Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Skak Mat!


__ADS_3

Atmosfer yang menegangkan. Udara yang panas menjadi semakin panas. Hati yang marah semakin dibuat geram. Kegelisahan berubah menjadi kewaspadaan yang lebih siaga. Sang penyihir jahat sudah tiba. Untuk apa? Untuk mengambil anaknya yang sudah bukan haknya.


Dalam beberapa saat, keduanya masih saling terdiam. Sedangkan tatapan mata keduanya saling melemparkan ketajaman yang begitu nanar. Lantas, aku harus berpartisipasi seperti apa demi memperjuangkan Selli? Nia adalah wanita yang sangat menakutkan. Jika disakiti sedikit, pasti ia akan teriak. Dan disaat itu terjadi, apa yang terjadi jika Selli mendengarnya? Pastinya si gadis kecil itu memberikan pembelaan pada ibunya. Begitulah yang aku tangkap dari semua info tentang Nia yang aku dapat.


"Saya ibunya! Saya berhak atas dirinya! Apa? Surat asuh?! Hah, mudah sekali diatasi," ujar Nia dengan keangkuhan yang super duper tinggi.


"Terserah anda, tapi saya tidak akan mengizinkan siapapun membawa anak saya!" tegas Mas Arlan.


"Hei, Arlan. Ingat istrimu sekarang, hamilkan dia? Apa kamu yakin, kamu bisa mencintai Selli setelah anak itu lahir?!"


"Yakin, kenapa tidak?! Saya jauh lebih baik daripada anda. Seorang ibu yang tidak becua mengurus seorang anak. Heh, ibu yang durhaka? Tampaknya anda adalah penerima pertama yang mendapatkan gelar itu. Anda sangat busuk, Ibu Nia. Saya tahu, alasanmu mencari Selli hanya untuk memeras saya!"


"Jaga bicara kamu, Arlan! Tua bangka, tahu apa soa urusanku mencari anakku sendiri. Aku yang melahirkannya. Aku punya hak atas dirinya!"


Demi menyudahi situasi ini, aku segera mendekati Mas Arlan. Aku merangkul satu lengan tangannya. "Mas, ayo masuk. Kita perlu istirahat kalau kamu nggak jadi balik," ujarku.


"Enak saja! Serahkan anak saya dulu! Kalau tidak, saya akan menuntut kalian karna telah memisahkan ibu dan anak!" Nia tidak menyerah. Ia masih bersikeras, bahkan lebih kerasa daripada batu. Bahkan ia mengumpat beberapa kata yang tidak pantas aku ulangi.


Dan sampai saat ini, aku masih bertahan demi mengendalikan gejolak emosi kemarahan didalam hatiku. Aku mencoba untuk lebih tenang, jika belum terdesak. Meski wajah, mata, gerak tubuh dan ucapan Nia sering membuatku bergidik ngeri. Aku pun bingung untuk memastikan niat hatinya jika ia bersikap seperti ini.


"Mana Selli? Dimana anakku?! Arlaaan?!" tanyanya tegas.


Aku dan Mas Arlan masih memilih diam. Lebih tepatnya, aku yang meminta Mas Arlan untuk diam. Sedangkan tapakan kaki kami berdua mulai diambil satu persatu langkah. Tentunya setelah berbalik badan. Dengan rencana untuk kembali ke mobil milik Mas Arlan.


"Kalian?!" gertak Nia.


Bruk!


"Uuuuhuk!" Suara Mas Arlan.


"Aaaaaaaaa!" Aku terpekik seketika. Sakit, bahuku, pinggangku. Ya, aku terjatuh berkat tarikan tangan dari Nia. Namun hal yang membuatku lebih terkejut adalah Mas Arlan. Ia tidak peduli seberapa besar tubuhku, ia menjadi alas jatuhnya tubuh besar ini. Tampaknya, ia habis bergerak cepat untuk melindungiku.


"Ma-maaf, Mas," ujarku sembari membangkitkan diri ini yang sempat menjatuhi tubuh Mas Arlan.


"Ka-kamu enggak apa-apa kan, Dek? A-anak kita, enggak apa-apa?" tanya Mas Arlan. Ia bahkan tidak memperdulikan luka gores yang berada di lengan tangan kirinya. Pasti tubuhku terasa berat untuk ia topang tadi. Betapa malunya diri ini. Astaga! Beruntung suamiku itu tidak sampai penyet.


Aku menggeleng. Lalu, kubantu Mas Arlan untuk berdiri kembali. Tatapan matanya kembali diarahkan pada Nia yang sedang menertawakan kami berdua. Menyebalkan! Ia bahkan tidak memiliki rasa bersalah sama sekali. Tidak berpikir, bahwa hampir mencelakai dan bayiku. Gilanya ia malah tertawa sembari bertepuk tangan.


"Belalang, gajah, belalang, gajah. Pasangan macam apa kalian?" Nia berucap demikian sembari menunjuk kami satu persatu.


"Apa maumu, Nia?! Kamu mau membunuh anak dan istriku?!" tanya tegas Mas Arlan bersama raut wajah yang memerah padam lantaran marah.


"Ya! Aku akan membunuh kalian perlahan-lahan. Aku akan berhenti sampai aku akan mendapatkan Selli!"


"Kami tidak akan menyerahkan Selli pada wanita sebusuk dirimu, Nia!"


"Oh ... maka bersiap-siaplah. Karna aku tidak akan membiarkan bahagia dalam waktu yang lama!"


"Mama Niaaaaaaaaa!" Seruan nama itu? Dari Selli. Aku dan Mas Arlan sontak melihat ke sumber suara yang benar Selli adanya. Ia keluar dari dalam rumah, bahkan tanpa pengawasan dari Bi Onah. Sialnya, ia menghampiri Nia daripada kami. Hal itu membuat Nia tersenyum bangga. "Mama Nia kok enggak bilang kalau mau ke sini?" lanjut Selli sembari memeluk tubuh Nia yang telah merunduk.


Nia tersenyum. "Maaf ya, Sayang. Mama sedang mengalahkan dua orang monster," jawabnya diiringi seringai.


Aku dan Mas Arlan terdiam dalam beberapa saat. Bingung itu sudah pasti. Salah langkah sedikit maka putri kami akan salah paham. Oh ... andaikan Selli datang pada saat Nia mendorongku, mungkin akan lain ceritanya.


"Ayo, Ma. Kita masuk ke rumah Papa," pinta Selli pada ibu kandungnya yang b*jat itu.


Hal itu membuat Mas Arlan terperanjat hebat. Ia hendak menghampiri keduanya, namun kucegah seketika. Aku menatap Mas Arlan dan menggelengkan kepalaku pelan. Tidak ingin jika sampai ia kembali oleh sang putri. Mungkin saat ini, Nia tengah berbangga hati. Aku kesal, namun aku harus bertahan. Aku juga harus segera masuk lantaran perutku rasanya sudah tidak nyaman.


Tanpa sedikitpun rasa malu, Nia masuk ke dalam rumah yang dulu sempat ia naungi itu. Bergerak seperti layaknya majikan, maksudku nyonya rumah ini. Pastinya ia juga sudah sangat paham akan bentuk dan bagian-bagian rumah ini.


"Ini udah keterlaluan, Dek. Kita harus usir wanita itu," usul Mas Arlan.


"Tahan dulu, Mas. Kasihan Selli. Malah nantinya kamu dibenci lagi."


"Tapi, Dek. Kalau Selli makin diracuni, gimana? Kamu dan anak kita aja, hampir kena celaka.


Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya. "Aku tahu, Mas. Tapi Sellu juga penting. Kita wajib waspada aja."


Entah terbuat dari apa, hati Nia. Sehabis membuat diriku dan Mas Arlan terjatuh, ia masih berani memasuki rumah ini. Bahkan tidak ada sesal sedikit pun dan meminta maaf. Tampaknya, orang semacam dirinya harus dibawa ke ahlo ruqyah supaya setan-setan didalam dirinya pergi. Rasanya mustahil jika manusia memiliku sifat seburuk itu. Ah ... sial sekali diriku, sampai harus menghadapi mantan istri dari suamiku.


Lalu, bersama Selli, Nia duduk di kursi ruang tamu. Aku dan Mas Arlan masih bersikap tenang sembari menyaksikan. Mata Nia berputar-putar, ke segala penjuru arah rumah. Ia tersenyum sinis seolah memberikan kesan ejekan pada kami.


"Hmm ... udah diganti ya? Padahal gayaku dan menata rumah ini tuh jauh lebih bagus," ujar Nia angkuh. "Kasihan sih, harus memakai bekasanku. Bahkan suami haha."

__ADS_1


"Nia?!" tegas Mas Arlan.


"Mas, tenaaaang," jawabku mencegah luapan emosi suamiku.


Selli tertegun menatap kami. "Kalian bertengkar ya?"


"Enggak dong, Sayang. Mama Nia kan hebat, lihat saja kedua monster sudah kalah," jawab Nia.


Sial!


"Papa, Mama Fanni duduk disini. Biar kita kumpul bersama."


Perlahan aku mencoba untuk biasa saja, namun perlahan itu juga aku tidak bisa berkata-kata. Demi Selli! Hanya itu yang terus terbesit didalam benakku. Dan pada akhirnya, aku dan Mas Arlan benar-benar duduk bergabung dengan anak dan ibu itu. Betapa hatiku pilu menyaksikan sepasang cinta yang tidak pernah bersama karena ulah salah satunya. Sejujurnya aku merasa sangat cemburu ketika menatap keduanya.


Aku berusaha untuk tidak mengungkit jasaku untuk Selli. Namun, pada kenyataa yang tertera di benakku adalah saat-saat aku sedang mengurusnya. Memandikan Selli dipagi hari, menyuapi makan, tidur bersama bahkan aku menjadi rebutan oleh dirinya dan Mas Arlan. Begitu indah kehidupan kami selama setahun ini tanpa kehadiran Nia disini. Mengapa Selli harus memilih Nia bukan diriku? Mengapa Selli bukan anak kandungku?


"Eh, eh, Bi?! Tolong dong, buatin aku minum?!" pinta Nia tiba-tiba, tepatnya saat Bi Onah melintas di tempat ini. Gaya bicaranya masih saja angkuh.


"I-iya, Nyonya. Ma-mau minum apa?" tanya Bi Onah tergagap-gagap.


"Biasa, masih ingat kebiasaan aku kan?"


"Ma-masih, Nyonya."


"Ya udah bikinin, cepat!"


What the hell?!


Nia seolah menyegajakan semua tingkahnya itu. Sepertinya ia tahu bahwa aku dan Mas Arlan akan lebih diam dihadapan Selli. Untuk hal seperti ini saja, ia sudah memanfaatkan keberadaan Selli. Bagaimana jika ia benar-benar mengambilnya. Aku tidak habis pikir, pokoknya aku benar-benar tidak habis pikir saja


Dan sedari tadi, aku masih menggenggam tangan Mas Arlan supaya ia tidak terpancing emosi. Karena aku yakin, itulah yang Nia inginkan. Dengan begitu, ia bisa membujuk Selli dengan mudah untuk mengikutinya. Oh ... anak sekecil dirinya harus terlibat dalam pertikaian ayah dan ibunya.


"Mama Nia, kemarin aku dibeliin nastar banyaaak banget," ujar Selli.


"Oh ya?" tanya Nia, ia bahkan berusaha menyandiwarakan respon lembut terhadap Selli. Memuakkan!


"Iya, soalnya Mama Fanni baik banget. Selli selali dibeliin semuanya, dimandiin, diajak main dan ditemenin kalau mau bobok."


"Y-ya." Mendengar pengakuan Selli tentang aku tampaknya membuat mood Nia sedikit turun. Tentu saja, ia tidak menyukai itu. Karena terbukti, saat ia menatapku dengan tajam, seperti mata elang. "Selli?"


"Bisakah kamu tidak membahas Mama kamu yang gendut itu? Bukankah kamu sudah Mama bilang-"


"Kenapa?" Aku memotong ucapan Nia. "Ada masalah, Tante? Bilang tentang hal buruk tentang saya? Tampaknya Selli lebih mempercayai saya," lanjutku dengan senyuman setulus mungkin. Senyum yang aku torehkan sebagai kamuflase kekesalanku terhadap Nia, karena aku masih bersama Selli disini.


Tentu saja hal itu membuat Nia terkesiap. Ah ... aku malah terpikirkan satu cara lagi supaya dirinya gerah hati. Aku menunggu Bi Onah yang datang memberikan segelas air hangat pada Nia, supaya beliau kembali ke dapur terlebih dahulu. Sebenarnya, aku ingin beliau membawa Selli. Namun, pasti Selli tidak akan bersedia.


Setelah Bi Onah kembali berjalan ke dapur, mataku dan Nia kembali saling menatap tajam. Sedangkan Mas Arlan, ia tengah menghela napas dan mengembuskannya beberapa kali. Tak lama setelah itu, aku memberanikan diri untuk merebah di bahu suamiku. Beruntung, Mas Arlan cukup pintar untuk mengetahui maksudku.


"Sayang, aku capek banget," ujarku sembari bermanja ria. Hal itu membuat Nia bergidik, namun aku yakin ada rasa iri didalam hatinya. Biar saja, toh ia sudah membuang Mas Arlan dan diriku yang menangkapnya.


"Uluh ... Sayang, sini Mas pijitin. Kasihan kamu," jawab suamiku diiringi kecupan manis di pipiku. "Mas bahagia banget punya istri kayak kamu, Dek. Udah baik, pintar, bisa jaga anak, masak dan service-nya mantap. Kamu sexy, Dek. Daripada yang itu, kesannya kayak anorexia."


Masak? Nyindir ya, Mas? Sexy? Nggak perlu juga kali, Mas.


"Iya dong, Mas-ku Sayang. Kan aku mau jadi istri yang baik. Apalagi, trend dimasa kini tuh, para pria lebih suka yang montok-montok. Nggak semua sih, mau kurus mau gendut yang penting baim hatinya, ya kan, Mas?"


Aku semakin memberanikan semua ucapan yang aku keluarkan. Sampai membuat Nia mengepalkan kedua telapak tangannya. Menyaksikan kemesraan kami, justru menghilangkan semburat senyum seringainya yang sejak tadi ada. Bahkan aku dan Mas Arlan berbalik memberikan senyuman seringai itu untuk mengejek si janda jahat satu itu.


"Mama Nia, kok meluk Sellinya kenceng banget? Selli enggak bisa napas," celetuk Selli yang kesulitan karena sikap Nia yang menegang. Disini, aku sempat khawatir jika Nia melakukan hal buruk pada Selli. Namun, beruntungnya tidak. Ya, ia masih harus mengusahakan Selli untuk dijadikan alat pencetak uang, hanya pradugaku.


"Selli sini, Nak. Dede' bayi kangen sama kamu nih. Dari tadi belum kecup, kan?" pinta Mas Arlan pada sang putri.


"Tidak! Selli harus disini temani Mama Nia!" sergah Nia.


Dalam beberapa saat, Selli merasa bimbang. Ia menatap Mas Arlan kemudian Nia beberapa kali. "Maaf, Mama Nia. Dede' bayinya lebih penting. Nanti kasihan kalau kangen sama Selli," jawabnya.


"A-apa? Ka-kamu dibohong, Selli! Mana ada yang seperti itu? Bayi itu belum ada!"


"Mama Nia? Kok galak sih? Dede' bayinya ada. Selli bisa merasakan kok. Papa enggak mungkin bohong. Papa kan orang baik."


Selli melepas cengkeraman tangan Nia seketika itu juga. Tentu saja, hal itu membuat sang ibu kandung gelagapan. Nia termakan perkataannya sendiri. Sudah kubilang bahwa Selli adalah anak yang pintar. Sehingga sejak tadi aku dan Mas Arlan berusaha bersikap tenang. Sedikit saja berbuat kesalahan, tentu Selli akan segera menampiknya dan marah kecewa. Aku yang pantas menjadi ibunya daripada Nia, aku yang jauh mengenal dirinya daripada Nia.


Dan kini, Selli datang menghampiri diriku dan Mas Arlan secara sukarela. Tanpa paksaan sedikitpun dari kami. Nia sudah tidak memiliki alasan untuk berada disini. Entah, hal apa yang selanjutnya akan ia lakukan. Aku akan menunggunya. Akankah ia berlalu pergi atau tetap membuang harga dirinya disini.

__ADS_1


"Dede' bayi sehat kan, Pa, Ma?" tanya Selli padaku dan Mas Arlan. Ia bahkan sedang membelai lembut perutku. Hal itu semakin membuat Nia gerah hatinya.


"Alhamdulillah sehat, Sayang," jawabku. "Selli harus ikut merawatnya ya? Dede' bayi kan juga sayang sama Selli."


"Iya, Ma. Pokoknya Selli akan merawat Dede' bayi juga. Tapi, gimana caranya? Kan, Dede' belum keluar?"


Mas Arlan merengkuh tubuh mungil Selli, sembari memberikan jawaban, "berarti Selli harus menyayangi Mama Fanni melebihi apapun. Supaya Mama Fanni bisa melahirkan Dede' bayi dengan lancar dan sehat."


"Selli udah sayang sama Mama Fanni kok, Pa. Selli bakalan tunggu sampai Dede' bayi lahir. Selli udah enggak sabar hehe. Oh iya, Mama Nia kapan mau ngasih adik ke Selli?"


Wow! Pertanyaan lugu Selli yang khusus ditujukan pada Nia justru sangat tepat sasaran. Untuk orang semacam Nia, memangnya memikirkan tentang anak? Toh, ia sudah membuang Selli--anak semata wayangnya. Tentu saja, ia gelagapan dan bingung. Aku pun tidak tahu, apakah ia masih memiliki suami atau tidak. Secara, kemana-mana sendiri.


"Mama Nia?"


"Eh, te-tentu. Ma-mama juga akan memberikan seorang adik," jawab Nia gelagapan.


"Asyiiik! Selli mau punya adik banyak."


"...."


Nia? Seandainya kamu sudah berubah dan datang secara baik-baik, pasti kami akan memberikan keleluasaan dalam menemui anakmu. Sayang sekali, hidayah itu belum merasuk ke dalam hatimu.


Dan pada akhirnya, Selli sudah tidak berfokus pada Nia. Mas Arlan sudah mengambil alih dirinya dengan beberapa kelakar, bahkan diriku. Kami begitu asyik, menampilkan sebagai keluarga yang bahagia. Bahkan sampai melupakan keberadaan Nia. Ya, mau bagaimanapun, kami berdua lebih dekat dengan Selli. Kami bisa menang kali ini, entah esok hari. Apakah Nia akan merencanakan sesuatu lagi atau tidak?


Dan mana ada orang yang tahan jika diperlakukan seperti kacang, maksudku dikacangin seperti ini. Nia geram, ia berdiri seketika. Ia mengumpat dengan kata "sial" dengan nada marahnya. Hentakan kakinya pun terdengar tegas sampai menimbulkan suara antara sepatu dan lantai rumah ini. Selepas itu, ia berlalu pergi keluar. Dan aku rasa, ia akan pulang dengan membawa banyak kekesalan.


"Mama Nia mau kemana, Pa? Kok kayak marah-marah?" tanya Selli seketika itu juga.


Mas Arlan hanya menggeleng sembari tersenyum. Lantas, ia menjawabnya, "mungkin lagi kebelet, Sayang. Selli kalau lagi kebelet juga suka kesel kan?"


"Oh ... gitu, tapi kan di belakang ada WC, Pa. Kenapa Mama Nia malah keluar?"


"Mama Nia malu sama Mama Fanni hehe."


Selli hanya manggut-manggut. Beruntung tidak bertanya lebih lanjut. Alasan konyol yang diucapkan Mas Arlan sungguh berhasil. Membuatku sampai terkekeh kecil. Ada saja kelakuan suamiku itu. Ya, setidaknya kami bisa lebih tenang terlebih dahulu.


"Emm ... Selli ikut Bibi dulu ya, Sayang? Papa masih ada urusan sebentar sama Mama Fanni. Sebentar aja," usul Mas Arlan.


"Iya, Pa," jawab Selli sembari melepaskan diri dari pelukan sang ayah. Lalu, ia berlarian kecil menuju dapur. Tampaknya ia sudah tidak sabar untuk menceritakan segalanya pada Bi Onah.


Mas Arlan memeluk diriku tiba-tiba. Ia tampak tidak tenang lagi. Bagaimana tidak, ancaman dari Nia sudah mulai muncul. Apalagi, ia adalah orang yang sibuk. Sedangkan diriku tengah hamil. Akan sulit bagi kami dalam mengawasi Selli.


"Dek, apa kita sewa bodyguard ya?"


"Apa nggak berlebihan, Mas? Kan ada aku."


"Kamu sedang hamil, Sayang. Tadi aja kena dorong oleh wanita itu. Mas khawatir kalian kenapa-napa."


"Hehe ... tadi berat ya aku?"


"Enggak."


"Bohong."


"Enggak salah maksudnya."


"Jahat ih. Habis ditinggin terus dijatuhin."


Mas Arlan menarik dirinya dari diriku. "Yah, jadi batal niatnya. Bolos yang tidak berfaedah jadinya. Emm ... tapi sekarang juga bisa kok. Ayo, Dek?!"


"Nggak mau!


"Ayoooo."


"???"


Bersambung ...


Kami #dirumahaja sambil menulis


Kamu #dirumahaja sambil membaca.


Hehehe...

__ADS_1


Budayakan tradisi like+komen


__ADS_2