Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Jawaban


__ADS_3

****


"Dek... Dek...?" panggil Mas Arlan disaat aku terbengong-bengong untuk beberapa saat.


"Ahahaha... ya Mas haha," balasku.


"Maaf kalau Mas terkesan mendadak sampai kamu syok gitu."


Tentu saja Mas, aku syok sangat syok! Aku sangat berharap Mas Arlan hanya bercanda atau meledekku seperti biasanya.


Otakku berputar-putar mencari sebuah jawaban yang tepat. Aku pikir ini sangat mustahil. Mas Arlan hanya aku anggap teman, tidak lebih. Seandainya saja, aku menuruti kata ibuku. Pasti Mas Arlan tidak berharap sejauh ini.


Ya! Aku memang bodoh. Hanya mau mengikuti naluriku untuk bertemu Selli. Aku memikirkan diriku sendiri, tanpa melihat sikap lain dengan maksud lain pula dari Mas Arlan.


"Maaf Dek," ujar Mas Arlan lagi.


"Ya ya, aku tau Mas Arlan lagi bercanda kok haha," jawabku dengan harapan Mas Arlan memang benar sedang bergurau.


"Kamu pikir begitu ya?"


Aku terdiam. Bodoh! Seharusnya aku tidak mengatakan itu. Kini, aku malah terlihat seperti orang jelek yang tidak tau diri. Sudah disayangi malah melukai.


Lalu, aku sebaiknya harus bagaimana?


Aku berharap Selli datang kemari. Sehingga masalah ini tidak dibahas lagi. Tapi itu mustahil, Selli masih terlihat sangat asyik bermain dengan teman sebayanya. Ya Tuhanku!


"Mas, a-aku tau Mas Arlan nggak bercanda kok," kataku setelah mengerahkan semua energi untuk menenangkan diri kembali.


"Ya Mas nggak bercanda, ini serius dari hati Dek. Mas jatuh cinta sama kamu," jawab Mas Arlan.


"Mas coba pikir kembali, apa Mas bener-bener jatuh cinta sama aku atau Mas hanya tersugesti karena Selli bisa dekat denganku?"


Hening. Mas Arlan tidak langsung menjawabku. Bola matanya memandang jauh pada hamparan danau kecil dihadapan kami. Dua insan yang sedang dirundung kecanggungan satu sama lain sedang duduk bersama disalah satu taman kota.


Jika saja Tuhan memberikan perasaan yang sama antara aku dan Mas Arlan. Pasti aku akan langsung menerimanya. Meski aku sudah sangat ingin menikah, aku tetap tidak ingin gegabah. Aku tidak ingin, suatu saat Mas Arlan mengalami hal yang sama. Ia harus ditinggalkan seseorang yang dicintainya lagi.


"Nggak Dek, aku sudah sangat yakin soal perasaanku sama kamu," ujarnya. "Mas bisa nunggu kamu, kalau kamu belum siap sekarang."


"Menunggu? Kalau sesuatu yang Mas tunggu tidak sesuai harapan bagaimana?" tanyaku.


"Mas menerima semua keputusanmu Dek."


"Nggak Mas, selama ini aku selalu berharap Mas bisa mendapat pengganti ibu Selli yang baik dan mencintai Mas apa adanya."


"Apa kamu tidak ada sedikitpun perasaan buat Mas, Dek?"


Deg!


Sedikit perasaan untuk Mas Arlan? Apakah ada dihatiku? Sejauh ini, kami bersama dengan alasan yang tepat yaitu Selli. Rasa nyaman yang hadir didalam pertemanan kami adalah rasa sebagai sepasang sahabat. Namun, mengapa dadaku sedikit sesak? Perasaan bimbangpun ikut merayap.

__ADS_1


Mas Arlan beringsut sedikit. Ia duduk dalam posisi menghadapku. Bola Matanya yang bernetra hitam legam memancarkan aura harapan. Wajah sayu yang selama ini begitu sabar mengurus anak perempuan manis kupahami pelan-pelan.


Ya! Aku hanya kagum padanya. Aku bersimpati padanya. Kedewasaan, kesabaran dan kasih sayang tulusnya. Tidak banyak orang bisa seperti Mas Arlan. Aku yakin bahwa itu rasa kagum bukan cinta. Apalagi baru-baru ini aku menyadari bahwa aku telah jatuh hati pada bosku, Celvin. Meskipun, itu sama mustahilnya.


"Papa ayo pulang Selli udah ngantuk," ujar si gadis kecil menyadarkan Mas Arlan yang terus menatapku.


Aku menghela napas lega lalu menghembuskannya kembali. Sebuah rasa syukur aku katakan dalam hati. Masih ada jeda, dimana aku bisa menunda pembahasan ini. Aku punya waktu untuk merangkai kata, sebuah jawaban tepat yang akan aku berikan pada Mas Arlan.


"Iya sayang," jawab Mas Arlan pada gadis kecilnya.


Kemudian Mas Arlan menggendong tubuh mungil Selli. Ia juga mengajakku untuk kembali.


Kami berjalan beriringan menuju tempat mobil kami terparkir. Saling diam tanpa bicara. Selli pun begitu, tampaknya ia sudah kelelahan. Terbukti, saat ia merebahkan kepalanya pada pundak Mas Arlan.


Sesampainya ditempat mobil berada. Mas Arlan membuka mobil dan memberi perintah halus untuk Selli.


"Selli sayang kalau udah ngantuk tidur dulu ya di mobil, entar papa masuk," katanya pada anak gadisnya tersebut.


Mas Arlan menutup pintu mobil yang kacanya jendelanya tampak terbuka, dimana Selli saat ini berada. Sedangkan aku masih berdiri bersender pada mobilku tepat disamping mobil Mas Arlan.


Mas Arlan bergerak kesampingku. Menyenderkan tubuhnya di mobilku sama sepertiku. Kami terdiam untuk sejenak. Menyusuri kebimbangan hati kami masing-masing.


"Mas?" ujarku memanggilnya.


"Iya Dek," jawabnya singkat.


"Aku selalu berharap Mas bisa bahagia lebih dari ini."


"Iya Mas."


"Dek?"


"Emm."


"Apa Mas bener-bener nggak punya kesempatan?"


"Maaf Mas, aku pun bingung dengan perasaanku. Aku ingin menikah tapi tidak ingin gegabah juga. Aku tidak ingin menerima perasaan Mas Arlan karena iba atau karena ada, aku nggak mau Mas terluka untuk kedua kalinya, dan aku ini gendut Mas. Mas bisa cari orang yang lebih cantik dan baik dari aku."


Mas Arlan maju lalu berbalik menghadapku. Tangannya meraih tanganku, ia mengenggamnya begitu lembut. Beruntung kondisi tempat parkir masih sepi. Mungkin semua orang masih menikmati angin malam di taman.


Aku hanya bisa menelan saliva dengan ngilu. Semakin bingung harus berbuat apa kecuali menunggu apa yang akan dilakukan Mas Arlan selanjutnya.


"Kalau alasan kamu belum punya perasaan sama Mas, Mas bisa terima Dek," ujarnya. "Tapi kalau karena bentuk fisik, Mas nggak bisa terima sama sekali," lanjutnya.


"Tapi Mas, itulah kenyataannya," jawabku.


"Jangan pernah berpikir bahwa semua pria sama Dek, cukup Nia mantan istriku yang bisa dijadikan pembelajaran."


"Maksud Mas?"

__ADS_1


"Mas tidak munafik kalau dia tergolong cantik, namun hatinya sama sekali tidak mencerminkan itu. Dia jahat Dek, meski begitu Mas masih berterimakasih padanya karena telah melahirkan Selli, dan ini menjadi bukti bahwa keindahan fisik tidak menjadi tolok ukur utama untuk jatuh cinta."


Ucapan Mas Arlan membuatku tidak bisa berkata-kata lagi. Hati Mas Arlan yang begitu tulus malah terasa membebaniku. Ingin rasanya membalas cintanya, tapi perasaanku tidak mencintainya.


Lalu aku harus bagaimana?


"Kamu tanyakan dalam hati kecilmu yang paling dalam Dek, coba dipikirkan lagi. Mustahil jika kamu tidak mempunyai perasaan sedikitpun pada Mas, apalagi kita sering menghabiskan waktu bersama, chatting lalu video call berdua ataupun dengan Selli," kata Mas Arlan dengan gigih.


"Maaf Mas, aku tidak ingin gegabah aku tidak ingin seperti Nia, mantan istri Mas Arlan. Aku tidak mau Mas Arlan dan Selli terluka dua kali," jawabku tak kalah gigih.


"Hmm... baiklah jika itu jawabanmu."


"Maaf Mas, sepertinya aku harus pulang."


Aku berbalik lalu akan berjalan kearah berseberangan untuk menuju pintu mobil, dimana stirku berada.


GREP!


Mas Arlan meraih tanganku lagi sebelum aku jauh melangkah. Spontan aku terkejut dan menatapnya lagi. Genggaman tangannya begitu kuat sekarang.


"Mas bakal tunggu kamu sampai kapanpun Dek, selama kamu belum memiliki pasangan. Mas bakal tunggu kamu, sampai kamu menyadari perasaanmu," ujarnya.


"Mas?" balasku.


"Untuk yang ini, Mas mohon jangan ditolak. Jika suatu saat harapan Mas tidak sesuai, Mas tidak akan pernah sakit hati ataupun benci sama kamu."


"Tapi Mas bisa sakit hati lagi!"


"Mas tidak peduli Dek, Mas sadar Mas terlalu tua buat kamu, aku seorang duda anak satu dan pasti banyak pertimbangan dihatimu. Tapi aku yakin, suatu saat kamu bisa melihat kesungguhan hati Mas, tulusnya aku sama kamu."


"Mas aku harus pulang."


Aku melepas paksa genggaman Mas Arlan dan segera masuk kedalam mobilku. Haruskah aku senang? Baru kali ini aku merasa diperjuangkan. Namun, mengapa aku malah bimbang, bingung dan tidak karuan?


Sudahlah! Aku harus segera pulang. Banyak hal yang terjadi, kejutan-kejutan yang tidak terduga muncul silih berganti. Diusiaku tiga puluh tahun ini, rasanya aneh sekali bukan? Harusnya aku sudah sangat terlambat mengalami masalah percintaan seperti ini.


Aku memutar stir dan melaju mobilku meninggalkan taman dan Mas Arlan. Aku pulang dengan perasaan kalut. Dan daripada pusing sendiri di apartemen, aku memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuaku.


Hiruk pikuk kota dimalam hari terasa begitu melankolis. Jalanan tidak terlalu macet dan sesekali terdengar lantunan lagu-lagu syahdu yang dinyanyikan oleh beberapa pengamen. Hal itu menambah suasana semakin hangat.


Berbeda dengan jiwaku yang masih terasa membeku.


Bersambung...


Yuhhuuuuu... voting terbanyak dimenangkan oleh Mas Arlan berarti Aa' Celvin buat aku yaaa??? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


Tapi gaes perlu diingat ya bahwa


"Segala sesuatu tidak akan mudah untuk didapat, semua butuh proses dan perjuangan. Yang mudah belum tentu membahagiakan dan yang sulit belum tentu mengecewakan. Lewati setiap prosesnya, agar kamu tau bagaimana nikmatnya perjuangan."

__ADS_1


Budayakan tradisi like dan komen yaa... geratiss!!!


__ADS_2