Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kesepakatan


__ADS_3

****


"Silahkan duduk." Dengan penuh wibawa Pak Ruddy mempersilahkan kami untuk dihadapan mereka.


Aku dan Mas Arlan hanya mengangguk sembari berterima kasih. Setelah itu mengambil posisi paling nyaman. Dalam beberapa saat, keadaan masih hening. Tidak ada kata yang terucap. Hanya kecapan lidah yang tengah membantu menelankan suapan makanan. Jujur, aku jengah. Namun, peranku didalam pertemuan ini tidaklah terlalu penting. Sehingga tidak bisa turut membuka kecanggungan yang sedang terjadi.


Sampai akhirnya, Pak Ruddy mulai menyunggingkan sebuah senyuman. Beliau menatap Mas Arlan dalam-dalam. Sedangkan sang objek tatapan malah menunduk diam penuh kegusaran. Tegang sekali, canggung sekali, dan tentunya sangat tidak nyaman. Bahkan seorang Celvin pun diam seribu bahasa. Ia hanya menggaruk dahinya beberapa kali, yang kurasa tidak gatal.


Setelah senyuman Pak Ruddy, kini Mas Arlan yang menghela napas dalam-dalam. Kemudian suara hembusannya pun terdengar oleh telingaku. Mas Arlan mengeluarkan map yang berisi perjanjian kontrak kerja yang sempat ia bawa. Ia menaruh di meja, tepatnya dihadapan Pak Ruddy. "Bisa Bapak jelaskan?" tanya Mas Arlan kemudian.


Deg! Jantungku dibuat berdebar lagi. Tatapan itu, senyuman itu seperti sebuah kesinisan yang mematikan. Raut wajah Pak Ruddy yang biasanya menampilkan sosok ramah, kini terlihat serius dan tegas sekali.


"Bisakah, Nona Fanni dan juga Celvin keluar sebentar? Saya ingin berbicara empat mata dengan Saudara Arlan," pinta Pak Ruddy.


Aku menggangguk ragu. "Baik, Pak," jawabku.


"Tidak!" sergah Mas Arlan tiba-tiba. Saat aku hendak berdiri, ia menghentikan gerakanku dengan menekan bahuku. "Fanni istri saya, dia berhak tahu tentang masalah ini. Lagipula, Fanni adalah karyawan anda."


Pak Ruddy mengerutkan dahi dan menatapku, kemudian pada Celvin. "Bagaimana menurut kamu, Nak?" tanya beliau kepada Celvin.


"Emm... seperti apa yang membuat beliau nyaman, Pa," jawab Celvin.


"Baiklah, kalian disini sebagai saksi. Toh, benar apa kata Saudara Arlan."


Mas Arlan menarik tangannya lagi dari bahuku. Ia menatapku sembari tersenyum. Tidak ada yang bisa aku lakukan, selain membalas senyuman itu. Yah, siapa tahu, hal itu bisa membuat Mas Arlan lebih tenang. Ia menatap Pak Ruddy dengan tajam, bahkan nyaris tidak berkedip. Sedangkan aku dan Celvin hanya bisa bersikap diam dan tenang. Meski dalam hatiku, aku merasa sangat amat khawatir.


Pak Ruddy menyesap secangkir kopi yang telah beliau pesan. Lantas, beliau meraih map yang berada dihadapan. Beliau membuka dan membacanya sekilas saja. "Apa kabar kamu, Arlan?" tanya beliau lebih santai daripada beberapa saat yang lalu.


"Baik," jawab Mas Arlan singkat.


"Lalu, bagaimana kabar anak kecil kamu?"


"Baik juga."


"Jangan terlalu kaku, Arlan. Mau bagaimanapun, kita pernah dekat layaknya kakak dan adik."


"Itu dulu."


"Saya tahu, kamu masih menyimpan dendam yang teramat dalam karna ulah adik saya dan mantan istri kamu. Tapi, ingat Arlan, tidak semua dari kami itu bersalah."


Mas Arlan tidak menjawab. Ia menyesap kopinya dan menatap ke bawah lagi. Aku meraih tangannya diam-diam. Kuusap lembut telapak tangan itu diatas pangkuanku. Ia menatapku. Aku tersenyum tipis dengan maksud membuatnya semangat lagi. Tak peduli jika Pak Ruddy ataupun Celvin menyaksikan kami. Hanya ada Mas Arlan harus aku utamakan.


Perlahan namun pasti, wajah Mas Arlan tidak kaku lagi. Aku rasa, ia ingin segera menyelesaikan pertemuan ini dan mencapai kesepakatan. Ia sedang menghela napas dan mulai berbicara, "jadi, maksud Bapak menawarkan pekerjaan ini atas dasar apa? Atau hanya untuk menyerang keluarga saya?"


Pak Ruddy tersenyum. "Arlan, tidakkah kamu mengenali saya dengan baik? Apakah selama ini saya menyerang keluarga kamu? Saya malah membantu Riska dalam mengangkat perusahaan kalian."


"...."


Itu memang benar. Seandainya saja, hubungan kerjasama itu tidak ketahuan, pasti masih akan berjalan sampai sekarang. Namun, yang aku bingungkan adalah alasan dibalik itu. Mungkin, alasan keuntungan kedua pihak bisa didapatkan. Tapi, mana mungkin Pak Ruddy membantu seringan itu. Terlebih sampai saat ini, keluarga mereka masih berseteru.

__ADS_1


Aku benar-benar tidak mengerti. Semakin dipikirkan akan semakin runyam. Jika saja, Pak Ruddy menjelaskannya secara gamblang mungkin Mas Arlan pun bisa terima dengan baik. Namun, menanyakan hal itu sepertinya bukan hakku. Hakku adalah menunggu dan mendengarkan setiap pertanyaan maupun jawaban. Berharap kedua orang berwibawa itu menyelesaikannya dengan sebaik mungkin, dan tentunya tidak bersitegang lagi. Lagipula, damai itu indah, bukan?


"Jujur, saya pribadi merasa bersalah atas peristiwa itu. Tapi, tidak ingatkah pesan ayahmu dan ayah saya, Arlan?" tanya Pak Ruddy lagi.


"Ti-tidak. Saya tidak mendengar apapun," jawab Mas Arlan.


"Ya, kamu dulu masih terlalu kecil. Tapi saya, selalu mengikuti ayah saya kemanapun perginya. Bahkan saat bertemu dengan ayahmu, Arlan. Setiap detail janji-janji dan ucapan bisa aku cerna."


"Janji?"


"Janji tentang hubungan persahabatan kedua sosok hebat itu. Ayahku dan ayahmu bisa dibilang kawan lama yang begitu akrab. Bukan hal asing jika mereka membuat sebuah janji, perjuangan mereka membangun perusahaan dilakukan bersama-sama."


"...."


"Arlan, mereka ingin keluarga kita tetap baik-baik saja meski telah berpuluh kali melahirkan generasi. Secara kebetulan keduanya memiliki anak laki-laki tanpa anak perempuan, untuk menjadi besan pasti sangat mustahil. Mereka bersedia menunggu seorang cucu pria dan wanita, agar terjalin hubungan lebih erat."


"Jadi?"


Pak Ruddy belum menjawab. Sekali lagi, beliau menyesap kopi hangat. Beliau menatap sang anak dan kemudian diriku. Diakhiri kepada Mas Arlan. Wajah beliau sudah menua, memang benar sepertinya satu usia dengan Pak Gunawan alias kakak iparku. Sosok yang selalu ditakuti oleh Celvin, tapi bagiku beliau tetap orang yang penuh wibawa dan tentunya pemikiran yang dewasa dan matang.


Berada dalam situasi seperti ini membuatku tidak lupa akan cangkir kopi dan juga desert yang dipesankan. Aku terlalu fokus kepada mereka, sehingga kopiku belum berkurang sedikitpun. Akhirnya demi menghargai usaha orang lain, aku mulai menyesap kopiku. Setelah itu, diam kembali. Yah, aku dan Celvin nyaris tidak bersuara sama sekali. Mungkin seperti ini lebih baik.


"Arlan, maafkan saya atas nama adik saya," ujar Pak Ruddy.


"Ma-maksud Bapak?" tanya Mas Arlan.


Mas Arlan tertegun. Aku saja merasa terkejut, apalagi Mas Arlan. Aku tidak menyangka bahwa Pak Ruddy bisa merendah dengan meminta maaf seperti ini. Pak Ruddy pemilik perusahaan Sanjaya yang sangat besar. Apa ini mimpi? Tak hanya kami, Celvinpun tampak tidak menyangka. Usia Pak Ruddy yang sudah diatas kami, tidak mengurangi niat untuk meminta maaf atas kesalahan orang lain.


Pada kenyataannya, Pak Ruddy adalah orang sebaik itu. Namun, mengapa hubungan Celvin dengan beliau tidak pernah baik? Ataukah Celvin saja yang salah penafsiran? Sepertinya memang begitu. Momen perpisahan kedua orangtuanya, kasih sayang serta perhatian yang teramat kurang, bisa jadi kedua hal itu yang membuat Celvin terus berprasangka buruk. Ah... lupakan soal Celvin, ada satu hal yang harus Mas Arlan putuskan disini.


"Saya sudah maafkan," jawab Mas Arlan dengan datar.


"Tentang kesalahan anak saya juga. Seorang ayah mana yang tidak akan marah. Pasti saya pun marah, bukan hanya pihak keluarga kamu. Sebisa mungkin, saya ingin Celvin dan Riska dinikahkan. Karena ini kesalahan mereka," jelas Pak Ruddy mengenai permasalahan Celvin dan Riska.


"Mohon maaf, jika tentang itu kami tidak bisa membantu. Pasti Bapak tahu, tentang hubungan kami sendiri dengan keluarga besar."


Hening. Semua pasang mata menatap ke bawah kecuali diriku. Semua orang tamoak sedang berpikir. Mungkin mencari cara untuk mencapai suatu perdamaian. Aku sendiri merasa bersyukur karena pada kenyataannya Pak Ruddy bisa bersikap selayaknya usia yang harus menjadi penengah yang baik. Menurutku tidak ada salahnya dalam menerima tawaran kerjanya. Lagipula, sebaik apapun suamiku, ia masih dipandang rendah oleh keluarganya sendiri.


Aku ingin Mas Arlan menerima tawaran ini. Bukan hanya untuk konteks bisnis semata melainkan mencari cara bersama untuk menyatukan kedua keluarga agar kembali seperti sedia kala. Lagipula, mereka tidak melakukan kesalahan apapun. Apalagi Nia yang sekarang bukan siapa-siapa sudah tidak berpengaruh dalam kehidupan Mas Arlan ataupun Pak Ruddy. Yah, walaupun adik Pak Ruddy masih memiliki hubungan erat, namun untuk sekarang aku rasa beliau pun sudah memberikan hukuman yang setimpal. Yah, semoga saja ada jalan terbaik setelah ini.


"Arlan?" sebut Pak Ruddy. "Maukah kamu bekerjasama dengan kami? Bukan hanya konteks bisnis, namun juga demi menjalankan amanat orangtua?"


Mas Arlan terdiam. Bukannya segera menjawab, ia malah menatapku. Seolah ingin meminta pendapatku, Mas Arlan menggenggam telapak tanganku. "Maaf, Pak Ruddy. Bolehkah kami berdua keluar sebentar untuk berdiskusi?" Aku meminta izin kepada Pak Ruddy.


Lantas, beliau menganggukkan kepala tanda menyetujui. Sedangkan Mas Arlan yang belum mengerti kini hanya bisa mengikuti langkahku. Kami berdua berdiri lalu mengambil langkah keluar dari ruangan VIP ini. Setelah sampai di ruang biasa, aku mencari meja yang nyaman dan tepat untuk berbicara dengan suamiku.


"Mas?" ujarku setelah kami duduk saling berhadapan disalah satu meja makan yang tengah kosong.


"Iya, Sayang," jawabnya sembari tersenyum simpul.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa?"


"Mas hanya bingung dan bingung aja, Dek."


"Kamu sebenarnya mau kayak gimana?"


"Entahlah, Mas hanya takut dijebak aja."


"Heh! Jangan su'udzon. Nggak baik berprasangka sama orang lain. Coba deh dipikirin lagi, kalau kamu dijebak untungnya apa coba? Uang nggak punya, pekerjaan nggak punya, kamu cuma punya aku. Terus aku ini apa gunanya buat Pak Ruddy."


Bukannya dipikirkan, Mas Arlan malah terkekeh tanpa rasa bersalah. Kemudian ia menopang dagunya menggunakan kedua tangannya sembari tersenyum-senyum sendiri dalam menatapku. Meski suamiku sendiri, lama kelamaan aku semakin salah tingkah dibuatnya. Bisa-bisanya, ia bertingkah seperti ini dikala sedang serius-seriusnya.


Sampai akhirnya kucubit lengan tangan Mas Arlan. Ia pun mengaduh kesakitan. Namun, itu tidak berlangsung lama. Ia kembali risau hatinya. Intinya hari ini hati Mas Arlan dipenuhi dengan segala macam kebimbangan. Aku mengerti, namun bukan berarti aku bisa terus membiarkan suamiku bertindak plin-plan dan memakan waktu seperti ini. Apalagi aku terus kepikiran tentang janji dengan putri kami. Bukannya terburu-buru, tapi aku ingin Mas Arlan segera bertindak lebih tegas saja.


Sekitar tiga menit kemudian, Mas Arlan menghela napas dan menghembuskannya kembali. Ia tidak lagi duduk, namun sudah berdiri. Ia memberikan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku menyambutnya dan kami saling bergandengan untuk kembali ke dalam. Aku rasa, Mas Arlan sudah membuat keputusan. Baiklah, apapun itu aku wajib menghargainya sekalipun bertentangan dengan pendapatku.


Kami masuk ke dalam ruangan lagi, tentunya dengan etika kesopanan. Kami duduk dengan posisi seperti semula. Mas Arlan menatap Pak Ruddy dalam-dalam. "Sebenarnya saya sendiri merasa bersalah karna sudah gagal mendidik Nia saat itu, Pak," ujar Mas Arlan.


"Saya mengerti," jawab Pak Ruddy. "Saya tidak pernah menyalahkanmu, Arlan. Kamu tahu, kamu sudah saya anggap seperti seorang adik. Meskipun kita hanya akrab diwaktu kecil saja."


"Terima kasih. Lalu langkah awal apa yang perlu saya lakukan?"


"Jika kamu menyetujui, saya ingin memberikan posisi direktur utama untuk kamu disalah satu anak perusahaan, Arlan."


"Apa itu tidak berlebihan?"


"Tidak, latar belakang pendidikanmu begitu bagus dan kuat. Saya rasa, kamu bisa menjalankan perusahaan dengan baik. Setelah itu, mari diskusikan cara untuk menyatukan kedua keluarga."


Mas Arlan menatapku kembali. Namun, aku mengangguk mantap. Bukan mendesaknya untuk mengiyakan, melainkan agar ia melontarkan semua pendapat dan keputusannya. "Baiklah, saya akan menandatangi surat ini. Tapi, saya ingin jabatan ini selalu dirahasiakan," ujar Mas Arlan selanjutnya.


"Saya paham dengan tipikal orang seperti kamu, Arlan. Kamu enggan menjadi pusat perhatian, bukan?"


"Salah satunya itu. Namun, disisi lain, saya belum ingin terlihat sebagai penyerang keluarga saya sendiri sebelum menemukan jalan untuk berdamai. Mungkin, kedengarannya sangat lucu. Padahal waktu itu, saya menentang kerjasama Riska dengan Celvin dan malah melaporkannya."


"Saya paham, kamu masih terbawa akan perasaan itu. Mungkin yang membuat saya bingung, bagaimana kamu bisa membuat keputusan besar dan setenang ini dalam menemui pihak kami?"


"Semua karna pengaruh baik dari istri saya, Fanni."


"Tidak heran. Karena Nona Fanni juga menjadi karyawan andalan saya."


Wow! Namaku disebut lagi. Mungkin raut wajahku sudah malu-malu dan terhias warna merah muda disana. Terlebih telingaku terasa panas karena disanjung oleh Pak Ruddy. Padahal dulu aku bekerja dibawah pengawasan beliau, saat masih menjadi manusia yang pemurung. Tak kusangka ternyata Pak Ruddy menganggap diriku spesial apapun keadaanku.


Tak lama kemudian, Mas Arlan mengambil sebuah pena dari dalam kantongnya. Ia memejamkan mata sejenak lalu menatapku lagi. Ia mulai menorehkan tinda hitam diatas kertas putih sebagai tanda persetujuan atas penawaran kerja itu. Kemudian, diiringi jabatan tangan dengan Pak Ruddy. Keduanta melukiskan sebuah senyuman lega. Meski begitu, Mas Arlan akan mengemban jabatan yang luar biasa berat. Semoga suamiku selalu baik-baik saja setelahnya dan bisa mencari cara untuk menemukan jalan perdamaian dari kedua belah pihak.


Aku dan Celvin saling melemparkan senyuman. Dan hari ini orang yang seolah tidak dianggap adalah Celvin. Ia bahkan hanya mengatakan sepenggal kalimat saja beberapa saat yang lalu. Yah, untuknya juga, aku selalu berdo'a agar hubungannya dengan Pak Ruddy bisa semakin baik dan dekat, selayaknya orangtua dan anak.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen

__ADS_1


__ADS_2