
Sepanjang malam gelap, disudut ruangan kecil bagai sangkar. Terbaring lemah diatas ranjang yang tidak nyaman. Sedang tetesan air obat masih mengalir dan menancap melalui selang dan jarum yang tajam. Mengiris sakit, didalam pergelangan tangan. Kamar serasa sesak, karena bau obat-obatan.
Menunggu kekasih yang tidak kunjung datang. Batin merintih tanpa kepastian. Hati penuh sesal, seolah tak ada ampunan. Tak ada yang bisa diperbuat, tak bisa juga menerka-nerka.
Dimanakah kamu, kekasihku? Aku ingin kamu.
Jiwa bagai terbang, mencari sosok tersayang. Namun, tak kunjung ditemukan. Merindu dalam kalbu. Tanpa ada penawar dahaga hati itu. Air mata pun sudah enggan keluar, karena malu-malu. Menyisakan perih menusuk batinku.
****
Yah, itu aku. Mas Arlan tak kunjung datang sejak kemarin. Sedangkan ibu, ayah dan Kedua kakakku yang bergantian menemaniku. Ingin rasanya segera pulang, namun Dokter belum memberikan izin. Karena kondisiku belum sepenuhnya stabil.
Mau tidak mau, aku harus berbaring disini. Dengan tusukan jarum infuse yang perih sekali.
Rasa iba pun mulai bergelayut, tatkala melihat Ibuku tampak kelelahan karenaku. Belum lagi biaya yang beliau keluarkan untuk hari ini. Terkadang membuatku sulit bernapas, ketika membayangkannya. Aku terlalu tidak berguna.
"Fanni, belum subuh kok udah bangun?" tanya Ibuku, ketika beliau membuka mata dini hari ini.
"Fanni nggak nyaman Ma, pengen pulang," jawabku.
Ibuku turun dari sofa yang tersedia diruang rawat ini. Setelah itu datang menghampiriku. " Sabar sayang, kata Dokter baru boleh dua hari lagi. Biar kondisi kamu stabil, sambil ngabisin isi infuse."
"Fyuuuhh... lama banget ya Ma."
"Nggak kok, biar kamunya cepet pulih. Jadi Dokter menyarankan empat hari rawat inap, sayang."
"Maafin Fanni ya, Ma."
"Udah jangan merasa bersalah terus. Kamu harus cepet sehat dulu, biar Mama juga tenang."
"Papa dimana?"
"Mama suruh pulang, kasian sayang. Papa kaku maagnya juga kambuh lagi, kayak kamu."
"Iya Ma, biar Papa istirahat juga."
"Yasudah kamu tidur lagi dulu sayang, berdo'a untuk kesehatan kamu sendiri."
"Iya Ma."
Ibuku kembali berjalan kembali menuju sofa yang telah tersedia. Beliau memberikan aku waktu untuk tidur kembali. Aku yang berada didalam sini, sama sekali tidak tau pergantian hari secara pasti. Tidak ada jendela satupun.
Hening. Mataku tidak mau terpejam sama sekali. Beberapa kali kurasakan perih dibagian pergelangan tangan karena jarum infuse. Sedang Ibuku mungkin telah terlelap kembali.
Aku rasa jam tiga pagi masih belum ada. Ahh... sebenarnya apa yang aku harapkan? Sampai bisa seperti ini. Harusnya aku sudah tau, sejak awal aku memang tidak berjodoh dengan Mas Arlan. Mungkin kami sudah benar-benar berakhir.
Tapi, yang aku sesalkan adalah tidak ada kejelasan lebih lanjut darinya. Nomor ponselnya pun tak pernah terlihat menghubungiku sejak pertengkaran di Cafe itu. Sepertinya Mas Arlab menon-aktifkannya.
Aku harus berusaha ikhlas jikalau dugaanku memang benar. Mengikuti saran Ibuku, mungkin adalah yang terbaik. Kencan buta atau diperkenalkan dengan anak dari teman beliau. Untuk hasilnya nanti, lihat saja.
Seandainya, tidak ada yang cocok denganku. Berarti aku harus menerima nasibku. Melajang seumur hidupku. Sendirian tanpa suami, anak dan cucu.
Ahh... sial! Segala macam pikiran buruk terus meracau didalam otak. Kegelisahan terus menggemakan kepedihan. Aku sangat-sangat plin-plan. Memejamkan mata lalu menggerutu tiba-tiba.
Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan! Mas Arlan!
"Whuuuaaa... aku kangen Mas, aku mohon cepat datang... hiks." Aku bergumam kesal.
Beruntung Ibuku tidak terbangun. Bagaimana ini? Nama pria itu terus muncul dalam otak, benak, hati, jiwa, kalbu, batin dan kawan-kawannya.
Semua ucapanku tadi sia-sia. Kesiapanku tentanh segala kemungkinan, akhirnya runtuh juga. Padahal, aku sudah mencoba tegar. Tak terasa tetesan air mata menbanjiri pipiku bak bencana banjir di kota Jakarta.
Ya Tuhan! Sampaikan salam rinduku padanya. Setidaknya beri satu tusukan tajam dihatinya. Agar dia menyadari apa yang rasakan. Agar dia datang, agar dia peduli lagi. Agar dia memaafkan kesalahanku kala itu. Aku menyesal, aku menyesal telah menyia-nyiakan perjuangannya.
Arlan, iya pria yang bernama Arlan itu. Pria yang kucintai itu. Ibarat narkoba yang begitu mengikat. Sangat sulit untuk lepas. Aku trlah masuk kedalam sangkar asmara, asmara pahit yang semoat kami jalani.
Namun, mengapa? Saat ada titik terang yang baru. Ia pergi. Menghilang selama dua minggu lebih. Tanpa kabar, tanpa kejelasan. Apakah ia telah mendapatkan pendamping yang sesuai kriteria keluarganya? Sesuai dengan harapanku saat itu.
Lalu mengapa aku merasa sakit? Padahal, jika itu benar. Harapanku telah terkabul.
Aku membangunkan diriku perlahan. Memposisikan duduk dengan nyaman. Suasana rumah sakit begitu sepi mencekam. Hanya terdengar suara dengkuran dari Ibuku. Membuatku terkadang bergidik ngeri. Bagaimana kalau ada hantu? Begitulah pikirku.
Selimut yang aku pakai tak luput dari serangan gigitan gigi-gigiku. Saat rasa gemas dan sebal datang kembali. Mengumpat bodoh pada diriku sendiri. Menganggap bahwa aku terlalu egois dan tidak berguna.
Selalu saja melihat orang yang mengecamku. Tanpa mau percaya pada sosok yang selalu mendukungku, mencintaiku pula. Dan sosok itu adalah Mas Arlan. Yang tidak pernah lelah berjuang. Meluluhkan hati orang tuaku. Namun, semua remuk redam dengan kesalahan fatal yang aku lakukan.
__ADS_1
Demikianlah malam panjang ini. Aku menjalaninya dengan penuh dosa sesal. Terhitung mataku tidak terpejam sama sekali.
****
Sampai pagi, aku terus terjaga. Sedang Ibuku telah merapikan beberapa barang yang berantakan. Sang Dokterpun sudah mengecek kondisiku beberapa saat yang lalu. Tentu saja dengan tusukan jarum yang dihujamkan pada kulitku. Sampai rasanya sakit lagi.
"Good morning, gadisku," sapa pagi Ayahku sembari membuka pintu kamar ini.
"Morning Daddy," jawabku dengan senyum semanis mungkin.
"Gimana udah enakan belum?"
"Udah kok Pa, hehe."
"Dasar nakal lain kali jangan berbuat yang tidak-tidak lagi ya?"
"Iya Pa. Maafin Fanni ya?"
"Yaudah sarapan enak yuk. Papa bawa bubur ayam nih. Ma sarapan dulu."
Ibuku menoleh pada kami. "Iya Pa, bentar. Ngerapihin selimut dulu."
Ayahku bergerak menyiapkan sarapan pagi ini. Aku rasa Dokter telah mengizinkannya. Atau mungkin Ayahku yang bertanya lebih dulu. Apakah aku sudah boleh menyantap hidangan diluar.
Setelah Ibuku selesai. Beliau menghampiri kami. Tentunya telah ke toilet untuk sekedar gosok gigi. Kami menyantap sarapan bersama layaknya keluarga. Hal positif yang kudapatkan dari jatuh sakit. Aku sudah berbaikan kembali dengan Ibuku.
"Pa, Kak Pandhu sama Kak Febi mana?" tanyaku kemudian.
"Pandhu ada kan ada kerjaan hari ini sayang," jawab Ayahku.
"Kalau Febi, lagi mual obat," lanjut Ibuku.
"Mabuk obat?"
Ibuku meneguk air minum terlebih dahulu. "Sepertinya dia hamil deh, belum sempet dipriksain. Mama juga belum tau, dia udah tes sendiri belum."
"Oh ok. Mudah-mudahan memang isi, Ma."
"Amin sayang, Mama sama Papa juga udah nggak sabar ingin nimang cucu."
Andaikan aku diposisinya, aku pasti akan bahagia. Bukan maksudku sekarang juga tidak bahagia mengenai kemungkinan kehamilannya. Hanya saja, aku juga ingin memiliki seorang anak yang bisa dipanggil cucu oleh kedua orang tuaku.
Nyatanya, kisah cintaku tidak berjalan mulus. Ketidakpastian telah terjangkit sebelum aku naik ke pelaminan dengan lelaki yang aku idam-idamkan.
Hmmm...
"Ma, Mama pulang dulu aja?" ujar Ayahku.
"Papa mau disini?" tanya Ibuku.
"Iya, biar gantian. Mama bisa mandi, dulu terus istirahat dengan benar. Kayaknya Febi juga sering mual, Papa kan nggak paham."
"Hmm... yaudah Mama pulang dulu setelah ini."
Yah, itu adalah keputusan yang tepat. Aku juga tidak tega melihat Ibuku kelelahan sepanjang hari di rumah sakit ini. Sebenarnya Papa juga. Namun, aku yang sekarang tidak mungkin ditinggalkan begitu saja.
Setelah selesai menyantap. Kedua orang tuaku membersihkan sisanya. Aku hanya menatap kosong penuh rasa bersalah. Padahal sebenarnya, aku sudah bisa bergerak. Hanya saja, Ayahku tidak membiarkannya. Kata beliau, biar sembuh dulu. Jarang sekali memanjakan putri satu-satunya saat ini.
Anak mana yang tidak bahagia memiliki seorang Ayah yang selembut itu? Mungkin, kata orang tentang seorang anak perempuan lebih dekat dengan sang ayah, bukanlah isapan jempol semata. Sedari kecil, Ayahku selalu mengedepankan aku daripada Kak Pandhu. Mungkin juga karena ia pria, maka dididik lebih keras dariku.
Beberapa saat kemudian, Ibu telah siap untuk pulang. Meninggalkan diriku dengan ayahku saja.
"Mama pulang dulu ya sayang," pamit beliau.
"Iya Ma, hati-hati dijalan. Ehh... Mama pulang bareng siapa?"
"Naik taksi aja sayang."
"Jangan ih, Papa anterin sang pujaan hati dong."
"Nggak usah biar Papa disini."
"Nggak mau, nggak mungkin Fanni biarin Mama pulang sendiri. Pokoknya Papa harus anter, lagian aku udah sehat. Dokternya aja yang lebay hehe."
"Hahaha."
__ADS_1
Ayahku tertawa renyah dibuatnya. Akhirnya beliau bersedia mengantarkan Ibuku untuk pulang. Yah, tak apa aku sendirian.
Sehingga ada waktu untuk merenung kembali. Dengan harapan hati yang masih tinggi. Menunggu kedatangan kekasihku.
Ayah dan Ibuku telah berlalu. Kini tinggal aku, menatap langit-langit kamar rumah sakit. Sangat sunyi. Sampai membuatku merinding beberapa kali.
Sialnya harus mengalami panggilan alam. Perutku mulas. Mau tidak mau, aku beranjak turun dari ranjang. Berjalan keluar mencari keberadaan toilet. Karena ruang rwat yang aku pakai tidaklah berkelas tinggi. Sehingga tidak ada fasilitas umum itu.
Tak apa, untuk berjalan-jalan juga.
Aku berjalan dengan tangan membawa tiang infuse yang jarumnya masih terpasang ditanganku. Masuk kedalam toilet. Untuk memenuhi panggilan alam ini.
Setelah itu, berjalan keluar sebentar. Ada sebuah taman kecil sebagai penghias. Kolam kecil berisi ikan-ikan emas. Mungkin konsep yang diberikan pada rumah sakit ini, selain kesehatan adalah keasrian. Beberapa tanaman obat tertanam disekililing kolam kecil tersebut. Akupun memilih duduk di salah satu kursi yang telah disediakan.
Berbicara soal kolam. Aku menjadi teringat dengan danau. Dimana Mas Arlan pertama kali, mengutarakan perasaannya padaku. Penuh ketegangan diantara kami saat itu. Aku yang gusar karena sosok Celvin. Mas Arlan yang tiada henti meyakinkan diriku, bahwa aku mencintainya. Dan hanya sebatas kagum pada Celvin.
Tak terasa waktu cepat berlalu. Menyisakan beberapa kenangan dalam hati kami. Pengorbanan yang Mas Arlan berikan pun tiada henti. Pertengkaran kami dengan Ibuku. Lalu pertengkaran kami juga.
Jika dipikirkan lebih dalam, memang terasa menggelikan. Mungkin saat ini, Mas Arlan pun juga lelah. Apalagi menghadapi sikapku yang emosi-an dan juga mengkhawatirkan segala sesuatu dengan berlebihan.
Namun, sekali lagi. Aku masih menginginkan ia kembali lagi untukku.
"Fanni!" seru seseorang padaku.
Sontak saja aku menoleh pada orang tersebut.
Alangkah terkejutnya aku. Nike dan Tomi datang kemari. Lalu diikuti Celvin disampingnya. Celvin memakai jas seperti biasa. Hanya saja sebuah topi, kaca mata lali masker dikenakan untuk menutupi wajahnya. Aku paham tentang itu, karena ia dari keluarga pemilik perusahaan terkenal.
Astaga! Penampilanku benar-benar kacau sekarang. Hanya balutan piyama rumah sakit yang aku pakai. Rambutpun masih acak adul tidak karuan.
Sedang mereka semakin mendekatkan langkahnya untuk mendekatiku.
"Hai Fanni," sapa Celvin padaku.
"O-oh hai juga," jawabku.
"Ya ampun Fann, loe nggak apa-apa kan?" tanya Tomi.
"Iya santai Tom, gue nggak apa-apa kok. Kok kalian bisa dateng bukannya masih kerja?"
Nike dan Tomi menatap Celvin bersamaan. Membuatku sedikit bingung.
"Aku Fann, yang ngajak mereka," ujar Celvin selanjutnya.
Bahasanya yang terkesan akrab menimbulkan tanda tanya tersendiri bagi kedua sahabatku. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Aku rasa, mereka merasa heran dengan hubunganku dan Celvin.
"Mari masuk." Aku memotong pemikiran mereka. Lalu mengajak untuk masuk kedalam kamar rawat yang aku pakai.
Nike bergerak memapahku untuk berjalan. Ia dengan setia membawakan tiang infuse. Kami berempat hendak masuk.
"Jadi, gimana kamu bisa sakit Fanni?" tanya Celvin.
"Nggak apa-apa kok, mungkin lagi capek aja Vin," jawabku.
Nike menatap lebih heran lagi. "Ma-maaf kok Bapak sama Fanni bisa seakrab ini ya?" tanyanya penasaran.
"Sssttt... Nike aneh-aneh!" Tomi memperingatkan wanita berhijab tersebut.
"Hahaha... nggak apa-apa Tom. Saya dan Fanni sudah terbiasa kerja bareng, jadi kebawa suasana malah jadi akrab," jelas Celvin.
"Oooooooo..."
Nike dan Tomi menjawabnya dengan bersamaan.
Kemudian Nike mengambil sebilah pisau diatas meja yang mungkin milik Ibuku. Ia mengupas beberapa buah yang telah ia bawa. Lalu menyajikannya untukku.
Aku terkesima dibuatnya. Padahal aku yang menjadi tuan rumahnya. Namun, tidak sanggup menyajikan hidangan selamat datang kepada mereka.
Sahabatku tersebut dengan sabar memijat beberapa bagian tubuhku. Sesekali membisikkan pertanyaan. Tomi dan Celvin asyik bercengkerama berdua. Menungguiku selama beberapa saat lamanya.
Disini kutangkap lagi hal baru. Tentang Celvin. Perlahan bisa membaurkan dirinya dengan yang lain. Terbukti saat ia mampu terlibat dalam kelakar Tomi. Posisi sebagai CEO tidak lagi terlihat saat ini. Satu langkah menuju hal yang baik.
Bersambung...
Budayakan tradisi like dan komen...
__ADS_1
maaf guys telat gini... Seharian otakku kosong dan blonngg... Karena setiap bab aku up dengan kondisi fresh langsung dari otak. hehehe