Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Berpikir KERAS


__ADS_3

Lagi-lagi kopi. Sepertinya, aku sudah sangat kecanduan dengan minuman itu. Yang paling setia menemani kerisauan hatiku. Disudut ruang Apartemenku berdekatan dengan jendela yang lumayan lebar. Aku duduk di kursi santai sembari menatap lampu-lampu perkotaan yang seperti kunang-kunang.


Kuteguk kopiku yang hangat. Sampai tenggorokanku terasa menghangat pula. Sungguh sangat cocok jika dipadukan dengan suasana malam yang dingin.


Benakku melayang, memikirkan semua sisa perbincanganku dengan Riska tadi sore. Ada momen dimana aku bisa tertawa kecil ketika mengingat tingkah Riska yang kadang terasa konyol. Saat ia menanyakan tentang Celvin. Namun, tetap saja aku masih merasa tersinggung dengan desakannya padaku.


Meski, bisa menjadi maksud yang baik. Namun, entah mengapa hatiku menolak. Rasanya ingin menyerah saja dalam hubungan cintaku dengan Mas Arlan.


Bukan hanya Ibuku, sekarang ditambah dengan keluarga Mas Arlan. Hatiku seperti remuk redam dibuatnya. Semua kekuatan yang kukumpulkan demi hubungan itu, seolah perlahan menguap menjadi keping-keping asa yang terputus-putus.


Lalu bagaimana dengan Mas Arlan, nantinya? Jika aku benar-benar sudah menyerah.


"Wuuuaaahhh... capek banget!" gerutuku sendiri.


Aku sudah bosan merenung, ingin rasanya bergegas tidur. Namun, mataku telah terbius oleh kopi. Sampai rasa kantuk tidak ada sama sekali. Hari juga belum terlalu malam.


Sepertinya, lebih enak mencari udara segar diluar. Siapa tau ada inspirasi untuk hati. Apalagi malam ini tidak sedang turun hujan. Meski dingin memang ada.


Yah, akhirnya aku segera beranjak dari dudukku. Meraih jaket yang sedikit tebal untuk kukenakan nanti. Tak lupa selempang kecil guna menyimpan uang dan kartu. Sebagai cadangan jika nanti aku ingin jajan.


Setelah persiapan selesai, aku bergegas turun. Malam ini, aku berencana jalan sendiri. Dengan menggunakan mobil merah kesayanganku, tentunya.


Setelah sampai di area parkir. Aku langsung mencari keberadaan mobil merahku. Setelah didapat, tanpa pikir panjang lagi aku masuk kedalamnya.


Kupacu perlahan mobilku meninggalkan gedung apartemen, tempatku tinggal. Menyusuri jalan perkotaan tanpa kejelasan tempat mana yang hendak kutuju. Seandainya belum juga ada rencana, mungkin aku hanya berputar-putar saja berkeliling kota.


Melintasi setiap jengkal jalan beraspal serta ruko-ruko pinggiran. Dengan alunan musik pop rock milik penyanyi kelas dunia yang masih menjadi idolaku yaitu "Avril Lavigne". Musiknya yang penuh energi mampu menghangatkan suasana hati yang sempat redup.


Walau tetap saja, benakku masih kalut akan desakan dari Riska untuk berdiet. Haruskah aku melakukan itu? Berhasilkah nanti? Atau aku bisa sakit lagi? Jika aku sakit, bagaimana dengan keluargaku yang pastinya akan khawatir?


"Aaaaaahhhh!!! Kesel jadinya!" gerutuku lagi.


Mas Arlan sedang apa sekarang? Jika sedang kalut seperti ini, aku malas sekali bermain ponsel. Sepertinya benda kecil tersebut bisa membuatku semakin galau. Membuka sosial media sebentar saja, akan banyak sekali model-model yang bertubuh langsing dan tentunya cantik-cantik.


Sedangkan mobilku masih melaju bebas di tengah jalan yang lenggang. Aku belum memutuskan akan menepikannya dimana. Terlalu sulit mencari tempat tenang di perkotaan seperti ini. Dan aku sendiri tidak memiliki teman selain Nike dan Tomi. Semua serba dirasakan sendiri.


Miris bukan?


Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti di salah satu cafe. Tempat yang merupakan pertemuan pertama kali dengan Mas Arlan.


Setelah aku parkir mobilku dengan tenang, aku beranjak turun. Lalu masuk kedalamnya. Mencari bangku kosong yang nyaman. Tempat dipojok belakang adalah favorite bagiku.


Seorang pelayan pria menyodorkan sebuah kertas menu. Lagi-lagi, aku hanya ingin kopi. Coffe latte seperti biasa, ketika aku sedang berkunjung kuliner diluar.


Beruntungnya, aku tidak salah pilih. Tempat ini tidak terlalu ramai malam ini. Memberikan keleluasaan untuk diriku supaya bisa berpikir dengan jernih.


"Silahkan," ujar pelayang pria yang sama sembari menyodorkan minuman pesananku. Ia ramah sekali dengan senyum manis yang ia pasang untuk pelanggan sepertiku.


"Terimakasih," jawabku padanya. Kuberikan pula senyumanku padanya.


"Sama-sama, selamat menikmati Nona."


Sang pelayan pun berlalu, kembali pada tempat kerjanya dan menunggu pelanggan lain yang baru datang.


Meski sepi, keramaian di jalan raya masih saja terdengar dari dalam cafe. Menambah syahdunya malam ini. Apalagi putaran lagu-lagu yang melankolis sangat membantu menerenyuhkan hatiku.


Aku rindu Ibuku. Sangat merindukan beliau. Hubungan kami belum saja membaik. Mau bagaimana pun aku tetap seorang anak. Yang berlumur dosa akan kedurhakaanku.


Jika saja kami telah berbaikan dan Ibuku bisa menerima Mas Arlan. Satu sesalku pasti terangkat dan hilang. Aku juga bisa melepas semua kegelisahanku ini, berbagi bersama Ibuku. Lantas apa yang harus aku lakukan, jika keadaan sudah seburuk ini?


Apa aku memang harus menyerah saja? Melepas Mas Arlan, agar pria tersebut bisa mencari calon istri yang lebih baik dan cantik. Dan tentunya, bisa membuat mantan istrinya iri dan menyesal telah meninggalkan dirinya.


Tapi, jika aku melakukan itu. Akan sesakit hati bagaimana nanti hati Mas Arlan? Yang lebih ditakutkan lagi, ia benar-benar menepati janjinya. Janji tentang tidak akan menikah lagi jika bukan dengan diriku.


Bukan maksud terlalu percaya diri. Namun, mengingat semua pengorbanan yang Mas Arlan lakukan selama ini, sepertinya ada kemungkinan hal itu terjadi. Jika memang terjadi dan aku mendengarnya, aku pasti juga hancur dengan segala macam rasa bersalah padanya. Belum lagi untuk Selli, anak kecil cantik itu masih sangat membutuhkan figur seorang ibu.


Semua semakin rumit dan berbelit-belit. Atau hanya diriku saja yang membuatnya semakin tidak jelas. Sekali lagi, aku harus bagaimana tentang semua ini???


Tegukan demi tegukan aku lakukan pada gelas coffe latte. Semakin lama semakin habis juga. Detik jam masih berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin sebentar lagi pukul delapan malam. Dan diriku masih hanyut dalam pemikiran rumit ini.


Tiba-tiba dering ponsel berbunyi. Memaksaku untuk berhenti melamun. Aku merogoh benda kota tersebut dari tas selempang kecil yang aku bawa.


Ku mainkan jariku diatas layarnya. Tampak kontak milik Mas Arlan sedang memanggilku. Mungkin ia bingung, karena sejak tadi aku mengabaikannya. Jujur saja kini aku juga masih risau.


Satu panggilannya masih aku biarkan. Aku hanya ingin sendiri dulu, begitu maksudku. Namun, Mas Arlan tetap bersikukuh untuk meneleponku. Mau tidak mau, akhirnya aku luluh dan tidak tega padanya.


"Assalamu'alaikum Mas-ku," sapaku padanya sesaat setelah kuangkat panggilan tersebut.


"Kamu dimana sih, Dek?" tanya Mas Arlan tanpa membalas salam islamku sama sekali.


Aku menghela napas dalam lalu mengembuskannya kembali. "Aku disini Mas," jawabku selanjutnya.


"Dimana?"


"Di apartemen kok."


"Masa'? Kok Mas kesini nggak ada yang jawab?"

__ADS_1


"Lho Mas Arlan dimana?"


"Kamu bohong kan? Itu suara musik kan? Kamu dimana?"


"Ihh... iya maaf aku bohong Mas."


"Kenapa kamu bohong sama Mas? Kamu dimana malem-malem kayak gini sih, Dek?"


"Aku lagi pengen sendiri dulu."


"Mas nggak izinin kamu sendiri, kamu dimana? Atau Mas yang cari muter-muter sampe kamu ketemu?"


"Haduh... ni Om-Om ngeyelan banget sih."


"Cepet! Kamu dimana?"


"Iya sabar! Di cafe, pertama kali kita ketemu."


"Oke, Mas nyusul."


"Nggak usah Mas."


"Udah diem, tungguin Mas. Jangan balik dulu."


"Tapi-"


"Nggak ada tapi-tapian, Mas kesitu, langsung."


"Hmm..."


Ya, begitulah Mas Arlan. Manusia yang terlalu peka dengan segala sesuatu. Kekhawatiran yang sering kali berlebihan sampai membuatku kewalahan. Rasanya tidak akan sanggup jika aku harus meninggalkannya begitu saja.


Aku tau, kami belum terlalu lama menjalin kasih. Namun kami yakin hubungan ini tidak hanya sebatas main-main semata. Oleh karena itu, Mas Arlan berambisi ingin segera menikahiku. Ia tau usia kami sudah sama-sama dewasa.


Padahal, hubungan yang baru seumur jagung ini terus menerus diterpa masalah. Aku sendiri sampai hampir menyerah. Atau bisa menjadi benar-benar menyerah.


Aku belum siap masuk kedalam keluarga kaya seperti mereka. Seperti yang dituturkan oleh Riska, banyak sekali aturan pastinya. Mana mungkin aku begitu mudah masuk dan mampu melewatinya. Belum lagi, aku bukan wanita sempurna.


Haruskah aku kurus? Lalu butuh berapa tahun? Tiga tahun atau lima tahun ? Dan aku harus menunggu selama itu hanya untuk kurus. Oh tidak! Akan semakin tertunda pastinya. Usiaku dan Mas Arlan pasti juga bertambah tua.


Sial!


****


Beberapa menit kemudian, bola mataku menangkap tubuh tegap dengan wajah manis yang selalu kurindukan. Mas Arlan telah sampai di cafe ini. Ia menengak-nengok mencari keberadaanku. Sampai akhirnya ia dapatkan diriku tengah duduk disini.


"Dek!" seru Mas Arlan padaku. Sontak saja, aku menatapnya. Wajahnya lagi-lagi sendu, sepertinya ia sedang lelah.


Ya Tuhan! Ia tetap datang untuk mencariku tanpa kenal lelah. Sedangkan aku masih diam, dan bahkan hampir menyerah begitu saja tentang hubungan ini. Manusia macam apa aku ini?


"Ehh... Mas, udah dateng toh," ujarku basa-basi padanya.


Tangan Mas Arlan menjulur kearah kepalaku. Ia mengusap lembut rambutku dengan posisi berdiri disampingku. Aku menangkap kelegaan pada raut wajahnya. Ya Tuhan! Pria ini benar-benar tiada lelahnya. Padahal ia juga usai bekerja tadi siang, lalu mengurus anaknya dan sekarang aku.


"Maaf," ujarku lagi padanya.


"Maafin Mas," jawab Mas Arlan dengan maksud yang sama sepertiku.


"Kenapa minta maaf? Emang Mas Arlan salah apa?"


"Hmm... Enggak kok. Sepertinya kamu lagi ada yang dipikirin ya, Dek?"


"Pasti ada lah Mas, bohong kalau nggak ada tuh."


"Kenapa? Emm... Riska ngomong apa sama kamu, Dek?"


Sontak saja aku menatap Mas Arlan yang masih berdiri. Ternyata, ia tau tentang pertemuanku dan Riska. Padahal aku masih menyembunyikan hal itu padanya.


"Kok Mas tau?" tanyaku lagi.


Mas Arlan menghela napasnya. Ia bergerak untuk duduk dihadapannya. "Riska yang bilang."


"Oh ya?"


"He'em Dek, kenapa kamu yang nggak bilang sama Mas?"


"A-aku nggak ingin Mas tambah kesusahan Mas, terus banyak pikiran lagi."


"Jangan gitu Dek. Emm... Mas udah jujur sama keluarga Mas, Dek. Soal hubungan kita."


"Terus?"


"Mereka minta kamu segera datang."


"Ta-tapi..."


"Kenapa Dek? Mereka bukan orang jahat kok, dateng ya? Hari Minggu semua orang juga libur."

__ADS_1


Deg!


Bagaimana ini? Aku sama sekali belum siap. Haruskah aku menundanya lagi? Tapi alasan apa yang bisa aku pakai untuk menolak?


Aku berpikir keras. Bola mataku berputar-putar menatap lantai yang kosong. Aku belum kurus! Itulah yang mengisi benakku. Serta respon mereka akan seperti apa nantinya.


"Dek???"


"Ehh... a-aku emm... gimana ya Mas?"


"Dateng ya?"


"Aku... aku takut Mas."


"Kenapa? Fisik lagi?"


Kuanggukan kepalaku pelan. "Iya."


Mas Arlan mungkin kesal lagi padaku. Alasan seperti inilah yang paling tidak ia sukai. Ia menatap langit-langit cafe dengan muram.


Tak lama kemudian, Mas Arlan kembali menatapku. Ia menggenggam tanganku dengan erat yang berada diatas meja. Sebelum berbicara, ia terlihat menenangkan diri terlebih dahulu.


"Gimana pertemuan kamu sama Riska tadi?" tanya Mas Arlan kemudian.


"Biasa aja kok," jawabku pelan.


"Jujur!"


Aku terkesiap. Mas Arlan berkata sedikit kencang. Kemungkinan besar ia memang jengah dengan sikapku yang seperti ini.


"A-aduuhh jangan galak-galak dong!"


"Yaudah maaf, coba jujur Dek."


"Ada satu permintaan Riska yang kemungkinan besar tidak bisa aku lakukan, Mas."


"Apa itu?"


"Diet."


"A-apa?"


"Ya begitulah. Jujur aja, malam ini aku masih ingin sendiri. Nggak taunya Mas Arlan malah dateng. Semua rahasia dan identitas yang selama ini kamu sembunyiin, udah aku ketahui, Mas."


"Riska yang ngasih tau?"


"Bukan! Aku sendiri sebenarnya kesel sama kamu, kenapa aku harus denger hal-hal itu dari orang lain. Apa Mas Arlan belum bisa percaya sama aku? Apa Mas Arlan pikir aku ini wanita mata duitan? Aku tidak cukup cantik untuk melakukan hal buruk itu Mas, aku sadar diri."


Segala ucapanku muncul bertubi-tubi begitu saja. Tanpa rencana, seolah berbelok jauh dari pertanyaan Mas Arlan. Tapi jujur saja, aku lega. Semua kegelisahanku sedikit terangkat.


Sedang Mas Arlan masih tertegun mendengar itu semua. Rautnya yang tegas mendadak melemah. Ia menunduk, sepertinya menderita rasa bersalah.


Lalu aku menarik telapak tanganku dari genggaman tangannya. Menandakan bahwa ada rasa kecewa juga dalam hatiku. Dan itu memang benar. Aku butuh penjelasan lagi langsung dari bibir Mas Arlan.


"Kenapa diam Mas?" desak pertanyaanku padanya.


Mas Arlan menatapku lagi. "Maaf Dek, Mas nggak ada maksud seburuk itu," jawabnya.


"Lalu apa? Kita udah kenal lama Mas. Dan dulu aku sama sekali nggak kepikiran bisa jatuh cinta sama kamu, Mas. Makanya aku nggak pernah nanya tentang latar belakang kamu, selama ini aku masih nunggu kamu mau jujur."


"Mas berencana mengejutkanmu sambil mengenalkan kamu sama keluarga Mas."


"Itu salah Mas, masalah ini serba mendadak. Aku sampai pusing, dan diet? Haruskah aku kurus demi hubungan kita? Lalu berapa lama aku bisa kurus, selangsing Riska? Setahun, dua tahun, tiga tahun atau lima tahun? Bisa-bisa, aku mati lebih dulu sebelum kurus."


"Tapi Mas nggak pernah minta itu kan sama kamu?"


"Emang nggak, tapi keluargamu gimana? Kenapa juga masih ada dendam sama Nia? Kalau aku berhasil kurus dan cantik, apa aku cuman jadi alat pamer? Biar mantan istri kamu iri dan menyesal?"


"Dek, cukup! Apa Riska yang minta itu?"


"Iya! Rasanya aku udah hampir menyerah soal ini, Mas. Aku capek, Mamaku juga belum ngasih restu. Apa benar kita berjodoh? Kalau emang nggak, apa nggak lebih baik kita sudahi saja?"


"Fanni!!! Apa-apaan kamu? Saya sudah sejauh ini, saya nggak pernah nyerah buat luluhin hati Mama kamu lho, dan sekarang ini saya baru kembali dari rumah Mama kamu lho. Kok bisa kamu ngomong sudahi begitu entengnya?"


"Maaf Mas, aku terlalu emosional. Aku harus pulang, aku harus mikir."


"Dek???"


Aku beranjak berdiri dari dudukku. Lalu melangkah cepat meninggalkan Mas Arlan di cafe ini.


Ada tetesan air mata lagi. Entah mengapa pertanyaan buruk itu meluncur tiba-tiba dari mulutku. Sepertinya, hormon stressku sudah sangat banyak. Jika saja Mas Arlan tidak memaksa bertemu denganku. Mungkin aku bisa lebih tenang.


Sehingga kami maksudku aku tidak berkata demikian. Hanya karena ledakan emosiku yang hanya sesaat.


Bersambung...


budayakan like+komen..

__ADS_1


sorry telat guys hehehe


__ADS_2