Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Kurang


__ADS_3

Tepat jam sembilan, teman-temanku yang diundang ibuku telah berdatangan. Nike bersama suami dan anaknya, Febi lalu neneng salah satu teman SMAku sekaligus tetanggaku.


Dan lebih mengejutkan lagi, seorang Tomi yang biasanya kemayu. Ia datang bersama seorang wanita manis berhijab. Paras wanita tersebut lumayan ayu, tidak jauh berbeda dengan Nike. Begitu anggun terbalut hijabnya yang berwarna ungu muda senada dengan bajunya.


Tomi dan wanita tersebut baru saja turun dari mobil yang sepertinya milik Tomi. Mereka berjalan kearah rumahku dengan langkah yang bersamaan. Namun, tanpa gandengan tangan. Sedangkan kami yang berada didalam rumah terbengong-bengong heran. Saling menerka-nerka siapakah gerangan.


"Sssttt siapanya Tomi Ke?" Bisikku menyelidik kepada sahabatku, Nike.


"Enggak tau Fann, nggak pernah liat. Adeknya kali," Jawabnya.


"Heeee cewe-cewe pada gosip yaa?" Celetuk Kak Pandhu tiba-tiba.


Nike langsung memalingkan tatapannya dari Tomi. Ia sedikit malu karena tertangkap basah oleh Kak Pandhu. Terlebih lagi suaminya ikut terkekeh dengan tingkah istrinya tersebut.


Aahh... mereka terlihat sangat romantis. Padahal usia pernikahn sudah hampir tujuh tahun. Andai saja aku seperti mereka. Pastinya aku akan bahagia.


"Assamu'alaikum," Salam Tomi terdengar dari arah pintu depan yang tidak jauh dari acara syukuran kecil ini dilakukan.


"Wa'alaikumssalam," Jawab kami serentak.


"Ayo adek, jangan malu-malu" Ujar Tomi pada wanita disampingnya.


"I...iya A'," Jawab wanita tersebut diiringi sunggingan senyum manis kepada kami.


Setelah itu mempersilahkan mereka masuk. Jujur saja aku masih heran dan penasaran dengan pasangan Tomi. Jika ia adalah saudaranya, tidak mungkin Tomi memperlakukannya semanis itu.


Tomi juga tampak lebih maskulin hari ini. Auranya sangat berbeda dengan kesehariannya ketika di kantor. Aku sampai terbengong-bengong dibuatnya. Jika itu kekasihnya, aku kalah seratus langkah dari pria kemayu tersebut. Miris bukan?


"Waduuuhh, udah pada kumpul ya tamu undangan. Tante jadi semangat nih, Fanni bantuin mama ya sayang," Celetuk ibuku yang tiba-tiba sudah berdiri di tempatku berada.


"Ya ma," Jawabku.


"Emm... boleh saya bantuin juga?" Tanya Nike.


"Udah... udah... kamu disini aja sebagai tamu ya. Jangan pegang belakang hehe. Nikmati waktunya aja."


"Tapi kan tante..."


"Udah nurut tante aja sayang hehe."


Aku berjalan kearah dapur untuk membawa beberapa makanan yang akan disajikan. Setelah sampai disana, aku berhenti sejenak diambang pintu.


Febi terlihat asyik menggoreng sesuatu. Meskipun hubunganku dengan Kak Pandhu sudah membaik. Bukan berarti aku langsung akrab dengan Febi. Terlebih aku sudah melakukan sesuatu yang buruk kepadanya di malam itu.


Akhirnya aku memutuskan untuk segera memasuki dapur tanpa sepatah katapun. Rasa canggung merayap diantara kami. Febi masih sibuk dengan acara menggorengnya. Sedangkan aku menyusun beberapa cemilan di piring. Sampai beberapa menit lamanya.


"Fanni ada piring besar lagi nggak?" Ujar Febi yang membuatku sedikit kaget dan salah tingkah.


"Ada kok, entar gue ambilin," Jawabku.


"Makasih ya,"


Setelah percakapan singkat tersebut kami terdiam lagi. Namun, otakku sibuk menyusun kata. Aku berniat ingin meminta maaf kepada Febi sekaligus memperbaiki hubungan. Supaya tidak ada kecanggungan lagi pada saat ia resmi menjadi kakak iparku.


"Emm Feb?" Panggilku kepadanya.


"Iya Fann, kenapa?" Jawabnya serta bertanya balik.


"Maaf ya."


"Soal apa ya?"


"Malem itu gue berpikiran pendek dan langsung emosi sama loe. Sorry banget."


"Ya ampun Fanniii... Aku udah maafin kamu kok, lagian aku udah nggak inget sama sekali soal itu."


"Ya nggak etis aja kalo gue nggak sempet minta maaf."


"Hehe iya dimaafin Fanni. Pandhu juga sering cerita ke aku, dan aku yakin kamu orang yang baik nggak ada gunanya aku benci kamu."


"Emm... thanks ya."


"Sama-sama Fanni."

__ADS_1


Senyumku merekah untuk menanggapi raut bersahabat dari Febi. Ada rasa lega dari dalam relung hatiku. Seperti suatu beban berat yang tiba-tiba terangkat dan hilang. Aku kembali disibukkan dengan makanan sampai akhirnya selesai.


Tidak ada masalah lagi diantara aku dan keluargaku kini. Mungkin yang tersisa adalah masalahku bersama Mita ataupun pekerjaan baruku nanti. Dan acara fitting baju yang sangat ingin ku hindari. Aku juga berencana meminta izin kepada Kak Pandhu untuk tidak ikut dan agar Kak Pandhu tidak mengatur busanaku diacaranya nanti. Tidak seperti ibuku pastinya.


"Fanni acara fitting baju dimajuin hari Rabu depan. Gimana?" Ujar Febi tiba-tiba. Seolah-olah ia tahu apa yang baru saja aku pikirkan. Ia berhasil menghentikan langkahku yang hendak keluar dari dapur.


"Ohh iya Feb. Tapi gue nggak janji ikut ya." Jawabku.


"Lho kenapa?"


"Mulai minggu besok gue udah ganti posisi dan pasti lebih sibuk. Harus siap siaga saat bos butuh."


"Iya juga ya. Hehe tapi kalo bisa ikut ya."


"Emm... Feb sebenarnya loe orang mana? Cina ya?"


"Hehe... kayak orang Cina ya Fann? Padahal aku pribumi Indonesia lho, aku orang Palembang asli."


"Owalah yaudah deh kirain orang Cina."


Memang sih orang Palembang memiliki paras oriental bak seorang tionghoa. Berkulit putih bersih. Jadi wajar saja jika aku selama ini salah menebak suku dari gadis polos pilihan Kak Pandhu tersebut.


Aku beranjak lagi menuju tempat berkumpul. Semua orang saling bercanda satu sama lain. Begitu riuh dan ramai. Jarang sekali momen seperti ini terjadi. Yah, tidak buruk juga ide ibuku.


"Hai Rafif ganteng," Sapa kepada anak lelaki Nike.


"Halo tante," Jawabnya.


"Makan yang banyak yah."


"Iya tante."


Aku duduk manis diantara Nike dan teman SMAku si Neneng. Bola mataku terpana kepada sosok kecil anak lelaki dari Nike dan suaminya. Bibirku terkatup tidak ikut berbaur dalam candaan.


Entah mengapa aku teringat Mas Arlan dan Selli. Sudah lama aku tidak bertemu gadis kecil itu. Kesibukanku bekerja dan ia sekolah belum memberikan waktu luang untuk berjumpa. Selama ini kami hanya bertatap muka lewat video call setiap malam, itu pun jika aku atau Mas Arlan sedang senggang dan belum tertidur. Seandainya saja mereka ada disini pasti akan semakin menyenangkan.


"Fann?" Panggil seseorang kepadaku, yang tidak lain adalah Neneng.


"Ehh iya Neng," Jawabku.


"Hehe nggak kok Neng."


"Eh selamat ya makin sukses karirnya."


"Makasih Neng hehe."


Acara bersantap akhirnya dimulai. Dan aku sedikit ngilu menatap mesranya pasangan-pasangan yang berada disini. Entah itu ayah ibuku, Nike dan Mas Roni suaminya, Kak Pandhu dengan Febi bahkan Tomi pun begitu manis sikapnya terhadap pasangannya. Sedangkan aku hanya mengobrol ringan dengan Neneng yang saat ini tidak bersama pasangannya. Miris bukan?


"Emm Tomi kenalin dong si do'i," Ujarku.


"Tadi udah dikenalin kok ndut hehe," Jawab Tomi.


"Kan gue dibelakang,"


"Saya Rara mbak Fanni," Sambung Rara wanita yang di bawa Tomi.


"Wahh hay Fanni, kok mau sih sama Tomi?" Ujarku.


"Jangan gitu sayang hmm..." Potong Ayahku tiba-tiba.


"Iya ih Fanni ini mana coba pasangan kamu?" Ujar ibuku tak mau kalah.


"Nih si neneng," Jawabku.


Semua orang tampak tersontak lalu tertawa. Padahal aku berbicara dengan datar dan terkesan acuh. Bukan karena aku merasa tersinggung. Mungkin hanya malu sedikit, mencoba mencairkan suasana agar ada rasa kebersamaan. Bukan saling bermesraan satu sama lain.


Hingga beberapa saat kemudian, selesai sudah aktivitas bersantap. Kami saling bekerjasama untuk membereskan alat makan.


"Tante terima kasih hidangannya," Ujar Mas Roni, suami Nike kepada ibuku.


"Sama-sama nak jangan sungkan hehe," Jawab ibuku.


"Anu gimana ya?"

__ADS_1


"Kenapa nak?"


"Ini tante maaf kalau kurang sopan. Saya mau pamit duluan ada keperluan soalnya."


"Ya ampun nggak papa nak. Udah, udah kalo ada perlu mah segera diurua makasih ya udah nyempetin waktunya."


"Makasih tante, Fanni. Assalamu'alaikum."


"Wa'alakumssalam."


Nike memelukku lalu bercipika-cipiki. Mereka bergegas pergi dengan mobilnya.


Aku kembali masuk dan duduk. Aku melihat, tampaknya Tomi dan Rara juga akan pulang. Begitu pun Neneng. Aku sih tidak heran, mungkin karena weekend adalah hari spesial untuk mengajak pasangan berjalan-jalan. Apalagi jam masih menunjukkan setengah dua belas siang.


"Makasih ya ndut," Kata Tomi.


"Iya mbak saya juga makasih," Sambung Rara.


"Kalian jangan sungkan. Aku yang makasih sudah datang diacara kecil ini," Jawabku.


"Sering-sering aja ndut hehehe. Tante saya pamit dulu, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Setelah Tomi berlalu bersama Rara, kini giliran Neneng yang pulang. Rumah ini sepi kembali setelah kepulangan mereka.


Ayah ibuku bercengkerama bersama Febi dan Kak Pandhu. Sedangkan aku memilih duduk santai di taman kecil samping kiri rumah. Aku menyandarkan tubuhku pada badan kursi, menikmati hembusan angin yang sejuk kerena tanaman-tanaman indah banyak tertanam.


Anganku melayang mengingat Mas Arlan dan Selli. Aku ingin bertemu mereka untuk melepas rindu kepada si gadis kecil tersebut.


Aku mengirimkan pesan singkat kepada Mas Arlan. Sebenar sejak tadi ia pun sudah chatting denganku. Hanya saja aku sedikit acuh karena teman-temanku disini. Dan pada satu pesan yang belum aku baca, Mas Arlan mengajakku bertemu sore ini. Seolah-olah ia tau keinginanku.


"Heeiii sendirian aja?" Celetuk Kak Pandhu dari arah belakang.


"Apa sih Kak? Ngagetin tauk!" Ujarku kesal.


"Ngapain disini?"


"Santailah."


"Yaelah."


"Anu... kak aku nggak ikut fitting baju yaaaa?"


"Kenapa emang?"


"Aku gendut nggak pede,"


"Kebiasaan."


"Yaaaa... please... Kakak pasti tau kan maksud aku?"


"Kakak sih nggak pernah maksa apapun dek. Yang pentung kamu dateng dampingin kakak entar pakai baju yang sopan dan sesuai nggak masalah. Tapi kan kamu sendiri tau mama kayak gimana."


"Iya sih, tapi aku mau cari alesan lain deh."


"Ya ya terserah kamu aja. Dasar bandel, oiya ngomong-ngomong bos baru kamu katanya ganteng ya. Mama tergila-gila tuh pas liat berita di tv. Makanya bikin acara ini, siapa tau anak perempuannya semakin naik jadi istrinya."


"Ihh apasih. Geli ah, emang ganteng sih tapi kan akunya yang jelek kak."


"Yang penting pede dan smart."


Setelah mengatakan itu dan mengacak-acak rambutku, Kak Pandhu kembali kedalam. Pantas saja ibuku sebegitu girangnya. Jadi, beliau menyaksikan acara televisi yang mengundang Celvin.


Memang sih Celvin begitu memukau. Sejauh ini aku juga masih berdebar-debar jika berdekatan dengannya. Aku serasa mati kutu, mendengar rentetan penjelasan yang disampaikan Celvin selama ini. Apalagi besok aku sudah menjadi sekretarisnya. Ya Tuhan, aku harap bisa bekerja dengan baik dan tidak terbengong-bengong karena pangeran itu.


Bersambung...


Dukung terus yaaa novel ini. Semoga cukup bagus.


Aku butuh semangat untuk tetap melanjutkan. Semoga aku nggak down yah, soalnya satu novel aku yang lain terhenti karena kurang menarik. Hehe...


Semoga yang ini punya nilai plus tersendiri dimata pembaca.

__ADS_1


Terima kasih.


☺️


__ADS_2