
Melewati hari penuh cobaan itu sungguh sangat luar biasa. Bukan hanya berat, namun juga ketahanan hati tentang kesabaran yang harus diuji. Mendampingi seorang suami hebat seperti Mas Arlan juga bukan sesuatu yang mudah. Aku harus tahan banting dengan banyaknya masalah yang menghadang. Hari dimana aku bisa belajar lebih baik pun saat bersamanya. Rasanya tidak ada yang kusesali sampai sekarang meskipun terkadang harus merasakan lelah yang luar biasa.
Kini satu tahun sudah berlalu. Mas Arlan masih menekuni pekerjaannya di perusahaan Sanjaya. Sedangkan diriku pun tetap sama, mendampingi Celvin kemana saja. Jika bertanya tentang kasus penggelapan itu, sampai sekarang belum ada jawaban pasti tentang siapa dalang dibaliknya. Yang aku dengar, kantor cabang itu dipimpin oleh adik dari Mas Arlan.
Sedangkan Riska masih dalam pelarian. Hanya kami yang mengetahui keberadaan dirinya. Beberapa kali Mas Gunawan datang, namun ditolak mentah-mentah oleh Mas Arlan. Kami mengaku tidak mengetahui akan diri sang anak. Bahkan Celvin juga, ia memang sempat menanyakan keberadaan Riska kepadaku. Sampai saat ini aku tetap bungkam. Ia tidak merasa curiga pada apartemenku. Aku rasa, Riska sudah memberikan pengertian kepada Celvin supaya lebih tenang. Aku bersyukur tentang itu, kesendirian Riska saat ini lebih membuatnya tenang. Proses kehidupan sungguh panjang, bukan?
Dan kini aku sedang menikmati pekerjaan yang masih menjadi kewajibanku. Segala macam rapat dan ini itu. Melelahkan sekali. Terlebih kondisiku belakangan ini kurang stabil, terutama dibagian perut.
"Fann?" Celvin tiba-tiba memanggilku.
"Ya? Ada apa?" tanyaku.
"Tolong aturkan jadwal besok ya?"
"Baik."
"Terima kasih, Fann. Emm... kata Papa, besok ada pertemuan antara Sanjaya dan Harsono. Apa kamu sudah tahu?"
"Haah?"
Aku seketika saja berdiri dari dudukku. Menatap Celvin dengan membelalak mataku. Kabar ini? Kenapa Mas Arlan tidak mengatakan kepadaku? Oh... tidak, seharusnya aku memang tidak perlu tahu. Ini bukan urusanku, bukan? Baiklah.
Setelah merasa seperti itu, aku mencoba tenang kembali dan duduk. Sedangkan Celvin menarik kursi dihadapanku. Ia duduk disana sembari menatapku. "Kamu belum tahu?" tanyanya kemudian.
Aku menggeleng saja. "Belum," jawabku.
"Akupun masih belum tahu akan maksudnya. Papa melakukan pertemuan dengan Pak Gunawan secara pribadi."
"Mungkinkah tentang pekerjaan atau Riska?"
Celvin menampilkan ekspresi tidak mengetahui akan hal itu. "Entahlah."
"Apa Mas Arlan tahu?"
"Ya, beliau kemungkinan tahu akan hal ini. Tapi, tenanglah dulu. Kalau beliau belum berbicara, rasanya memang bukan masalah yang biasa-biasa saja."
"Mungkin."
"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu. Sebentar lagi waktu pulang akan tiba."
Aku mengangguk. Sedangkan Celvin beranjak berdiri dan kembali ke tempat kerjanya. Dengan segala usaha, aku mencoba mengembalikan fokus otak dan mataku. Namun tetap saja rasa gusar dan penasaran terus bergelayut di hatiku. Aku ingin segera pulang. Meski bukan urusanku, aku ingin sedikit tahu tentang hal ini.
Baiklah, mungkin aku harus lebih bersabar sampai waktu pulang telah datang. Aku menghela napasku dan menghembuskannya kembali. Mencoba mengedipkan mata dengan harapan bisa lebih fokus terhadap monitor komputer. Dalam waktu yang kurang lebih satu jam ini, aku ingin pekerjaanku selesai tanpa meninggalkan sisa.
****
Akhirnya aku bisa menghirup napas lega. Kerja kerasku tidak sia-sia. Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Aku merapikan tempat kerjaku dan meraih tasku. Sedangkan Celvin pasti melakukan hal yang sama. Setelah selesai, aku mendatanginya dan hendak pamit pulang.
"Vin, aku pulang ya? Semua sudah aku susun. Besok tinggal menjalankan," ujarku.
"Ya, Fann. Hati-hati di jalan, salam untuk suamimu," jawabnya.
Aku mengangguk pelan. "Jangan terlalu khawatir tentang Riska."
"Ya, walaupun aku belum tahu dia ada dimana. Kami masih sering ngobrol via ponsel kok."
Aku tersenyum saja. Setelah itu aku berbalik badan dan mengambil langkah untuk keluar. Udara sore menyeruak ke dalam hidungku yang mancung. Beberapa karyawan masih lalu lalang di gedung ini, mungkin rencana mereka sama sepertiku yaitu pulang. Ya, jam pulang adalah waktu yang amat ditunggu, seolah lepas dari jeruji besi setelah sekian lama. Bukan untukku saja, melainkan semua karyawan yang ada.
Disela langkah kakiku, tiba-tiba ponselku berdering. Aku meraihnya dari dalam tasku. Aku menghentikan langkahku sejenak dan memastikan siapa sang pelaku. Dan nama suamiku tersayang terpampang nyata di atas layarnya. Melihat nama kontaknya saja, aku sudah sangat bahagia, apalagi kalau langsung menatap wajahnya. Oh... apakah responku berlebihan? Tapi, itulah yang aku rasakan.
"Assalamu'alaikum, Sayang," sapaku dari sini.
"Wa'alaikumssalam, Sayangku juga. Mas udah didepan lho," jawabnya.
"Aku juga masih jalan kok, Mas. Tunggu ya?"
"Cepet, Dek. Mas udah nggak bisa nahan kangen hehe."
__ADS_1
"Nggak peduli."
Tut! Aku mematikan panggilan itu. Semakin dijawab, pasti Mas Arlan akan semakin meruncingkan segala gombalannya. Lalu, aku kembali melanjutkan langkahku. Aku memasuki kotak elevator dan membawaku ke lantai dasar. Karyawan lain pun melakukan hal yang sama. Tak kusangka, sudah lama sekali aku menjadi seorang sekretaris. Bahkan aku sudah tidak peduli jika salah satu dari mereka menggunjingkan diriku. Aku bahkan sudah tidak peduli jika pandangan orang lain mengatakan bahwa orang sepertiku tidak cocok mendapatkan jabatan ini.
Luar biasa, bukan? Ya, bagiku ini luar biasa. Karena aku sudah bisa bangkit dari keterpurukanku dimasa yang sudah lalu. Meski teman-temanku masih sama yaitu Nike, Tomi atau Mita. Setidaknya kini aku sudah mampu bertegur sapa ketika bertemu orang lain. Tampaknya setelah menikah hormon keberanian juga bisa meningkat lebih tinggi, namun tidak bisa dipungkiri bahwa semua kembali kepada manusianya. Jika ada tekad untuk berubah lebih baik, aku rasa semuanya akan tercapai. Hanya saja, tekadku untuk kurus belum sepenuhnya ada. Jadi, sampai saat ini seorang Fanni masih saja gendut.
Yah, gendut. Beruntung aku gendut, setidaknya aku tidak mudah kurus ketika menghadapi masalah yang banyak.
"Mas," ujarku sembari mengetuk kaca jendela mobil Mas Arlan, sesaat setelah aku sampai di tempat keberadaannya.
"Masuk, Sayang," pintanya.
Aku tersenyum saja. Lalu, aku bergerak menuju pintu sebelah kiri. Mas Arlan membukakan dari dalam. Lantas, aku memasukinya. Kami duduk bersebelahan. Kemudian tanpa pikir panjang lagi, ia mulai mengemudikan mobilnya. Kami meninggalkan gedung kantor milik Sanjaya ini.
Seperti biasa, namanya kota besar pasti ditemui kemacetan dibeberapa titik jalan. Hal ini membuatku sedikit kesal lantaran terlalu lelah. Belum lagi rasa mual yang terus melanda perutku sejak tadi. Bahkan seringkali aku ingin muntah, namun masih bisa aku kuasai diriku ini. Mungkin ini adalah efek dari kepenatan sepanjang hari. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah, bebersih diri lalu tidur.
"Sayang, gimana pekerjaan hari ini?" tanya Mas Arlan.
"Kayak biasanya, Mas. Kamu?" tanyaku kembali.
"Baik, Dek. Lancar kok hehe."
"Nggak ada yang ingin kamu ceritakan, Mas?"
"Nggak ada, Sayang. Lagian nggak ada masalah kok."
"Oh ya? Yakin."
Mas Arlan mengangguk pelan. Dan aku? Aku merasa kecewa. Sebenarnya sepenting apa urusannya? Sampai diriku tidak diberitahukan. Biasanya Mas Arlan tidak seperti ini. Lalu, aku terus menatap tajam ke arahnya. Ia tampak menelan ludahnya.
"A-apa, Dek?"
"Ada apa?!"
"Apanya?"
"Jujur soal apa sih, Sayang? Ini lagi di jalan lho. Jangan marah gitu."
"Soal apa? Kalian ingin bertemu dengan keluarga kamu kan, Mas?"
Seketika saja, ia terdiam. Ia tampak menelan ludah lagi, menghela napas dan menghembuskannya kembali. Benar, ia mengetahui akan rencana Pak Ruddy. Namun, tidak mengatakannya kepadaku. Lalu, apa yang terjadi kepadaku? Padahal aku sudah bilang tidak akan ikut campur. Entah mengapa, rasanya kesal seperti ini. Bahkan hatiku sangat sensitif, seolah sedang dapat jatah bulanan padahal tidak sama sekali.
Aku menyadari kekesalanku, namun tidak mengerti apa yang menyebabkannya. Sampai akhirnya aku memilih untuk membuang pandanganku keluar jendela mobil. Aku memilih diam daripada banyak bicara yang nantinya akan semakin merunyamkan masalah Mas Arlan.
Tapi, gue kenapa sih? Masa' gitu aja marah? Mual mulu lagi. Ngeselin.
Sepanjang perjalanan pun, Mas Arlan masih tidak bicara. Padahal jujur dalam hati, aku ingin ia menenangkanku. Namun, apa yang terjadi sekarang? Kemana romantisme yang selalu ia tunjukkan pada saat aku sedang marah? Aku benci suasana canggung seperti ini, tapi aku juga enggan untuk berbicara. Dalam hati kecilku, seolah ada suara yang mengatakan bahwa aku harus menang.
Hingga beberapa saat kemudian, sampailah kami di rumah. Mas Arlan memarkir mobilnya tepat di sisi kiri rumah ini. Aku beranjak turun dengan raut yang masam, kuambil langkah lebih cepat. Aku meninggalkan suamiku begitu saja. Bahkan saat membuka pintu, aku disambut oleh putri kecilku. Sekali lagi, aku masih enggan untuk bermain bersamanya.
"Maaf ya, Sayang. Mama masih capek, mau mandi dulu. Selli main sama Bibi dulu ya?" ujarku hati-hati.
Selli menampilkan wajah kecewanya. "Iya, Ma," jawabnya sembari berlalu pergi.
Aku menghela napas dalam-dalam lagi. Sebenarnya, aku merasa bersalah. Namun, aku tidak mungkin bersama Selli dalam keadaan kesal seperti ini. Baiklah, mungkin aku akan meminta maaf kepadanya setelah membersihkan diriku. Lalu, aku kembali melanjutkan langkahku menuju kamarku.
Sesampainya di kamar, aku melepas tasku dan kuletakkan pada tempatnya. Melepas blazer dan juga beberapa yang diharuskan. Niat hati ingin bebersih diri, malah kembali tertunda lantaran tidak bisa menahan godaan kasur dihadapanku. Lantas, aku merebahkan diri terlebih dahulu. Dan... Mas Arlan masuk ke dalam, sontak aku membuang wajah saja.
Tak lama kemudian, ia telah mendekatiku. Ia membelai halus telapak tanganku. "Kamu kecewa, Dek?" tanyanya.
"...."
"Maaf, Mas pikir ini bukan masalah yang perlu kamu tahu. Lagipula ini masalah perusahaan dan keluarga."
"Keluarga? Aku nggak perlu tahu? Jadi, aku bukan keluarga kamu, Mas?"
"Bu-bukan gitu, Sayang. Emm... maksud Mas, kami bisa mengatasi semuanya. Bahkan Celvin saja nggak tahu, maksud Mas nggak dilibatkan. Mas harus menyelesaikannya lalu mulai mengatakannya pada kalian bahkan Riska."
__ADS_1
"Terserah."
"Jangan marah dong, Sayang."
"Nggak."
"Dek, ayolah. Ini masalah perusahaan bukan hubungan kita lho."
Aku membangunkan diriku seketika. "Tapi, ini bentuk bahwa kamu udah mulai nggak percaya padaku, Mas!"
Setelah mengatakan itu, aku beranjak turun dari ranjang ini. Menatap wajah Mas Arlan yang tadi sempat kurindukan, saat ini rasanya menyebalkan. Tanpa pikir panjang, aku mengambil langkah keluar dari ruangan ini. Dengan penuh rasa kecewa bahkan sampai meneteskan air mata.
Aku berjalan ke dapur. Sesampainya disana, aku duduk di kursi yang berada di meja makan. Kuraih beberapa makanan yang berada diatasnya. Tanpa pikir panjang, aku melahapnya dengan rasa kesal yang masih membara. Sedangkan Bi Onah tampak sedang sibuk bersama sayurnya sembari bercengkerama dengan Selli yang duduk bersila di lantai.
Oh... putriku. Mama belum minta maaf sama kamu.
"Hoeek! Oops." Perutku terasa sangat tidak nyaman tepatnya saat Bi Onah sedang memasak bumbu, dengan sigap aku segera lari ke kamar mandi. Apa ini? Apa aku sedang masuk angin?
Sesampainya didalam kamar mandi, beberapa kali aku mengeluarkan rasa mualku. Rasanya lemas, bahkan bola mataku sampai berkaca-kaca. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, membasuh wajahku dan duduk sejenak dengan berjongkok di lantai kamar mandi. "Uuh... pusing. Gue kenapa sih?" gumamku.
"Mbak Fanni, nggak apa-apa kan?" tanya Bi Onah dari balik pintu kamar mandi.
"Baik-bail aja, Bi," jawabku.
Lalu, karena tidak ingin membuat orang lain khawatir, aku segera bangkit. Aku merapikan rambutku yang berantakan dan mulai membuka pintu. Aku keluar. Bi Onah tampak khawatir akan kondisiku, bahkan Selli juga.
"Mama kenapa, Ma?" tanya putriku itu.
Aku tersenyum tipis, lalu menjawabnya," nggak apa-apa, Sayang."
"Mama pasti sakit ya? Mama harus istirahat dulu."
"Iya nanti Mama istirahat, Sayang."
Memasuki tahun pelajaran baru, perlahan Selli sudah bisa memperbaiki ucapannya. Ia mampu berbicara dengan huruf "R". Bukan sesuatu yang mengherankan, namun rasanya sangat membanggakan. Setidaknya selama ini aku yang membimbingnya dan melihat tumbuh kembangnya. Mungkin, akan lebih lengkap jika ia diberikan satu adik lagi. Tapi kapan?
Sudahlah, aku harus bersabar. Pasti akan ditiupkan satu ruh ke dalam rahimku suatu saat nanti. Hari ini saja, aku masih sakit dan kurang bisa menjaga diri. Aku masih harus banyak belajar menjadi seorang ibu.
"Kenapa ini? Kok pada ngumpul didepan kamar mandi?" tanya Mas Arlan tiba-tiba.
"Ini, Den. Mbak Fanni tiba-tiba mual, saya khawatir. Jadi, saya memastikan aja," jawab Bi Onah.
"Mual?" Mas Arlan mengernyitkan dahinya. Ia menghampiri diriku. Sedangkan aku masih saja membuang muka, aku masih kesal kepadanya.
"Udaaah, aku nggak apa-apa kok," ujarku sembari menepis tangan Mas Arlan. Kemudian aku sedikit menjauh dan melangkah pergi.
Aku kembali menuju kamar. Namun, seruan Mas Arlan dalam memanggil namaku terus mengikutiku. Ya, ia memang mengikutiku. Aku masih tidak peduli. Sampai akhirnya, kami mencapai kamar kembali.
Lagi-lagi, di tepian ranjang aku dan Mas Arlan duduk berdampingan. Saling diam dan menatap lantai yang kosong. Sudah lama juga, aku tidak semarah ini kepadanya. Entahlah, mungkin efek lelah atau semacamnya jadi aku se-emosional ini.
"Kamu jangan marah lagi dong, Sayang. Mas kan nggak mau kamu ikutan pusing mikirin hal itu," ujar Mas Arlan kemudian.
"Nggak!" tegasku.
"Ayolah, Dek."
"Nggak ya enggak!"
"Dek?"
"...."
"Jarang banget kamu kayak gini lho. Marah nggak jelas, dan... mual? Kata Bi Onah pas beliau goreng bumbu? Jangan-jangan...?!"
"????"
Bersambung...
__ADS_1