Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Mulai Berani


__ADS_3

Jelita masuk ke dalam rumahnya dengan langkah yang amatpelan dan tentunya sangat berhati-hati. Sebenarnya, ia sudah tidak terlalu takut lagi dengan ibu tirinya, ia hanya malas bertemu saja. Kemunculan Mita membuat dirinya bisa berpikir lebih jernih, ia harus mulai melakukan perlawanan. Namun, ia tetap berhati-hati dalam bersikap. Ia paham betul dengan sifat asli milik Riris.


Glup! Jelita menelan saliva, ketika mendapati sepasang kaki muncul di hadapannya. Namun, ia enggan untuk memastikan milik siapa, ia sudah tahu, kaki jenjang putih dan halus milik Riris. Ia menghela napas dan mengembuskannya kembali. Setelah itu, baru melanjutkan langkah untuk menuju kamar kesayangan.


Namun, sang nyonya besar tidak membiarkannya begitu saja. Langkah Jelita dihadang olehnya. Membuat suasana ruang utama rumah itu menjadi lebih mencekam. Beberapa pelayan rumah pun, hanya bisa mengintip diam-diam sembari menggigit jari. Tidak ada yang berani memberikan pembelaan, pun meski merasa iba terhadap Jelita.


“Kamu sudah pulang? Boleh Mama bicara?” tanya Riris kepada Jelita detik itu juga.


Jelita menggeleng. “Saya lelah, Ma,” jawabnya dengan nada yang pelan.


Jantung Riris mendadak berdegup kencang, ia tidak menyangka atas jawaban dari sang putri sambung. “Kok kamu nolak, sih? Kamu udah enggak mau menghargai orang tua, ya?” Nada bicaranya kian meninggi.


“Emangnya Mama mau bicara apa?” Jelita tetap bersikap sesantai mungkin sesuai intruksi dari seorang Mita, juga Fanni beberapa hari yang lalu. Kedua wanita dewasa itu menyarankan agar Jelita tidak gegabah dan bisa bersikap lebih tenang.


Riris tersentak dengan penuturan Jelita yang kian berani. Ia mengatur napas dan detak jantungnya. Senyum palsu coba ia ukirkan di bibirnya yang kejam itu. “Mama hanya ingin makan Bersama kamu.”


“Enggak, aku udah kenyang.”


“Apa?!”


“Iya, Ma, Jelita udah kenyang.”


“Gimana bisa? Kamu makan sembarangan di luar, ya? Terus makanan-makanan, juga vitamin yang Mama kasih kamu buang, kenapa? Kamu jangan jadi anak yang kurang ajar, Jelita!” Napasnya yang semat teratur, kini mejadi memburu lagi. Ia sudah tidak bisa menahan  rasa sabar lebih lama. Tidak akan ia biarkan Jelita merubah pola makannya begitu saja. “Kamu harus makan!” tangannya berupaya mencengkeram lengan Jelita.


Sayangnya, gadis yang masih duduk di bangku SMA itu segera menepis tangan Riris, bahkan membuat sang ibu tiri nyaris terjatuh ke belakang. “Udah aku bilang, aku udah kenyang! Ngeyel aja loe!” Jelita memberikan penegasan terakhir kepada Riris sebelum melangkah pergi.


Rahang Riris menganga, ia merasa syok dengan perilaku Jelita. Pertanyaan yang mengganggu pikirannya akhir akhir ini kian mencuat membuat rasa penasaran semakin tinggi. Mengapa Jelita berubah dalam waktu sesingkat itu? Belum ada dua bulan, sang anak tiri masih menuruti apa maunya, bahkan meminum pil penggemuk badan yang ia berikan. Ia mendengkus kesal, lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah kasar untuk menuju kamar.


Sementara itu, Jelita tergolek lemas di atas ranjangnya yang bernuansa warna biru. Sedangkan, jantungnya masih berdegup tidak beraturan. Ia tidak menyangka bahwa ia baru saja memberikan perlawanan kepada Riris. Sayangnya, ia cukup gegabah dan tidak memilih kalimat yang tepat di akhir penegasannya.


“Kalau nenek sihir itu lapor sama papa, gimana, ya?” gumamnya. Ia membalikkan badannya, lalu menatap langit langit kamar.


Riris yang selalu pintar memanipulasi keadaan, kini membuatnya justru gusar serta khawatir. Ia sudah tidak berhasil mendapatkan hati Nur Imran—ayahnya dan kini, ia baru saja membuat masalah. Hanya pasrah yang bisa ia lakukan untuk hal ini dan seandainya ayahnya benar-benar marah, ia tidak bisa memberikan penjelasan yang mungkin bisa dipercaya. Citra dirinya di rumah ini sudah hancur, hal itu yang membuat Nur Imran enggan untuk menyanyanginya lagi.


“Aku telepon Kak Mita aja kali ya? Tapi … Kak Mita mah agak bar-bar. Kalau Tante Fanni sarannya bagus-bagus, terus siapa dong?” Ia mencoba membangunkan badan besarnya yang masih terbalut seragam sekolah. Lalu, diambilnya tas ransel yang tergolek di bawah kakinya.


Setelah mendapatkan sebuah ponsel, ia menekan suatu tombol pada benda itu. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk menghubungi Fanni.


“Ya, halo, Assalamu’alaikum,” sapa Fanni dari rumahnya sana.


“Wa’alaikumssalam, Tante. Ini aku Lita,” jawab Jelita.


“Oh, iya, kenapa, Lit?”


“Aku mau curhat, Tante ada waktu enggak? Apa masih di salon?”


“Oh, hari ini kebetulan ambil libur, Lit. Kamu enggak nge-gym?”


Meski Fanni tidak akan menyadarinya, Jelita tetap menggelengkan kepala. “Enggak, Tante. Kak Mita lagi ada urusan katanya. Emm … aku boleh main enggak?”


“Boleh sih. Dateng aja, nanti aku kirim alamatnya.”


“Tapi aku juga cari waktu yang tepat, Tante. Pasti si nenek sihir enggak bakalan biarin.”


“Kapan aja kamu dateng, Tante terima kok.”


“Makasih ya, Tante. Aku mau tutup dulu.”


“Oke siap. Assalamu’alaikum, Lita.”


“Wa’alaikumssalam, Tante bule.”


Mereka saling mematikan panggilan itu. Di sana, di dalam kediaman keluarga Arlan, Fanni sibuk mengurus Sella yang baru saja ia mandikan, karena siang hari terasa panas sekali. Seharian penuh mereka Bersama tanpa terpisahkan, lantara hari libur kerjanya yang ia ambil tepat di hari Sabtu. Entah apa yang membuat Mita memutuskan untuk tidak bekerja hari ini dan terpaksa membuatnya juga tidak bekerja. Tidak mungkin ia mengatasi pelanggan sendiri saja.


Namun, tidak apa, toh sejauh ini mereka nyaris tidak pernah menutup salon sama sekali. Alasannya karena masih baru, maka harus rajin-rajin dalam membuka ruko itu. Kini, ia bisa meluangkan waktu dengan anak-anaknya. Sayangnya, Arlan masih harus masuk kerja.


Suara bel pintu rumah itu tiba-tiba berbunyi. Dahi Fanni mengernyit seketika, siapa gerangan yang datang di siang bolong seperti ini?  Jelitakah? Rasanya tidak mungkin secapt itu jika benar gadis itu.


“Ah, biar Bi Onah aja yang buka,” gumamnya. “Nah, udah cantik lagi. Enggak kegerahan lagi. Sayangnya kakak lagi tidur ya, Sayang,” lanjutnya sembari mengecup pipi Sella.


Balita berumur satu tahun itu tersenyum-senyum dengan menggemaskan. Membuat hati siapa saja merasa sayang. Bola mata yang ia dapatkan dari sang ibu memberikan kesan cantik yang jarang dimiliki orang Indonesia. Anak kedua dari Arlan ini pasti akan menang jika diikutsertakan dalam kontes balita yang cantik jelita.

__ADS_1


Kemudian, Fanni menurunkan balita cantik itu dari ranjang. Tentu saja, Sella sangat girangt. Ia yang sudah bisa berjalan, kini berlarian meski belum terlalu lancar. Sedangkan sang ibu masih tetap mengawai takut jika jatuh atau tertimpa sesuatu. Anak seusia itu masih sangat penasaran engan berbagai hal yang baru ia lihat, maka dari itu Fanni extra hatu-hati dalam membiarkan tingkah lucu dari Sella.


“Anak Papa!” Suara Arlan terdengar dari arah pintu kamar. Ia berjalan masuk menghampiri Sella yang kini pun berjalan menghampirinya. “Emm … wangi banget anak Papa?” lanjutnyasembari menggendong sang buah hati


“Lho? Kok kamu udah pulang, Mas?” tanya Fanni dengan kernyitan di dahi.


“Ya udahlah, Dek. Ini, kan, hari Sabtu, setengah hari.”


Fanni menepuk dahinya yang sempat mengernyit tadi. “Aku lupa, Mas, hehe.”


“Kamu mikirin apa, heh?”


“Mikirin kamu, Mas.”


“Masa’?”


Fanni mengangguk pelan. Kemudian, ia mendatangi Arlan. Setelah sampai di hadapan sang suami, ia meraih tangan Arlan yang sedang tidak sibuk menggendong Sella dan dikecupnya. Arlan membalasnya dengan kecupan manis di pipi Fanni.


Pasangan suami istri, juga anaknya itu kian masuk ke bagian dalam kamar. Fanni sibuk mengurus barang-baramg Arlan, sedangkan sang suami merebahkan diri dengan menaikkan Sella di atas perutnya. Nyanyian anak-anak pun pria itu dendangkan untuk menghibur sang buah hati.


“Kamu udah salat, Mas?” tanya Fanni memastikan ibadah sang suami.


“Udah, Dek,” jawab Arlan. “Selli mana?”


“Tidur siang begini mah. Biarin, capek dia.”


“Iya, Dek.”


“Kamu makan dulu sana.”


“Temenin.”


“Ada Bi Onah di belakang.”


“Ya kali sama Bi Onah, Dek, Dek.”


“Emang kenapa?”


“Hmm … iya udah, ayok.”


“Gitu dong.”


Sebenarnya, Fanni merasa malas untuk keluar dari kamar itu. Ia merasa lelah dan ingin istirahat, terlebih di siang hari seperti ini, penat dan ngantuk ditambah lagi rasa geraah datang menghadang. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan suaminya begitu saja. Jika Arlan ingin ini, ia selalu mengusahakan untuk menuruti, kecuali kalau sudah benar-benar tidak sempat sama sekali.


Mereka berjalan menuju lantai bawah Bersama Sella yang masih asyik di gendongan Arlan. Tapak kaki begitu kompak dalam menyusuri anak tangga. Senyum saling dilewarkan disertai gelak tawa, tawa yang diakibatkan dengan celoteh lucu juga mesar dari masing-masing insan. Mereka adalah contoh nyata sebagai pasangan harmonis meskipun usia pernikhan sudah cukup lama.


Lalu, dengan sigapnya, Fanni menuangkan nasi beserta lauk dan sayur di piring sang suami. Tidaklupa, ia sajikan air minum dingin untuk melepas dahaga. Sikapnya yang manis itu tentu saja membuat Arlan tersenyum diam-diam. Ia bahagia Bersama Fanni, halitu yang selalu muncul di dalam benak maupun hati.


“Mas, aku mau ada tamu tahu,” ujar Fanni sembari mengambil alih tubuh Sella.


Sembari mengunyah makanan, Arlan menatapnya. “Siapa, Dek? Cewek apa cowok?” tanyanya kemudian.


“Emang penting ya? Cewek apa cowoknya?”


“Iyalah, kalau cowok, kamu boleh terima asal Mas ada di rumah.”


Fanni terkekeh. Bagaimana bisa suaminya itu bersikap demikian? Lagi pula, pria mana yang akan bertamu khusus untuk bertemu dengan dirinya? Sikap Arlan yang terkadang posesif membuatnya sedikit terganggu, seolah tidak ada kepercayan dari suaminya itu untuknya. Namun, Fanni enggan membahasnya, ia tahu bagaimana seorang Arlan, bahkan semenjak Celvin hadir di dalam hidupnya. Pun meski sang pengeran penguasa Sanjaya telah dekat dengan Riska, Arlan tetap merasa tidak suka jika Fanni berada dalam satu ruangan dengan Celvin.


Ya, sebenarnya, semua terjadi karena Arlan merasa ciut nyali. Terlebih, ketika yang sempat disukaioleh Fanni adalah sosok Celvin. Pria muda, tampan, sempurna bahkan kaya. Rasanya dirinya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan suami dari keponakannya itu. Al itu yang membuatnya tidak suka jika Fanni bertemu mata dengan Celvin.


“Siapa, Dek?”


“Hmm?” Fanni menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Apanya, Mas?”


“Yang mau dateng lho, gimana sih?”


“Oh iya, ya, hehe.”


“Mikir apaan sih, dari tadi kok ngeblank?”


“Enggak tahu. Lagi ngantuk aja kali.”

__ADS_1


“Kamu ngantuk?”


Fanni mengangguk plan. “Iya, Mas.”


“Ya udah tidur dulu sana, sama Sella juga.”


“Nanggung ah, udah mau jam tiga.”


“Emang kenapa?”


“Belum ngurus cucian.”


“Mas yang urus.”


“Beneran?”


Arlan mengangguk pelan. Setelah itu, ia melanjutkan aktivitas makan siangnya.


Sedangkan Fanni tidak setega itu untuk menyerahkan urusan rumah tangga kepada sang suami, terlebih baru pulang kerja seperti ini. Meski memang, rasa kantuk begitu kurang ajar datang tanpa permisi. Jam sudah hampir menuju jam tiga sore hari. Ya, memang masih terhitung satu jam lagi, tetapi ia tetap enggan untuk tidur.


Fanni menyadari bahwa ucapannya mengenai kedatangan Jelita yang entah kapan belum diselesaikan. Namun, ia merasa sungkan untuk membahasnya karena Arlan masih asyik menyantap makanan. Lagi pula, Arlan pasti akan mengizinkan. Mungkin nanti jika sang suami telah membereskan makan siang.


“Eh, enggak tidur?” celetuk Arlan.


Fanni menggeleng. “Enggak, Mas. Nanggung.”


“Kan, Mas yang bakal urus cucian, Dek.”


“Enggak enaklah, masa’ suami yang urus.”


“Halah, kayak baru kenal aja kamu.”


“Hehe … serius enggak enak. Emm … ngomong-ngomong Riska gimana, Mas?”


“Lagi bulan madu tuh. Emang enggak kontek sama kamu?”


Fanni menggeleng. “Enggak pernah lagi. Dia, kan sibuk sama perusahaan juga, Mas. Emang dari kapan bulan madunya? Perusahaan siapa yang atur? Mereka, kan, CEO.”


Arlan menuntaskan sisa makanannya sebelum memberikan jawaban untuk Fanni. Sedangkan Fanni menatap Sella yang tanpa ia sadari sudah tertidur dengan pulasnya. Lalu, ia bangkit dari duduknya. Meski belum mendapatkan jawaban dari Arlan, ia meninggalkan ruang makan begitu saja. Langkah kakinya mengarah ke kamar milik mereka.


Sesampainya di dalam kamar, Fanni meletakkan tubuh Sella ke atas ranjang miliknya. Setelah itu, ia bangkit dan duduk sebentar. Tak berselang lama, Arlan muncul dari balik pintu dan masuk ke dalam. Pria berparas manis itu mengambil posisi duduk di samping Fanni. Kecupan manis tidak lupa ia berikan di pipi sang istri.


“Jadi?” tanya Fanni yang sebenarnya masih tentang Riska dan Celvin.


“Riska?”


Fanni mengangguk. “Iya, Mas.”


“Kan, ada manager juga direktur bagian, Dek. Bisalah.”


“Terus, kenapa kamu dulu malah pilih aku? Pas kamu ke Canberra.”


“Karna enggak ada yang mau, Sayang.”


“Iya sih. Terus kabar William gimana?”


Arlan mencubit kedua pipi gembul milik Fanni. “Kepo banget istriku.”


“Kan, pengen tahu kabar saudara.”


“William masih belajarlah, Sayang. Calon pewaris Harsun.”


“Yakin dia?”


Arlan mengangguk. “Nanti ada pembagian saham kok. Riska juga enggak mungkin karna dia bakalan hamil.”


Fanni manggut-manggut saja. Ia bersyukur karena secara perlahan kakak iparnya bisa bersikap lebih adil. Namun, suaminya tetap tidak mengambil saham sepeser pun. Entah siapa yang akan mendapatkannya dan siapa yang akan menjadi pewaris tunggal perusahaan milik keluarga besar Harsono.


Ya, Fanni dan Arlan sudah sangat nyaman untuk hidup seperti ini. Meski anggota keluarga Harsono, Arlan malah mendapat jatah dari Sanjaya. Sungguh mengherankan jika didengar, tetapi Arlan sangat hobi untuk menutupi identitas diri. Dan karena dirinya pula, perusahaan Gemilang yang tadinya kecil, kini merambah lebih besar dalam cakupan bisnisnya.


****

__ADS_1


Komen ya kalau mau lanjut, siap ketik lagi, aku juga udah enggak tahan pengen segera end-in hehe


__ADS_2