Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Permohonan


__ADS_3

****


"Dimana Tante Dahlia dan si kembar, Pa?" Riska menanyakan tentang keberadaan mereka. Pertanyaannya kepada Mas Gunawan--sang ayah mampu mewakili rasa penasaranku tentang hal ini.


Mas Gunawan tertunduk lesu setelah mendengar pertanyaan dari Riska. Suasana menjadi hening, meski kami sudah berada di ruang meeting untuk anggota keluarga. Ada apa? Itulah pertanyaan yang sekali lagi muncul dari dalam benakku. Undangan makan malam yang tiba-tiba, lalu tanpa hadirnya keluarga Roby--adik iparku serta Nyonya Dahlia dan kedua putrinya.


Kami hanya terdiri dari orang-orang dewasa, kecuali Nyonya Gunawan yang telah membawa Selli bermain di suatu ruangan. Tidak ada lagi kelakar yang tercipta. Bahkan suamiku yang biasanya bertingkah konyol, kini memilih diam. Celvin pun begitu. Demi menunggu jawaban dari Mas Gunawan, kami benar-benar tidak berani berkata sedikit pun. Pertanyaan dari Riska juga belum dijawab dalam beberapa saat.


Tak lama kemudian, Mas Gunawan terlihat sedang menghela napas dalam-dalam. Beliau menatap kami satu persatu. Namun, aku bisa menangkap suatu keraguan yang terpancar di wajah beliau. Aku tidak tahu, tapi itulah perasaanku. Suasana makan malam yang tadinya lumayan hangat, kini berubah menjadi keadaan yang menegangkan di ruang pertemuan keluarga ini.


"Baiklah, saya akan memulainya," ujar Mas Gunawan kemudian. "Sebelumnya saya mohon maaf jika terkesan lancang karna telah mengundang kalian semua. Kalian yang pernah saya sakiti, saya benar-benar minta maaf."


"Ada apa, Mas? Jangan membahas hal itu lagi," jawab Mas Arlan.


Riska pun tidak tinggal diam. "Semua sudah berlalu, Pa. Aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi. Namun, aku juga belum bisa kembali ke rumah ini dan juga perusahaan," ujarnya.


Tidak ada lagi bahasa santai yang bisa mengakrabkan sebuah hubungan. Semua orang berbicara dengan formal bak tidak pernah bertemu. Suasana macam apa ini? Mungkin jika aku atau Celvin yang berucap baku bisa terlihat lebih pantas, lantaran kami berdua terhitung masih orang asing. Oh, jangan tanya statusku sebagai seorang menantu keluarga Harsono, sepertinya aku belum pantas mengakuinya meski sudah menikahi salah satu anggotanya. Malangnya seorang Fanni, ya seperti ini.


"Dahlia tengah sakit keras." Jawaban Mas Gunawan mengenai Nyonya Dahlia membuat kami terkejut bukan kepalang. Bagaimana bisa Nyonya tengil itu sakit dan disertai kata keras? Aku sampai memandang tanya ke arah Mas Arlan.


"A-apa maksudnya, Mas?" timpal Mas Arlan kemudian.


Mas Gunawan menundukkan kepala. "Ya, Arlan. Dahlia sedang dirawat intensif di rumah sakit besar."


"Tapi, kenapa, Pa? Bukannya sehat-sehat aja ya dia?!" Bahkan Riska menimpali lagi dengan pertanyaan tegas. Mungkin ia sama terkejutnya denganku.


Mas Gunawan menatap sang putri dengan tajam. Hal itu membuat Riska sedikit gelagapan. Riska yang kurang tenang tampak dinasehati oleh Celvin. Aku yang tidak mengerti apa-apa hanya berusaha diam, daripada membuat suatu kesalahan. Meski, sejatinya aku teramat penasaran mengenai penyakit yang diderita Nyonya Dahlia.


"Jaga ucapan kamu, Riska. Dahlia tetap tantemu, Nak. Sedikit sopanlah padanya." Mas Gunawan berucap selembut mungkin kepada Riska. Aku tahu, mungkin beliau tidak ingin membuat sang putri kembali kecewa. Sedangkan disatu sisi, aku paham bahwa Riska sangat tidak menyukai Nyonya Dahlia.


Riska menunduk. "Maaf, Pa. Aku terlalu terkejut," jawabnya.


"Jadi, apa yang menyebabkan Tante Dahlia sakit, Om? Ma-maaf kalau agak lancang." Akhirnya Celvin turut memastikan tentang penyakit yang diderita oleh Nyonya tengil itu.


"Tak apa. Tapi, ini memang ada kaitannya dengan kalian berdua, tentang pergelaran pernikahan kalian yang terpaksa diundur. Kita tidak bisa bersenang-senang diatas penderitaan salah satu adik ipar saya," jelas Mas Gunawan. Tentang rencana pernikahan Riska dan Celvin? Oh, ternyata mereka sudah sejauh ini. Namun, ujian datang menerpa sebelum itu terjadi. Sangat disayangkan sekali.


Raut kekecewaan tampak terlihat di wajah Riska. Sepertinya, ia merasa sangat tidak senang atas keputusan sang ayah. Disisi lain, ucapan Mas Gunawan memang ada benarnya. Tidak mungkin pernikahan digelar pada saat salah satu anggota keluarga beliau tengah menderita, bahkan katanya sakit keras.


"Bentar, bentar, sebenarnya Mbak Dahlia sakit apa, Mas?" tanya Mas Arlan menyela.


Mas Gunawan berdeham pelan. Beliau mengalihkan pandangan dari Riska kepada Mas Arlan sembari memberikan jawaban, "kanker paru-paru, Arlan. Sudah stadium tiga."


"Astaghfirllah!" Aku terpekik karena jawaban itu. Bagaimana bisa, sampai separah itu? Pertama dan terakhir aku bertemu Nyonya Dahlia, beliau terlihat sangat sehat. Lalu, kanker paru-paru? Bagaimana itu terjadi? Memangnya beliau pecandu nikotin?

__ADS_1


Bukan hanya diriku, semua orang yang ada disini sangat terkejut. Riska yang tadinya merasa kecewa, kini lebih ke terperanjat tidak menyangka. Bak disambar petir disiang bolong, ujian datang lagi didalam keluarga Harsono. Meski aku tidak menyukai Nyonya Dahlia, tetap saja aku manusia yang masih memiliki hati nurani sekaligus rasa iba.


Mas Arlan yang sejak tadi berada di sampingku terdengar menghela napas. "Kok bisa? Kanker paru-paru? Emangnya Mbak Dahlia per*kok?" tanyanya lagi.


Mas Gunawan menggelengkan kepala. Beliau mengecap bibir, kemudian berkata, "kami tidak tahu. Namun, selepas masuknya Dian ke penjara, Dahlia sudah sangat stress. Dahlia terlalu mencintai kakakmu, Arlan."


"Kalau benar itu alasannya, bukannya terlalu cepat untuk menyebabkan penyakit itu, Mas? Nggak wajar lho, kecuali kalau Mbak Dahlia sudah dari lama melakukan hal itu."


Riska menimpali, "benar, Om. Tapi, saat masih tinggal disini, beberapa kali aku memergoki Tante Dahlia sedang mer*kok. Riska rasa, beliau udah lama melakukan hal itu."


"Oh ya? Om nggak pernah lihat selama masih disini."


Celvin menyela, "bisa jadi kalau sedang banyak pikiran saja, Om."


Mas Arlan manggut-manggut pada saat mendengar dugaan-dugaan itu. Menurutku pribadi, hampit sama seperti Celvin. Melihat dari sikap tempramental dan juga kebusukan Nyonya Dahlia, tampaknya hal itu bukan hal aneh untuk dilakukan oleh beliau. Terlebih saat sang suami sedang mendekam di penjara. Pasti beban pikiran, rindu dan kesepian datang menghampiri hati beliau. Miris.


Sejenak semua menjadi hening. Bingung serta prihatin menjadi rasa hati dimasing-masing insan yang berada disini. Aku rasa, tidak hanya hal ini yang akan disampaikan oleh Mas Gunawan. Entah apa, yang pasti aku merasa masih ada. Entah, aku yang sok tahu atau bagaimana, namun itulah pradugaku.


Tiba-tiba saja, Mas Arlan menggenggam telapak tanganku. "Kalau udah capek, kamu cari tempat istirahat aja, Dek ...," bisiknya kepadaku.


Aku menggelengkan kepala. "Belum, Mas. Nggak usah khawatir, nanti aku pergi kalau udah capek ...," jawabku sama pelannya.


"Hmm ... ya udah, Dek. Makasih ya."


"Kamu tidak bersalah, Arlan. Saya yang bersalah. Namun ... apa boleh saya meminta satu permohonan pada kalian?" Benar seperti dugaanku sebelumnya. Ada sesuatu yang mungkin akan disampaikan oleh kakak iparku tersebut. Kini tinggal menunggu apa yang hendak disampaikan sebagai permohonan. "Untuk Riska dan Celvin. Papa minta maaf, lagi-lagi harus menunda maksud baik dari kalian berdua," lanjut beliau.


Riska sedikit mengangkat kepalanya. Kemudian ia memberikan jawaban, "Riska ngerti, Pa."


"Saya akan menyampaikan kabar penting sekaligus prihatin ini kepada ayah saya, Om. Saya pikir, beliau bisa mengerti," sambung Celvin.


Aku tahu hal itu tidak cukup mudah untuk diterima oleh Celvin dan Riska. Notabene-nya mereka sudah berjuang untuk bersama sejak lama, bahkan dari satu tahun lebih ke belakang. Apa ini yang dinamakan ujian sebelum pernikahan? Namun, bukannya sangat menyiksa? Dulu, hubungan mereka ditentang habis-habisan. Bahkan sudah terpisah selama beberapa tahun. Dan kini? Mereka tetap belum bisa bersama karena penyakit Nyonya Dahlia. Semoga mereka tetap bersabar dan menemukan kebahagiaan disuatu hari nanti.


"Arlan, Celvin, Riska, serta Nona Fanni, apa boleh saya meminta satu permohonan?" Mas Gunawan telah berdiri, dan bertanya demikian.


"Bicara saja, Mas. Kami bisa membantu kalau memang bisa," jawab Mas Arlan.


"Terima kasih. Kamu memang adik saya yang paling pintar, Arlan. Terima kasih juga karna telah turut membantu anak saya--Riska."


"Hal itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai pamannya, Mas. Tak perlu sungkan lagi."


"Entah akan kedengaran tidak tahu diri atau bagaimana. Tapi ini suatu permintaan yang menyangkut Dahlia. Saya juga meminta maaf kepada Nona Fanni yang sempat dibuat tidak nyaman oleh adik ipar saya itu."


Aku terkesiap seketika. "Em, ah, ya, sa-saya sudah memaafkan sejak dulu. Saya juga bersalah."

__ADS_1


Mas Gunawan tersenyum sekilas setelah mendengar jawaban dariku. Namun, apakah aku memang tidak cukup pantas untuk dianggap sebagai seorang adik ipar? Sampai saat ini, beliau selalu menggunalan embel-embel nona sebelum menyebut namaku. Hal itu sangat membuatku terganggu sekaligus tidak nyaman. Bahkan, aku sampai bingung harus memanggil kakak iparku tersebut menggunakan sebutan macam apa. Jika aku memanggil beliau dengan kata Mas Gunawan, aku takut diriku malah dianggap sok akrab. Menyebalkan sekali, bukan?


Sudahlah, tampaknya aku harus bersabar tentang hal itu. Karena bisa saja, beliau masih enggan dan canggung terhadapku, atau karena kami jarang sekali bertemu. Meski setelah meninggalnya mendiang ibu mertuaku, beliau sempat lebih ramah kepadaku. Yah, aku tidak ingin terlalu terbawa perasaan. Hidupku sudah cukup sulit, terlebih ancaman dari Nia masih belum selesai.


"Lalu, apa permintaan itu, Mas?" tanya Mas Arlan lagi. Tampaknya, ia sudah tidak sabar ingin mengetahui hal tersebut dari Mas Gunawan.


"Saya ingin, kalian membantu mengeluarkan Dian dari dalam penjara." Jawaban dari Mas Gunawan teramat sangat mengejutkan. Kami semua tidak menyangka jika permohonan beliau berkaitan dengan Mas Dian yang sudah tega memfitnah suamiku. Ingin sekali aku menentang, namun aku hanya bisa mengepalkan kedua telapak tanganku secara diam-diam demi menahan emosi.


Riska tiba-tiba berdiri dari duduknya. Bahkan, ia mengabaikan perkataan Celvin supaya lebih tenang. Tatapan Riska begitu tajam, dendam kesumat di hatinya, tampaknya belum hilang secara sepenuhnya. "Tidak akan!" tegasnya.


Mas Gunawan tentu saja sangat terkejut tentang respon dari Riska. "Tenang dulu, Nak. Dengarkan penjelasan dari Papa dulu," ujar beliau.


"Tidak akan! Jadi, ini? Papa mengundang kami yang tidak penting ini untuk mengeluarkan dia?!"


Celvin ikut berdiri. Ia memegang kedua bahu Riska dari belakang sembari berkata, "tenang dulu, Ris. Jaga ucapanmu didepan orang tua sendiri."


"Nggak, Vin! Ini keterlaluan banget nggak sih?! Pernikahan kita dibatalin, terus ngundang kita buat sesuatu yang nggak wajar ini?! Apa maksud Papa? Papa hanya membutuhkan kami saat genting seperti ini? Ck! Nggak masuk akal."


Mas Arlan tidak tinggal diam. Ia berdiri dari duduknya. Namun sebelum ikut dalam situasi tersebut, ia memberikan intruksi supaya aku tetap duduk. Aku kagum, dalam keadaan seperti inipun, Mas Arlan tetap perhatian terhadap diriku. Terima kasih kuucapkan dalam hatiku dan tentunya untuk dirinya.


"Tenang dulu, Riska. Jangan emosi, kita dengarkan dulu penjelasan dari ayahmu." Mas Arlan bersikap sebijak mungkin dalam pertentangan ayah dan anak tersebut. "Mari kita duduk kembali, supaya lebih tenang."


"Enggak, Om! Apa Papa lupa, gimana bukan! Bagaimana pria tua itu memfitnah Om Arlan?! Merendahkan diriku, meskipun sudah rusak, tapi itu tidak benar. Lalu, anak laki-lakinya telah dibiarkan begitu saja. Perusahaan pailit, penggelapan dana. Lalu, mencoba menyingkarkan Riska dan Om Arlan. Apa ini, Pa?"


"Riska! Duduk dulu," tegas Celvin. Dan itu berhasil. Tampaknya Riska sudah benar-benar menjadi budak cinta untuknya. Riska menarik kursi dengan kasar dan duduk disana.


Tidak hanya Riska, semua yang sedang berdiri juga sudah terduduk dimasing-masing kursi. Menurutku, memang agak tidak wajar. Masa tahanan bagi Mas Dian, bahkan belum ada satu tahun. Kami para keluarga juga belum tentu bisa membebaskan beliau dengan mudah. Beliau ibarat seorang perampok perusahaan yang sangat merugikan. Aku mengerti perasaan Riska yang menentang hal ini. Namun, tidak ada salahnya untuk mendengarkan ucapan kakak iparku terlebih dahulu.


Mas Gunawan mungkin merasa sangat malu. Posisi beliau sebagai kepala keluarga besar Harsono, tampaknya harus memutuskan mengambil langkah ini. Mungkin demi kesembuhan Nyonya Dahlia. Aku sedikit bisa mengerti setelah berusaha memahami. Namun, disisi lain aku tidak terima jika penjahat itu keluar dalam sekejap waktu dari hukuman yang telah ditentukan.


"Mohon maaf, jika hal ini sangat mengejutkan." Mas Gunawan kembali membuka perbincangan menegangkan ini.


"Sangat!" jawab Riska menyindir dengan tegas. Anak itu, sikap gegabahnya tidak berubah. Sikap elegan yang pernah ia tampilkan hanya sebagai penjaga image-nya belaka.


Mas Arlan menghela napas. Kemudian ia bertanya, "ya, benar, Mas. Ini sangat mengejutkan. Untuk apa Mas Gun memohon hal yang dirasa kurang wajar ini?"


"Kalian pasti tahu, penyakit kanker itu separah apa. Saya juga sangat berat memutuskan hal ini. Namun, usia Dahlia terhitung tidak lama lagi. Stadium tiga, sudah sulit untuk disembuhkan. Setiap hari dia hanya memanggil nama Dian. Saya tahu, kami adalah para penjahat. Namun ini tentang nyawa seseorang," jelas Mas Gunawan. "Yang lebih sulit lagi adalah mental Ajeng dan Diandra. Kedua anak itu tengah bersedih hati. Apa bisa kalian mempertimbangkan tentang hal ini?"


"...."


Bersambung....


Like+komen ya. *_*

__ADS_1


__ADS_2