Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 163


__ADS_3

Flashback on


Pagi itu.....


Pras selesai mengimami sholat subuh, istri dan juga putri tunggalnya. Cuaca sangat dingin, tapi tak menyurutkan mereka untuk beribadah.


Setelah berdoa, Pras berbalik badan menghadap dua perempuan cantik yang sangat ia cintai.


"Luh, sekolah kamu udah di bayar semua kemarin?", tanya Pras.


"Alhamdulillah sudah pak. Tapi kan SPP Galuh mah gratis. Itu cuma bayar LKS sama kegiatan selama setahun sih Pak."


Pras tersenyum tipis dan mengangguk.


"Ibu masak dulu ya!", pamit Sekar yang melipat mukenah nya.


"Nanti saja Bu!", Pras menarik tangan Sekar sampai dia kembali duduk.


"Akang teh ada yang mau di obrolin ya sama ibu dan Galuh?", tanya Sekar. Pras pun mengangguk. Terdengar helaan nafas dari bibir lelaki itu.


"Ada apa sih Pak? Serius banget kayaknya?", tanya Galuh.


Pras menggenggam masing-masing salah satu tangan Sekar dan Galuh. Dikecupnya puncak kepala mereka bergantian.


"Seandainya bapak tidak bisa menjaga kalian lagi, bapak harap...ibu sama Galuh bisa jaga diri ya?", kata Prastian.


"Bapak kenapa atuh ngomong kaya gitu? Memang nya bapak teh mau ke mana?", tanya Galuh meringsek mendekati bapaknya.


Tangan kekar sawo matang itu mengusap puncak kepala Galuh dengan pelan.


"Bapak tidak akan kemana-mana! Bapak hanya takut tidak bisa menjaga kalian dengan baik."


"Akang kenapa bicara seperti itu? Akang ngga ada niat buat merantau lagi kan? Kerjaan di pabrik juga lancar kan?", cerca Sekar.


Pras hanya menggeleng pelan sambil berusaha tersenyum.


"Ngga Bu!", jawab Pras.


"Terus kenapa bapak bicara seperti itu?", tanya Galuh.


"Ngga apa-apa nak. Ya sudah kalau ibu mau masak, bapak mau nyapu halaman dulu mumpung belum berangkat ke pabrik. Kamu bantu ibu ya Galuh, habis itu siap-siap ke sekolah!", titah Pras.


"Siap bapak ku anu kasep hehehe!", sahut Galuh ceria.


Sedang Sekar sendiri beranjak ke dapur yang masih menggunakan tungku. Rumah mereka memang tidak besar. Bahkan bahan dindingnya saja sudah terlihat rapuh. Maklum, Pras membeli tanah tersebut beserta rumah pemilik lama yang sudah sepuh. Jadi, dari pada rumah itu di rubuhkan, ia memilih untuk tinggal di sana. Apalagi, sejak menikah dengan Sekar dia belum memiliki rumah. Dan rumah itu lah yang menjadi tempat mereka berteduh. Tidak mewah, tapi bersih meski berlantai tanah.


Lelaki itu menyapu halaman rumah di pagi yang bahkan matahari pun belum memancarkan cahayanya.


Suara sapi lidi beradu dengan sampah dedaunan di tanah yang kering. Raga itu memang sedang menyapu, tapi pikirannya melayang jauh.


Beberapa hari sebelumnya, tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang di masa lalunya. Ternyata, dia masih rekan bisnis dari pemilik pabrik di mana Pras bekerja. Bukan pabrik besar, tapi cukup layak untuk mendapatkan penghasilan di sana.


Untuk beberapa saat, orang itu menatap Pras dengan pandangan bengis. Nyatanya, Pras merupakan saksi mata kejadian beberapa tahun yang lalu. Tapi...


"Kamu! Kemari!", tunjuk orang itu pada Pras yang sedang menyambut petinggi pabrik seperti biasanya.


"Kamu tugas di bagian apa? Bukankah kamu cuma lulusan SMP?", tanya orang itu pada Pras. Pras pun menjawab dengan tegas bagian dimana ia bertugas.


Setelah semua di bubarkan, orang itu memanggil Pras dan berbicara empat mata.


"Apa ada yang ingin anda sampaikan pada saya tuan Yudis?", tanya Pras.


Yudis tersenyum smirk.


"Aku pikir, aku tidak akan bertemu dengan kacung seperti kamu lagi!", kata Yudis sombong. Pras tersenyum tipis.


"Maaf tuan Yudis, jika tidak ada kepentingan mendesak, biar saya bekerja lebih dulu."


"Ckkkk! Punya kuasa apa kamu di sini heuh???!"


"Justru karena saya hanya pekerja tuan Yudis. Jadi saya tidak bisa semaunya sendiri."


"Dasar mental kacung, tetap saja jadi kacung!", sahut Yudis. Pras tak marah karena ucapan itu karena ia sudah sering mendengar nya dari Yudis sejak jaman dulu.


"Asal kamu tahu, orang yang kamu bela selama ini hanyalah laki-laki tak tahu diri dan sombong!", kata Yudis. Pras menaikkan alisnya.


"Maksud anda apa tuan Yudis?", tanya Pras bingung.


"Arya sudah sukses sekarang, tapi sombong dan arogan luar biasa. Aku yakin kamu tak akan mempercayainya!"


"Saya tahu seperti apa Den Arya. Beliau orang yang baik. Tapi jika dia berubah seperti itu sejak ibunya meninggal, saya rasa ada hal lain yang menjadi penyebab beliau seperti itu. Kematian ibunya tidak lazim. Serangan jantung, tersengat listrik?"


Yudis meremat kedua telapak tangannya.


"Kamu mau mengatakan pada nya tentang kematian ibunya?", tanya Yudis. Pras tak menyahut. Dia pun bingung, bagaimana bisa ia mengatakan seperti itu. Kenyataan, dia hanya seorang diri. Siapa yang akan percaya dengan ucapannya?


"Jika ada kesempatan saya akan mengatakan hal yang sebenarnya tuan!", kata Pras.

__ADS_1


Yudis tersenyum licik.


"Lakukan! Kalau kamu bisa!", kata Yudis menepuk bahu Pras dan berlalu begitu saja.


Lamunan Pras buyar saat panggilan Galuh yang meminta nya untuk memanaskan motor butut nya.


Lelaki itu pun mengambil kunci motor itu lalu menyalakan mesinnya.


"Selesai panasi motor, sarapan dulu ya Pak!", panggil Sekar.


"Iya Bu!", sahut Pras.


Di meja makan yang sederhana itu, mereka bertiga berkumpul. Bukan lauk istimewa, tapi mereka selalu mensyukuri nikmat apa yang sudah di berikan.


"Luh?!"


"Iya pak!", Galuh menoleh sambil memasang tali sepatunya.


"Jadi anak yang baik ya!", tangan Pras mengusap kepala Galuh. Galuh mengiyakan dengan anggukan.


"Jadi lah pemaaf! Sebesar apa pun kesalahan orang lain. Maafkan lah! Urusan kesalahan dan dosa yang dilakukan pada mu, itu urusan dengan si pemberi nyawa. Jangan bebani hati kamu dengan sakit hati apalagi dendam."


"Iya pak!", sahut Galuh.


"Sholat yang rajin. Belajar yang baik biar makin pinter dan jadi kebanggaan ibu sama bapak."


"Insyaallah Pak."


"Bapak tidak minta putri bapak jadi orang yang kaya raya. Yang penting, akhlak nya baik. Tidak menyakiti orang lain. Kalau kiranya tidak bisa membahagiakan orang lain, minimal jangan menyakiti orang lain pula."


Galuh mendengarkan nasehat bapaknya. Sekar sendiri masih membereskan meja bekas mereka sarapan.


Galuh berdiri dari bangkunya tapi tiba-tiba Pras memeluknya begitu erat.


"Putri bapak yang shalihah ya!", kata Pras meletakkan dagunya di atas ubun-ubun Galuh.


"Insyaallah Pak."


"Kalau sudah ada rejeki lebih, kumpulin uang biar bisa beli pakaian yang tertutup dan berhijab. Ya?"


Galuh mengangguk lagi.


"Ya udah, berangkat sana! Yang pintar!", kata Pras.


"Iya pak!", kata Galuh. Ia pun mencium punggung tangan bapaknya setelah itu ibunya.


"Assalamualaikum?!", pamit Galuh.


"Bapak juga mau siap-siap dulu ya Bu!", kata Pras.


"Iya pak!", kata Sekar. Beberapa menit kemudian, Pras pun selesai bersiap. Dia memang jalan kaki setiap pulang pergi bekerja karena motornya di bawa Galuh ke sekolah. Putri nya jauh lebih membutuhkan dari pada dirinya.


"Bapak berangkat ya Bu!", pamit Pras sambil mengulurkan tangannya untuk di cium Sekar.


"Hati-hati ya pak!", kata Sekar. Pras tersenyum dan mengangguk pelan.


Usai meninggalkan rumah sederhananya, Pras langsung berjalan menuju ke pabrik. Sesekali ia bertemu dengan sesama pekerja pabrik dan juga tetangga sekitar. Rumah Pras sendiri cukup jauh berada di atas di banding dengan tetangga-tetangganya.


Sesampainya di pabrik, seperti biasa Pras dan yang lain pun absensi manual seperti pada umumnya.


Saat Pras mulai bekerja, ia di panggil oleh atasannya agar mengambil sesuatu di gudang belakang pabrik. Sebenarnya Pras sudah mulai curiga, tidak seperti biasanya ada orang dari bagiannya di suruh ke gudang belakang.


"Saya sendiri pak?", tanya Pras pada atasannya.


"Iya! Ambil yang berbahan baja. Enteng kok!", ujar atasannya yang langsung meninggalkan Pras begitu saja.


Pras pun menuju ke gudang belakang untuk mengambil barang yang atasannya katakan. Ternyata...di dalam sana sudah ada beberapa orang laki-laki yang menunggunya, mungkin!


Kenapa Pras menebak seperti itu? Bagaimana tidak, ada seseorang yang tersenyum mengejek padanya.


Firasat Pras benar! Jika kali ini terjadi sesuatu padanya, setidaknya istri dan anaknya sudah siap!


"Maaf, saya hanya ingin mengambil barang yang atasan saya minta!", kata Pras mulai menghampiri barang yang di maksud.


"Heum! Ambillah selagi mampu!", kata Yudis. Ya, orang yang menunggunya adalah Yudis.


"Apa yang anda inginkan dari saya?", tanya Pras.


"Aku? Ingin apa? Tentu saja aku ingin kamu tutup mulut pada Arya, tidak hanya sejak saat itu hingga saat ini. Tapi.... selamanya!"


Pras menggeleng tak percaya jika ada orang yang bersikap begitu kejam hanya karena sebuah kekuasaan padahal Arya sendiri tak pernah mengharapkan apa pun dari keluarga Pandu.


"Terserah anda!", kata Pras ketus. Dia mulai mengambil beberapa bahan yang atasannya minta. Tiba-tiba saja Yudis menendang ember ke depan Pras hingga membuat sepatu lelaki itu basah.


Pras cukup tersentak karena perbuatan Yudis barusan. Tapi Pras berusaha untuk tak terpancing emosi. Dia memutuskan untuk mengambil barang tersebut.


Tapi tiba-tiba saja salah satu anak buah Yudis membawa sebuah kabel yang terhubung dengan sumbe listrik di ruang gudang tersebut.

__ADS_1


Pras menyadari jika saat itu ada dalam bahaya. Alas kaki basah, lemari besi!


"Ucapkan selamat tinggal, Prastian!", kata Yudis tersenyum jahat.


Pras melepaskan tangannya dari lemari besi, ia berniat untuk lari menjauh tapi ternyata....


Dddrrrrtttt....


Tubuhnya menegang seketika saat tegangan listrik tinggi itu menyentuh tubuhnya karena genangan air di lantai tepat mengenai kaki lemari besi.


Tubuh itu terpelanting dan terjerembab ke lantai. Tak lama kemudian, Yudis meminta anak buahnya untuk mundur dan menghapus segala barang bukti.


Sore harinya, Sekar yang mencemaskan Pras yang tak pulang makan siang pun mondar mandir di dalam rumah.


"Ibu, tunggu siapa sih?", tanya Galuh.


"Bapak kamu belum pulang Luh!", kata Sekar.


"Lembur kali Bu!", sahut Sekar.


"Tapi tadi ngga makan siang Luh. Ibu cemas sama bapak!", kata Sekar. Galuh pun sebenarnya memiliki firasat buruk. Tidak seperti biasanya bapaknya itu memberikan berbagai wejangan padanya.


"Ya udah bu, kita ke pabrik aja yuk! Susul bapak!", ajak Galuh.


"Iya Luh!", kata Sekar. Baru saja ia akan membuka pintu ruang tamu, tiba-tiba terdengar suara ramai-ramai orang yang sepertinya menuju ke rumah mereka.


"Ada apa ya Bu?", tanya Galuh yang buru-buru membuka pintu.


Baru saja pintu terbuka, kedua perempuan berbeda usia di kejutkan oleh beberapa orang yang berseragam seperti Pras menggotong tubuh Pras keluar dari sebuah mobil ambulans.


"Bapak??", gumam Galuh.


"Kang? Kang Pras kenapa?", Sekar langsung menghambur ke sekelompok orang yang tengah mengangkat Pras.


"Yang sabar ya Teh! Neng!", kata salah seorang teman Pras.


"Ngga!", Galuh menggelengkan kepalanya bahkan air matanya saja meluncur tanpa ia sadari.


"Kang Pras kenapa???", teriak Sekar.


"Kang Pras kecelakaan kerja Teh, almarhum kesetrum di gudang belakang!", jawab salah satunya.


"Bapak!!!!", Galuh histeris mendengar informasi dari rekan bapaknya. Sekar sendiri langsung tak sadarkan diri mendengar apa yang terjadi pada suaminya.


Beberapa hari setelahnya, Sekar bermaksud untuk mengusut kasus kematian suaminya yang di anggap janggal. Tapi Sekar hanyalah perempuan tak berpendidikan tinggi dan dari kalangan bawah. Mana mungkin dia bisa melawan orang-orang yang berkuasa. Akhirnya, Sekar dan Galuh hanya menerima kenyataan pahit bahwa Pras meninggal karena hal yang sudah orang-orang pabrik katakan.


Flashback off


"Kang Pras di temukan di gudang belakang pabrik yang bahkan tak pernah ia datangi sebelumnya. Tapi... orang-orang bilang, almarhum tersengat listrik tegangan tinggi. Hanya itu saja informasi yang saya dapat."


"Memang suami kamu bekerja di pabrik apa dan bagian apa?", tanya Arya.


Sekar pun menyebutkan nama pabrik itu dan mengatakan kejadian di tahun tersebut.


Mata Arya pun melebar! Puluhan tahun dia baru mengetahui sekarang?!!!!


"Yudis Kepa***!!!", Arya bangkit dari duduknya dan meninggalkan Gita serta Sekar begitu saja. Dua wanita itu tak tahu apa yang membuat Arya semarah itu.


Mungkin karena ia sangat kehilangan sahabatnya.


Arya menghubungi Lukas yang kebetulan berada di ruangan Puja.


[Iya tuan?]


[Hancurkan perusahaan Pandu, sekarang!]


Lukas menjauhkan ponselnya dari telinganya. Puja sampai menautkan alisnya.


"Ada apa om?", tanya Puja. Lalu Lukas pun menyerahkan ponselnya. Tertera nama papanya di sana.


[Hallo Pa? Ada apa?]


[Hancurkan perusahaan Pandu. Sehancur-hancurnya Puja! Jangan sisakan sedikit pun untuk para manusia laknat!]


[Pa ...apa om Yud...]


[Lakukan! Jangan bantah Papa!]


[I-iya Pa. Puja lakukan sekarang bersama om Lukas!]


Arya mematikan sambungan telepon nya dengan Puja.


"Kamu harus membayar semuanya Yudis! Kematian ibuku! Kematian Pras! Penderitaan Sekar dan Galuh! Dan semua kesakitan yang kamu buat!", gumam Arya.


****


21.56

__ADS_1


Panjang ga ??? 🤫🤫🤫🤫 segini dulu ya hehehe


Makasih 🙏✌️


__ADS_2