Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Merasa Tidak Enak


__ADS_3

Selang beberapa menit kemudian tampak mobil besar khas bengkel menuju tempatku dan Mas Arlan berada. Dua orang pria berpakaian montir menghampiri kami.


"Saya cek ya mbak?" Ujar salah satunya meminta izin padaku selaku pemilik mobil merah.


"Silahkan mas." Jawabku.


Kemudian mereka mulai memeriksa kondisi ban mobilku. Aku sih berharap tidak parah dan bisa diselesaikan sekarang juga. Supaya langsung bisa kukendarai. Karena rasa sungkan akan menyerangku jika terlalu banyak meminta bantuan Mas Arlan. Apalagi kami belum memulai perbincangan sama sekali setelah kejadian kagetku yang memalukan tadi.


"Waahh, ini parah mbak robek nyampe kedalem kayaknya tadi mbak nginjek beling gede deh." Ujar salah satu montir. Dan tentu saja membuatku terkesiap.


"Masa' sih mas? Mana ada beling ngrobek ban nyampe segitunya coba periksa lagi deh." Kataku keras kepala.


"Beneran mbak ini harus dibawa ke bengkel dulu, kebetulan saya juga bawa mobil angkut."


"Gak bisa ya dibenerin sekarang."


"Maaf mbak sepertinya susah."


Duh, nasib hari ini sangat tidak menguntungkan. Sudah hilang fokus seharian, otak terganggu wajah Celvin terus. Lalu harus mogok di tempat sepi sampai ketakutan. Dan sekarang ban mobil robek parah.


Aku hanya bisa menggerutu kesal sambil menggigit jari. Sebenarnya apa dosa yang aku lakukan hari ini? Mengapa sampai sesial ini. Belum lagi aku merasa tidak enak hati dan sungkan pada Mas Arlan. Dan pastinya aku membuang-buang waktunya. Ya Tuhan!


"Udah dek gak papa biar dibawa dulu kamu ikut mas ya." Kata Mas Arlan.


"Tapi kan mas..." Ujarku ragu-ragu.


"Udah nurut mas aja emang kamu mau mas tinggal disini?"


"Yaaa... yaa gak maulah."


"Makanya, belom maghrib juga kan?"


"Iya mas."


"Yaudah ikut mas aja, mas tolong urus mobilnya ya."


Mau tidak mau akhirnya aku mengikuti arahan Mas Arlan. Jika dipikir lagi benar katanya. Lagipula aku juga takut jika berada di tempat seperti ini. Maaf, maaf aku tidak akan lagi lewat sini.


Mas Arlan bergerak memasuki mobil miliknya yang cukup mewah diiringi aku disampingnya. Perlahan namun pasti ia mengemudikannya. Aku hanya menatap kaca spion menatap pantulan mobilku yang diangkut montir-montir tersebut sambil mengaduh pasrah dalam hati.


Mobil Mas Arlan berjalan menyusuri jalan kawasan industri yang berjarak tujuh menitan menuju jalan utama perkotaan. Lantunan lagu populer yang melankolis pun diputar menambah kecanggungan diantara kami.


Tengkukku merasa kaku melewati waktu bersama Mas Arlan yang tanpa Selli. Suatu kecanggungan merasuk diantara kami. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir. Biasanya jika ada Selli ada alasan untuk saling bercengkerama. Namun ternyata suasana akan berbeda saat gadis kecil tersebut tidak ada.


Otakku berputar untuk mencari bahan obrolan untuk mencairkan suasana. Namun aku sangat bingung apa yang sebaiknya cocok untuk dibahas. Aku juga sama sekali tidak tau apa yang ada di pikiran Mas Arlan. Aku juga cemas ia tidak suka dan kesal dengan sifat manjaku.


"Mas?"


"Dek?"


Secara tidak sengaja suara kami memanggil satu sama lain secara bersamaan. Hal tersebut membuat kami terkekeh malu.


"Mas duluan hehe." Ujarku kemudian.


"Ehm... mampir masjid dulu ya sudah mau abis waktunya." Katanya.

__ADS_1


"Ohh iya mas."


Setir mobil diarahkan oleh tangan Mas Arlan segera. Kami menuju ke sebuah bangunan suci milik umat islam.


Setelah Mas Arlan memarkir mobilnya. Kami beranjak keluar dan berjalan kearah yang berbeda. Aku kearah tempat wudhu dan ibadah yang dikhususkan untuk wanita. Begitupun Mas Arlan ke tempat pria.


Aku mencari mukena yang cukup besar agar muat jika aku pakai. Lalu mulai mengkhusyukkan diri menyembah sang Pencipta sampai selesai. Tak lupa do'a pendek aku panjatkan diakhir ibadahku.


Tampak Mas Arlan telah berdiri sembari bermain ponsel. Aku berjalan menghampirinya usai menjalankan kewajibanku. Aku melangkah sedikit malu-malu dan masih saja sungkan padanya.


"Udah dek?" Tanya Mas Arlan ketika aku sudah berada dihadapannya.


"Udah mas." Jawabku.


"Mau langsung pulang?"


"Iya mas emang mau kemana lagi."


"Hehe, siapa tau mau ngajak nge-date kamu."


"Boleh kok aku traktir yah sekalian balas budi."


"Ehm... Boleh juga."


"Tapi aku pulang dulu mau mandi gerah."


"Kamu gak capek?"


"Enggak."


Selang beberapa menit kemudian sampai lah diapartemenku. Karena sudah berjanji akan mentraktir Mas Arlan. Aku memintanya untuk mampir sebentar serta menungguku mandi dan bersiap-siap.


Sebenarnya bisa saja langsung ke restoran. Namun, aroma harum dari Mas Arlan mengharuskanku untuk bersiap juga.


Kami berjalan menapaki lantai apartemen dan menaiki lift kearah tempat tinggalku.


"Mas Arlan tunggu bentar ya?" Ujarku meminta kesabaran sedikit dari Mas Arlan.


"Kamu beneran gak capek dek? Sebenernya gak harus juga lho." Jawabnya.


"Enggak kok gak papa, yang penting aku mandi dulu biar seger."


"Dasar anak bandel."


"Hehe."


Aku bergegas mandi kilat ke kamar mandi setelah membawa pakaian ganti dari lemari. Aku membasuh seluruh tubuhku lalu menggosokkan busa dengan cepat.


Meskipun cepat aku masih teliti tidak aku biarkan sejengkalpun debu dan daki menempel pada bagian tubuhku. Aku harus bersih dan wangi.


Setelah memakai pakaian ganti aku keluar dan meletakkan baju kotorku pada mesin cuci. Kemudian berlari kecil menuju meja rias.


Dan tidak kalah cepatnya, sisir kugerakkan merapikan setiap helai rambut panjangku yang sepinggang. Tidak lupa kuoleskan sedikit fondation serta bedak, lipstik tipis dan maskara. Acara dandan ini berlangsung selama dua puluh menitan lamanya.


Karena tidak mau ribet aku hanya memakai kaos panjang dan tentu saja besar serta celana jeans ukuran jumbo.

__ADS_1


"Mas maaf lama ya?" Ujarku.


"Lumayan dek hehe." Jawabnya.


"Aduhh maaf ya mas."


"Santai aja dek, yaudah ayo keburu malem kamu mau ngajak mas kemana emangnya?"


"Ehmm kemana aja yang mas mau deh."


"Yaudah ke restoran chicken yang super pedes itu ya, kamu doyan pedes gak?"


"Banget hehe."


Aku dan Mas Arlan kembali berjalan keluar dari apartemenku. Menapaki lantai yang sama dan menuruni lantai dengan lift yang sama.


Mengendari mobil Mas Arlan menuju kesebuah restoran yang Mas Arlan inginkan. Sebelum itu aku memeriksa isi tas dan dompet. Takutnya aku kelupaan bawa.


Lampu-lampu indah menyala benderang menghiasi jalan perkotaan. Di jam sekarang suasana tidak terlalu macet. Sehingga kami sampai di tujuan dengan cepat.


"Mas pesen dulu ya dek?" Katanya.


"Ihh jangan mas kan aku yang mau nraktir." Jawabku mencegahnya.


"Gak usah biar mas aja."


"Yaudah ini pake kartu debitku aja mas."


"Gak usah santai aja dek."


"Looh? Tapi mas? Aku kan ya.."


"Udah sana cari tempat yang nyaman buat makan hehe kamu level berapa?."


"Le... level lima."


Mar Arlan meninggalkanku kearah kasir restoran yang bersistem pesan sekalian bayar. Aku hanya terpaku sejenak sebelum mencari meja. Mas Arlan menolak kartuku. Niatku mentraktirnya malah terbalik ia yang membayar makananku nanti.


Oh Tuhan! Haruskah aku bersyukur atau mengeluh? Makin bertambah saja rasa tidak enak dalam hatiku pada Mas Arlan.


Bersambung...


Sebelumnya mohon maaf ya untuk beberapa reader yang minta crazy up bukan tidak mau tapi aku juga ada kesibukan terus Novel ini peminatnya juga tidak banyak maksudku belum banyak peminatnya.


Jadi aku pikir lebih baik up satu per satu tapi seringg. Maafin sebelumnya daripada saya down udah up banyak yang baca cuma sedikit kan gimana gitu hehe πŸ˜„πŸ˜„


jangan lupa juga buat kamu yang dukung novel ini baca+like+komen+fav+favorit.


GRATIS!!!


INI VISUALNYA MAS ARLAN SI DUDA KEREN ALIAS DUREN yang masih nyimpen satu rahasia yang gak FANNI tau loh. πŸ€”πŸ€”


Ganteng ya padahal udah 41 tahun 😍


__ADS_1


__ADS_2