Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Apa Ya?


__ADS_3

Setelah melalui hari yang besar menurut hatiku. Dimana aku mendapat jabatan yang tiba-tiba. Bukan mauku dan aku tidak begitu senang juga. Aku malah khawatir akan mempengaruhi hidupku lebih buruk nantinya.


Bahkan aku sama sekali tidak bekerja dengan baik hari ini. Aku bernegosiasi dengan Celvin saja menghabiskan dua jam lebih. Proposal-proposal yang bertumpuk di mejaku tidak aku sentuh sama sekali sampai tiba di waktu pulang.


Aku berjalan keluar dari ruangan tanpa Nike ataupun Tomi. Meskipun sayup kudengar suara mereka memanggil. Entahlah aku hanya ingin meratap sendiri sambil bergelisah hati.


Aku memacu mobilku yang belum lama ini diantarkan oleh pihak bengkel. Bola mataku begitu nanar menatap jalanan yang penuh dengan debu-debu. Sesekali ku telan lidah ngilu saat mengingat tentang jabatanku nanti. Aku akan menjadi sekretaris dan asisten pribadi. Aku akan bersanding dengan Celvin kemana pun ia pergi berbisnis. Dan pastinya aku akan terlihat seperti seorang budak daripada sekretaris.


"Uhh... Kalung gue harus cek kalung!" Ujarku mengeluh dan tiba-tiba teringat tentang kalung pemberian Mas Arlan.


Seketika aku banting setir kesamping kiri untuk menuju sebuah toko perhiasan. Tidak sampai lima menit aku telah sampai disana bersama mobilku.


Sebelum beranjak keluar aku mengecek terlebih dahulu kotak yang berisi kalung didalam ranselku. Setelah memastikan barang tersebut ada, aku membawanya kedalam toko perhiasan yang menjadi surga dunia bagi wanita tersebut.


"Selama sore kaka," Sapa salah satu karyawan toko tersebut yang berwajah oriental khas orang Cina.


"Selamat sore ci," Jawabku.


"Ada yang bisa saya bantu? Mari silahkan memilih segala macam perhiasan."


"Emm, kalo cuma mau ngecek bisa nggak?"


"Mengecek apa ya ka?"


"Ini saya punya kalung mau cek berlian asli atau jenis yang lain."


"Bisa kaka, tapi pakai admin seratus ribu. Bagaimana?"


"Nggak masalah ci."


"Mari, silahkan bawa kalungnya kesini."


Karyawan tersebut mengarahkanku ke sisi kanan ruang toko. Sesampainya disana ia memintaku mengeluarkan kalung berlianku.


Dengan sebuah alat karyawan tersebut mulai memeriksa kalungku.


"Ini asli berlian kaka, memang sih di bagian belakang ada beberapa permata campuran, tapi di liontin dan dua permata samping kirinya berlian asli," Ujar karyawan tersebut.


Aku hanya bisa menelan ludah lebih ngilu, Mas Arlan ternyata berbohong sesuai perkiraanku. Kalung tersebut asli. Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya.


"Kaka?" Panggilnya lagi ketika mendapati wajahku yang terbengong-bengong.


"Eh anu emm. Kalo boleh saya tau kisaran harganya berapa ya?" Ujarku.


"Mungkin antara tiga puluh sampai empat puluh jutaan saja. Karena tidak full berlian."


"Haaaaah?"


"Bagaimana kaka?"


"Eng... enggak kok ci. Boleh saya bawa kembali ya?"


"Boleh kan memang milik kaka hehe. Silahkan melakukan pembayaran sebagai biaya admin pengecekan di kasir ya kaka."


"Baik, terima kasih ci."


Aku menerima sebuah kwitansi lalu membayar admin seratus ribu di kasir. Tidak bisa dipungkiri jika berkunjung di toko yang mewah pastinya harus membayar sekecil apapun untuk yang kita perlukan.


Aku berdecak kagum melihat kalung ditanganku setelah memasuki mobil. Di satu sisi aku merasa sangat sungkan lagi. Aku harus mengembalikannya. Barang tersebut tidak pantas aku terima. Apalagi harganya jauh sekali dibandingkan dengan gaji bulananku.


Ponselku aku ambil dari dalam ransel. Aku berencana bertemu Mas Arlan nanti malam setelah maghrib. Aku meneleponnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum dek," Sapanya dari kejauhan sana.


"Wa'alaikussalam mas," Jawabku.


"Kenapa dek?"


"Mas ada waktu nanti malem?"


"Emm... ada sih, kenapa ya?"


"Boleh ketemu?"


"Boleh, kangen Selli ya?"


"Emm... kangen sih banget malah. Tapi kalo bisa jangan bawa Selli dulu ya mas."


"Lho kenapa?"


"Enggak papa. Tolong ya."


"Yasudah, Jam berapa?"


"Abis maghrib ya, yaudah ya mas udah dulu lanjut chatting aja."


"Iya dek Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Kami saling mematikan panggilan. Lalu aku segera menyalakan mobilku untung pulang.


Di sepanjang jalan otakku masih jauh melayang. Ada apa dengan beberapa hari ini? Mengapa begitu banyak hal besar yang terjadi padaku. Mulai dari Celvin yang membuat hatiku terus berdebar lalu Mas Arlan yang memberiku kado yang sangat fantastis dilanjutkan dengan permintaan Celvin untuk menjadikanku sekretarisnya.


Kurasa semua serba tidak masuk akal. Apakah ini hoki atau awal dari semua hal yang lebih besar akan terjadi esok nanti?


Aku menekan password pintuku lalu masuk kedalam ke tempat tinggalku.


Aku melempar ranselku secara sembarangan di atas sofa lalu beranjak ke kamar mandi. Setelah itu mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah ashar yang belum sempat aku lakukan.


Tidak ada makanan di meja. Aku juga belum pintar memasak hanya ada beberapa bungkus mie instan yang membuatku bosan. Mau tidak mau aku harus memesan makanan secara online karena perut terasa lapar.


Tidak sampai dua puluh menit makanan yang telah aku pesan pun datang. Lalu aku melahapnya dengan rakus. Toh tidak ada siapa-siapa disini jadi aku bebas melakukan apapun. Suap demi suap makanan hancur lebur didalam mulutku lalu masuk kedalam tenggorokan dan digilas lagi di lambung. Setelah aktivitas menyantap aku bergegas mandi.


Sambil menunggu adzan maghrib aku asyik menyemil santai di depan televisi.


Beberapa manit kemudian kumandang merdu suara adzan telah terdengar. Aku kembali mengambil air wudhu dan menunaikan kewajiban maghrib.


Setelah itu berias tipis di depan cermin rias. Aku juga mengecek ponselku untuk melihat pesan dari Mas Arlan. Kami berencana akan bertemu di sebuah kafe nantinya.


Tidak ada yang berubah dari styleku, aku masih saja menyukai blazer untuk menutupi tumpukan lemakku. Karena menurutku itulah pakaian paling pas untuk orang yang berbadan besar dan gemuk.


Aku turun dari lantai atas melalui lift apartemen yang sama. Aku menghampiri mobilku yang terparkir dengan tenang.


Aku melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah kafe yang sudah dijanjikan oleh Mas Arlan. Beruntung aku tidak menemui kemacetan dijalan. Mungkin karena jam sekarang adalah waktu istirahat.


Sampailah aku di sebuah kafe yang dituju. Aku memasukinya dan menengak nengok ke kanan kiri mencari keberadaan Mas Arlan.


Tampak di pojok kiri bagian belakang, seorang pria berkulit kuning langsat dan berbadan atletis sedang duduk disana. Paras manisnya terlukis semburat senyum teduh setelah menangkap keberadaanku.


"Hai mas?" Sapaku pada Mas Arlan.


"Hai juga dek, silahkan duduk," Jawab Mas Arlan.

__ADS_1


"Udah lama ya?"


"Nggak kok deh barusan sampe, ada apa tumben ngajak kencan hehe?"


"Issh kencan dari mana sih mas?"


"Hehe becanda dek."


Aku hanya manyun mendengar kelakar dari Mas Arlan. Tentu saja Mas Arlan terkekeh dibuatnya.


Tanganku merogoh kedalam tas selempang berukuran sedang yang aku bawa. Aku mencari keberadaan kalung berlian. Setelah mendapatkannya aku meletakkan di hadapan Mas Arlan.


"Maksudnya apa dek?" Tanya Mas Arlan. Ia tampak tercengang.


"Aku nggak bisa terima mas," Ujarku.


"Iya tapi kenapa?"


"Mas ini terlalu mahal buat aku."


"Kamu tau dari mana ini mahal?"


"Aku abis cek tadi di toko dan harganya puluhan juta kan?"


"Memangnya salah? Ini juga sebagai hadiah karna mas dan Selli selalu ngrepotin kamu kemarin atau pun kedepannya nanti."


"Salah mas kalo buat aku. Aku nggak pantes dapetin barang semewah ini, dan aku ikhlas bantuin Mas Arlan dan Selli kok."


"Apa yang salah?"


"Aa... aku nggak pantes aja pokonya."


Kami saling terdiam. Aku hanya bisa menyeruput coffe latte yang telah aku pesan guna mengurangi rasa canggung dalam hatiku.


Sedangkan Mas Arlan masih tidak bergeming sejak tadi. Ia tidak minum, bola matanya menatap sendu kearah kalung berada. Hal iti membuatku sedikit merasa bersalah. Apa aku sudah keterlaluan?


"Dek?" Panggilnya padaku.


"Iya mas," Jawabku.


"Kamu nggak tau artinya?"


"Arti apa mas?"


"Mas selalu ingin buat kamu bahagia, dan buat kamu lepas dari rasa tidak percaya diri atau depresi yang pernah kamu alami."


"Haaah? Mas tau dari mana?"


"Itu tidak penting, apa kamu tau artinya sekarang?"


"Enggak aku nggak paham."


"Emmm... Mas sayang kamu."


"Haaaaaaaaaah????"


Bersambung...


Maaf yaa up nya lama aku sempat sibuk dan tiba-tiba sakit.


Semoga masih ada yang setia yaaa โ˜บ๏ธ maaf kalo masih sedikit upnya soalnya badanku masih lemas pngn nambah lagi

__ADS_1


INI VISUAL MAS ARLAN KALO BERKUMIS ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜



__ADS_2