
Pagi hari, aku sudah dilemaskan oleh kondisi diriku. Aku mengalami morning sickness seperti calon ibu lainnya. Terlebih pada saat Bi Onah tengah menggoreng bumbu untuk memasak. Niat hati ingin membantu, aku malah K.O terlebih dahulu. Pada akhirnya, aku kembali ke kamarku setelah mengalami hal tersebut.
Bahkan, Mas Arlan tidak bersedia untuk aku bantu dalam bersiap-siap. Rasanya masih sangat aneh bagiku. Biasanya aku sudah rapi dan hendak berangkat ke kantor. Kali ini, aku hanya merebah di atas ranjangku dengan santai. Sedangkan Mas Arlan bolak-balik untuk membantu keperluan Selli juga. Haruskah aku senang? Bukankah hal ini sangat berlebihan dalam memanjakan diriku? Namun, suamiku itu tidak mengizinkanku bergerak barang sekali saja. Yah, kecuali berjemur diri dibawah sinar mentari pagi yang masih dinilai sehat.
"Nikmati waktu kamu, Dek. Hari ini udah nggak kerja. Jadi, jangan buru-buru ingin melakukan ini itu, Sayang. Bertahun-tahun, kamu jadi wanita karir. Saatnya istirahat sekarang." Selalu itu yang Mas Arlan ucapkan sedari pagi. Seolah tidak percaya kepadaku dalam menjaga anak didalam kandunganku. Ia melangkah menghampiriku, kemudian duduk di tepian ranjang dan tepatnya disisiku.
"Aku nggak enak, Mas. Kalau santai-santai kayak gini."
"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu kan lagi isi, nanti Mas cariin pelatih olahraga khusus ibu mengandung. Tapi, jangan sekarang. Sekarang buat santai dulu ya, Sayang?"
"Iya, Mas. Aku nurut kok, tapi ya jangan berlebihan larang ini itunya. Nanti aku malah jadi orang malesan."
"Hmm ... yaudah lakuin apa yang kamu mau, Dek. Yang penting aman dan nggak bikin capek. Kamu harus inget diri kamu sendiri dan anak kita."
"Iya, Sayang. Aku janji."
"Istri yang pinter."
Mas Arlan memberikan kecupan manis di keningku. Kali ini, ia kembali seperti suamiku seperti biasanya. Aku lega sekali, bahkan rasa kesal sudah menghilang entah kemana. Hanya saja, pikiran yang menganggu soal kondisi ibu kami memang masih ada. Rencananya Mas Arlan akan segera mengambil cuti dan berkunjung pulang. Aku masih tidak tahu cutinya akan diambil mulai kapan. Yang pasti, akan benar-benar ia putuskan. Sudah satu tahun, aku rasa cukup pantas baginya untuk ambil hari libur.
Dan aku sudah tidak sabar untuk dibawa berlibur. Itupun kalau Mas Arlan cukup peka kepada bumil satu ini. Kalau ia tidak peka, maka aku akan langsung meminta. Bukankah seperti itu? Aku belajar dari pengalamanku kemarin, bahwasanya seorang suami juga manusia. Ia tidak selalu tahu apa yang seorang istri inginkan.
"Kamu disini aja, Dek. Nanti Mas bawain bubur dan susu hangat buat kamu."
"Nggaklah. Emangnya aku sakit apa?"
"Ya, bukan gitu, Sayang. Kamu kan sensitif sama bau masakan."
"Bumbunya doang, Mas."
"Masa' sih? Ah ... nggaklah, nanti kamu hoek lagi. Kan kasian sama yang lain."
"Oooh ... berarti kamu jijik sama aku, Mas."
Mas Arlan menepuk jidatnya. "Bukan gitu, Sayang. Kan ada Bi Onah sama Pak Edi, Mas sih nggak jijik lho. Apalagi Selli yang belum ngerti, hayo lho. Udah pokoknya istri Mas hari ini jadi ratu dulu, Mas jadi pelayan paling handal."
"Halah."
Mas Arlan hanya terkekeh melihat wajah masamku. Perhatiannya sungguh luar biasa tidak terkira. Aku sampai dibuat melayang diam-diam. Walau terkadang malah merasa geli dan aneh, tapi itulah suamiku--pujaan hatiku. Untung-untung untuk melihat besarnya cinta Mas Arlan terhadap diriku, sudah sejauh ini kami menjalin rumah tangga. Apakah cintanya sama seperti dulu atau tidak? Aku harap masih sama.
Mas Arlan bahkan sangat sigap dalam menghadapi diriku yang tengah mengandung ini. Mual yang sering datang membuatnya sering khawatir pula. Beruntungnya diriku bersamanya. Penilaian buruk orang lain tentang seorang duda beranak satu adalah salah kaprah. Kami membuktikan bahwa keluarga kami bahagia. Orang gendut tidak bisa mendapatkan kebahagiaan itu juga omong kosong belaka, pada akhirnya aku mendapatkannya saat menikah dengan si duda tersebut. Apalagi bonus utamanya adalah ia masih tampan dan awet muda diusia menjelang empat puluh tiga tahun itu.
"Ah ... aku malah melantur saking bahagianya," gumamku.
Tak lama kemudian, Mas Arlan kembali datang dari perginya. Membawa nampan berisi mangkuk dan gelas susu, sepertinya. Ia datang menghampiriku bersama senyuman yang menawan itu. Membuatku tidak bisa berhenti mengucap syukur dalam hati. Lagi-lagi aku memujinya, bahkan terlalu memujinya. Oh ... Nia, dia sangat bodoh membuang lelaki sebaik Mas Arlan. Namun, kalau ia tidak bodoh, aku belum tentu mendapatkannya.
"Kenapa, Dek? Cengar-cengir? Mas ganteng ya?" tanya Mas Arlan sampai membuatku gelagapan salah tingkah. Sepertinya aku tidak sadar sampai tersenyum-senyum, karena terhipnotia kharisma suamiku sendiri.
Ya ampun, aku!
"Enggak, Mas. Jangan percaya diri banget deh. Aku lagi ngebayangin wajah anak aku nanti," jawabku berkilah demi membuang rasa malu-ku itu. Ia tersenyum saja, sembari duduk di tepian ranjang lagi. Nampannya diletakkan di atas meja kecil yang ternyata berisi mangkuk bubur, piring buah, segelas air putih dan segelas susu hangat khas untuk bumil. Tebakanku sedikit meleset.
"Makan dulu, Sayang. Mas suapin ya?"
__ADS_1
Aku menggeleng seketika. "Enggak, Mas. Aku nggak sakit lho, efek hamil aja kok."
"Iya, tapi kan Mas pengen manjain istri dan calon anak Mas."
"Mas ... jangan berlebihan ah. Kalau mau bantu aku, urus Selli lho. Aku takut anaknya malah cemburu."
"Udah kok, Sayang. Tapi kalau urusan makan kan biasanya Bi Onah. Tadi bajunya udah Mas pakein."
"Mas, justru makan itu yang penting. Perhatian langsung ke anaknya. Jangan sesuatu yang nggak langsung malah nggak kelihatan. Ayolah, Mas. Sesekali kamu juga harua bersikap seperti dulu, saat kamu belum ketemu aku."
Mas Arlan terdiam. Ia tengah menimang saranku. Dan aku sendiri merasa benar. Ia terlalu sibuk, bahkan fokus pada diriku dan calon anakku. Aku khawatir Selli merasa cemburu. Apalagi ancaman dari Nia masih membayang di benakku. Aku khawatir Nia benar-benar datang dan mengucap kata tidak baik yang akan mempengaruhi Selli. Lebih parahnya lagi, jika Nia mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Ya, aku tidak mungkin sanggup melepaskan Selli begitu saja. Mungkin jika ibunya adalah seseorang yang baik, aku masih bisa mempertimbangkannya. Aku harap Mas Arlan menyetujui permintaanku. Lagipula hal ini untuk anaknya dan aku masih baik-baik saja.
"Yaudah, Dek. Kayaknya Mas juga terlalu berfokus sama kerjaan dan kamu, sampai melupakan Selli. Maaf ya, Dek. Mas nggak kepikiran tentang hal ini. Karna Selli anaknya pinter, jadi Mas pikir dia bisa mengerti."
"Alhamdulillah. Kalau gitu, kamu samperin gih. Terus berangkat udah siang. Mualku udah berkurang kok, Sayang. Aku baik-baik aja."
"Iya, Sayang. Mas tinggal dulu ya."
Aku mengangguk. Ia mengecup keningku sekali lagi. Beruntungnya ia menuruti kemauanku. Kemudian, Mas Arlan menyiapkan makanan yang ia bawakan untukku. Lalu mengambil langkah untuk keluar dari kamar ini. Aku bernapas lega dibuatnya.
Namun, tatapanku begitu nanar pada bubur yang tersaji. Aku menelan ludah seketika. Rasanya tidak ada selera makan, bahkan sedikit mual. Bagaimana ini? Jika tidak makan pasti diriku akan semakin lemas dan bisa membahayakan janinku. Aku menyesap air putih terlebih dahulu. Mau tidak mau, aku mulai menyendok sedikit demi sedikit buburnya. Kemudian melahapnya, lidahku terasa pahit, mungkin efek morning sickness tadi. Oh ... padahal beberapa saat yang lalu, aku masih doyan mengemil makanan. Inilah nikmatnya seorang ibu.
Beberapa saat kemudian, Mas Arlan kembali datang. Ia mengernyitkan dahi menatap buburku yang masih tersisa banyak. Namun ia tidak banyak mendesakku untuk makan. Yang terpenting sudah mengisi perut saja cukup. Aku rasa, Mas Arlan tidak asing dengan hal ini lantaran pernah memiliki pengalaman yang sama yaitu saat Nia tengah mengandung Selli.
"Udah, Dek? Yang penting ke isi. Mas ngerti kok, pasti mual ya?"
"Nggak apa-apa, entar hilang sendiri. Kamu sabar ya, Sayang. Mas tahu nggak bisa diposisi kamu. Makanya Mas ingin merawat kamu sebanyak mungkin."
"Makasih ya, Sayang."
Cup! Lagi-lagi ia mengecup keningku dengan lembut. "Baik-baik di rumah. Jangan capek-capek. Secepatnya Mas ambil libur biar bisa bawa kamu dan Selli refreshing. Terus jenguk Mama ya, Sayang?"
"Iya, Mas. Aku tunggu kok. Kamu kerjanya juga hati-hati, semangat, terus jangan ganjen. Aku kan nggak secantik mereka, tapi tetep kamu harus setia."
"Bagi Mas, Dek Fanni yang paling cantik dan sexy hehe. Mas akan setia selamanya. Mas berangkat ya, udah kamu nggak perlu antar ke depan. Kamu pasti masih lemes."
"Enggak, emang siapa yang bilang mau anter ke depan?"
"Hih, dasar istri."
Selanjutnya Mas Arlan memberikan telapak tangan kanannya untuk aku salam. Kemudian ia menorehkan kecupan lagi disekujur wajahku, bahkan sampai aku sebal. Lalu ia mengambil tas dan kunci mobil, tidak lupa memakai blazer. Mengambil langkah keluar dan hendak mengantarkan Selli lalu berangkat. Sedangkan diriku senantiasa mendo'akan langkah mereka.
****
Waktu berselang, satu jam lebih berlalu. Dan aku masih merebah santai seperti ini. Beruntung rasa mual yang sempat melanda lagi, sudah mulai teratasi. Namun bukan berarti tenagaku sudah cukup untuk bergerak lebih banyak. Semakin lama, aku merasa berat badanku yang sudah berat ini semakin berat saja. Nikmat seorang ibu yang sudah gendut, memang luar biasa bukan? Tapi, tidak apa, ini demi anak tersayang didalam kandunganku. Oh ... aku sudah tidak sabar ingin mengetahui gender buah hatiku, bahkan aku ingin segera bertemu dan bertatap wajah.
Impianku masih sama, aku ingin anakku seperti ayahnya dalam segi fisik. Sedangkan diriku, ia patut mengambil warna mata dan bentuk hidung saja. Akan lebih menawan jika nantinya ia berparas bule sepertiku, namun tetap berfisik sempurna. Dengan kata lain tidak gendut sepertiku. Namun apapun kondisinya aku tetap akan menerimanya, menyayanginya sepenuh hatiku. Lelaki atau perempuan?
"Mama nggak sabar, Nak," gumamku. Sedangkan tanganku berencana meraih ponselku di sisi kiri bantal yang aku tiduri. Aku menyalakan suara yang melantunkan ayat-ayat suci dari kitab suci agamaku. Hatiku saja terasa damai, terlebih buah hatiku didalam kandunganku. Pasti ia sedang menorehkan senyuman manis disana.
Betapa bahagianya diri ini, bahkan diusiaku yang semakin bertambah ini aku sudah mendapatkan apa yang selalu aku harapkan. Jika beberapa saat yang lalu, aku merasa jengah atas pertanyaan "sudah isi apa belum?" kini aku bisa menjawab dengan lantang. Aku sudah mengandung!
__ADS_1
Oh ... aku belum sempat mengabari ayah dan ibuku. Pasti kedua orang tuaku akan sangat senang dibuatnya. Mereka akan mendapatkan cucu kedua, maksudku ketiga setelah Selli. Ya, aku harus mendiskusikannya dengan Mas Arlan tentang kapan akan memberikan kabar baik ini kepada orang tua kami. Aku sudah tidak sabar.
Tiba-tiba lantunan ayat kursi yang terdengar di ponselku berganti dengan nada dering yang sangat nyaring. Bahkan aku sampai tersentak kaget. Lantas, aku mengangkat ponselku dan memastikan siapa yang sedang menghubungiku.
Riska? Ada apa?
"Assalamu'alaikum, Riska. Halo," sapa salamku kepada keponakan iparku yang cantik itu.
"Wa'alaikumssalam, Kak. Kak Fanni dimana?" Riska menjawabku dengan nada cemas. Hal itu membuat diriku tertegun sebentar.
"Di rumah, aku udah keluar dari kerja. Kenapa?"
"Om Arlan dimana? HP-nya nggak bisa dihubungi, Kak."
"Emm ... kerja, Ris. Mungkin lagi ada meeting jadi dimatiin. Kenapa sih?"
"Duh ... a-anu, Kak. Nenek, itu sakit."
"A-apa?"
"Makanya, Om Arlan dimana? Pagi ini Nenek dibawa ke rumah sakit. Aku dihubungi Papa. Nyariin Om Arlan, HP-nya mati."
"I-iya, aku kesana, Ris. Kalau gitu aku nyusul Mas Arlan dulu. Aku masih inget alamatnya kok."
"Tolong ya, Kak."
Panggilan dimatikan begitu saja. Aku benar-benar terkejut dibuatnya. Sampai terpaku sejenak, bingung harus memulai darimana. Kemudian segera aku putuskan untuk bangkit. Aku berganti pakaian menggunakan dress yang bermodel mekar dibagian bawah dan blazer seadanya, beserta tasku. Aku sangat panik.
Dengan memegangi perutku, aku keluar dari kamar ini. Tentunya dengan kunci mobil di tanganku. Pikiranku kacau, jantungku berdegup kencang. Bahkan buliran keringat turut menyertai kepanikanku. Aku sangat khawatir akan kondisi ibu mertuaku. Langkahku terseok tatkala menuruni tangga. Sungguh hati-hati namun tetap dalam kondisi gugup.
"Kita harus kuat ya, Nak," gumamku menguatkan diriku dan buah hati didalam kandunganku.
"Mbak Fanni?" Suara Bi Onah tiba-tiba mengejutkanku sampai aku berhenti. "Mbak Fanni mau kemana? Saya bisa belikan, kalau butuh sesuatu."
"Mama sakit, Bi. Aku harus ke tempat Mas Arlan. Tolong jaga rumah dan selli ya, Bi."
"Eh? Tapi, Mbak Fanni kondisinya belum stabil lho? Tenang dulu, Mbak. Bisa-bisa malah diomelin sama Den Arlan."
"Maaf, Bi. Ini darurat, aku harus cepat. Assalamu'alaikum."
"Wa-wa'alaikumssalam. Ya Allah, hati-hati, Mbak."
Aku meninggalkan Bi Onah setelahnya. Meski aku tahu, beliau masih mengawasiku dari belakang, bahkan mengikuti langkahku. Ya, Bi Onah mungkin merasa tidak tega dengan kondisiku yang sedang lemah ini. Namun nyawa ibu mertuaku saat ini lebih penting. Aku takut terjadi sesuatu, bahkan beliau belum sempat bertemu dengan Mas Arlan dalam kurun waktu satu tahun lamanya.
"Uh ... aku harus kuat. Tahan ya, Nak," ujarku. Kuakui diri ini masih sangat lemas sekali. Dengan hati-hati, aku melangkah masuk ke dalam mobil merahku yang masih ada dan sangat terawat. Perlahan namun pasti, aku melajunya untuk menuju kantor suamiku sesuai alamat yang aku ingat.
Bersambung ...
Ayo budayakan lagi like+komennya. makin sepi bae hehe.
Yuk curcol masa2 dalam mengandung sang buah hati.
DAN TERUNTUK YANG BELUM SEMOGA DISEGERAKAN YA . AMIN
__ADS_1