea menyeret Syam dengan paksa.
Syam permisi dengan sopan pada si ibu tadi. Begitu pula dengan Burhan. Merasa semua urusan selesai, dia kembali di sibukkan dengan pekerjaannya lagi.
"Cepet di makan Syam!", pinta Zea.
"Bawel!", kata Syam ketus.
"Lagian sih, sok-sokan mau bantuin. Ujung-ujungnya malah bikin masalah!", kata Zea.
"Ckkk brisik!", kata Syam masih ketus.
"Dih, aku cuma mau bilangin sih! Gimana kalo tuh ibu ngga mau dengerin penjelasan kita tadi. Nama baik kafe ini bakal tercemar tahu ngga. Bisa-bisa nanti viral, kafe GG mempekerjakan anak di bawah umur. Apa ngga heboh tuh? Mikir!", kata Zea sambil menyuapkan makanannya ke mulut.
Syam jadi memikirkan ucapan Zea. Apa yang saudara nya katakan ada benarnya juga.
"Ngga semua niat baik kita, diterima dengan baik juga sama orang lain!", lanjut Zea sok bijak.
Syam tak menyahuti ucapan Zea. Dia akui, kali ini Zea benar. Jam makan siang usai, kafe mulai kembali sepi. Tapi tentu saja masih ada sebagian yang duduk-duduk di kafe tersebut.
"Mas Burhan!", panggil Syam.
" Ya dek, kenapa? Mau ke kantor nya Tuan Glen?", tanya Burhan. Syam menggeleng pelan. Zea menatap Syam heran.
"Lantai atas, di renovasi juga mas?", tanya Syam.
"Masih sama dek, hanya di sekat lagi buat mess anak-anak!", jawab Burhan.
"Mas Burhan juga? Eum... maksudnya punya kamar disini juga?"
"Di atas ya ngga punya dek, kalo nginep paling di ruang kantor mas Lingga."
Syam mengangguk paham.
"Adek mau liat atas?", tanya Burhan. Syam menggeleng.
"Ngga mas. Itu wilayahnya kakak-kakak sini. Mereka juga punya privasi!", jawab Syam. Burhan tersenyum tipis.
"Mas pikir, adek mau nostalgia di lantai atas!", kata Burhan. Syam menggeleng pelan.
"Diatas emang banyak kenangan mas. Tapi... kebanyakan kenangan dimana ibu belum mau nerima kehadiran Syam. Heum ...ya ...Syam memang di besarkan di sini sih, tapi...."
"Ehem!", Zea berdehem mencoba menghentikan ucapan Syam yang membuat nya mereka trenyuh dan seolah de Javu.
"Mas Burhan udah ngga sibuk kan? Ke kantor papa yuk!", ajak Zea pada Burhan.
"Kamu aja, aku ngga ikut!", kata Syam.
"Heh, mana bisa begitu? Ngga, pokoknya kamu ikut!", paksa Zea.
"Kok maksa?", Syam kesal.
"Kamu kan emang harus di paksa! Keras kepala!", Zea tak kalah kesal.
Burhan ingat ucapan Surya tadi, banyak-banyak beristighfar jika melihat tingkah dua bocah itu.
"Ze, aku ngga mau bikin masalah di kantor papa. Nanti apa kata karyawan papa? Nanyain aku siapa gimana? Ngga! Aku di sini aja!", tolak Syam lagi.
"Ya tinggal di jawab, kamu Arsyam Nadir Saputra. Anak papa Glen! Simpel!", sahut Zea enteng.
Tapi tidak dengan Syam yang mengeraskan rahangnya. Gadis kecil di depannya memang hobi sekali menguras emosi.
__ADS_1
"Ayolah Syam!", paksa Zea lagi.
"Kamu tuh hobi sekali maksa sih!", kata Syam ketus.
"Syam...ayoooo!", Zea memasang puppy eyesnya.
"Ckkkkk!",Syam berdecak kesal tapi langkahnya tetap maju mengikuti Zea yang lagi-lagi menyeretnya.
Dan ya ...Syam pasrah menumpang mobil Burhan menuju kantor Glen.
.
.
.
"Kalian saja dulu yang ke bidan. Biar nanti ibu sama Abah konsultasi sendiri!", kata Sekar pada Galuh.
"Heum, iya Bu!", jawab Galuh. Galuh dan Lingga pun bersiap ke praktek bidan yang berada di dekat jalan provinsi. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke sana.
"Mau naik motor apa mobil bang?", tanya Galuh saat akan berganti pakaian.
"Mobil aja kali Yang! Biar ngga panas!", kata Lingga.
"Tapi, kayaknya enakkan pake motor Bang! Lebih cepey sama gampang nyelip sana sini."
"Heum, iya sih! Sekalian pelukan sepanjang jalan!", celetuk Lingga.
"Ishhhh....!", desis Galuh.
"Ya ngga apa-apa Yang, udah lama banget kita ngga jalan berdua!", kata Lingga.
"Heum, iya sayang!", sahut Galuh sambil mengambil pakaian gantinya. Lingga terkekeh sendiri istrinya memanggilnya sayang. Padahal pernikahan mereka bukan baru sehari dua hari. Hampir dua belas tahun lho!
Tapi merasakan menjadi pasangan suami istri baru empat/lima tahun terakhir ini. Ya sudah lah, mereka memang harus melewati fase menyedihkan itu.
Lingga dan Galuh mengendarai roda duanya menuju ke bidan yang di maksud. Keduanya menikmati cuaca panas tapi tetap dengan hawa sejuk khas daerah mereka.
Setibanya di sana, ternyata cukup antri. Sebenarnya bisa aja Lingga membawa istrinya ke rumah sakit tapi mereka memilih untuk ke bidan saja, toh ...bukan sesuatu yang urgent. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya nama Galuh dipanggil untuk konsultasi.
"Jadi bagaimana ibu?", tanya bidan pada Galuh.
"Eum...Bu, jadi begini....!"
Galuh menceritakan tentang kondisinya yang baru melahirkan putra mereka dan operasi Caesar. Tak lupa sang putra yang sempat di rawat di ruangan khusus pun tak lupa ia ceritakan. Hingga ... sesuatu yang sensitif dan inti dari permasalahan yang sebenarnya Galuh ceritakan begitu saja tanpa segan.
"Jadi sebenarnya begini Bu, jika ibu memberikan asi eksklusif pada buah hati ibu, itu pun salah satu KB alami ya Bu."
Bidan pun memberikan beberapa pilihan alat kontrasepsi pada keduanya dan memberikan penyuluhan efek samping dari masing-masing alat tersebut.
Dan ya... sepasang suami istri itu memutuskan untuk mengambil yang jangka panjang. Dan ternyata proses nya tidak terlalu lama.
"Jadi, untuk dua Minggu kedepan baru bisa di pakai ibunya ya pak!",kata Bu bidan.
Galuh mempoutkan pipinya ke dalam menahan tawa. Bagaimana tidak? Ekspresi wajah suaminya menggemaskan sekali seperti anak kecil yang kehilangan permennya.
"Iya Bu bidan, terimakasih atas masukkannya", kata Lingga.
"Sabar ya pak, demi kebaikan bersama!", lanjut Bu bidan yang sepertinya bisa membaca pikiran Lingga seperti para suami pada umumnya.
Setelah semua selesai, Galuh dan Lingga pun pulang.
"Duduknya miring aja Yang! Masih sakit kan?", tanya Lingga.
"Dikit bang!", jawab Galuh.
"Puasa lagi deh gue!", kata Lingga lirih tapi cukup terdengar oleh Galuh.
"Yang sabar ya boss...!", Galuh mengusap punggung Lingga yang bersiap menjalankan sepeda motornya. Galuh masih berusaha untuk menahan tawa nya.
"Emang bang Jarwo sama bang Sopo!", kata Lingga. Dan akhirnya pecah juga tawa Galuh yang ia tahan dari tadi.
Meski harus berpuasa lagi, setidaknya sepasang suami istri itu merasa lega karena ternyata sejak 'buka puasa' adiknya Ganesh belum otewe. Entah apa yang terjadi jika ternyata Galuh kembali hamil dalam waktu dekat. Ya ...siapa yang tahu???!!!
*****
21.48
Terimakasih 🙏😁✌️
__ADS_1