
Hari ini aku sedang berbelanja dengan Mas Arlan. Mungkin beberapa perlengkapan bayi, meski kami belum tahu apakah laki-laki atau perempuan. Namun sebagai ibu yang sedang mengandung, pastinya sangat tidak sabar mengenai hal ini, bukan? Ataukah hanya diriku saja yang berlaku se-demikian rupa. Kalau benar, semoga dimaklumi karena aku adalah wanita yang baru pertama kali hamil.
Aku sangat asyik melihat-lihat baju-baju mungil untuk anak bayi. Entah untuk anak perempuan ataupun laki-laki. Apalagi dress-dress yang imut terpampang nyata didepan mataku. Baju anak perempuan sangat lucu. Melihatnya saja membuat hatiku gemas dengan mata yang berbinar-binar. Mungkin salah satu keuntungan memiliki anak perempuan. Ah, aku menjadi teringat akan Selli. Andai saja, ia benar-benar anak kandungku, pasti dimasa lalu aku suda sibuk mendandaninya.
"Kenapa, Sayang? Senyum-senyum gitu?" tanya Mas Arlan tiba-tiba, bahkan sampai membuatku terkejut dan malu-malu. Aku sampai melupakan bahwa ada suami yang selalu memperhatikan gerak-gerikku.
"En-enggak kok, Mas. Hehe ... aku tiba-tiba kepikiran, anak kita nantinya cewek apa cowok ya? Lama banget, belum bisa dilihat, kan? Aku udah penasaran." Aku menjawabnya sembari bergelendot manja di lengan tangan kiri Mas Arlan.
Ia tersenyum, saat aku menatap wajahnya. "Apapun aja, Dek. Yang penting sehat, Maw cuma pengen matanya mewarisi mata biru kamu. Kalau wajahnya Mas aja ya? Hehe."
"Emang aku jelek ya? Terus yang cantik bola matanya doang, gitu? Hmm ... iya tahu kok. Paham."
"Apaan sih, Sayang. Kamu cantik sekali lho, nanya sendiri dijawab sendiri. Yang bilang kamu jelek siapa? Orang cantik bule gini, sexy lagi."
"Iiiih! Kesel aku, kalau ngomong sexy. Itu namanya menyindir secara halus."
Mas Arlan terkekeh, namun masih bernada pelan. "Itu fakta, Sayang. Kamu terlalu banyak berprasangka buruk sama suami sendiri. Heran deh."
Aku memutar bola mataku dengan sinis. Bagaimana tidak berprasangka buruk, jika apa yang Mas Arlan ucapkan tidak sesuai fakta yang ada. Aku gendut dan jauh dari kata sexy. Ucapannya sudah seperti sebuah sindiran nan halus, namun sangat menusuk. Beruntung, ia adalah suamiku, setidaknya aku tahu bagaimana sifat-sifat nyelenehnya itu. Kalau orang lain, aku pasti sudah jatuh terpuruk atau mungkin marah besar lantaran tersinggung.
Baiklah, lupakan. Kami akan melanjutkan lagi ke tempat lain dari isi mall ini. Setiap kios peralatan bayi pasti didatangi. Bahkan, aku sudah tidak peduli akan kebutuhan diriku ataupun suamiku. Yang paling penting adalah anak-anakku, terutama Selli yang sudah ada didalam keluarga kami.
Mataku tertuju pada sebuah dress cantik berwarna merah jambu yang diperuntukkan untuk anak seusia Selli. Memiliki pita besar dibelakangnya dan pernak-pernik mutiara. Hampir mirip dengan gaun milik Cinderella, namun dengan warna yang berbeda. Intinya sangat cantik dan imut. Aku sangat ingin membelinya dan menghadiahkannya untuk Selli-ku.
"Mas, aku beli itu ya?" Aku meminta persetujuan terlebih dahulu kepada suamiku.
"Boleh, Dek. Buat siapa? Kamu?" Pertanyaannya sangat menohok hatiku lagi. Aku sampai malas menjawabnya. Kubiarkan Mas Arlan begitu saja, kemudian mendatangi dress cantik tersebut. "Tungguin, Sayang. Ditanya kok nggak jawab lho."
"Pertanyaan kamu sangat tidak berbobot wahai, Bapak Arlan Mahendra yang sangat dan teramat bijaksana serta terhormat!"
"Hahaha, komplit banget. Iya, iya, maaf, Mas becanda kok."
"Bodo' amat! Mbak, boleh lihat yang di patung itu?" Aku memanggil salah satu pegawai wanita di toko ini. Ia hanya mengangguk sembari tersenyum ramah. Selanjutnya ia melepas dress tersebut dan diberikan kepadaku. "Ini muat nggak ya? Kalau buat anak usia lima jalan ke enam tahun?"
"Anaknya kecil atau agak berisi ya, Kak?"
"Kecil, imut, Mbak."
"Muat kok, Kak. Anaknya tidam dibawa ya? Tapi coba dikira-kira deh, Kak. Kami menyediakan waktu penukaran selama dua puluh empat jam jikalau tidak muat atau kebesaran, Kak. Bagaimana?"
Aku menimang-nimang benda tersebut sembari membayangkan tubuh Selli yang sering aku peluk. Namun yang terbayang malah betapa cantik sosoknya nanti ketika memakai pakaian ini. Sampai aku tersenym-senyum lagi.
"Dek?" Dan lagi-lagi, aku dikejutkan oleh suara suamiku.
"Apa?! Ngagetin aja sih!" jawabku untuk membuang rasa tengsinku.
Ia kembali terkekeh, meski tidak ada hal yang lucu. Aku mengabaikannya dan kembali berbincang dengan sang pegawai tadi. Sampai akhirnya, aku memutuskna untuk mengambil dress tersebut. Aku merasa memang cukup untuk badan Selli yang mungil. Sang pegawai pun membawanya untuk dibungkus menggunakan paper bag bertuliskan nama toko ini. Dilanjutkan dengan transaksi pembayaran, setelah itu kami keluar dari toko ini.
Aku sudah tidak sabar untuk melihat Selli memakai pakaian ini dengan rambut yang tergelung di belakang, jepitan rambut mutiara pada kepalanya. Astaga! Pasti ia akan terlihat sangat cantik nantinya. Aku tidak percaya bahwa aku memiliki anak secantik dirinya. Oh, aku benar-benar bahagia.
"Ada lagi yang mau dibeli, Sayang? Kalau nggak ada pulang yuk, nanti kamu malah kecapekan."
"Emm ...." Aku memastikan beberapa barang yang dibawakan oleh Mas Arlan. Satu persatu aku teliti. Akhirnya aku merasa semua sudah cukup. "Iya, Mas. Kita pulang yuk, udah mau jam tiga juga. Aku khawatir sama Selli."
"Iya, Dek. Bu Guru juga udah undur jam segini mah."
__ADS_1
"Iya, Mas. Sini aku bantu bawa?"
"Nggak perlu, Sayang. Ini kewajiban Mas, kamu sini nih."
"Sini apanya?"
"Gandeng tangan suami kami dong, Dek."
"Oh iya."
Sembari berjalan, aku merangkul lengan tangan kiri dari Mas Arlan lagi. Bersikap manja seperti biasa. Kini, rasa minderku sudah lumayan berkurang. Karena ternyata, bukan hanya satu dua orang yang memiliki pasangan berbadan gempal sepertiku. Dan hal itu, bodohnya baru aku sadari sekarang. Tak apa, mataku mulai dibukakan untuk menatap hidup orang lain yang memiliki nasib serupa sepertiku. Aku hanya kurang bersyukur saja.
Gerak kaki kami terayun untuk menuruni setiap lantai menggunakan escalator yang berjalan. Sembari kupandangi suasana mall yang sudah lama tidak aku kunjungim Ya benar, lama sekali. Terakhir kami bersama Selli untuk menepati janji dalam mengajaknya menonton film animasi. Selepas itu, banyak insiden yang terjadi. Entah dari Riska dan Celvin, sibuk dalam pekerjaan, masalah Mas Arlan dengan keluarganya, kehamilanku, dan juga meninggalnya ibu mertua.
Astaga! Dalam satu tahun, gue nggak nge-mall. Hebat!
Tak lama kemudian, kami sampai di tempat parkir. Kaki kami terayun lagi demi menghampiri mobil milik suamiku. Sesampainya dihadapan alat transportasi beroda empat tersebut, Mas Arlan menaruh barang-barang belanjaan didalam jok belakang. Kemudian kami masuk ke dalam setelahnya. Perlahan namun pasti, Mas Arlan mulai memacu mobil ini. Kami meninggalkan mall dan bergegas pulang ke rumah yang paling nyaman.
Didalam perjalanan aku teringat akan sesuatu, yaitu tentang Riska dan Celvin. Mau bagaimanapun, aku salah satu teman Celvin sekaligus bekas sekretarisnya.
"Mas, Riska gimana kabarnya? Hubungannya sama Celvin?"
"Riska? Oh iya, kamu belum tahu ya, Dek?"
Aku menggeleng. "Enggak, soal apa emangnya?"
"Riska itu kerja sama Mas."
"Ma-maksud kamu?"
"Iya, kerja di kantornya Mas. Jadi, karyawan biasa."
"Mas Gunawan ambil alih lagi. Nggak ada yang mau, Dek. Riska kayaknya masih sakit hati sama sikap orang tuanya dimasa lalu. Si kembar, masih SMA. Siapa lagi coba? Roby nggak mungkin mau."
Aku hanya manggut-manggut saja. Wajar, itulah yang terlintas di benakku. Aku saja yang hanya iri terhadap Kak Pandhu, sampai keluar dari rumah pada saat itu. Apalagi Riska yang seolah hampir dibunuh. Hanya saja, aku menjadi iba kepada Mas Gunawan. Mau bagaimanapun, beliau sudah cukup umur untuk undur diri seperti Pak Ruddy. Sedangkan, Mas Arlan pasti sudah benar-benar tidak mau. Bahkan, diriku pasti tidak akan memberikan izin.
Semoga keluarga dari mertuaku tetap baik-baik saja. Semua kembali normal seperti sedia kala yang mungkin lebih bahagia sebelum datangnya Nia.
"Eh! Mas, aku pernah denger yang mimpin perusahaan kamu adalah Roby."
Mas Arlan mengernyitkan dahinya. "Kapan? Denger dari siapa, Dek?"
"Denger-denger doang. Dulu, waktu Riska kabur. Tapi kata Wulan kan, mereka keluar kota ngurus cabang restoran di luar kota sana."
"Hmm ... oh iya, yang itu ya? Iya si Roby, mungkin Wulan salah bicara. Wulan yang ngurus di luar kota. Roby masih membantu."
"Oh gitu toh. Jadi, Riska tinggal dimana sekarang? Masih di apartemen aku? Aku udah nyerahin ke kamu, sampe bener-bener lupa."
"Iya, Dek. Masih disana, tapi bayar kok tiap bulannya. Biasa kayak anak kos, Mas juga nggak tega kasih harga tinggi. Tiap mau ngomong sama kamu, Mas lupa mulu. Boleh, kan? Maaf, kami ngerepotin kamu terus."
"Hmm ... nggak apa-apa, Mas. Aku malah seneng, kalau aku bisa berguna buat kamu dan keluarga kamu."
Mas Arlan mengusap kepalaku sebanyak dua kali. "Makasih istri terbaik se-dunia."
Tersenyum, hanya begitulah yang aku berikan atas ungkapan rasa terima kasih dari Mas Arlan. Yah, setidaknya sedikit hal yang bisa aku banggakan dan bermanfaat baginya, atau bahkan keluarganya. Ketika aku mulai diam, Mas Arlan kembali berfokus ke jalan dan mempercepat perjalanan. Meski ia tidak menjawab soal Celvin, sepertinya ia tidak mau jika aku menanyakan tentang pria lain.
__ADS_1
Senandung kecil keluar dari bibir Mas Arlan mengikuti lantunan lagu mellow. Sedangkan aku sibuk membelai perutku yang buncit. Suasana jalan raya tidak padat, sehingga dapat melenggang cepat. Oh, sudah lama aku tidak mendengarkan lagu-lagu kesukaanku dari diva rocker dunia "Avril Lavigne". Melodi yang terdengar energik mampu memberikan sedikit dorongan agar tetap kuat menghadapi hari-hari berat pada saat itu. Rasanya sedikit rindu pada saat-saat aku menyetir mobilku sendiri menuju kantor milik Sanjaya. Waktu berlalu begitu cepat, bukan?
****
Aku dan Mas Arlan telah sampai di rumah. Mobil sudah terparkir tenang di sudut kanan halaman. Tinggal kami yang harus turun bersama barang-barang belanjaan. Aku sudah tidak sabar memberikan hadiahku untuk Selli. Dengan gerak cepat, aku segera bergegas turun. Kemudian, kuambil salah satu paper bag dari jok belakang.
"Sayang, hati-hati lho. Girang sih boleh, tapi ya pelan-pelan." Mas Arlan memperingatiku. Tampaknya aku terlihat begitu bersemangat. Hanya tawa kecil yang kuberikan kepadanya.
Mas Arlan mengambil sisa barang-barang, sedangkan diriku masih menunggunya walau sekedar untuk masuk ke dalam rumah. Ingat! Hal sekecil apapun jika bersama suami pasti akan terasa manis, dalam konteks perhatian. Hal itu akan memupuk keharmonisan didalam rumah tangga. Itulah yang aku dengar dari ibuku disaat kami sedang bercengkerama lewat telepon. Sebenarnya tidak menyangka saja, ibuku yang galak bisa memberika.mn petuah seperti itu.
"Ayo, Dek," ajak Mas Arlan sembari mendekatiku. Aku tersenyum dan lantas mengangguk. Kami berjalan bersama untuk masuk ke dalam rumah.
Pintu utama yang sudah terpampang nyata didepan kami, aku buka perlahan. Ternyata tidak dikunci dan secara kebetulan instingku tergerak untuk membukanya tanpa membunyikan bel pintunya. Agak heran juga, tidak biasanya Bi Onah lalai dalam kewajiban.
Kok perasaan gue nggak enak ya?
Deg! Tepat setelah kami menutup pintu rumah, ada seseorang yang tengah menggandeng Selli. Dibelakangnya ada Bi Onah yang bersikap antara takut dan merasa bersalah. Raut Selli tampak berbinar-binar, seharusnya itu tidak benar.
"Nia?! Apa yang kamu lakukan di rumah kami?!" tanya tegas Mas Arlan kepada Nia yang sudah berdiri dengan menggandeng tangan Selli, tepat dihadapan kami.
"Why? Aku datang untuk putriku, Arlan. Apa ada yang salah?" balas Nia dengan seringai sinisnya.
"Papa jangan marah sama Mama Nia, Mama Nia datang karna kangen sama Selli kok," sela Selli sembari mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan ibundanya.
Apa ini? Insiden lagi? Aku tidak sanggup melihat Selli yang begitu dekat dengan Nia. Apa aku jahat? Ya, aku cemburu. Namun, aku tidak memiliki hak. Tetesan air mata sampai mengalir di pipiku. Hal itu pasti membuat Nia semakin berbangga hati. Aku menyesal, sangat menyesal lantaran meninggalkan Selli dan malah berbelanja bersama Mas Arlan. Aku pikir, Selli akan aman bersama gurunya dan Bi Onah saja. Bahkan ada Pak Edi.
Lalu, bagaimana bisa Nia mendapatkan kesempatan ini? Jangan-jangan ia memata-matai rumah kami. Astaga! Mengapa aku tidak berpikir sejauh itu. Ia licik!
"Nia lepaskan anakku, aku tidak ingin berbicara buruk didepan anakku." Mas Arlan mencoba berkata dengan nada yang datar. Aku paham, mungkin karena ada Selli. Meski jauh di dasar hatinya, ia sangat marah. Namun tetap saja, tidak ingin Selli kembali terguncang.
Nia kembali tersenyum, tidak! Lebih tepatnya menyeringai seram bak penyihir hitam yang jahat. "Kenapa harus meminta padaku, Arlan? Coba gih bicara sama anaknya."
"Ck! Selli kemari, Sayang. Mama Fanni punya hadiah buat kamu."
Selli menggeleng dan itu membuat hatiku benar-benar sakit. Air mata kembali mengalir di pipiku. "Sayang, sini dulu. Ada disini hadiahnya," ujarku mencobanya.
Selli tersenyum saja. "Makasih Mama Fanni. Tapi, Selli masih kangen sama Mama Nia. Kan Selli udah sering sama Mama Fanni, jadi sekarang sama Mama Nia dulu ya? Entar Selli buka kadonya."
"Selli kasihan Mama Fanni lho, udah jauh-jauh beliin," ujar Mas Arlan.
"Papa sini dulu."
Mas Arlan terkejut, ia menatapku penuh keraguan. Sedangkan Nia semakin berbangga hatinya. Akhirnya aku mengangguk supaya Mas Arlan mengikuti permintaan Selli. Meski berat, sangat berat, benar-benar berat.
Dengan gerak kaku, Mas Arlan benar-benar datang kepada mereka. Sesampainya disana, ia berjongkok dihadapan putrinya.
"Papa, ayo kita jalan-jalan sama Mama Nia. Kan tadi sama Mama Fanni udah, giliran sama Selli dan Mama Nia."
Deg! Deg! Deg!
Pengen nangis sekencang-kencangnya. Sumpah! Tuhan tolong sadarkan putriku atas pengaruh iblis betina itu huaaaaaaa!
Bersambung ....
Terima kasih untuk setiap like dan komennya, bahkan poinnya.
__ADS_1
Sebelum puasa datang, saya ingin menghaturkan permintaan maaf jikalau ada kesalahan, ketidakpastian, dan ketidaknyamanan atas apa yang telah saya tuangkan didalam novel ini. Bahkan, jika saya sebagai seorang penulis novel ini terlalu banyak permintaan ke readers. Semoga segala kesalahan saya bisa termaafkan oleh kakak-kakak semua ya. (•‿•)
Semoga semua hal yang buruk segera berlalu sebelum puasa datang. Amin, tetap sehat dan aman ya semuanya.