
****
"Mas, kenapa kamu egois??! Apa kamu mau biarin anak kita diurus sama perempuan ini?!" tanya tegas Nia.
Kala itu, Mas Arlan menggenggam tanganku dengan kuat dengan Selli yang berada digendongannya. Sesuai perkiraannya, Nia tidak akan tinggal diam begitu saja.
"Memangnya kalau bukan orang lain, siapa lagi? Selama ini ibu kandungnya kemana? Cari uang dengan cara haram dan meninggalkan kami?!" balas Mas Arlan tak kalah sengit.
"Itu dulu! Kenapa sih kamu selalu ungkit hal itu? Sekarang, aku udah kembali, Mas. Demi anak kita!"
"Gila kamu! Anak kita? Sejak kapan kamu nganggap Selli sebagai anak? Apa kamu sudah jatuh melarat? Atau, suamimu sudah dapat wanita muda dan sudah bosan sama kamu?"
"Enggak! Enggak ada hubungannya! Aku datang untuk kalian!"
"Cukup Nia! Jangan pakai nama anakku lagi demi hasrat busukmu!"
Aku masih diam sembari menyaksikan pertengkaran ini. Di tepi danau, pada saat itu kami sedang berjalan-jalan demi mencari udara segar. Nyatanya, Nia tetap kekeh ingin kembali. Aku tidak habis pikir tentang niat wanita itu. Dan didepan gadis kecil, darah dagingnya sendiri, Nia berucap beberapa kalimat tak pantas didengar. Sedangkan, Selli hanya diam ketakutan. Ia menaruh kepalanya diatas pundak ayahnya. Miris sekali, anak sekecil itu harus mengalami hal seperti ini. Lebih parahnya, Nia sama sekali tidak peduli akan resiko yang akan ditanggung oleh sang anak.
Genggaman tangan Mas Arlan di jari-jemariku semakin terasa kuat. Aku mengerti amarahnya sudah memuncak. Apalagi Nia bukan hanya keras kepala, ia bahkan rela bersimpuh dihadapan Mas Arlan. Jika, ia benar-benar menyesal, aku bisa memahami. Namun, jika ia hanya kesal atas kebangkrutan suami barunya, aku tidak bisa terima. Memangnya, Mas Arlan dan Selli adalah barang?
Nia akhirnya berdiri lagi, setelah itu ia menatapku begitu tajam. "Aku jamin kamu nggak bahagia sama dia?! Kamu akan selalu dipermalukan oleh dia! Wanita gemuk, jelek, bodoh, miskin yang tidak menarik! Aku lebih dari segalanya!" Nia terus mencercaku dengan kalimat tidak baik.
Sontak saja, raut wajah Mas Arlan memerah padam setelah mendengar penghinaan untukku tersebut. Telapak tangannya hampir dilayangkan untuk menampar wajah Nia, namun aku segera mencegahnya sebelum hal itu terjadi. Kugelengkan kepalaku saat Mas Arlan menatapku, "Jangan Mas. Ini bagianku, kamu bawa Selli pergi dulu."
"Tapi, Dek?" Mas Arlan tampak ragu atas permintaanku.
Kubalas senyuman penuh makna untuknya. "Aku Fannisa bukan Fanni yang dulu lagi. Aku tidak mau direndahkan, jadi ini udah menjadi urusanku. Lagipula bahuku besar, aku tidak akan kalah," kataku.
"Baiklah, Dek." Mas Arlan menyanggupinya. Setelah itu, ia mengambil langkah untuk membawa Selli lebih jauh dari aku dan Nia.
Sepeninggalan Mas Arlan dan Selli saat itu, aku hanya berdua saja dengan Nia ditempat ini. Tengkukku kaku seketika, aku gemetar hebat. Namun, nyaliku sudah membesar. Semua harus kuselesaikan sekarang juga. Karena, Mas Arlan adalah milikku bukan miliknya lagi. Yah, dengan segala keberanian, aku menatap Nia. Meski kegusaran masih kerap melanda.
Beruntungnya, tidak banyak orang yang datang ke danau kecil ini. Rintikan hujan pun muncul menyertai gejolak hati yang sudah memburu. Aku dan Nia saling bertatap mata dengan kesengitan masing-masing. Bak seorang karateka yang hendak beradu di arena. Namun, kami akan beradu dalam konteks yang berbeda. Aku tidak akan kalah darinya, aku juga tidak akan menyerahkan Mas Arlan atau Selli kepadanya. Wanita ini bukan wanita baik-baik. Mungkin, jika Selli besar aku baru akan mengizinkan.
"Apa kamu liat-liat? Udah sadar kan kamu, kamu itu siapa? Harusnya, kamu pergi dari sisi mereka!" tegas Nia kepadaku.
Senyuman seringai keberikan kepadanya. "Maaf Tante, sebelumnya kita belum saling kenal. Saya Fannisa, calon istri Mas Arlan dan ibu sambung untuk Selli," jawabku sembari menyerahkan telapak tanganku kepada wanita itu.
Nia mendelik, ia meludah sembarangan lalu menepis telapak tanganku. "Tante katamu? Kamu terlihat lebih tua dari saya. Badanmu saja segede b*bi, tak pantas bersanding dengan anggota keluarga Harsono."
"Wah!!! Tante memang masih cantik, walaupun sudah nenek-nenek. Sepertinya, uang untuk oplas memang sudah terkumpul dari hasil pengkhianatan dan perselingkuhan. Tante Nia memang sangat hebat! Bahkan, lebih hebat dari kupu-kupu malam!"
Nia membelalakkan matanya setelah mendengar sindiran pedasku. Wajah ayunya memerah, tampaknya ia sudah naik pitam. Tiba-tiba saja, telapak tangannya hendak diarahkan kepadaku. Aku yang berbahu besar ini tidak tinggal diam begitu saja. Kutangkis tangannya, lalu kucengkeram dengan kuat. "Jangan macam-macam dengan si gendut satu ini! Anda sudah tidak punya hak atas mereka! Saya memang tidak lebih cantik, tapi saya lebih murni dan alami. Anda hanya sampah, yang sebentar lagi silikon di wajah akan meleleh karena tidak ada dana!"
Kulepas cengkeraman tanganku dari tangan Nia. Lalu kuhempaskan tubuh wanita itu, sehingga ia jatuh di tanah. Ia meringis kesakitan sembari mengumpat beberapa kali. Sedangkan, guyuran hujan semakin deras menambah kesyahduan pertengkaran kami. Aku masih tidak tahu pasti, dimana Mas Arlan dan Selli berada. Semoga saja, Mas Arlan memang membawa Selli pergi jauh, agar tidak menyaksikan hal yang tidak terduga ini.
Tak lama, kemudian Nia beranjak. Dengan raut wajah marah, ia pergi meninggalkanku begitu saja. Tampaknya, ia sudah merasa terhina atas perlakuanku. Kemudian, aku terduduk lemas dibawah guyuran hujan kala itu. Aku menatap kosong ke depan, masih tidak percaya dengan semua yang telah kulakukan. Sejak kapan, aku seberani itu? Apakah, aku sudah keterlaluan? Bolehkah aku menyesal, karena sudah memperlakukan Nia secara tidak baik? Lalu, bagaimana jika ia datang kembali dan mengacaukan pernikahanku.
"Nggak perlu menyesal, kamu udah melakukan yang terbaik. Terima kasih sayang, terima kasih bule kesayanganku, terima kasih my wonder woman. I love you. " Suara Mas Arlan terdengar tiba-tiba. Ia sudah menghampiriku kembali dengan membawa payung berwarna hitam untuk meneduhkan diriku dari guyuran hujan. Ia sendiri, sepertinya Selli sudah diamankan didalam mobilnya.
Ia menyerahkan telapak tangannya kepadaku. Lantas, aku menyambutnya dengan senang hati. Aku bangkit. Tak terasa tetesan air mata membasahi pipiku lagi, Mas Arlan memelukku. Karena terlanjur basah, ia pun membuang payungnya begitu saja. Kami saling berpelukan dibawah guyuran hujan. Demikianlah yang terjadi hari itu, lebih tepatnya dua minggu yang lalu.
****
Kini hari pernikahan telah tiba. Akhirnya, setelah 1001 alasan kuutarakan untuk menolak sebuah pesta, aku tetap kalah. Karena, ibuku bersikeras ingin membuat pesta resepsi. Mengingat aku adalah anak perempuan satu-satunya. Sehingga kesepakatan terjadi, pesta tetap diadakan selama satu hari setelah akad pagi ini.
Balutan kebaya berwarna putih membungkus tubuhku yang gemuk. Para stylish mencari cara, agar lipatan lemakku tidak terlalu terlihat. Dan yeah! Sebuah korset mahal menjadi penolong pertama. Setelah aku memakainya, rasanya tidak begitu buruk. Aku menjadi memiliki bentuk pinggang. Meski aku tahu, setelah benda tersebut terbuka pasti akan terlihat lagi. Tidak masalah, toh Mas Arlan telah menerima segala kekuranganku.
Kembali lagi pada busana dan penampilan. Selain kebaya putih, aku memakai kain batik sebagai bawahan. Rambutku tersanggul rapi dengan mahkota kecil dibagian depan. Kalung pemberian Mas Arlan turut menghiasi leherku. Sentuhan make up cantik, bisa membuat wajahku berbeda dari biasanya. Tidak menor namun tetap memberikan kesan luar biasa.
"Kamu mah gendut, tapi masih punya tulang pipi. Jadinya masih cantik-cantik aja, sayang," ujar salah satu tukang rias wanita yang masih membantu persiapanku.
__ADS_1
Aku tersenyum kepada beliau. "Entahlah Bu hehe," jawabku.
"Mungkin gadis bule ya? Jadinya, tetap cantik apapun penampilannya."
Ibuku yang tiba-tiba datang, menyela begitu saja, "Cantik dong anak siapa dulu? Tapi, bocahnya rada isinan, Jeng."
"Haha... yah, namanya masih gadis. Ya lumrahlah, Jeng. Gimana pengantin pria sudah datang?"
"Sepuluh menit lagi katanya sih. Fanni udah selesai kan? Siap-siap gih."
Kak Febi tampak berjalan menghampiriku bersama perutnya yang membuncit. Ia tersenyum dengan imutnya. "Semangat ya, Dek," ujarnya.
Aku tersenyum kepadanya. "Iya Kak, makasih ya," jawabku.
"Sip!"
Akad dan pesta akan dilangsungkan di halaman rumah orangtuaku yang luas. Tentunya dengan tenda yang berkhualitas dan bagus. Karena, Mas Arlan ingin memberikan sentuhan yang mewah meski tidak didalam gedung. Karena ia telah menarik diri dari keluarga besar, ia hanya mengundang beberapa kerabat dan sahabat. Relasi perusahaan keluarganya sama sekali tidak diundang, karena aku pun menolak akan hal itu. Aku ingin resepsi ini digelar secara terbatas saja.
Tiba-tiba ponselku yang berada diatas meja tengah berdering. Kak Febi bersedia mengambilkannya untukku karena ruang gerakku terbatas akibat persiapan yang belum selesai.
"Makasih, Kak," ujarku kepadanya.
"Sama-sama, Dek," jawab Kak Febi.
Segera kumainkan jariku diatas layar ponsel. Tampak kontak milik Celvin sedang menelepon. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera mengangkat panggilan tersebut.
"Hai, Vin," sapaku kepadanya.
"Hai juga calon pengantin. Emm... selamat ya bule," jawab Celvin.
"Belum, Vin. Do'ain aja lancar ya?"
"Siap Non. Tapi, maaf ya Fann. Aku nggak bisa dateng, emm... aku nggak mau merusak pesta kamu karena hubungan kami."
"Kamu gadis baik, kamu pantas bahagia Fanni. Makna kamu buat aku, juga terhitung besar. Bahagia selalu ya sahabatku."
"Sa-sahabat?"
"Iya, mungkin kamu belum bisa menjadikan aku sejauh itu. Tapi, aku sudah menganggap kamu sebagai sahabat paling baik, Fann."
"Thanks Vin. Jadi pengen nangis nih."
"Haha... Bye, Non. Semoga lancar ya buat malam utamanya."
"Ehh? Maksudnya?"
"Tanya sama Om Arlan aja hehehe."
Celvin menutup teleponnya begitu saja. Sedangkan, aku masih terbengong-bengong akibat ucapannya.
Malam utama? Ah... astaga! Gimana yah? Gue takut juga.
Segera kugeleng-gelengkan kepalaku disaat teringat hal itu. Aku mencoba menguasai diri agar tidak khawatir tentang hal itu. Meski, memang ada sedikit rasa takut. Namun, tetap akan kujalani nantinya sebagai kewajiban seorang istri. Semoga saja, aku tidak terlihat memalukan dimalam nanti. Agar Mas Arlan tidak merasa geli kepadaku.
Ibuku kembali mengingatkan agar aku segera bersiap. Aku rasa, rombongan pengantin pria telah tiba. Setelah itu, ibuku, Neneng dan dua orang lainnya menemaniku untuk ke tempat akad akan dilangsungkan. Debaran jantung begitu tidak beraturan. Kutelan salivaku karena gugup yang luar biasa. Apakah ini yang selalu dialami setiap pengantin baru? Mungkin, untuk Mas Arlan akan lebih mudah, mengingat ini bukan pertama kali bagi dirinya.
Tak lama kemudian aku telah sampai ditempat akad akan dilangsungkan. Seluruh keluargaku berada disini. Kerabat Mas Arlan pun sama. Namun, ditambah dengan kedatangan Riska yang mungkin ingin menjadi saksi janji suci diucapkan. Kemudian, ibuku memapah diriku untuk duduk disebelah Mas Arlan.
"Kamu cantik banget, Dek...," bisik Mas Arlan kepadaku.
Aku tersipu malu akibat pujiannya. Namun, aku tidak bisa memberikan jawaban apa-apa karena sang penghulu menginginkan akad ini segera dilangsungkan. Aku menunduk tegang pada saat tangan Mas Arlan bersalaman dengan sang penghulu. Ini lebih tegang daripada menghadapi Nia, waktu itu.
__ADS_1
"Siapkan?" tanya sang penghulu.
"Siap!" jawab Mas Arlan mantap.
Beliau mengintruksikan kami untuk menandatangi beberapa berkas pernikahan terlebih dahulu. Ada beberapa prosesi yang harus dilakukan, pembukaan dan lain sebagainya. Setelah selesai dimulailah ijab kabul.
"Bismillahirrohmanirrohim, saya nikahkan dan kawinkan saudara Arlan Mahendra Suharsono bin Harsono dengan saudari Fannisa Oktaviani Geraldine binti Hendrick Van Houten Geraldine. Yang mana walinya mewakilkannya kepada saya, dengan seperangkat alat sholat dan uang sebesar satu juta rupiah, dibayar tunai!"
"Saya terima nikahnya Fannisa Oktaviani Geraldine binti Hendrick Van Houten Geraldine, dengan seperangkat alat sholat dan uang sebesar satu juta rupiah. Dibayar tunai!"
"Bagaimana, saksi? Sah?"
"Saaaaaah!!!"
Semua orang meneriakkan kata sah secara bersamaan. Kemudian, dilanjutkan dengan do'a-do'a. Kucium telapak tangan Mas Arlan menggunakan dahi. Lalu kami memeluk anggota keluarga secara bergantian. Sampai air mata haru sudah tak tertahan lagi. Terlebih ibuku yang sudah membasahi wajah atas keharuan ini.
Ibuku seakan tidak rela melepaskanku kepada orang lain. Beliau sesenggukan dengan pelukan yang belum juga terlepas. Aku paham, karena di usia ini anak gadisnya baru memiliki seorang suami. Yang pasti suatu kelegaan akan terpancar di hati beliau dan juga ayahku.
"Kamu jadi istri yang baik ya, sayang. Yang manut sama suami," ujar ibuku.
"I-iya Ma," jawabku dengan deraian air mata juga.
"Ingat! Jangan galak-galak ya sama suami," kelakar ayahku tiba-tiba.
Sontak saja, ibuku melepas pelukan. "Papa nyindir Mama...?" tanya beliau lirih.
"Hehe... enggak, Ma. Udah jangan nangis, bentar lagi resepsi, masa' calon pengantin matanya bengap?"
Hatiku menjadi tenang setelah mendengar peringatan dari ayahku. Kedua orangtuaku ini, mengecup dahiku bergantian. Lalu, aku beralih. Kak Pandhu dan Kak Febi memberikan pelukan yang hangat juga. Mereka memberikan ucapan selamat dan juga beberapa nasehat kepadaku. Aku beralih lagi, bergantian dengan Mas Arlan. Kepada calon mertua. Maksudku, mertuaku satu-satunya.
Beliau menatapku dengan senyuman begitu teduh. Dibelainya bahuku dengan lembut. Beliau menitikkan sedikit air mata di pipi. "Kini tugas saya sudah selesai, Nak. Saya sudah bisa melepas Arlan dengan tenang untuk kamu. Mungkin, sebentar lagi saya bisa pergi dengan tenang. Kamu jaga kedua anak itu ya, Nak?"
Ucapan yang tiada terduga. Aku mengenggam tangan beliau. Menantu mana yang tidak bersedih, pada saat dipercayai seperti itu? Meski, raut wajah beliau menunjukkan kelegaan yang begitu dalam. Aku tetap menangis. Lagi-lagi soal kepergian yang dikatakan. Hatiku seolah teriris-iris. Aku tidak ingin mendengar ucapan itu. Karena keyakinan hati mengatakan bahwa beliau tetap akan berumur panjang bahkan sampai aku memiliki seorang anak. Beliau hanya membelai kepalaku perlahan sembari mengucapkan beberapa nasehat untukku.
Setelah mulai tenang, aku menarik diri dari pelukan mertuaku. Kami melakukan prosesi foto berdua ataupun bersama keluarga. Tentunya dengan gadis kecil yang sejak tadi bersama Riska. Untuk Riska, ia sudah mengucapkan kata selamat juga.
"Mama Fanni hihi," ujar Selli tiba-tiba.
"Ehh?" Aku merespon terkejut.
"Cekarang Tante udah menikah cama Papa, jadi Tante udah jadi Mama kedua Selli kan?"
"Iya dong sayang. Sekarang saya adalah Mama kamu, oke?"
"Yeeeee.... akhirnya Selli punya Mama."
Mas Arlan merangkul bahuku dari belakang. Ia menatapku dengan senyuman. "Akhirnya aku punya istri," katanya.
"Aku juga punya suami hehe."
Beberapa menit kemudian, aku telah berganti gaun. Kini aku memakai gaun kebaya bergaya sama, namun berwarna keemasan dengan ekor panjang dibelakang. Tatanan penampilanku tidak terlalu buruk. Sekiranya, masih pantas jika bersanding dengan tubuh kokoh Mas Arlan. Yah, sedikit percaya diri, boleh kan?
Para tamu undangan mulai berdatangan. Aku dan Mas Arlan menjadi ratu sehari, hari ini. Siap menyalami tamu dan juga menjadi foto model. Aku tidak menyangka rasanya bahagia sekali, padahal sebelumnya aku tidak cukup nyali untuk menjadi pajangan. Mungkin, rasa bahagia sudah menutup semua keminderan yang ada.
Datanglah tiga sosok tidak asing bagiku. Nike, Tomi dan juga Mita. Berbicara tentang Mita, akhir-akhir ini hubungan kami sudah membaik. Untuk progress misinya pun masih tertunda karena ia trauma. Ia tak lagi memusuhiku. Bahkan, kini ia bisa berbaur dengan Nike dan Tomi juga. Aku bersyukur luar biasa. Tidak hanya pasangan tetapi juga teman yang kudapatkan diusia 30 tahun ini.
****
Budayakan tradisi like+komen..
Gimana guys, kejutannya??? hehehe.
__ADS_1
mau lanjut ???
NGGAK NYANGKA AKU BISA NULIS SAMPAI BAB KE 100... YAH AKU RENCANANYA MAU NIKAHIN MEREKA DI ANGKA 100 SIH HEHEHE.. MAKASIH ATAS KOMEN LIKE DAN JUGA POIN, MAKASIH YANG UDAH SEMPET BACA KARYA YANG TIDAK MENARIK INI. LOVE YOU ALL