
****
“Terima kasih, silahkan datang kembali,” ujar Fanni kepada pelanggan yang baru saja ia tangani. Kemudian, ia kembali duduk di sofa yang tersaji di sana. Menatap Mita, sembari berkata, “hari ini lumayan, Mit, yang dateng.”
Mita menatapnya dan memberikan semburat senyum tipis. “Alhamdulillah, berarti udah mulai dilirik orang, Fann.”
“Tadi juga, nyokap gue dateng pagi-pagi, kirim roti, sambil rebut anak gue.”
“Loe, enggak enak ya kalau nitip terus?”
Fanni mengangguk. “Enggaklah, Mit. Di sana ada Kak Febi juga, gue enggak enak sama dia juga.”
“Kakak ipar? Gue cukup penasaran sih, dia enggak marah apa, kalau loe bikin bisnis ini sama gue? Padahal kakak ipar loe ada.”
“Enggak tahu, kita enggak deket-deket amat dan gue rasa kakak gue enggak kasih izin kali. Maklum anak dia lagi nakal-nakalnya.”
“Gue cuma ngerasa enggak enak aja haha.”
Fanni hanya membalas ucapan Mita dengan senyuman manisnya. Bahkan, ia tidak pernah memikirkan hal itu. Benar juga, justru anggota keluarganya tidak diajak dalam usaha ini sama sekali. Bertambah lagi rasa tidak enak hati dari dalam sanubari, sudah menitipkan anak dan membuat kakak iparnya seakan disisihkan. Sepertinya, ia akan menghentikan ibunya untuk mengurus Sella mulai dari besok. Lagi pula, tidak mungkin Febi tidak turun tangan dan turut mengurus balita cantik itu.
Namun, apa yang akan ia jadikan alasan untuk itu? Sudah pasti ibunya tidak terima, meski sudah dijelaskan sekali pun perihal keamanan di tempat kerjanya. Fanni juga tidak akan seceroboh itu dalam mengurus sang buah hati. Hanya saja, Bunda Sarita tetaplah Bunda Sarita, mertua dari Arlan itu tidak pernah terkalahkan oleh siapa pun. Tampaknya, Fanni harus berpikir lebih keras untuk memberikan penjelasan.
Memang begitulah kehidupan seseorang, aka nada rasa tidak enak hati ketika berbuat sesuatu yang justru mengutamakan orang lain daripada saudara sendiri. Entah, apakah Febi merasa kecewa atau tidak, yang pasti Fanni tetap merasa sungkan dengan kakak iparnya tersebut. Namun, ia juga sudah tidak bisa mundur dari bisnis salon yang sudah hampir empat bulan dibangun bersama Mita.
“Udah, kagak usah dipikirin,” celetuk Mita kepada ibu dua anak itu. Tampaknya sang setan cantik cukup peka dengan perasaan Fanni sekarang ini. “Itu, kan, hak loe mau bisnis sama siapa.”
“Iya, sih,” jawab Fanni melemah. Namun, ia meninggikan suara lagi. “Tapi, gue bodoh banget sih! Harusnya gue basa-basi gitu dulu, kan?”
“Udah terlanjur, Fann. Mending loe sewa suster lagi aja deh.”
“Mehong, Mita. Gue enggak enak sama suami, masa’ jaga anak aja harus suster-susteran.”
“Ais! Hidup loe serba salah, heran. Ya udah tenang aja, kan gue juga ada, bisa gentian.”
“Masalahnya kalau orang dateng serame hari ini, gimana?”
“Ya, alhamdulillah.”
“Mita!”
“Ya, gimana lagi coba? Ah, asisten rumah tangga loe aja, suruh ke sini. Bantuin jaga doang.”
“Kasihan, beliau udah tua, cukup di dapur aja tugasnya.”
“Hmm … baiklah.”
Entah saran apa lagi yang harus Mita berikan kepada partner kerjanya itu. Memang, jika dipikirkan lagi—posisi Fanni mejadi serba salah. Masalahnya, Sella masih balita yang belum lama ini bisa berjalan, akan bahaya jika tidak diawasi dengan baik. Usia seperti Sella, sedang masa akif-aktifnya dan suka penasaran dengan segala sesuatu. Fanni juga tidakakan setega itu membiarkan sang kakak menunggu. Gadis yang masih duduk di kelas tiga SD itu, pasti sudah sangat letih setelah belajar hampir seharian.
Untuk mencari satu pegawai lagi, tampaknya masih terlalu dini. Penghasilan salon mereka belum meningkat secara pesat, bahkan, masih ada hari-hari di mana tidak ada satu pun pelanggan yang datang. Jika, kondisi sedang ramai—membuat mereka mendadak bingung dengan keberadaan Sella. Apa usaha ini cukup salah untuk diambil oleh orang yang memiliki balita seperti Fanni?
“Udah yuk, makan siang dulu,” ajak Mit karena jam yang sudah hampir mencapai angka dua belas siang.
“Ini tutup?” tanya Fanni.
“Iya, Fann. Biar enak makan siang, habis itu loe mau balik dulu, kan? Kasih susu buat anak?”
Fanni mengangguk. “Iya, ada stok ASI sih, cuma kasihan sama si bayi. Mau makan apa?”
“Ya udah, entar gue anter, tapi enggak mampir, sungkan gue. Nasi padang aja, deh.”
“Hmm … Nona Mita makin lama makin merakyat, ya?”
__ADS_1
“Emang gue bupati?”
“Princess.”
“Gue lebih cantik daripada seorang putri, Fann.”
Fanni memberikan cibiran. “Percaya deh.”
Setelah itu, dua wanita itu bergegas. Mengambil kunci ruko, mobil, juga tas milik masing-masing. Ada rumah makan padang yang selalu menjadi incaran mereka hampir setiap hari. Cita rasa yang menurut mereka sangat enak, membuat keduanya tidak merasa bosan, mungkin karena lauk yang tersaji tidak hanya saru jenis saja.
Mita mengunci pintu salon itu terlebih dahulu. Sedangkan Fanni menunggu di teras ruko itu. Namun, setelah selesai mengunci pintu, gerak kaki mereka justru terhenti. Mobil mewah berwarna hitam mengkilat berhenti tepat di hadapan keduanya. Hati mereka bertanya-tanya, siapa gerangan yang datang? Tampaknya bukan dari kalangan biasa.
Tak lama kemudian, muncul wanita paruh baya. Tubuhnya terbalut setelan blazer dan androk span, penampilannya cukup elegan dengan tas mahal yang tertenteng di tangannya.
“Siapa, Mit?” bisik Fanni kepada sang partner kerja.
Mita mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu. “Entah, paling orang mau nanya alamat doang,” jawabnya.
Wanita itu semakin mendekati Mita dan Fanni, juga salon yang baru saja ditutup karena harus makan siang dalam waktu satu jam. Tatapannya begitu tajam diarahkan secara lekat ke arah Mita. Ia mengamati tubuh Mita dari atas sampai bawah, dan tentu saja membuat si setan cantik merasa tidak nyaman.
“Ada yang saya bantu, Nyonya?” tanya Fanni untuk menyudahi kacanggungan itu.
Wanita itu beralih menatap Fanni, kemudian berkata, “bisa buka lagi salonnya? Saya akan bayar berapa pun untuk hal ini.”
“Maaf, tapi kami sedang istirahat,” timpal Mita. Perasaannya tidak enak dan memilih untuk menolak permintaan wanita itu.
Bukan Riris Namanya, jika tidak bisa mendapatkan yang keinginannya. Ya, istri dari pengusaha terbesar kedua di negara ini yang saat ini datang mengunjungi salon Fanni dan Mita. “Kamu tidak tahu siapa saya?” Mata Riris menatap tajam ke arah Mita, sembari berjalan mendekati wanita cantik itu. "Kamu cukup menarik juga, ya? Tapi, … untuk menjadi pembantu.”
“Nyonya ini siapa? Dan maaf, kata-katany cukup menganggu telinga kami.” Fanni yang tidak nyaman mendengar ucapan Riris, beringsut ke samping Mita.
“Gue tahu siapa dia,” sahut Mita kemudian.
Riris kembali beralih kepada Mita lagi, setelah sebelumnya fokusnya terganggu oleh pertanyaan Fanni. “Kalau kamu tahu siapa saya, seharusnya turuti kata-kata saya, dong. Jarang lho ada orang yang mau datang ke salon kumuh seperti ini.”
Sementara itu, Fanni yang benar-benar tidak mengerti, hanya bisa diam setelah mendengar ucapan Riris terhadap Mita. Ia merasa bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin juga ia biarkan Mita sendirian menghadapi wanita yang asing di matanya.
“Fann, loe balik aja, bawa mobil gue,” ujar Mita kepada Fanni.
Fanni menggeleng. “Mana ada gue tinggalin loe,” jawabnya dengan maksud penolakan atas tawaran itu.
“Aduh! Berabe nih. Lagian ngapain sih nyonya ini dateng ke sini? Gue pikir artis Hollywood terkenal, tak tahunya cuma nenek-nenek doang. Ganggu aja!” Mita sudah tidak bisa menahan segala rasa kesal yang mencuat dari dalam hatinya, terlebih dalam kondisi perut lapar.
Riris terkesiap dengan ucapan Mita. Ia tidak menyangka bahwa pahlawan dari anak tirinya itu lebih berani dari yang diduga-duga, bahkan tidak ada takut-takutnya sama sekali kepadanya. “Sudahlah! Langsung saja, saya ingin kamu agar tidak ikut campur urusan saya dan anak saya. Jangan memberikan pengaruh buruk pada anak saya! Pasti kamu, kan, orangnya?!”
“Apa?” Mita mencibir. “Ah, iya gue. Tadi adpa? Pengaruh buruk? Enggak salah tuh?”
“Tahu apa kamu, hah?!” Riris yang notabene-nya memiliki sifat temperamental, kini sudah sangat muak melihat sikap Mita.
“Tunggu! Ini sebenarnya ada apa dan sekali lagi, Ibu ini siapa?” tanya Fanni.
Riris menatap Fanni. “Panggil saya nyonya, ibu, ibu, kamu pikir saya ibu kamu?!”
Fanni terkesiap. Ia merasa bahwa wanita itu gila. “Lah, memangnya kamu juga majikan saya? Saya aja enggak kenal.”
“Ah, benar sih. Orang-orang miskin mah tidak bakalan tahu orang-orang petinggi.”
Fanni meraih tangan Mita. “Ayolah, Mit, ada yang enggak beres sama nih orang.” Ia memberikan tatapan geli kepada nyonya besar itu.
“Tunggu!” Riris menghalangi laju mereka. “Kamu ini yang siapa? Saya tidak ada urusan sama kamu. Saya ada urusan sama teman kamu, bisa tidak diam dulu?”
Mita melenguh cukup keras, setelah itu ia melipat kedua tanggannya ke depan. Helaan napas ia ambil, sembari menggelengkan kepala. Nenek ini bodoh atau giman, sih? Batinnya. Ia melangkah lebih maju menuju nyonya besar yang ia sebut nenek itu.
__ADS_1
Sikap Mita membuat Riris mundur ke belakang setiap kali kaki Mita bergerak mendekatinya. Dan, hampir saja ia terjatuh karena sudah sampai di ujung tera situ. Ia mendorong tubuh Mita agar bisa mempertahankan posisinya. Namun sayang, tangannya justru ditangkap oleh wanita yang hendak dilabraknya.
Nyonya besar itu berusaha melepaskan cengkeraman tangan Mita yang sama kuatnya ketika menghadapi remaja pembully. “Lepas tangan saya! Dasar kurang ajar!” tegasnya.
Mita tersenyum dan masih mempertahankan tatapan tajam ke arah sang nyonya besar. “Sebelum bertindak, kenali lawan dulu, Nenek …,” bisiknya. Ia menarik kedua tangan Riris dan dilepasnya begitu saja.
Tentu saja, Riris terjungkal ke belakang, sehingga membuat si setan cantik bisa tersenyum lebar penuh kemenangan. Sedangkan, Riris semakin naik pitam. Ia melihat lingkungan sekitar yang saat ini menjadi penonton setia. Ia merasa malu sejadi-jadinya. Detik berikutnya, ia mencoba berdiri.
Fanni yang masih memilik rasa iba terhadap orang tua, kini maju membantunya. Namun siapa sangka, sang nyonya justru menepis tangannya sembari berkata, “jangan sentuh saya!”
Fanni yang belum tahu tentang identitas Riris hanya bisa bergeleng kepala. “Duh … ibu ini,” ujarnya.
Dengan napas yang sudah memburu, bersamaan dengan degupan jantung yang kian tidak beraturan, Riris kembali menghampiri musuhnya yang tengah berdiri santai sembari bersandar di pintu ruko itu. ia mencoba menghela napas dalam untuk membuat dirinya tenang. Ia menyesal karena menghadapi Mita dengan terang-terangan seperti ini, ia berjanji akan merencanakan hal lain lagi.
“Apa?! Lihat-lihat loe!” ujar Mita dengan nada cukup tinggi, tetapi masih terkesan santai sekali.
“Kamu butuh uang berapa?” tanya Riris tak diduga-duga.
“Gue bukan orang miskin.”
“Jangan banyak gaya, bilang saja berapa yang kamu minta. Saya akan beri dan setelah itu, menghilanglah dari hadapan putriku.” Riris mengupayakan supaya ucapannya tidak didengar oleh siapa pun.
Mita tampak sedang berpikir. Hal itu membuat Riris semakin yakin, hanya dengan uang orang-orang akan tunduk dengan dirinya. Tidak peduli tentang nominal yang diinginkan Mita, ia akan tetap memberikannya agar wanita itu pergi dari hadapan Jelita.
Di belakang mereka, ada Fanni yang mencoba memberikan isyarat. Namun sayangnya, Mita tidak melihat. Entah masalah apa yang menjadi alasan di balik kejadian ini, ia tidak mau jika partner kerjanya itu menjadi kalap oleh materi. Karena Mita yang tidak segera memberikan jawaban, ia berusaha mendatanginya.
“Uang ya?” tanya Mita lagi, sebelum Fanni bicara kepadanya.
Riris mengangguk mantap. “Katakan berapa maumu dan menghilanglah dari hadapan putri saya,” jawabnya dengan penuh harap.
Mita tersenyum manis, lalu menjadi sinis, pada akhirnya menjadi tawa yang terbahak-bahak. “Gue punya uang banyak, Nek! Enggak usah dikasih, gue udah bisa cari sendiri.”
Riris terkesiap. Namun setelah itu, ia masih berusaha membujuk Mita. “Jangan munafik, uang dari salon abal-abal seperti ini, memangnya cukup buat hidup kamu?!”
“Lho? Nenek enggak tahu, ya?”
Dahi Riris mendadak mengernyit. “Saya tidak mau tahu tentang kamu, tidak ada gunanya.”
“Cihh! Tidak tahu kok tiba-tiba datang ke sini. Sok-sokan ngelabrak lagi. Heh!” Mita mendorong pundak Riris. “Saya ini adiknya Celvin Hariawan Sanjaya.”
Riris tertawa. “Jangan mengada-ada, Tuan Celvin itu anak tunggal.”
“Oh iya ya, saya lupa. Tapi, enggak ada salahnya kali jadi adik angkat.”
Riris menelan ludah seketika. Ia memang tidak tahu mengenai hal ini, tetapi ia berpikir bahwa tidak mungkin sembarang orang bisa mengaku-ngaku seperti itu. Kini, ada rasa curiga mengenai identitas Mita. Apa benar dia adik angkatnya Tuan Celvin? Batinnya.
“Masih enggak percaya? Mau bukti?” Mita mengeluarkan ponselnya. Memainkan ibu jarinya di atas benda itu. “Nih,” ujarnya sembari menunjukkan foto masa kecilnya bersama Celvin, ia dan sang kakak angkat sedang dipangku oleh Ruddy Hariawan Sanjaya.
Riris terkesiap. Meski sudah banyak perbedaan yang Nampak di wajah Mita sekarang, tetap saja gadis kecil pada foto itu sangat mirip dengan wajah Mita. Ia tidak bisa melawan lagi sekarang, jika sembarangan bertindak ia akan berhadapan dengan orang yang tidak sembarangan. Lalu, dengan rasa kesal itu, ia berbalik dan segera angkat kaki dari tempat itu.
Mita mengembuskan napas secara kasar. “Asem, masa’ lagi-lagi gue pake nama Kak Celvin. Astaga! Sorry, Kak,” keluhnya.
“Gue enggak tahu masalah loe apa, Mit. Tapi, gue tunggu cerita loe, titik! Dan satu lagi, bilang sama Celvin sama Pak Ruddy kalau barusan loe pinjem nama mereka, ya gue tahu, meskipun loe cukup deket sama mereka,” sahut Fanni.
Mita memandangi punggung Fanni yang sudah berbalik dan menuju mobil miliknya. Ia membenarkan ucapan Fanni, juga ada hutang penjelasan kepada wanita itu. ia bergegas menyusul Fanni dan melanjutkan tujuan awal tadi.
****
Yuk, mampir di novel kakak aku--Azis Beck. Judulnya :
Pujaku Mayang
__ADS_1
Diksinya mantap, Kak.
Oh iya, minta vote lagi ya hehe. Nanti up lagi.