Menikahimu Takdirku

Menikahimu Takdirku
Antara aku, kau dan dia


__ADS_3

Sean mencoba menguatkan hatinya ketika lelaki di hadapannya mengatakan bahwa ia menyetujui perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya. Belum melakukan pernikahan tapi Sean sudah merasa kehilangan walaupun ia sedang bersama Bian


Melihat linangan air mata di wajah cantik Sean hati Bian benar benar remuk, untuk pertama kalinya ia membuat Sean benar benar terluka dan menangis.


"Jangan menangis Sean...aku tidak bisa melihat mu menangis lagi" pinta Bian sambil mendekatkan kursinya ke samping Sean agar ia bisa menenangkan sang kekasih.


Meskipun Sean menahannya dengan sekuat tenaga ia tetap tidak mampu dan ia akhirnya menangis di pelukan Bian.


" Aku tidak bisa kehilangan mu Bian...aku tidak bisa" Isak Sean, wanita mandiri itu benar benar rapuh jika hal itu menyangkut Bian.


" Tidak akan Sean..."


" Aku ingin bertemu dia..." kata Sean sambil menengadah kan wajahnya ke arah Bian


" Dia?? Siapa??" tanya Bian yang sebenarnya tau kalau Sean ingin bertemu dengan Alea


" Wanita itu"


" Sebaiknya tidak sayang??dan untuk apa??"


" Penuhi permintaan ku Bian..." Pinta Sean dengan tatapan yang tidak bisa ditolak oleh Bian.

__ADS_1


" Baiklah" kata Bian akhirnya


Bian mencoba berbagai cara untuk berbicara dengan Alea, awalnya wanita itu menolak hingga akhirnya ia memenuhi permintaan Bian setelah beberapa kali melakukan pembicaraan melaluinya ponsel.


Sean beberapa kali melihat cermin untuk memastikan bahwa ia kelihatan sempurna di hadapan calon istrinya Bian. Ia tidak ingin kalah dalam hal penampilan.


" Kau sudah cantik berhentilah menambah bedak itu" kata Bian


" Dia tidak boleh kelihatan lebih cantik atau kau akan berpaling" kata Sean


Di sebuah Cafe yang tidak terlalu jauh dari kantor Bian pertemuan itupun berlangsung. Alea menghampiri mereka dengan penampilan yang sangat sederhana. Hanya menggunakan kemeja putih dan rok batik ia pun duduk dihadapan Sean dan Bian.


" Kampungan" hal itu pertama kali muncul di pikiran Sean ketika ia melihat Alea yang begitu sederhana bahkan ia tidak menggunakan lipstik hanya sentuhan bedak tipis di wajahnya. Ditambah kaca mata yang menempel di wajahnya membuat Alea semakin sederhana.


" Kamu tamatan apa??" Pertanyaan pertama muncul ketika Alea duduk dihadapan mereka.


" Apakah hal itu penting dalam pertemuan ini?? Apakah kita membahas masalah titel , pekerjaan atau semacamnya" kata Alea dengan nada datar


" Sama sekali tidak....aku hanya ingin memastikan kau bukan wanita yang berkelas" kata Sean semakin merendahkan Alea


" Apakah wanita berkelas diukur dari pendidikan?? lagipula ini tidak ada hubungannya dengan hal itu. Jika anda ingin menunjukkan pendidikan anda, saya rasa anda salah waktu dan tempat"

__ADS_1


Bukan main geramnya Sean mendengar jawaban Alea, ia tidak menyangka bisa menjawab dengan sangat tenang membuat Sean semakin gundah


" Langsung saja..."kata Alea lagi.


"Aku yakin kau tahu apa maksud ku!! aku tidak ingin kau mendekati Bian selama kalian menikah" kata Sean


"Jangan mencoba mengambil nya dari ku" tegas Sean lagi.


" Aku tidak mengerti dengan pertemuan ini kalian ingin menemui ku karena ingin mengatakan bahwa kalian saling mencintai dan tidak terpisahkan?" tanya Alea


" Aku hanya ingin mengingatkan kau" kata Sean semakin geram.


" Aku tidak bisa menjamin hal itu, aku akan menjadi seorang istri aku tetap akan menjalankan tugas ku. Jika memang ingin bersama maka batalkan saja pernikahan ini" kata Alea


" Kamu???" Hardik Sean yang hampir berdiri dari kursinya, rasanya ia ingin menjambak atau bahkan menampar wajah Alea.


" Apakah ini perilaku orang yang berpendidikan??" Sindir Alea


" Sudahlah sayang.... cukup" kata Bian sambil menarik Sean agar duduk kembali


" Seperti nya aku hanya buang buang waktu saja dan kau tidak perlu khawatir nona jika memang kalian berjodoh maka kalian akan bersama aku tidak akan penghalang. Hal itu sudah kukatakan pada Bian di awal pertemuan"

__ADS_1


__ADS_2