
Berlatar di ruang tamu, hanya ada diriku dan mantan istri suamiku--Nia. Dua cangkir teh hangat sudah disuguhkan oleh Bi Onah untuk kami berdua. Sedangkan Selli masih menjalani pembelajaran dengan sang guru. Suasana diantara kedua ibu dari satu anak ini, masih terbilang hening dalam beberapa saat. Namun, tatapan kami sesekali beradu. Aku tidak tahu tentang perihal apa yang hendak disampaikan Nia kepadaku.
Sembari menunggunya memulai pembicaraan, aku mengambil cangkir teh milikku yang berada di atas meja. Perlahan kuseruput air hangat berwarna cokelat didalamnya, hanya sekali saja. Selanjutnya, aku letakkan kembali cangkir tersebut ke atas meja dengan gaya yang sangat elegan. Aku menegakkan badanku dan sedikit berubah posisi dudukku supaya lebih nyaman. Nia pun melakukan hal yang sama.
Ia terdengar sedang menghela napas. "Kenapa kamu sangat mempertahankan anak yang bukan anak kandung kamu, Nona Fanni?" tanyanya kemudian.
Aku terdiam sejenak. Kemudian sedikit berdeham diiringi jawaban, "tadi sudah saya jelaskan, Nyonya. Awal pertemuan kami yang dihiasi atas rasa simpati dari hati saya terhadap dia, namun kebersamaan kami yang sering menumbuhkan banyak kasih sayang saya terhadapnya. Memangnya ada yang salah, jika saya mempertahankan anak kandung dari suami saya?"
"Tidak, hanya saja ibu kandung darinya sudah ada disini. Seharusnya kamu malu."
"Lho?" Aku sedikit terkejut karena jawaban itu. "Kenapa saya harus malu? Saya tidak menculiknya, hak asuh sudah jatuh di tangan suami saya. Sebagai ibu sambung, saya juga berkewajiban mendidik dan merawatnya, Nyonya. Justru anda yang seharusnya berterima kasih pada saya."
Nia tersenyum tipis. Aku tidak tahu artinya, mungkin sedang merasa geli terhadapku. Disini aku sedikit merasa tersinggung. Namun, aku berusaha untuk tetap tenang lantaran tidak mau termakan rencananya yang mungkin buruk. Kuhela napasku dalam-dalam lalu mengembuskannya kembali. Kupejamkan mataku dalam waktu yang sebentar saja.
Nia masih terlihat santai tanpa ada beban rasa bersalah. Wanita ini cukup sulit ditebak. Mungkin dugaanku banyak sekali untuknya, namun entah benar atau salah. Mengingat sejauh ini, ia tidak melakukan hal aneh apapun terhadap diriku, Mas Arlan ataupun Selli. Apa sebenarnya yang ada didalam benak wanita ini? Latar belakangnya mengatakan bahwa ia adalah wanita yang tidak benar, namun akankah berlangsung sampai sekarang?
Aku kembali berdeham. Pejaman mataku sudah terbuka kembali. Kutatap wajah wanita dihadapanku ini. "Lalu, apa yang anda ingin katakan pada saya, Nyonya? Hanya sebatas pertanyaan itu saja? Waktu kunjung anda ke rumah ini telah selesai," ujarku.
Nia bergeleng pelan. Kemudian, ia kembali tersenyum. Mengerikan! Diletakkannya cangkir teh yang sebelumnya ia seruput air didalamnya. Ia menatapku kembali sembari memberikan jawaban, "bukan itu, Nona."
"Lalu apa? Kalau tidak penting saya harap anda segera pulang. Sesuai kesepakatan kita, 'kan? Bahwa hanya durasi beberapa jam dan hari-hari tertentu anda bisa mengunjungi Selli."
"Saya tahu. Jangan terlalu takut atau panik, suami kamu tidak mungkin tahu."
"Saya tidak memikirkan suami saya saja!"
"Hmm ... baiklah, untuk mempersingkat waktu. Bagaimana kalau anda emm ... menyerahkan anak saya pada saya?"
"A-apa?!" Mataku terbelalak, bahkan hampir meloncat keluar. Darahku seolah dibuat mendidih oleh Nia. Bahkan, aku sampai berdiri dari dudukku. Tidak menyangka diri ini dengan pertanyaan macam itu. Seharusnya ia sudah tahu akan jawabanku. Namun, mengapa ia malah kembali meminta Selli? Seolah tidak pernah memperdulikan atau menganggap serius tentang peringatan atau penjelasan dariku. Wanita macam apa dirinya?!
Kuhela napas lebih dalam lagi, untuk menenangkan diri. Kubuang semua rasa terkejutku, kuperbaiki raut wajahku dengan baik. Lalu, tersenyum. Senyum semakin lebar, sampai gigiku terlihat. Bahkan kini senyumanku telah berubah menjadi tawa yang lumayan keras, nyaris memenuhi seluruh ruangan rumah ini.
"Konyol sekali, bak orang bodoh yang kurang mampu memahami. Saya pikir Nyonya ini adalah orang yang pintar, namun ternyata tidak juga. Haruskah saya tekankan lagi tentang hak asuh atas Selli?"
Nia terdiam.
__ADS_1
Aku kembali duduk. "Selli milik kami, Nyonya. Jangan mencoba merebutnya dari kami. Kami ya kami, saya dan suami saya--Arlan Mahendra. Apa lagi yang anda inginkan dari anak itu? Toh, saya sudah memberikan kesempatan untuk bertemu. Salah anda membuang Selli diwaktu bayi begitu saja!"
Nia malah tertawa. Sepertinya sedang membalas atas responku tadi pada saat mendengar permintaannya atas nama Selli. "Kamu terlihat konyol, Nona Fanni. Jangan sok santai atau malah menertawakan kebodohan saya. Saya tahu dan saya sadar, saya hanya sekedar bercanda saja."
"Apa? Bercanda? Atas nama anak, anda bilang bercanda? Kita terus memperebutkan dirinya saja sudah dibilang sangat tidak pantas lho!"
"Hmm ... baiklah, oke. Tenang dulu. Bukan itu yang ingin saya bicarakan sama kamu."
Mengapa aku sangat emosi? Hal yang berkenaan dengan Selli dan juga hal yang dianggap sebagai canda semata membuatku benar-benar tidak habis pikir. Kini tidak ada tawa lagi diantara aku dan Nia. Kembali lagi pada suasana awal kali kita berada disini yaitu hening. Hening yang menciptakan banyak tanda tanya di benak dan hatiku. Rasa bingung, khawatir sekaligus penasaran tentang hal apa lagi yang akan diucapkan Nia kepadaku.
Tidak ada Mas Arlan disini, tidak ada yang membelaku. Oleh karenanya, aku terus berusaha mengendalikan diriku agar tidak termakan emosi. Mungkin akan buruk jadinya, jika aku marah. Pertengkaran sengit akan terjadi antara aku dan Nia. Staminaku dalam keadaan hamil seperti ini tidak cukup kuat untuk melawannya. Tenangnya hatiku adalah senjata yang bisa aku gunakan.
Nia berdeham. "Menurut kamu, saya ini orang yang seperti apa, Nona Fanni?" tanyanya dengan pertanyaan yang sangat konyol menurutku.
"Anda adalah orang yang sangat kejam!" jawabku dengan tegas. Meski setelah itu, aku merasa agak sangsi. Bagaimana jika ia tersinggung dan marah? Ah, menyebalkan! Rasanya posisiku saat ini menjadi serba salah.
Berbeda dengan kekhawatiranku, nyatanya wanita itu malah terkekeh kecil. Ia hendak menggodaku lagi, kah? Aku tidak tahu. Ia hanya menatapku saja. "Kamu adalah orang yang cukup blak-blakan ternyata ya?"
"Apa maksud anda bertanya hal konyol itu, Nyonya? Kenapa tidak to the point saja sedari tadi?"
Tidak kuberikan jawaban apapun mengenai pernyataannya. Bukan karena aku tidak ingin mendengar, melainkan aku malah sangat penasaran. Mungkin hanya sebuah anggukan yang aku berikan. Sehingga hal itu membuat Nia tahu bahwa aku telah setuju. Meski pinggang ini sudah teramat pegal, tidak mengapa. Setelah semua berakhir, aku berjanji akan segera beristirahat.
Sebelum memulai, Nia kembali menyesap air teh yang berada di cangkirnya. Meletakkan kembali setelahnya. Ia menghela napas, kemudian mengembuskannya. Tatapannya begitu tajam dan diarahkan kepadaku, bak ingin menerkam mangsa yang sudah lama diincar. Namun menurutku, kali ini ia tidak akan membuat masalah lagi. Aku rasa, Nia akan menjelaskan tentang dirinya sendiri.
"Saya, ... saya seorang wanita yang hidup tanpa memiliki ayah." Benar saja, dugaanku tentangnya, ia benar-benar ingin membeberkan tentang dirinya sendiri. Baiklah, akan aku dengarkan.
"Lalu?" Pertanyaan singkat ini aku lontarkan untuk mengorek semua yang terjadi pada kehidupannya. Baik dahulu, maupun sekarang. Jika ia bersedia, maka aku yang menang.
"Kamu tahu, Nona Fanni. Hidup tanpa seorang ayah itu rasanya seperti apa? Sulit, bahkan saya tidak pernah mempercayai seorang pria manapun. Saya hanya ingin harta dan uang."
"Saya tahu, tentang itu. Termasuk Mas Arlan yang anda manfaatkan, bukan?"
Nia mengangguk pelan. Gemulainya yang kasar kini berubah menjadi lebih elegan. Lantas, ia kembali menjelaskan, "Arlan adalah seorang pria yang naif kala itu. Mudah bagi saya untuk masuk ke dalam hatinya. Kami menikah dan aku hanya mencintai hartanya. Saya tidak munafik tentang itu. Arlan Mahendra Suharsono, siapa yang tidak tertarik dengan pria matang dan anak orang kaya macam dia. CEO dari Harsun, perusahaan terbesar setelah Sanjaya Group."
Bak tidak merasa bersalah sama sekali, Nia menuturkan semua akal bulusnya yang telah ia lakukan kepada Mas Arlan. Disini aku hampir dibuat kembali geram. Namun, aku masih bisa menahan segala amarah didalam diriku. Bisa saja ini hanya sebuah pancingan. Nia adalah wanita jahat yang sulit ditebak pemikirannya. Seseorang yang tumbuh tanpa figur seorang ayah, tidak menjadi psikopat saja, sudah sangat beruntung baginya.
__ADS_1
Sembari menunggunya berbicara lagi, aku mengambil cangkir tehku yang isinya hampir habis. Maka, sekalian aku habiskan saja. Karena kembali pegal, aku merubah posisi dudukku lagi. Yah, yang namanya ibu hamil.
"Sejujurnya, saya tidak pernah menginginkan seorang anak, Nona Fanni. Tapi, Arlan malah meminta. Mengganti semua obat penundanya dengan pil kesuburan. Arlan benar-benar menganggap pernikahan kami adalah hal yang serius, hal itu membuat saya kerap merasa kesal dan bosan."
Dahiku mengernyit seketika. Heran, perasaan itulah yang tumbuh dari hatiku. Bagaimana bisa ia menganggap enteng sebuah pernikahan? Dan malah mengolok Mas Arlan yang menganggap pernikahan mereka dengan serius. Ternyata, Nia jauh lebih gila daripada dugaanku. Sampai akhirnya, aku berdeham. Aku memutuskan untuk bertanya, "Kenapa anda seperti itu? Bukannya, Mas Arlan adalah pria yang baik dan kaya? Tanpa memanfaatkannya pun, anda bisa bergelimang dengan harta, Nyonya. Kenapa anda malah tega berbuat demikian?"
Nia menggeleng saja. "Arlan memang kaya. Tapi, semua perusahaan diatur oleh kakak pertamanya. Kamu pasti tahu, dan itu pasti terjadi sampai sekarang, 'kan?"
Aku sedikit salah tingkah dibuatnya. Kuakui, ucapan Nia tentang ini memang benar adanya. Siapapun yang memimpin perusahaan Harsun Group, pasti dibawah kendali Mas Gunawan. Sebenarnya hal itu bisa saja dianggap hal yang lumrah, lantaran beliau adalah kepala keluarga besar Harsono. Namun, disisi lain menyebabkan sang CEO tidak bisa berjalan sesuai kendali dirinya sendiri.
"Kalau kamu diam, berarti memang benar. Hal itu yang menyebabkan Arlan tidak bisa memberikan apa yang saya mau. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencari jalan pintas. Karna apa? Ada dua orang keluarga saya yang masih dibawah tanggung jawab saya. Mana mungkin saya biarkan adik saya menjadi wanita malam seperti ibu saya," jelas Nia lagi. Sama seperti yang pernah dijelaskan oleh Mas Arlan bahwasanya ibu dari Nia adalah wanita seperti itu. Aku tidak tahu sebutannya secara pasti, namun aku tahu apa yang terjadi.
"Ibu?" tanyaku untuk berpura-pura belum mengetahuinya.
"Oh, belum tahu toh. Saya pikir, Arlan sudah bergosip tentang hal ini. Ternyata tidak. Ya, ... dulu ibu saya punya suami secara resmi sampai bisa melahirkan saya dan Alla--adik saya. Tapi, ayah saya itu mengkhianati kami bersama wanita kaya. Semua hancur seketika, didalam hati dan otak saya, semua pria, cowok, om-om adalah sama saja! Semua gila wanita!"
"Pemikiran macam apa itu? Hidup anda hanya kurang beruntung, Nyonya. Nyatanya masih banyak lelaki yang baik. Tapi anda malah membuat semuanya hancur karna dendam yang tidak jelas itu."
Nia sedikit menggertakkan giginya. Menatapku dengan nanar. "Tidak jelas katamu? Kamu bahkan tidak pernah merasakan gimana rasanya jadi saya, Nona Fanni. Sakit, benci, dendam, depresi dan malu! Semua bercampur menjadi satu, bukan hanya sekali saya ingin mati. Berkali-kali malah, usia muda bagi kebanyakan remaja adalah hal yang indah. Tapi, saya?! Saya selalu bermain-main dengan pisau untuk mengiris nadi. Tapi, setiap kali ingin mati, ada saja orang yang menyelamatkan saya."
Deg! Jantungku bak ditusuk oleh sesuatu. Seperti itukah kisah hidup Nia dimasa lalu. Pantas saja, ia bisa berlaku sejahat itu kepada Mas Arlan, atau bahkan beberapa orang lainnya. Aku tidak tahu. Urat hijau seketika muncul di wajahnya yang ayu. Membuatku sedikit merasa bersalah lantaran telah mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan perasaannya. Tampaknya, Nia benar-benar pernah depresi. Bahkan ia sampai menitikkan air matanya.
Aku tertegun sebentar, mencoba mencari pertanyaan ataupun perkataan yang pantas. Meski aku sendiri merasa bingung atas keputusannya dalam menceritakan perihal hidupnya. Namun, aku adalah seorang Fanni yang memiliki rasa penasaran cukup tinggi. Aku masih ingin mendengarkan lebih lanjut dan dalam lagi. Maaf, jika sedikit tidak sopan.
"Maaf, saya tidak tahu tentang hal itu. Namun, saya pun pernah berada dititik paling rendah. Bahkan, jika berani saya sudah mati sejak dulu. Disini kita mempunyai kesamaan yang ada, rasa ingin mati namun selalu gagal," ujarku.
Hal itu membuat Nia sedikit terkesiap. Ia menghapus air matanya dan kembali berfokus kepadaku. "Apa maksud kamu? Bukankah hidupmu selalu sempurna karna keluarga yang lengkap?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepala. "Keluarga saya memang lengkap, Nyonya. Tapi tidak dengan kehidupan sosial saya, saya adalah korban bully yang rasanya sempat ingin mati. Dalam keadaan tubuh gempal seperti ini, kebahagiaan didalam keluarga bak tidak ada artinya," jelasku. "Perasaan sakit yang selalu muncul pada saat dibanding-bandingkan dengan kakak lelaki yang menawan parasnya. Memangnya itu juga hal yang mudah untuk saya terima? Tidak, Nyonya. Sama seperti anda, saya pun pernah depresi dan bolak-balik rumah sakit karna dehidrasi, bulimia, maag akut. Tidak laku."
Nia terdiam sejenak. Tampaknya ia masih berpikir. Entah untuk bersimpati atau malah menertawai. Tugasku hanya menunggunya saja, sampai ia kembali menuturkan tentang kehidupannya. Niatku untuk bercerita tentang diriku adalah karena ingin agar ia tidak merasa paling menderita.
Bersambung ...
Yuk budayakan like+komennya lagi.
__ADS_1
BTW, mohon maaf lahir batin untuk malam menjelang puasa ini ya. Semoga untuk kamu yang akan menjalankan, bisa diperlancar niatnya sampai waktu berbuka dalam satu bulan nanti. :)