
Ana terkejut saat melihat Alea dibawa oleh Bian dalam kondisi yang cukup lemah, wajahnya sangat pucat serta gerakan tubuhnya yang begitu lemah.
"Apa yang terjadi Bian??" Tanya Ana
Bian kemudian memapah Alea agar dapat duduk di sofa dan dengan cepat Anapun membantu agar Alea dapat menyadarkan tubuh nya di atas Sofa.
" Kamu kenapa Alea?? Apa Bian menyakitimu??" langsung saja Ana mencecer Alea dengan pertanyaan yang menyudutkan sang putra.
" Ya ampun ma mana mungkin Bian melakukan hal itu" kata Bian dengan nada yang ketus, ia sungguh dongkol mendengar pertanyaan ibunya
" Tidak ma...Alea hanya..." Alea hanya menatap wajah Ana dengan tatapan sendu dan Ana langsung mengerti bahwa Alea sedang berada di bawah tekanan hingga membuat trauma nya kembali.
" Mama mengerti... sebaiknya kau istirahat saja ya, mama pastikan semuanya akan baik baik saja" kata Ana sambil menggenggam tangan Alea yang terasing dingin.
Disinilah Bian bertambah bingung melihat kedekatan Alea dan Ana, sama seperti Diona dan ibunya.
" Tapi mama senang karena Bian perduli padamu, mama tidak menyangka kalian akan dekat dalam waktu yang cukup singkat" kata Ana sambil menatap keduanya secara bergantian
" Tidak kok ma...aku ini tidak mungkin membiarkan nya pingsan di lift begitu saja" elak Bian
__ADS_1
" Benarkah?? Mama tidak percaya!!!" goda Ana membuat Bian jadi salah tingkah
" Oh...ya bagaimana dengan fitting nya??"
" Tidak jadi ma...tuh Alea keburu pingsan" jawab Bian
" Kalau begitu lakukan saja besok jika Alea sudah membaik" kata Ana
Malam itu Ana memaksa Alea untuk menginap di kediaman Wiradmadja dengan alasan kesehatan, walaupun Alea menolak dengan keras usaha Ana bisa membuat nya luluh. Alea akhirnya menginap di kamar Diona untuk satu malam.
Pagi pagi Alea sudah bangun walaupun tubuhnya masih sangat lemah, ia kemudian mandi dan mengganti seluruh pakaiannya dengan milik Diona. Sebenarnya Alea sangat risih memakai barang yang bukan miliknya tapi ia berusaha untuk nyaman memakai salah satu koleksi baju Diona yang sengaja diberikan oleh Ana.
Alea keluar dari kamar setelah ia memastikan kamar itu benar benar bersih dan rapi, ia tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk lagipula ia juga wanita yang suka dengan keindahan dan kerapian.
" Ma...maaf Alea terlambat" kata Alea dengan wajah yang sangat gugup tapi Ana malah tertawa mendengar kegugupan Alea.
" Ini masih sangat pagi Alea, kami duduk saja ya"
"Tapi aku ingin membantu ma" Pinta Alea
__ADS_1
" Tidak usah sayang...kamu sebaiknya duduk karena wajahmu masih sedikit pucat"
Akhirnya semua anggota keluarga bangun dan sudah ada di ruang makan, seperti nya sarapan pagi menjadi media penyatuan bagi keluarga yang cukup sibuk seharian.
" Mas hari ini kita fititing baju ya...aku mau pilih jas yang bagus untukmu" pinta Ana di sela sela sarapan mereka.
" Ide yang bagus" kata Dion
" Bagaimana jika kita lakukan Minggu depan" usul Bian
" Kenapa?? Jangan mengulur waktu Bian jangan bilang kau tidak ingin..."
" Bukan ma... lihatlah wajah Alea dia masih belum cukup kuat untuk melakukan itu, aku takut jika kita paksakan dia akan pingsan dan masuk rumah sakit"
Ana dan Dion saling menatap kemudian tersenyum senang mendengar perhatian Bian pada Alea.
" Seperti nya kisah kita akan terulang ya ma" kata Dion pada istrinya,
" Hmmmm" kata Ana sambil senyum-senyum sementara Bian yang jadi salah tingkah mendengar godaan kedua orang tua nya.
__ADS_1
" Bukan ma...aku tidak ingin wanita kesayangan mama ini jadi membuat mu repot" Bela Bian
"Kami mengerti Bian tapi yakinlah ini awal yang Bagus nak" Kata Dion