
Pagi hari, aku sudah dibuat merinding. Rumah ini tiba-tiba didatangi oleh beberapa orang. Tepatnya saat aku dan keluargaku masih sarapan pagi pada pukul setengah tujuh. Siapa? Ya, Nia. Ia bahkan membawa sang ibu dan satu orang wanita lagi. Mereka menyelonong masuk tanpa memperdulikan larangan dari Pak Edi--tukang kebun kami. Hal itu membuat kami tersentak karena keributan di luar sana, bahkan para tetangga.
Lantas, kami menghentikan acara sarapan sejenak dan keluar untuk memastikan. Dan seperti yang aku katakan bahwa yang datang adalah Nia dan keluarganya. Apa maksudnya? Itulah pertanyaan yang pertama kali muncul dalam benakku. Tatapan kebencian dari ketiga wanita itu sangat membuat kami terganggu. Mas Arlan pun langsung menggendong Selli dengan erat.
"Eh, cucu cantik Nenek, sini Selli sayang," ujar ibu dari Nia sembari melebarkan lengan tangan untuk menerima tubuh Selli.
"Nenek? Nenek siapa ya?" tanya Selli bingung. Tampaknya ia sudah lupa akan rupa sang Nenek dari pihak ibunya.
"Apa ini? Tidak akan kuserahkan putriku!" tegas Mas Arlan dengan penuh keheranan. Ia bahkan mundur ke belakang demi menghindarkan Selli dari wanita tua itu. "Ini masih pagi, tidak pantas kalian mengganggu ketenangan keluarga kami!"
Ibu dari Nia memajukan langkah, beliau yang sedari tadi berusaha merayu Selli. Kini beliau menghentikanny seketika mendengar pertanyaan dari Mas Arlan. "Arlan ... jaga nada bicaramu. Mau bagaimana pun saya adalah ibu mertua kamu dan nenek dari Selli," jawab beliau.
What?! Ibu mertua?
Aku yang mendengar jawaban dari ibu dari Nia begitu merinding. Tanpa perasaan malu, beliau masih menyebut diri sendiri sebagai ibu mertua dari suamiku. Anak dan ibu tampaknya sama saja, serakah! Seperti tidak mau menghargai bahwa aku disini sebagai istri sah dari Mas Arlan.
"Maaf, Tante Reni. Saya sudah lama bercerai dengan anak anda!" tegas Mas Arlan lagi. Satu tangannya merengkuh diriku.
"Tapi, kamu tetap anak mantu saya, Arlan."
"Bukan, tolong berlaku sewajarnya saja. Saya dan Nia sudah bercerai. Sekali lagi, sudah bercerai!"
Ibu dari Nia yang aku rasa bernama Ibu Reni itu kini menghela napas dalam dan mengembuskannya. Tampak raut kecewa pada wajah beliau yang sudah keriput seperti ibuku. Tatapan mata beliau kembali tajam dan diarahkan kepadaku. Judes, sinis, benci, berikut rasa yang tersemat dalam hati beliau terhadapku.
Bukan dari Ibu Reni saja, melainkan Nia dan mungkin saudara perempuannya, aku belum tahu. Iri, sudah pasti perasaan itu yang tersemat dalam hati mereka terhadap diriku yang mendapatkan Mas Arlan. Terlebih jabatan Mas Arlan sudah lumayan tinggi seperti sedia kala. Meski bukan pemilik perusahaan, gaji suamiku sudah terhitung diatas rata-rata. Bahkan, Pak Ruddy sudah memberikan beberapa persen saham dari Sanjaya untuk Mas Arlan sebagai penghargaan.
"Abaikan mereka, Ma. Selli adalah fokus kita." Nia berucap sembari menyentuh kedua bahu dari sang ibu.
Apa maksudnya, fokus dengan Selli?
Ibu Reni tampak menghela napas lagi, panjang sekali. "Baiklah, apa kalian tidak ingin mempersilahkan kami untuk masuk? Kami adalah tamu. Bila kamu sudah tidak menghormati saya sebagai seorang mertua, setidaknya hormati saya sebagai Nenek dari anak kamu, Arlan."
"Ck!" Mas Arlan tampak sudah malas. Namun, apa yang sudah diucapkan oleh Ibu Reni memang tidak ada titik kesalahan. Mereka adalag tamu, lebih tepatnya adalah tamu yang tidak diundang!
Dalam beberapa saat, Mas Arlan masih diam, mungkin ragu. Kemudian, ia menatapku dengan maksud meminta saran dariku. Posisi kami yang ada di gerbang rumah, membuat kami menjadi sorotan warga sekitar yang tengah berlalu lalang. Sampai akhirnya, aku bersedia mengizinkan mereka bertiga untuk masuk ke dalam rumah ini.
"Ya sudah, silahkan masuk," ujar Mas Arlan selanjutnya.
Tak lama setelah itu, ketiga wanita itu berbondong-bondong untuk masuk ke dalam rumah kami. Bahkan, nyaris tidak ada rasa malu sedikit pun. Apa satu keluarga memang bersifat buruk seperti itu? Yah, kata pepatah kemungkinan memang benar bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Namun, aku berharap Selli tidak akan mewarisi sifat sang ibu.
Rencana hendak berangkat bekerja bagi Mas Arlan kini tertunda, bahkan Selli tidak jadi berangkat sekolah. Mau bagaimana lagi, insiden terjadi pagi ini. Tanpa bisa kami kendalikan sama sekali. Aku malah bersyukur, setidaknya aku tidak menghadapi mereka dengan tanganku sendiri.
Lalu, Bi Onah dengan sigap sudah mengantarkan beberapa gelas yang berisi teh hangat. Walau sebenarnya aku sangat enggan untuk menyediakan hidangan kepada keluarga itu, bahkan kalau bisa air putih tidak akan aku keluarlan. Namun, semua sudah terlanjur Bi Onah sajikan. Sebal!
"Jadi, maksud Tante dan keluarga datang kemari untuk apa?" tanya Mas Arlan sesegera mungkin. Aku rasa, ia sudah tidak tahan jika harus berbagi oksigen dengan mereka semua.
"Tidak bisakah kamu mempersilahkan kami untuk minum sejenak, Arlan?" tanya wanita yang sejak tadi belum aku ketahui siapa namanya.
"Saya tidak suka berbasa-basi, Alla."
__ADS_1
Arra? Adiknya Nia, kah?
"Hmm ... semakin sombong saja dirimu, Arlan. Padahal dulu kita begitu dekat, sebagai kakak dan adik ipar. Sekarang, kamu sungguh tidak sopan."
"Seandainya waktu bisa diputar kembali, maka saya akan menarik segala rasa hormat saya terhadap kalian semua. Keluarga licik!"
Nia spontan medangakkan kepala. Bahkan, ia berdiri dari duduknya. Tampaknya, ia tidak terima akan pernyataan dari Mas Arlan. "Cukup, Arlan! Licik katamu?! Kamu yang bodoh, bukan kami yang licik!"
Mas Arlan tersenyum, bukan! Ia menyeringai dalam menanggapi ucapan mantan istrinya. "Saya memang bodoh, Nia. Tapi, saya bisa bangkit kembali dan tidak seperti dirimu yang sudah bangkrut dan jatuh miskin!"
"A-apa?! Bah! Baiklah, itu merupakan suatu penghinaan untuk diriku. Tapi, bisakah kamu ingat bagaimana kita menghabiskan waktu di atas ranjang bersama-sama, Arlan? Kamu begitu mencintaiku saat itu. Seharusnya kamu malu untuk mengucapkan kata itu untukku."
Deg! Gila! Mengapa harus membawa-bawa urusan ranjang dimasa lalu? Untuk membuat telingaku panas, kah? Sebagai istri kedua setelah perceraian Mas Arlan dengan Nia, tentu saja hal itu membuat telingaku panas seketika, bahkan ubun-ubunku terasa mendidih. Aku hanya bisa mengepalkan telapak tanganku sekencang mungkin supaya tidak kehilangan kendali atas emosiku. Jika tidak seperti itu, maka aku bisa mengamuk seperti sapi perah yang kehilangan akal.
Aku juga perlu menjaga mental Selli yang berada disini. Gadis kecilku itu, kini tengah meringkuk diam didalam pelukan Mas Arlan. Aku rasa, ia tengah bingung dan ketakutan. Ia terlalu kecil untuk menghadapi ini semua. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk mencari keberadaan Bi Onah tanpa beranjak pergi. Beruntungnya, Bi Onah tengah mengintip cemas ke arah sini. Lantas, aku memberikan isyarat supaya beliau mengambil dan membawa Selli.
"Mau dibawa kemana cucu saya?!" Ibu Reni berdiri dari duduknya pada saat Bi Onah meminta tubuh Selli dari Mas Arlan.
"A-anu, Nyonya. I-itu, sa-" ucapan Bi Onah terpotong lantaran Mas Arlan menghalau beliau untuk naik ke atas tanpa memperdulikan pertanyaan tidak penting dari Ibu Reni.
"Arlan! Apa maksud kamu?! Saya datang kesini untuk Selli, cucu saya!"
Mas Arlan kembali memberikan seringai tajam. "Untuk Selli? Anda kemana selama ini? Saat kami jatuh, saat anak anda mengkhianati saya?"
"I-itu. Saya ... saya tidak mau ikut campur urusan kalian saja."
"Hahaha." Mas Arlan terkekeh, keras sekali seolah memekikkan telinga semua orang yang ada disini. "Wah! Alasan macam apa itu? Lalu, sekarang? Tidak ikut campurkah, Tante?"
"Bukan saya tidak menghargai. Tapi, saya berlaku seperti yang kalian lakukan terhadap saya. Menghancurkan hidup saya dan Selli saat itu. Bayi kecil yang tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu sama sekali. Kejam sekali, bukan? Rasanya kalau kembali diingat, saya ingin membakar rumah kalian. Yaaa, tapi saya bukan manusia sejahat itu."
"Cara bicaramu sungguh seperti seorang perempuan, Arlan! Dimana rasa hormatmu terhadap saya seperti sedia kala? Apa istri barumu yang jelek ini membuatmu kehilangan akal sehat?"
Lah, kok gue? Asem! Kena lagi gue dah!
Ngeyel, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sikap Ibu Reni. Beliau sangat membanggakan usia yang sudah tua dan ingin sekali disegani. Namun, tampaknya Mas Arlan sudah sangat geram. Entah, apa yang membuatnya berlaku demikian. Aku hanya mengetahui cerita seputar Nia dan bukan keluarganya.
Dan lagi-lagi, seorang Fanni harus dibawa-bawa. Padahal aku adalah orang baru yang tidak terlibat dalam masalah masa lalu itu. Lalu untuk apa? Iri terhadapku? Ya, mungkin seperti itu. Lalu, tanpa mau memperkeruh suasana, aku hanya terdiam. Bukan berarti aku masih takut, melainkan tidak ingin mempersulit Mas Arlan. Hanya bola mataku yang kerap kali berputar sinis tatkala menanggapi tatapan dari salah satu dari mereka.
"Arlan! Cukup! Hentikan penghinaanmu tentang ibuku!" tegas Nia kemudian. Oh ... ternyata ia masih memiliki rasa tidak rela jika ibunya dihina. Tapi, mengapa tega membuang anaknya? Parah!
"Saya tidak menghina, Nona Nia. Saya hanya berucap sesuai fakta yang ada." Mas Arlan tak sekalipun gentar dalam menanggapi setiap ucapan Nia. Ia lebih tenang daripada sebelumnya. Ya, cara tenang adalah cara yang paling tepat. Pelan namun cukup menusuk batin mereka.
"Kami hanya ingin Selli, kami memiliki hak untuk Selli. Aku ibunya! Tidak bolehkan aku merawat anakku?!"
Mas Arlan menggeleng, ia tetap menolak. "Tidak pantas, Nia. Untuk apa? Untuk mendaftarkan Selli ke dalam dunia hiburan?"
"A-apa maksud kamu?"
"Heh! Anda pikir anda siapa? Saya pimpinan perusahaan dari Sanjaya dan anak dari petinggi perusahaan Harsun. Dua perusahaan yang sempat anda adu domba demi uang. Tapi, otak saya tetap pintar. Mencari info seputar orang tidak penting seperti Nona Nia ini sangatlah mudah!"
__ADS_1
"Lalu? Maksud kamu, aku datang untuk mengambil Selli demi hal itu?"
Mas Arlan mengangguk. Keadaan semakin menegang. Tatapan kedua insan yang pernah menjalin rumah tangga ini semakin tajam dan saling dilemparkan. Seolah ada aliran listrik yang muncul ditengah-tengah tatapan kedua insan itu. Bahkan, keduanya tidak lagi duduk melainkan berdiri.
Sedangkan wanita yang bernama Alla sibuk menahan Ibu Reni supaya tidak ikut termakan emosi. Apa faedahnya? Mereka bertiga berbondong-bondong datang ke rumah ini untuk apa? Wanita-wanita ini tidak cukup kuat dalam melawan Mas Arlan. Terlebih, hukum sudah menyerahkan hak asuk atas Selli kepada Mas Arlan.
"Serahkan cucu saya, Arlan! Selli adalah cucu saya! Belum puaskah kamu menyembunyikan Selli dari saya--Neneknya?!" Ibu Reni kembali memberikan penegasan. Beliau ingin Selli dan Selli. Aku sampai geram.
"Selli adalah anakku wahai Nenek Reni! Aduh, kalian ini lho. Pagi-pagi udah ngajak ribut, malu sama tetangga. Sarapan apa sih? Granat? Ya ampun, kalau pada jantungan gimana dong? Udah, udah mending pulang deh," jawabku dengan lantang namun masih terkesan santai.
"Tahu apa kamu! Dasar jelek, gendut!"
"Yee ... gendut, jelek, gendut, jelek. Mending lho saya gendut, berisi, sexy. Daripada udah keriput, nggak tahu diri lagi. Udah dilepeh kok masih mau dijilat lagi. Ya Allah, hmm ...."
"Pft ... hahaha." Mas Arlan tertawa tergelak. Mungkin ia merasa geli akan ucapan dan tingkahku. Bahkan, setelah mengucapkan kalimat itu, aku sempat menjulurkan lidah guna mengejek Ibu Reni.
Oh ... gue udah pantes jadi emak-emak julid apa belum ya?
Aku berharap Tuhan bisa memaafkan diriku lantaran sudah sangat kurang ajar terhadap orang tua. Niat hati ingin bertahan dalam diamku malah kini sudah tidak bisa. Dan sekali melangkah, maka aku harus meneruskannya. Seperti caraku di beberapa hari yang lalu, tepatnya dihadapan Nia.
Tanganku melingkar di pinggang Mas Arlan. Sedangkan, kepalaku jatuh manja didalam pelukannya. Beruntung, Mas Arlan sangat peka dan menangkap maksud hatiku. Bukan hanya membelai kepalaku, bahkan Mas Arlan mengecup beberapa kali di keningku. Dunia ini sudah seperti milik kami berdua. Tidak peduli sedikit pun adanya mereka bertiga. Namun jujur, aku sebenarnya sangat malu. Tapi, mau bagaimana lagi.
"Cih! Masih pakai cara itu? Tidak mempan, bahkan kalian terlihat seperti orang gila," ujar Nia sembari bergidik jijik terhadap kami.
"Lebih gila siapa? Antara kemesraan kami dengan tamu yang tidak diundang, mengemis anak kami yang sudah tidak bersedia ikut dengan Tante Nia?" balasku sengit.
"Kamu ini sudah gendut, jelek, kulit merah macam pig. Ternyata masih berani melawan ya? Nggak sadar diri banget ya?" Alla bahkan maju ke depan membela Nia dalam melawan ucapanku.
Mas Arlan menghentikan niat bicaraku dengan meletakkan jari telunjuknya di bibirku. "Udah, Dek. Mereka keluarga yang kurang bahagia. Makanya berusaha melawan kemesraan kita."
Hal itu semakin membuat ketiga wanita itu semakin geram. Mungkin hatinya semakin panas. Apa faedahnya? Jika aku jadi mereka, aku akan diam di rumah dan tidak berani datang ke rumah ini. Maksud Nia membawa sang ibu demi menarik Selli akhirnya kembali sia-sia. Malah semakin mempermalukan anggota keluarganya. Dan aku yakin, kini ia tengah kebingungan untuk merencanakan apa lagi.
"Sialan kalian!" Lagi-lagi Ibu Reni mengeluarkan emosi. "Tidak ada sopan santunnya terhadap saya. Saya orang tua! Saya neneknya Selli! Apa yang salah jika saya ingin bertemu?!"
"Tidak ada yang salah, Tante. Saya akan mengizinkan jika kalian tidak berencana sesuatu. Selli adalah anak saya. Baiklah, dengan Nia. Tapi, saya adalah ayah yang bahkan menjadi ibu untuknya. Saya tidak akan membiarkan siapapun untuk mengambil Selli, bahkan yang berniat memanfaatkannya. Jadi, silahkan pergi kalian semua dari sini."
"Ka-kamu, kamu berani mengusir saya, Arlan? Saya ibu mertua kamu Arlan. Tidakkah kamu ingat tentang kedekatan kita dimasa dulu?"
"Pergi."
"Arlan?"
"Pergi!!!"
"Sialan! Awas saja kalian! Saya akan tuntut kalian. Saya akan tuntut karna sudah memisahkan seorang anak dari ibu dan neneknya!"
Alla membawa Ibu Reni untuk keluar dari sini. Namun, sumpah serapah terus diucapkan sampai pintu keluar. Hanya Nia yang tersisa dihadapan kami. Entah apa yang ada di otaknya sekarang.
"Kamu yang tahu tentang hidupku, Arlan. Seharusnya, seharusnya kamu tidak setega itu terhadap ibuku. Kamu tahu hidupku, Arlan. Seharusnya cukup aku saja yang kamu permalukan." Nia berucap sembari meneteskan air mata. Aku terdiam bingung, ada apa sebenarnya tentang dirinya?
__ADS_1
Bersambung ...
Budayakan tradisi like+komen