
Meskipun belum terdengar suara adzan sama sekali, aku sudah terbangun saja. Entah karena rasa bahagia atau memang tidak sengaja terjaga.
Aku berdiri di ambang pintu kamarku. Mengamati seluruh ruanganku yang masih berantakan dengan balon-balon yang masih menggantung. Meski ada beberapa yang sudah mulai turun karena suhu udara. Belum lagi helaian isi conveti yang berhamburan. Malas sekali rasanya, harus membereskan semua itu.
Aku termangu-mangu sebentar sebelum memulai berberes. Bola mataku menangkap keberadaan kotak-kotak kado diatas sofa. Aku berlarian kecil kearah benda-benda tersebut berada. Sekali lagi aku ibarat anak kecil yang begitu girang mendapat hadiah ulang tahun.
Aku memilih membuka terlebih dahulu pemberian dari ayah dan ibuku. Kotak dari orang tuaku tersebut berisi satu paket make up bermerk channel. Diantaranya berisi lipstik, foundation, parfum, maskara dan beberapa jenis yang lain.
Astaga! Aku benar-benar beruntung mendapatkan ini semua. Terlebih kualitas dan kuantitasnya sangat bagus. Tentu saja harganya juga mahal.
Kemudian aku beralih pada kotak pemberian si kecil Selli. Aku membukanya perlahan dengan rasa penasaran.
Aku terpana sejenak ketika mengetahui isi kado tersebut. Sebuah kertas bergambar. Mungkin Selli sendiri yang menggambarnya, karena masih berantakan khas coretan jari anak kecil. Gambar tersebut mengenai taman bermain. Ada sebuah bianglala lalu tiga orang sedang berdiri. Bisa ditebak bahwa itu Mas Arlan, Selli dan aku. Terbukti gambar seorang wanitanya terlihat gemuk.
"Oh... terharuuu," Gumamku pelan.
Aku akan memasang gambar tersebut pada tembok nantinya. Selanjutnya aku sangat penasaran pada sebuah kotak kecil dan panjang dengan pita yang menghiasinya. Seingatku benda tersebut pemberian dari Mas Arlan.
Tanpa pikir panjang aku segera meraihnya. Aku melepas ikatan pita terlebih dahulu. Lalu membukanya dengan sangat hati-hati karena takut barang didalamnya akan rusak.
Dan betapa terkejutnya aku sebuah kalung berwarna putih tergelatak indah disana. Kilau berlian pada liontinnya terpancar oleh cahaya lampu yang sedang menyala. Apa maksudnya ini? Mas Arlan memberiku barang semewah ini. Lalu bagaimana dengan harganya? Bukankah ia hanya pegawai biasa bersama suami Nike di salah satu perkantoran?
Aku merasa ini berlebihan. Kami belum lama saling mengenal. Aku tidak pantas mendapatkan hadiah tersebut. Aku harus mengembalikannya nanti.
Lalu aku kembali menuju ranjangku bermaksud untuk mengambil ponsel dan menelepon Mas Arlan.
Setelah aku dapatkan. Dengan cepat jariku bermain diatas layar ponsel mencari keberadaan kontak milik Mas Arlan. Kemudian menekan tombol panggil. Aku menunggu sampai ia mengangkat, meskipun masih sangat pagi. Aku hanya tidak sabar berbicara dengannya.
"Assalamu'alaikum dek Halo," Ujar Mas Arlan dari kejauhan.
"Wa'alaikussalam mas," Jawabku.
"Kenapa masih pagi udah telpon kamu gak papa kan?"
"Emm... gak papa kok mas,"
"Terus?"
"Anu mas, mas gak salah?"
"Soal?"
"Kalung,"
"Apa yang salah dek?"
__ADS_1
"Itu terlalu mewah kalo buat aku mas,"
"Kata siapa?"
"Kata akulah,"
"Haha apaan sih kamu? Kamu tu orangnya kurang pede aja, coba deh pede sedikit semua barang pasti cocok buat kamu dek,"
"Bukan itu juga mas, pasti mahal juga buat aku,"
"Ah kata siapa mahal orang itu cuma emas putih biasa doang kok, gak nyampe seratus milyar hehe,"
"Gak mungkinlah itu mah berlian mas,"
"Udahlah pakai aja, jangan ditolak kalo kamu tolak mas marah. Udah ya adzan tuh sholat dulu gih,"
Thuut... Thuut...
"Mas?"
Sebelum aku menjawab lagi Mas Arlan sudah mematikan panggilan. Emas putih biasa katanya? Tidak mungkin barang ini bagus dan indah. Aku merasa Mas Arlan berbohong agar aku menerimanya. Memangnya aku sebodoh itu, aku masih bisa membedakan barang mana yang harganya mahal dan mana yang berharga standar.
Ya sudahlah. Besok atau lusa aku akan mengeceknya di toko perhiasan. Jika barang tersebut benar berlian yang mahal, aku akan menemui Mas Arlan untuk mengembalikannya.
Kumandang merdu adzan subuh akhirnya telah terdengar. Sebelum melanjutkan unboxing dari Kak Pandhu. Aku beranjak mengambil air wudhu kemudian melaksanakan kewajibanku.
Memang tidak bisa dipungkiri setelah beribadah. Hati begitu tenang dan nyaman. Seperti ada sebuah energi positif yang mendadak muncul dalam jiwa dan kalbu.
Setelah itu aku kembali ke sofa dimana masih terdapat sebuah paper bag berukuran sedang yang berisi hadiah lagi. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah dari Kak Pandhu. Aku cukup penasaran dengan apa isinya, mengingat Kak Pandhu adalah orang yang sangat dingin padaku selama ini.
Sebuah buku seperti diary dan kotak musik berada didalamnya setelah aku membukanya.
Aku membuka lembaran pertama dari buku diary tersebut. Kalimat yang mungkin ditulis oleh Kak Pandhu mengarahkan aku untuk menyalakan suara kotak musik.
Musik melankolis terdengar begitu haru di telingaku. Aku bingung dengan maksud arahan ini. Di lembar kedua terpampang sebuah foto balitaku bersama Kak Pandhu.
"I love you my sister," Bunyi kalimat dibawah foto yang tertempel pada lembar diary.
"My Little Sister," Bunyi kalimat berikutnya pada foto masa kecil kami.
"Dia sudah besar,"
"Fanni pintar sekali, aku merasa kalah,"
"Fanni tampak tertekan,"
__ADS_1
"Fanni bukan seperti adikku yang dulu,"
"Fanni menjauh,"
"Fanni tampak tertekan, aku harus bagaimana?"
"Fanni pergi dari rumah, aku hanya bisa terdiam. Mungkin itu membuatnya lebih baik,"
"Kami semakin jauh,"
"Fanni sakit keras karena depresi, aku tidak berguna,"
"Akhirnya adikku sehat kembali, namun aku tidak bisa mengajaknya bicara satu kata pun,"
"Aku merindukan dia yang selalu ceria,"
"Shiittt! Hari ini aku kelepasan mengatakan hal buruk dan marah besar padanya,"
"Aku menatapnya namun ia acuh sepertinya membenciku,"
"Hari ini ulang tahunnya yang ke 30 aku harus minta maaf,"
Begitulah beberapa kalimat singkat yang Kak Pandhu tulis disertai foto-foto masa lalu kami. Tak terasa air mata menetes dipipiku. Terlebih suara melankolis dari kotak musik semakin menambah keharuanku.
Aku tidak percaya ini. Seorang Kak Pandhu yang selama ini aku nilai buruk ternyata ia memperhatikanku. Aku pikir ia menulis diary tersebut disaat momen-momen perubahanku atau pertengkaran kami.
Sama seperti ayahku, Kak Pandhu adalah sosok yang tidak banyak bicara. Sewaktu kami kecil ia masih setia menggandeng tanganku kemana-mana. Mulai masuk ke jenjang SMP lalu SMA kami sudah menjauh mencari teman masing-masing.
Aku tidak menyangka Kak Pandhu selalu memperhatikanku selama ini. Mengapa ia harus gengsi mengutarakannya? Jika saja ia mengungkapkan kekhawatirannya padaku, aku pasti tidak akan sebenci ini padanya.
"Kakaaaaaaak maafin Fanni... hu... huuu... huuu," Ujarku disela-sela isak tangis.
Aku menangis cukup lama sembari memeluk buku diary tersebut. Aku berpikir harus lebih bersikap baik padanya mulai sekarang. Serta mencoba menerima Febi dan merestui pernikahan mereka.
"Krrrriiiiinggggg... kkkrrriiiingggg... kkrrriiiingg!!!"
Bunyi alarm mengejutkanku sehingga tersadar dari keharuanku. Setiap hari aku menyalakan alarm jam lima dan enam pagi. Karena, sehabis ibadah subuh aku biasanya tertidur lagi. Meskipun kata orang dan ulama dilarang terlelap kembali. Namun, aku belum bisa melaksanakannya. Mungkin bukan aku saja kan yang seperti ini?
Dengan cepat aku mematikan kotak musik dan membereskan isi apartemenku sesingkat mungkin. Dilanjutkan dengan mandi dan sarapan seadanya. Lalu bergegas ke kantor.
Bersambung...
.... JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN! TUNJUKKAN KEBERADAANMU...
HAYOOO LHO YANG UDAH SALAH PAHAM SAMA KAKAK PANDHU... MINTA MAAF GIH ππ
__ADS_1
KURANG LEBIH SEPERTI INI HADIAH DARI MAS ARLAN YAAAA.... ππ