Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Esok Harinya


__ADS_3

Sebenarnya aku ingin berangkat bekerja menggunakan mobilku sendiri. Namun, Mas Arlan tidak mengizinkannya. Ia ingin mengantarkan diriku selama sebulan berturut-turut. Dan kurasa itu berlebihan, aku menolaknya dan menggantinya selama seminggu saja dan berikutnya tidak perlu sesering itu.


Lagipula, mobilku akan digunakan untuk apa, jika Mas Arlan terus memanjakanku. Selain tidak enak hati, aku juga ingin menjadi wanita yang mandiri. Aku takut terlalu bergantung padanya. Apalagi takdir belum menentukan jodoh tidaknya kami.


Seperti hari ini, lagi-lagi aku duduk pada bangku depan dari mobil yang sejajar dengan Mas Arlan.


Pagi ini tampaknya cuaca sedang tak bersahabat. Mendung kelabu terlihat diatas langit. Jalanan pun basah karena hujan deras subuh tadi. Beruntungnya hujan berhenti setengah jam yang lalu, sebelum aku berangkat. Jadi aku tidak perlu repot-repot membawa payung.


"Aku jadi nggak enak dimanjain kamu mulu Mas," ujarku pada Mas Arlan.


"Santai Dek, kan sama calon sendiri, lagian kan kita masih baru-barunya," jawab Mas Arlan.


"Calon? Emang udah yakin? Terus masih baru-barunya? Jadi kalau udah lama gimana dong?"


"Satu, yakin! Dua baru dan akan terus diperbaharui dengan cinta yang makin besar buat kamu hehe."


"Lebaynya kumat, nggak inget umur."


"Biarin sih Dek, biar awet muda lho."


"Jadinya malah kayak Om-Om genit Mas."


"Omnya kamu ya?"


"Nggak mau kalau Om mah abis bungkus, dibuang lagi deh."


"Hahaha Mas nggak sejahat itulah Dek, buat Mas, wanita itu harus dihargai dan diperlakukan dengan baik."


"Ya ya ya."


Jika saja yang mendengar perkataan itu bukan aku, pasti akan muntah dan mual. Lihat saja tingkah pria dewasa ini seperti anak baru gede. Akan tetapi, mau bagaimana pun Mas Arlan, ia tetap kekasihku sekarang.


Aku masih menanti rencana apa yang akan ia keluarkan demi meluluhkan hati Ibuku. Sampai saat ini, aku belum juga memberanikan diri untuk menghubungi beliau. Mungkin beliau masih geram padaku.


Rencana perjodohan yang telah dibuat tidak aku gubris sama sekali. Walau begitu aku juga berterimakasih kepada ibuku, tanpa beliau mungkin aku tidak akan menyadari perasaanku yang sebenarnya. Dan mungkin saja masih tertutup kekagumanku pada Celvin.


"Mas?" ujarku.


"Kenapa Dek?"


"Anu... itu hari Sabtu pernikahan Kak Pandhu berlangsung, gimana?"


"Pandhu? Oh... Iya, tapi Mas baru denger kalau mau nikah."


"Iya, aku bingung. Sekarangkan aku sama Mama belum baikan, aku juga nggak bantuin apa-apa."


"Kamu sama sekali belum ngobrol Dek?"


"Belum, mungkin Papa sama Kak Pandhu yang kirim WA ke aku."


"Maaf ya Dek, semua gara-gara Mas."


"Gara-gara kita, terus Mas gimana?"


"Dateng aja, kamu harus pulang juga nanti malam. Hari bahagia Kakakmu jangan dirusak, minta maaf sama Mama kamu."


"Tapi aku takut dipaksa kencan buta lagi Mas."


"Tenang aja, Mas bakal bantu. Sebisa mungkin kamu hindari dulu perdebatan sama Mama kamu, Inshaa Allah kalau acara pernikahan Mas bakal datang, tapi di akhir acara ya. Mas nggak pengen ada masalah dan jadi canggung, pasti kalau acara kayak gitu Mama kamu nggak bakalan marah kok."


"Emm..."


"Jangan cemas Dekku sayang, Mas kan udah janji mau perjuangin kamu sama Selli, apapun cobaannya."


"Makasih ya Mas, maaf kalau selama ini aku bikin kamu sakit hati."


"Jangan dibahas lagi yang udah lalu ya, udah turun gih masuk dan semangat. Jangan genit sama Celvin ya. Oke!"


"Iya iya. Mas hati-hati dijalan."


"Siap komandan!"


Aku menanti mobil Mas Arlan sampai hilang dari pandanganku sebelum aku masuk.


Deg!


Aku hampir melupakan sesuatu yang penting. Bagaimana ini? Masalah yang telah kuperbuat pada Celvin.


Aku menelan salivaku dengan ngilu. Jantungku berdebar kencang, bukan karena gugup malu tapi karena takut luar biasa. Bahkan keringat dingin mulai muncul pada dahiku. Haruskah aku masuk? Lalu bagaimana respon Celvin?


Oh shit! Mengapa juga aku harus se-emosional itu? Dan sekarang aku harus mendapat getahnya.


"Mbak nggak masuk? Ada apa?" tanya salah seorang security pria padaku. Sontak saja aku kaget bukan kepalang.


"Eh... en-nggak apa-apa kok Pak hehe," jawabku tergagap.


"Mukanya pucet lho Mbak, Mbak sakit?"


"Enggak hehe... sa-saya masuk dulu ya Pak."


"Silahkan."

__ADS_1


Dengan langkah yang super lambat, aku mencoba memberanikan diri memasuki gedung perkantoran. Rasa cemas semakin meratap. Bodohnya diriku, sampai melupakan insiden itu.


Sang security pun tampak heran padaku. Mungkin kini, aku terlihat seperti orang ling lung. Satu langkah kedepan, mundur lagi. Begitu seterusnya sampai beberapa menit lamanya.


THIIIIIIINNNNNNNNN!!!!


Jantungku hampir meloncat dari sarangnya. Lagi-lagi, aku dibuat kaget. Parahnya mobil yang membunyikan klakson dengan keras tersebut hampir menabrakku. Untung saja aku tidak sampai terjatuh ke belakang.


"Oooopppssss sorry ya, gue nggak liat. Lagian kan ini gerbang masuk, kenapa seenaknya aja maju mundur disini??? Jangan mentang-mentang sekarang udah jadi orang penting, bisa seenaknya aja! Mau mati sekarang emang? ****!" ujar Mita setelah membuka jendela mobilnya, yang ternyata ialah pemilik mobil tersebut.


Aku terdiam syok. Tanganku masih memegang dadaku. Untuk kali ini, aku tidak berani melawan Mita. Ia benar, akulah yang salah. Apalagi parasnya terlihat menawan di pagi hari ini. Percuma saja jika aku menudingnya, orang-orang yang juga datang pasti akan membelanya. Apalagi mulut Mita sangat pedas.


Ia tersenyum sinis padaku. Setelah itu masuk kedalam kantor bersama mobilnya. Jabatanku sebagai sekretaris, tidak bisa mempengaruhinya. Ia tidak takut sama sekali, jika aku adukan pada Celvin. Mungkin Mita telah mengenal karakterku yang diam dan minderan. Dan hal itulah yang membuatnya yakin, aku tidak akan bertindak sejauh itu. Belum lagi hubungan orang tuanya dengan Pak Ruddy.


Hebat sekali bukan? Keuntungan memiliki jabatan, uang, penampilan dan juga koneksi.


Baiklah! Lupakan itu, aku akan masuk dan melakukan tugasku. Jika ini yang terakhir aku akan berusaha menyiapkan hati yang lapang. Toh, Celvin belum memutuskan apapun.


Aku berjalan dengan kepala menunduk. Hatiku masih berkecamuk hebat berbarengan dengan debaran jantung yang semakin dekat semakin tidak beraturan. Aku terus memikirkan banyak hal negatif dalam benakku. Entah itu, kemarahan, benci, dan juga pemecatan yang mungkin bisa diberikan Celvin padaku.


Lagi-lagi aku ragu ketika sudah sampai didepan ruanganku yang juga milik Celvin. Kugigit kuku jempol sembari mondar-mandir untuk beberapa saat. Aku harus bagaimana?


GREEEKKK!


"Fanni?" ujar Celvin sesaat setelah pintu berbunyi karena telah ia buka.


"Eehh... hehehe,"


"Ngapain disini?"


"Maaf Pak, jadi saya dipecat beneran ya?"


"Haah? Pecat?"


"Iya soalnya saya kemarin udah lancang sama Bapak, terus sekarang ditanya ngapain disini. Sebelumnya, saya ingin memastikan saja kok Pak, jadi bisa pamit baik-baik dan meminta maaf sama Bapak lebih dulu."


Akhirnya aku dipecat olehnya, begitulah pikirku. Tanpa berani menatap wajah Celvin lagi. Aku mungkin akan mengakhiri karirku yang belum lama ini mulai terbangun.


Lebih sialnya, hanya karena tingkah bodohku yang sangat lancang pada atasanku. Apapun itu, ini lebih baik. Setidaknya aku bisa meminta maaf padanya.


"Pft... Hahaha," Celvin terkekeh.


"Ke-kenapa Pak?" tanyaku keheranan.


"Jangan formal gitu lagi, panggil aku Celvin lagi. Aku mau jelasin semuanya sama kamu, ayo masuk."


"I-iya Pak, eh anu Cel-vin."


Meski sedikit takut dan mual yang menghampiri perutku, aku tetap mengikuti intruksi Celvin. Sejujurnya aku masih belum siap hati untuk bertatap muka dengan Celvin. Semua masa lalunya mengingatkan aku dengan masa kelamku juga. Bedanya ia adalah sang pembully dan aku adalah si korban pada saat itu.


Sebisa mungkin aku menahan gejolak yang menyerangkan perut dan otakku. Sisa-sisa dari rasa trauma psikis yang sempat kualami. Padahal semua itu telah kukubur dalam-dalam dan kubuang jauh di palung hati selama ini.


Sampai saat inipun aku enggan untuk bertemu psikolog, aku takut didiagnosa gila. Yah, dengan segala usaha dan tidak mau sakit lagi, aku bisa bangkit sampai sekarang. Semua itu berkat keluarga yang mendukungku juga. Mungkin salahnya dimasa itu, aku masuk kedalam perguruan tinggi yang elit karena beasiswa dan kecerdasanku. Tentunya dipenuhi anak-anak kalangan atas. Tidak ada yang tau soal itu, hanya keluargaku dan mungkin, Nike.


Lupakan itu sejenak. Lebih baik aku fokus dan mengikuti arahan Celvin lebih lanjut. Mau bagaimana pun aku masih butuh uang. Uang memang bukan segala, tapi segalanya memerlukan uang.


"Duduk Fanni," katanya.


"Iya," jawabku sembari menarik kursi dihadapan Celvin lalu duduk segera.


"Maaf yang kemarin ya, kayaknya aku terlalu cepat buat jujur Fann. Sampe kamu kaget gitu."


"Iya Pak anu Cel-vin."


"Kamu takut sama aku Fann?"


"A-anu i-tu."


"Jujur aja Fann, nggak apa-apa kok."


"I-ya saya takut, karna saya juga pernah dibully. Apalagi kulit putih saya, terbilang tidak biasa dibanding orang Indo asli belum lagi saya gemuk dan nggak menarik."


Aku masih saja menunduk tanpa melihat wajah Celvin. Entahlah, apa yang dipikirkan dirinya sekarang. Aku hanya ingin jujur saja.


Ku hela napas panjang berkali-kali demi menenangkan diri. Perlahan jantungku mulai teratur. Meski masih gemetar, aku tidak merasa mual lagi. Aku bersyukur, untuk itu. Celvin juga tak menunjukkan sikap ngerinya, ia terlihat lebih tenang sekarang.


"Maaf ya Fann," katanya kemudian.


"Saya yang minta maaf," jawabku.


"Aku berharap kamu nggak batalin jalinan pertemanan kita yang baru terjadi Fann."


"Saya emm... maksudnya aku sedang berusaha."


"Fann bantu aku, bantu aku lepas dari tekanan dosa ini. Please."


"Sekali lagi, jangan membuangnya Vin."


"Terus aku harus gimana?"


Tidak ada kata apapun yang terlintas dari benakku kecuali kata karma. Dunia memang terkadang tidak adil, namun tidak seperti itu. Waktulah yanh belum adil. Setiap orang yang telah menanam pasti akan menuai.

__ADS_1


Dan itu yang sekarang sedang berlaku pada Celvin. Ia hidup penuh penyesalan tanpa kebahagiaan. Selalu kesepian. Aku tau semua terjadi karena broken home. Namun, Celvin tak cukup dewasa dalam menyikapinya. Untuk itu aku bersumpah, jika aku benar-benar berjodoh dengan Mas Arlan, aku akan mengasihi Selli seperti anakku sendiri.


"Pak eh... anu Celvin," ujarku yang masih saja belum terbiasa dengan panggilan santai.


"Iya Fann," jawabnya.


"Begini, maaf karena kemarin aku terlalu emosi dan sempet inget masa lalu. Tapi, itu karna aku juga salah satu korbannya."


"Aku paham Fann, makanya aku juga minta maaf sama kamu."


"Emm... menurutku saya anu aku, lebih baik penyesalan itu jangan dibuang. Inget terus seumur hidup."


"Terus aku gimana?"


"Jadikan motivasi untuk berubah, jangan pernah melupakan itu. Karna mau bagaimana pun itu tetap kesalahan besar."


"Lalu?"


"Teruslah berubah dengan mengingat itu, jangan sampai diulangi karna perasaan itu akan semakin menyiksa kamu jika ingin berbuat tidak benat. Tetaplah melangkah maju, dengan kata lain kisah itu bisa dijadikan alarm pengingat buat kamu disaat kamu ingin berbuat jahat lagi."


"Alarm pengingat?"


"Iya... anggap aja begitu, jadi kamu pasti akan mikir dua kali sebelum bertindak tidak benar."


"Aku paham, walaupun kalimatmu agak berbelit."


"Ya begitulah, aku nggak pintar merangkai kata."


Hanya itu yang bisa kukatakan pada Celvin. Tidak akan adil bagi gadis yang merupakan korbannya, jika Celvin langsung melupakannya. Setidaknya ia harus mengingat seumur hidup, sebagai hukuman baginya. Menurutku tidak buruk juga, selagi Celvin benar-benar ingin berubah, hidupnya akan semakin damai. Dengan penyesalan dan kesalahan itu, ia bisa berpikir ulang ketika hendak berbuat tidak baik lagi.


Entah bagaimana caraku menjelaskan dengan runtut. Aku tidak terlalu pandai merangkai kata. Aku berharap kali ini Celvin benar-benar berubah.


"Fann, ada satu lagi," katanya kemudian.


"Apa lagi???" tanyaku tegas, namun spontan bukan karena sengaja.


"Aku... aku..."


"Celvin apa?"


"Aku masih mencintai Riska."


"Oh... aku tau itu."


"Iyakah?"


"Keliatan dari wajah kamu."


"Tapi dia..."


"Dia nggak bisa maafin kamu karna kamu nggak pernah berubah?"


"Iya."


"Wajar kok, mungkin kalau saya maksudnya aku di posisi Riska, pasti juga nggak mau."


"Aku harus gimana?"


"Lupain, toh kamu tampan dan kaya."


"Nggak bisa Fann, Riska satu-satunya bagiku."


"Berjuang dan tunjukin kamu udah berubah."


Celvin mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Orang secantik Riska, memang wajar jika tidak mau kembali padanya meskipun ia tampan dan kaya. Riska bisa. mendapatkan lebih dari Celvin. Ia bukan wanita sembarangan, otaknya pun juga cerdas seperti yang Celvin katakan.


Sama sepertiku. Jika aku berada di posisi Riska, Aku juga tidak akan mau. Segendut ini saja aku tetap tidak mau.


Aku tau masa lalu adalah masa lalu. Namun, bagiku semua itu tetaplah bagian dari pengalaman hidup. Bisa saja Celvin menjadi liar kembali. Hidup manusia bisa diubah, namun sifat tetaplah sifat. Aku beruntung memiliki Mas Arlan yang lembut dan sabar, meski sangat lebay.


"Aku masih bayangin Riska disampingku sampai saat ini," ujar Celvin lagi.


"Ya, tapi jangan jadiin Riska sebagai alasan utamanya kamu ingin berubah. Tapi berubahlah karna penyesalan dari kesalahan itu," jawabku.


"Enggak kok Fann, dua masalah itu beda konteksnya."


"Terus?"


"Aku sendiri bingung kenapa masih terjerat sama Riska."


"Kamu tau Vin?"


"Enggak."


"Hmm... aku sempat me-menyukaimu."


"A-apa?"


Bersambung...


BUDAYAKAN TRADISI LIKE+KOMEN, KALO LUPA SILAHKAN BALIK LAGI DAN KLIK TOMBOL LIKE...

__ADS_1


Banyak yang terjadi ya sama FANNI akhir-akhir ini, setelah usianya mencapai tiga puluh tahun. Taukah kamu, dia perlahan mulai berubah lho. 😁😁😁


__ADS_2