Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Pembahasan


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu, kembali lagi pada hari liburku. Terlebih saat ini aku mengalami jatah bulanan, membuatku semakin nyaman merebahkan diri diatas ranjang. Sedangkan Mas Arlan masih asyik bermunajat selepas pulang dari masjid tadi. Yah, tidak ada cara lain kecuali berdzikir, berdo'a, membaca kitab suci dan berusaha demi menyelesaikan segala permasalahan hidup. Ironisnya, ketika manusia sedang berjaya, mereka sering lupa kepada sang pencipta alam, termasuk diriku ataupun suamiku.


Aku melirik suamiku diam-diam. Ia tampak gagah dengan balutan baju muslim, peci beserta sarung. Satu tangan kanannya memegang kitab suci, sedangkan tangan kiri tergeletak begitu saja. Suaranya mengalun merdu membaca ayat-ayat indah itu. Ini pertama kalinya, aku menyaksikan dirinya melakukan hal bagus ini. Sedangkan benakku berpikir, mengapa ia berbeda sekali dengan anggota keluarganya yang lain? Atau Mas Arlan banyak belajar dari pengalaman hidupnya yang pahit? Ah... apapun itu, aku bersyukur telah menemukan dirinya dalam keadaan yang sudah sebaik ini.


Tak lama kemudian, Mas Arlan menutup kitab suci umat islam tersebut diiringi do'a terakhir. Ia melipat kembali sajadah yang ia gunakan. Melepas baju koko dan peci. Hanya tinggal sarung dan kaos biasa yang ia kenakan. "Apa, Dek?" tanyanya kepadaku.


"Nggak apa-apa, Mas," jawabku.


Mas Arlan datang menghampiriku. Sedangkan diriku berusaha membangunkan tubuhku yang berat ini. Mas Arlan mengusap wajahku perlahan diiringi gerak tangannya yang merengkuh diriku dan membenamkan kepalaku dipelukannya. "Yah, belum jadi ternyata," ujarnya.


Aku mengernyitkan dahi. Kemudian bertanya, "apanya?"


"Dedeknya. Kamu malah dapet jatah bulanan, Mas kurang kuat gimana lagi sih?"


"Hmm... belum rezeki, Sayang. Yang sabar ya?"


"Iya, Dek. Mas sabar kok. Tapi, perut kamu udah nggak sakit kan?"


Aku menggeleng mantap. "Nggak, Mas."


"Jangan bohong lho ya. Balik tidur lagi kalau masih nyeri, nanti Mas yang urus Selli. Lagian hari ini libur."


"Iya, Sayang. Tenang aja."


Mas Arlan tersenyum disusul kecupan manis yang ia berikan didahiku. Setelah itu, ia berdiri dan berjalan keluar yang entah hendak melakukan apa. Suami yang pengertian, bukan? Bahkan malam ini ia merawat diriku yang mengalami nyeri perut dihari pertama. Terbilang tiga kali kami terjaga karena suara aduhanku yang tidak menentu.


Karena merasa sudah tidak nyaman pula, akhirnya aku memutuskan untuk turun dan bergegas mandi. Sebelum menuju kamar mandi, aku mengambil pakaian gantiku dan juga barang keperluanku dikala dapet seperti ini. Setelah mendapatkan apa yang dicari, aku kembali mengambil langkah untuk keluar.


Sesampainya di kamar mandi, aku tertegun sebentar. Rasanya masih teramat dingin untuk bebersih diri. Namun, keadaanku yang sudah tidak nyaman mengharuskan diriku secepat mungkin melakukan itu. Lagipula, aku tidak ingin menyulitkan Mas Arlan dengan berbaring sepanjang hari. Terlebih, hari ini aku ingin menemaninya untuk bertemu dengan Pak Ruddy, karena janji temu sudah diatur rapi.


Akhirnya, aku menyalakan shower dan mulai membersihkan diriku dibawah guyuran air itu. Sembari menerka apa yang akan terjadi dipembicaraan nanti. Aku berharap akan berakhir baik dan juga menghasilkan kesepakatan yang tepat. Setidaknya, Mas Arlan bisa tenang. Tidak melulu mondar-mandir tidak jelas sepanjang hari karena status pengangguran yang disandangnya. Selama ini pula, ia tidak mendapatkan kabar apapun dari perusahaan yang ia lamar. Sebenarnya masih teramat singkat, hanya saja aku sendiri mulai khawatir lantaran usia Mas Arlan yang sudah cukup dewasa sebagai seorang pencari kerja.


****


Selepas bebersih diri, aku menyeka air yang mengalir disela-sela helai rambutku. Aku menatap diriku yang terpantul didalam cermin besar yang menempel pada badan almari. Bentuk tubuhku tidak berkurang menjadi kurus sedikitpun. Hanya helaan napas yang bisa aku lakukan sembari cemberut kesal.


Kapan gue kurus?


Meski, sudah tidak terlalu memikirkan tentang berat badan lagi, tetap saja ada kalanya aku menginginkan satu hal itu. Yah, setidaknya turun lima kilogram saja, sudah cukup. Namun, sepertinya sulit. Terlebih pada diriku yang hanya ingin tanpa berniat dengan tekat yang keras.


"Kamu lagi ngapain, Sayang?" tanya Mas Arlan tiba-tiba, sesaat setelah menyelonong masuk.


"En-enggak kok, Mas," jawabku.


"Kok goyang-goyang gitu, Dek?"


"Si-siapa yang goyang? Salah lihat kamu.


"Hehe... nggak ngaku."


Ia mendekat kemudian merengkuh diriku dan dipeluk dari belakang. Lengan tangan Mas Arlan melingkar dibahuku sembari mengecup lembut pipiku. Lantas, aku tersenyum semanis mungkin kepadanya. Pagi yang indah dengan diawali keromantisan, terlebih jika tersuguh roti berbalut selai cokelat bersama secangkir kopi. Tentunya menyantapnya bersama orang terkasih. Syahdu sekali, bukan?


Kemudian aku berusaha melepaskan lengan tangan Mas Arlan yang masih melingkar karena ingat akan rambutku yang masih basah. "Lepasin nanti kamu ikut basah, Mas," ujarku.


Mas Arlan mengecup lagi pipiku sebelum melepaskan lengan tangannya. "Hari ini kamu di rumah aja, kalau masih nyeri," usulnya.


"Nggak mau."


"Kenapa? Kan bisa istirahat, Sayang. Bisa main sama Selli juga."


"Iya, aku tahu. Tapi, aku pengen ikut."

__ADS_1


"Nanti malah kambuh lagi lho, Dek."


"Ayolah, Mas. Ikut ya? Nggak kambuh kok kalau udah hari kedua."


"Hmm..."


"Yaaaaaa?!"


"Yaudah iya. Jam delapan kita berangkat."


"Makasih, Sayangku. Hehe."


Mas Arlan hanya tersenyum. Aku tahu ia tengah khawatir akan kondisiku yang sempat sakit. Namun, bukan tanpa alasan aku ingin ikut dengannya. Ya, aku ingin membantu Mas Arlan. Dan satu kekhawatiranku adalah emosi Mas Arlan. Terlebih kedua keluarga itu masih berseteru. Bukan berprasangka buruk, hanya saja aku takut Pak Ruddy bisa mengatakan hal yang memancing emosi suamiku.


Sebenarnya, disisi lain aku pun merasa penasaran juga. Tampaknya, aku perlu meminta maaf kepada putri kami karena tidak bisa menemaninya dihari libur ini. Sehingga aku mempercepat gerakan untuk mengeringkan rambutku dengan sebuah hairdryer. Setelah dirasa cukup kering, aku bergegas melangkah keluar dari kamar ini.


"Mau kemana, Dek?" tanya Mas Arlan sebelum aku jauh darinya.


Aku berhenti sejenak dan membalikkan badan demi menatapnya. "Mau ketemu Selli, Mas," jawabku.


"Oh... ya sudah."


Setelah itu, aku melanjutkan langkahku kembali. Berjalan perlahan menuju kamar milik Selli. Sebenarnya, ada rasa tidak tega kepada putriku itu. Seharusnya, kami telah membawanya bermain ke taman bermain. Namun, apa mau dikata? Mas Arlan pun terlihat sedang gusar. Meski ia bisa berangkat sendiri, tetap saja aku tidak tega. Yah, aku paham soal hatinya.


Sesampainya di kamar putriku, aku mengetuk pelan. Sebenarnya bisa saja langsung masuk ke dalam, tapi aku ingin membiasakan Selli untuk berlaku sopan dimanapun berada.


"Siapa ya?" tanyanya dari dalam dengan suaranya yang masih khas anak kecil.


"Mama Fanni, Sayang. Boleh Mama masuk?" tanyaku kembali untuk meminta izin.


"Boleh dong, Ma."


Lantas, aku membuka daun pintu kamar ini. Aku tersenyum ketika mendapati Selli yang sudah asyik bermain boneka. Padahal aku pikir, ia masih terlelap tidur. Satu peningkatan bagus untuknya, ia bisa bangun lebih awal. "Selli lagi main sendiri?" tanyaku.


"Oh gitu. Mandi dulu yuk?"


"Mama mau aja Selli jalan-jalan ya?"


Aku terdiam seketika. Ada rasa iba tersendiri untuk menjawab pertanyaan itu. Aku takut membuat hati Selli kecewa. Sejujurnya hari ini menjadi hari yang berat untuk membuat keputusan. Namun, keadaan Mas Arlan saat ini harus lebih diutamakan.


Kucari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Selli. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya berjalan-jalan nanti sepulangnya dari pertemuan itu. Yah, aku berharap tidak akan memakan waktu yang lama. Sehingga aku bisa menyempatkan waktu untuk anak putriku. Terlebih aku memiliki hutang untuk mengajaknya menonton film animasi yang sempat dibatalkan.


Kubelai lembut rambut Selli sembari menatapnya dengan lembut. "Nanti ya? Agak sorean kita nonton film gimana?" usulku.


"Kenapa nggak sekalang aja, Mas?" tanyanya.


"Emm... bioskop kan belum buka kalau masih pagi, Sayang. Daripada ke tempat lain, jadi nanti kita nonton aja ya? Soalnya Mama dan Papa masih ada pekerjaan. Selli bisa ngerti kan?"


"Iya, Ma. Tapi benelan nonton ya?"


Aku mengangguk mantap. Kemudian kuraih tubuh mungilnya. Aku memeluknya penuh kasih sayang seperti seorang ibu kandung. Selepas memberinya pengertian, aku mengajaknya untuk bergegas mandi. Beruntung ia sangat penurut dan pintar. Namun, bukan berarti aku memaksanya untuk mandi dengan air dingin. Jika masih sepagi ini, aku akan menghangatkan air untuk Selli.


Aku tuntun Selli untuk bebersih diri sembari mendampinginya. Satu persatu langkah kukatakan padanya. Tentunya dengan bantuan tanganku meski tidak banyak. Hal ini berfungsi untuk kemandirian Selli sejak usia dini. Jangan sampai putriku tumbuh menjadi gadis yang manja tanpa budi pekerti. Semua mulai kuupayakan yang terbaik untuk Selli dengan beberapa didikan halus yang aku pelajari dari ibuku, kecuali sikap galak beliau.


Tak memerlukan waktu lama, untuk gadis kecil ini bebersih diri. Setelah selesai, aku menyarankan supaya ia melilitkan handuk ditubuh kecilnya dengan bantuan kecilku. Jangan salah, semua hal besar dimulai dari pembelajaran kecil seperti ini. Lalu, ia berlarian kecil menuju kamarnya untuk mencari helai pakaian ganti. Sesampainya disana, ada satu yang menjadi favorite-ku yaitu menyisir dan membuat gaya rambutnya. Rasanya asyik sekali dalam mendandani seorang gadis kecil.


"Nah, anak Mama udah cantik," ujarku kemudian.


"Makasih, Mama," jawabnya.


"Nah, abis ini sarapan dulu dan main sama Bi Onah dulu ya?"

__ADS_1


"Iya, Ma. Nanti Mama dan Papa hati-hati di jalan ya."


"Siap, Sayang."


Aku bergegas keluar dan hendak menuju dapur. Tentunya untuk memeriksa isi meja makan.


Bi Onah memang tidak pernah mengecewakan. Beberapa hidangan untuk sarapan tersaji dengan rapi diatas meja bersama aroma lezat yang menyeruak masuk ke dalam hidungku yang mancung. Lantas, aku kembali untuk memanggil lagi suamiku dan anakku. Karena sudah setengah tujuh pagi. Sebentar lagi akan berangkat ke pertemuan itu, maka dari itu harus cepat menyantap sarapan.


Selanjutkan kami bersantap bersama. Namun, tidak dengan Bi Onah ataupun Pak Edi yang selalu enggan untuk bergabung. Mereka bilang tidak terbiasa makan dengan meja.


****


Selang waktu berjalan, kini aku dan Mas Arlan sudah berada didalam mobil. Kami telah berpamitan kepada Selli dan menitipkan gadis itu lagi kepada Bi Onah. Bersama deru mobil yang mengalun bising berkolaborasi dengan milik orang lain. Mas Arlan tidak berkata satu patah katapun. Mungkin, semakin dekat pertemuan ini, semakin risau hatinya. Aku sendiri tidak enak hati untuk sekedar bertanya.


Aku lebih memilih membiarkan Mas Arlan untuk menenangkan hatinya terlebih dahulu. Sedangkan untuk tempat pertemuan, dijanjikan di sebuah restoran elite dan pada bilik yang tertutup. Aku berharap Pak Ruddy membawa Celvin. Setidaknya kami tidak akan terlalu tegang nantinya. Lagipula, jika Pak Ruddy ingin berbicara empat mata, aku memiliki teman untuk berbincang daripada terdiam bosan.


"Dek?" Akhirnya Mas Arlan memanggilku.


"Ya, Mas. Ada apa?" tanyaku.


"Mas bimbang."


"Aku tahu, Mas."


"Apa kita balik aja terus ditolak aja ya?"


Aku menghela napas berat. Menurutku ini bukan saran yang tepat. Sehingga aku menggelengkan kepalaku dengan mantap. "Hadapi dulu apa yang udah dijanjikan, Mas. Masalah keputusan kamu bisa disampaikan nanti, yang penting kamu dateng dulu tanpa harus membuat orang lain kesal."


"Iya sih. Mas hanya risau aja, Dek. Untungnya kamu ikut, kalau kamu nggak ikut mungkin Mas udah balik lagi."


"Aku nggak pernah memaksa kamu untuk melakukan apapun kok, Mas. Aku hanya memberikan saran untuk mencoba."


"Makasih ya, Sayang. Padahal dalam keadaan sakit tapi masih mau mendampingi Mas kayak gini."


"Iya sama-sama. Tapi, aku udah nggak apa-apa kok, Mas."


Mas Arlan membelai wajahku pelan. Kemudian kembali pada fokusnya ke jalan. Hari minggu yang sepi. Suasana jalan tidak terlalu padat. Aku rasa, para pengemudi yang biasa melewati kini sedang merebah malas di kediaman mereka masing-masing. Dan itu, sangat berbeda dengan suamiku yang belakangan ini terus saja dirundung gelisah. Mungkin proses untuk menuju kehidupan bahagia harus menempuh jalan susah terlebih dahulu. Apapun itu semoga diperlancar menjadi sebuah kesuksesan.


Sampai akhirnya kami tiba di sebuah restoran mewah. Mas Arlan memarkir mobilnya. Kemudian kami beranjak turun. Mas Arlan menunggu diriku. Tanganku diraihnya dan ditautkan dengan jari-jarinya. Kami bergandengan dan masuk ke dalam. Kami menuju suatu bilik yang sudah dipesankan. Jujur saja, telapak tangan Mas Arlan terasa dingin seolah sedang merasa suatu kecemasan. Dan aku pikir itu memang benar.


"Mas, kita bukan sedang ingin bertemu dengan hakim pengadilan lho," ujarku.


"Hehe... nggak tahu, Mas gugup, Dek," jawabnya.


"Tenang aja. Kalau aku aja bisa tenang, kenapa kamu tidak?"


"Mas sebenarnya pernah dekat dengan Pak Ruddy. Beliau seumuran sama seperti Mas Gunawan. Kamu pasti paham hubungan kami. Papaku dan orangtua beliau sempat berteman. Tapi, seketika hancur karena ulah sang adik, Nia dan juga Mas."


"Nggak kok, kamu nggak salah. Siapa tahu setelah pertemuan ini, kalian bisa mencari cara buat saling mendamaikan kedua belah pihak."


"Hmm... kayaknya mustahil."


"Nggak ada yang mustahil di dunia ini. Hanya satu kemustahilan itu, yaitu tubuhku gendutku yang menjadi kurus. Apalagi aku doyan makan."


Sontak saja, Mas Arlan menatap diriku. Ia tersenyum, namun akhirnya terkekeh juga. Yah, meski harus merutuk diriku sendiri, setidaknya suamiku bisa tertawa seperti ini. Sedangkan langkah kami berhenti, tepat didepan suatu bilik tertutup. Mas Arlan menatapku dengan ragu. Karena ia gelisah, akhirnya aku memutuskan untuk menggeser pintu itu. Pak Ruddy terlihat didalam bersama Celvin. Mereka tersenyum, kemudian berdiri untuk menyambut kami.


Deg!


Bersambung...


Sorry ya baru muncul hehehhehee

__ADS_1


Budayakan like+komen .


__ADS_2