
Lewat dua hari setelah hari kemenangan alias lebaran, hidupku kembali seperti biasanya. Dua hari menjadi momen bahagia dan sempurna namun juga sedikit melelahkan. Bertemu dengan keluarga besar, entah dari keluargaku ataupun kaluarga Mas Arlan. Saling memberikan maaf sembari berjabat tangan. Belum lagi, kami bersantap bersama dengan hidangan khas hari raya. Ditambah banyaknya cemilan kue kering. Sungguh! Aku rasa, berat badanku naik lagi. Lima kilo? Astaga, menyebalkan, bukan?
Ingin rasanya menangis jika melihat angka di timbangan naik. Ingin berdiet namun aku tidak mampu mengendalikan lidahku, belum lagi aku masih harus memberikan--ASI. Diet itu ibarat kemustahilan untukku. Aku berharap, orang lain tidak meniru pola hidupku yang separah ini. Namun, masa' iya aku tidak bisa membuang lima kilogram saja? Menyedihkan!
"Dek?" Saat aku menoleh ke arah sumber suara itu, tampak pemiliknya berjalan mendekatiku.
"Ya, Mas. Ada apa?" tanyaku kembali sembari menaruh tubuh Sella ke atas ranjang goyang miliknya.
Mas Arlan duduk di sampingku, ketika aku sudah kembali terduduk di tepian ranjang milik kami. Kemudian, aku menyamakan posisiku sama seperti dirinya. Ia menatapku. "Mas kangen, Sayang."
Dahiku mengernyit seketika. "Kangen? Nggak salah, Mas? Padahal tiap hari bareng lho."
Mas Arlan menjatuhkan kepalaku ke dalam pelukanku. Tentu saja, aku merasa terkejut karena tingkah manjanya itu. Namun bukan berarti aku halau pergi. Tanganku mengusap kepalanya yang ada di pelukanku ini. Entah apa yang membuatnya merasa rindu kepadaku, padahal setiap hari kami bersama. Terlebih ia masih libur beberapa hari lagi.
"Mas kalau ngantuk tidur aja di samping si Bule, asal jangan ditindih anaknya ya?"
Mas Arlan menggelengkan kepala. "Mas enggak ngantuk kok, Dek." Ia kembali mengangkat kepalanya dan kini menatapku dengan sayu.
Aku mundur. "Apaan sih lihatin aku? Masih siang, Sayang."
"Emang kenapa kalau masih siang? Orang pengen lihat wajah istri, dua hari enggak fokus sama istri."
"Oh, gitu. Ya namanya hari raya, Mas. Pasti sibuk-sibuknya. Emm ... aku gendutan lagi tahu, Mas. Kebanyakan makan opor sama rendang, belum lagi cemilan banyak. Aku nyesel, Mas."
"Diet yuk? Yang sehat."
Aku tersenyum getir. "En-enggak janji, Mas hehe."
"Ya udah, diatur lagi pola makannya. Banyakin makan sayur sama buah, Sayang. Nanti kita belanja. Walaupun enggak berhasil nurunin berat badan, yang penting menyehatkan. Lagian ... Mas ketemu kamu juga udah se-sexy ini kok, jadi ya udah biasa hehe."
"Cihh! Sexy, ya?" Aku mendengkus kesal.
Tak lama kemudian, Mas Arlan meraup wajahku menggunakan kedua telapak tangannya. Dikecupnya habis seluruh wajahku, bahkan ia tidak memperdulikan diriku yang tengah meronta karena kesulitan menghirup udara. Sepertinya ia benar-benar rindu kepadaku. Mengingat kesibukan kami yang padat, ia di Canberra, aku di kantor. Dan ketika ia pulang, aku sibuk mengurus kedua anakku. Dua hari ini pun menjadi momen yang menyibukkan disela kebahagiaan.
"Dek?" Mas Arlan masih menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya. Ia menatapku dengan sayu bak meminta sesuatu, aku rasa memang begitu.
"Hmm." Hanya itu yang bisa aku berikan sebagai jawaban.
Setelah itu, wajahnya kian mendekati wajahku. Secara spontan aku menutup mataku. Perlahan, bibirku terasa hangat karena ulahnya. Baiklah, ini yang ia minta. Keromantisan di antara kami tidak akan terhindarkan lagi. Beruntungnya Selli dan Sella tengah tertidur. Meski waktu masih siang, Mas Arlan tidak peduli.
"Mas kangen sama kamu, Dek ...," bisiknya tepat di telingaku. Dan apa yang terjadi ...?
****
Aku mengambil helai pakaianku dan mengenakannya kembali. Hari terasa kian panas. Namun Sella belum terbangun, ia sangat mengerti situasi ayah dan ibunya rupanya. Setelah selesai mengenakan pakaianku, aku memutuskan untuk meraih remote AC dan menyalakan benda itu supaya kamar ini terasa lebih sejuk, dan agar anak dan suamiku tidur dengan pulasnya.
Kulangkahkan kakiku untuk keluar dari kamar ini. Tenggorokan yang terasa kering, membuatku ingin segera mengambil air minum yang dingin dari kulkas. Kaki berjalan tergesa-gesa. Sebelum menuju tangga, aku menengok ke kamar Selli terlebih dahulu.
Ternyata ia sudah terbangun. Aku melongok, namun tidak masuk ke dalam. "Anak gadis udah bangun, mau makan enggak, Sayang?" tanyaku kepadanya.
Selli menggelengkan kepala. "Enggak, Ma. Masih kenyang," jawabnya. Ia menatapku dari tempat tidurnya dan masih merebah di sana. Sepertinya belum lama bangun dari tidurnya.
"Oke, Sayang. Nanti kalau udah jam tiga, lansung keluar dan mandi ya?"
"Iya, Mama."
Aku tersenyum saja. Setelah itu, kembali aku tutup pintu kamarnya. Aku kembali melanjutkan langkahku. Kutapaki anak tangga satu persatu. Kadang aku berandai-andai, jika saja satu tapakan kakiku pada tangga bisa mengurangi lemak satu kilogram, pasti aku sudah langsing dari sedia kala. Namun itu mustahil, bukan? Aku tidak merasa frustasi seperti di masa lalu, hanya saja terkadang merasa sebal kepada diriku sendiri.
Selanjutnya, aku menuangkan air dingin dari botol ke dalam gelas belimbing, air itu adalah air dingin yang sudah aku ambil dari kulkas. Aku menyesapnya, sensasi dinginnya sungguh sangat menyegarkan. Entah dari cuaca panas, kelelahan, ataupun perasaan sebal. Tampaknya aku harus mengikuti anjuran dari Mas Arlan juga untuk memperbanyak memakan sayur dan buah. Setidaknya menyehatkan badan, penurunan berat badan akan aku jadikan sebagai bonus saja.
__ADS_1
"Hmm ... gue emang gendut! Udah turunan susah banget kali, ya? Atau emang guenya pemales? Hmm ...," gumamku pelan.
Setelah selesai, aku berencana kembali. Namun sebelum itu, aku merapikan bekas minumanku yang tercecer di meja makan. Masa' iya, aku harus menyulitkan Bi Onah untuk hal sekecil ini. Bahkan beliau sepertinya masih istirahat di dalam kamar, mengingat masih jam setengah dua siang. Terlebih panas sekali. Ya, memang ada AC sebagai penyejuknya.
Saat aku sampai di ruang tengah, tiba-tiba terdengar bel pintu yang berbunyi. Dahiku mengernyit karena heran. "Panas-panas gini, siapa yang bertamu ya? Enggak mungkin Nike atau Tomi, mereka bilang hari minggu baru ke sini. Masih pada mudik lagi." Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, meski tidak tahu jawabannya.
Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menuju pintu utama. Tampaknya Pak Edi sudah mempersilahkan tamu itu masuk, tidak mungkin tidak. Bahkan jika Pak Edi sendiri, beliau bisa masuk melalui pintu belakang yang hanya orang rumah ini yang tahu. Untuk kedua bodyguard itu sudah diberhentikan oleh Mas Arlan.
Lalu, sesampainya di hadapan pintu, aku membuka handle pintu perlahan. Dan ... aku terkesiap hebat. Betapa tidak, dua orang yang kami tunggu, maksudku Mas Arlan tunggu kini telah ada di hadapanku. Sepertinya mereka telah memutuskan untuk datang.
"Se-selamat siang, Ibu Leny dan William," sapaku kepada ibu dan anak itu, bahkan masih dalam kondisi terpana.
"Selamat siang juga, Mbak Fanni. Maaf, saya datang di waktu siang, padahal mestinya untuk beristirahat," jawab Ibu Leny.
Aku segera membuyarkan rasa terpanaku, lalu tersenyum. "Enggak apa-apa kok, saya juga baru bangun. Oh iya, silahkan masuk."
"Terima kasih, Mbak Fanni."
William maju, menghampiriku. "Halo, Tante," sapanya kepadaku.
"Ah, hai juga, William. Kamu semakin tampan ya? Sudah dewasa rupanya." Aku menatap wajah William yang begitu tampan, mirip Mas Dian. Memiliki mata sedikit sipit. Dan Memang Mas Dian ada miripnya pula seperti Mas Arlan, namun kulit beliau lebih gelap.
Ibu Leny menjabat tanganku, tangan beliau terasa basah, sepertinya baru saja mencuci tangan pada kran di depan rumah ini. Setelah itu, dilanjutkan William yang mengecup punggung telapak tanganku. Aku terpana lagi, ketika dua orang yang sudah lama menetap di Canberra dan masih ingat akan tata krama di Indonesia. Aku pikir di Canberra, Australia juga begitu, namun menggunakan isyarat dan cara yang berbeda.
Aku segera membantu membawakan koper milik Ibu Leny yang berukuran sedang. Kemudian mengajak mereka ke dalam ruang tamu rumah ini. Setelah itu, aku mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Saya bangunkan suami saya dulu, Bu."
Ibu Leny mengangguk. "Baik, Mbak."
Setelah itu, aku segera menuju lantai dua rumah ini di mana kamar Mas Arlan berada. Tepat di hadapan tangga, aku bertemu Bi Onah. Tampaknya beliau terbangun karena suara pintu yang terdengar tadi.
Bi Onah mengangguk. "Baik, Mbak," jawab beliau, bahkan tanpa bertanya perihal siapa yang datang.
Aku kembali melanjutkan langkahku. Kembali aku tapaki anak tangga rumah ini. Dengan langkah cepat, nyaris berlari. Sesampainya di atas, aku segera menuju kamar romantisku dan Mas Arlan. Dan ... terdengar celoteh Sella saat aku melongok ke dalam, sedangkan ayahnya masih sibuk mendengkur dengan bibir yang menganga dan tubuh yang hanya terbalut selimut.
"Mas!" Aku memanggil Mas Arlan namun tanganku sibuk mengangkat tubuh Sella dari ranjang goyangnya. "Mas Arlan?! Bangun, Sayang. Ada tamu dari Australia."
Nihil! Ia tidak terbangun. Aku menghela napas dalam, lalu kuhembuskan secara kasar. Sulit sekali membangunkan suamiku itu. Aku menatap Sella, yang tidak rewel. Dari pada terkena tendangan maut sang ayah, aku memutuskan untuk mengembalikan dirinya ke dalam ranjang goyang. Setelah itu, aku menghampiri Mas Arlan.
"Mas bangun dulu, udah mau sore lho. Ada tamu," ujarku masih dalam kesabaran.
"Emm ...." gumamnya. Hanya bergerak berganti posisi tanpa membuka mata.
Menyebalkan!
"Mas! Jangan sudah dong, ada Ibu Leny. Yuk bangun, ini kan siang bukan malem."
"He'eh."
"Mas?!" Akhirnya kesabaranku habis, kucubit hidungnya dengan sedikit kencang. Benar saja, kakinya bergerak tidak jelas. Beruntung, aku tidak membawa Sella, ia hampir menendangku.
Mas Arlan mengerutkan dahinya dan menatapku dengan sebal. "Apaan sih, Dek? Jangan gitu ah, kaget, sakit, nanti kamu kena tangan Mas lho."
"Makanya bangun. Ada Ibu Leny sama William."
"Em?! Masa'?"
"Iya, cepet!"
__ADS_1
Mas Arlan segera membangunkan tubuhnya. Ia mengerjibkan matanya beberapa kali sampai pandangannya semakin jelas. Setelah itu, ia menatapku sebelum bergegas. Diraupnya lagi wajahku dengan kedua telapak tangannya dan dihabisinya dengan kecupan mautnya. Setelah itu, ia tersenyum puas. Terlebih saat aku mendengkus kesal, ia seperti mendapatkan suatu kemenangan.
****
Tadi, sebelum menemui Ibu Leny dan William, Mas Arlan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Sehingga aku meminta kedua tamu kami itu untuk menyantap makan siang kemudian beristirahat di dalam kamar tamu, di lantai bawah.
Dan malam pun tiba. Seisi rumah sudah menyegarkan tubuh mereka, tidak terkecuali dengan diriku. Selepas menyantap makan malam, kami berkumpul di ruang tamu. Karena ruangan itu yang lebih nyaman untuk dijadikan tempat berbincang. Aku bersama Sella di gendonganku, dan Selli di sampingku. Sedangkan Mas Arlan duduk sendiri di kursi yang dekat dengan Ibu Leny dan William.
Bukan maksudku untuk ikut campur, namun aku merasa tidak enak jika tidak menghadirkan diri. Nanti dikira tidak menghargai sang tamu. Sehingga aku turut untuk ikut dalam perbincangan, sedangkan kedua putriku pun aku bawa karena keduanya masih manja-manjanya.
Mas Arlan berdeham. "Terima kasih karena Mbak Leny dan William bersedia datang dan membuat keputusan ini," ujar Mas Arlan kemudian.
"... Kami ingin menghargai segala jerih payah kamu, Dek Arlan," jawab Ibu Leny. "Mau gimanapun, kami masih memiliki hati nurani."
"Sekali lagi, terima kasih. Dan ... untuk sementara, Mbak dan William bisa tinggal di sini. Jadi jangan sungkan-sungkan."
"Terima kasih untuk tumpangannya dan segala akomodasinya. Hmm ... aku makin merasa enggak nyaman. Sebenarnya, keluarga Dian kemana? Kenapa malah kamu yang membujuk kami untuk datang?"
Mas Arlan terdiam sejenak, kemudian ia kembali berkata, "saya salah satu keluarga Mas Dian, Mbak."
"Iya, aku paham. Hanya saja, kamu pernah dimanfaatkan olehnya. Kenapa kamu malah sebaik ini?"
"Hati nurani saya yang meminta saya untuk berbuat baik, Mbak."
"Dek Arlan, aku enggak ngerti. Mohon maaf sebelumnya, tapi keluarga besar kamu itu sungguh egois. Kalau bukan kamu yang meminta, mungkin aku dan anakku enggak akan pernah datang. Sekalipun Dahlia udah sangat parah. Aku enggak munafik, Dek Arlan. Tapi ... rasa enggak sukaku pada Dahlia emang sangat besar."
Mas Arlan hanya termangu, bahkan diriku. Sedangkan William memilih diam sejak tadi. Ia memang sudah dewasa, mungkin berusia dua puluh tahun. Namun ini masalah orang tuanya, aku rasa ia tidak paham terlalu dalam.
Dalam beberapa saat, hanya terdengar suara celoteh dari kedua putriku yang asyik bersama. Kami semua terdiam setelah Ibu Leny mengatakan hal itu. Mbak Dahlia juga cerdas karena meminta tolong kepada Mas Arlan. Aku rasa, beliau sudah memperkirakan hal ini. Entah apa yang membuat Ibu Leny mengatakan jika keluarga besar Harsono itu egois. Sepertinya berkenaan dengan masa lalu beliau dan juga Mas Dian beserta Mbak Dahlia. Terlebih keluarga dari suamiku itu merupakan orang kaya, bukan hal asing jika ada masalah.
Tiba-tiba, Ibu Leny menyodorkan amplop berwarna cokelat kepada Mas Arlan. "Ini untuk ganti semua biaya yang telah kamu keluarkan, Dek Arlan. Mungkin enggak seberapa. Aku tahu kamu dan keluargamu udah enggak berbisnis dengan keluarga besarmu itu," ujar beliau.
Mas Arlan masih membiarkannya saja. "Itu enggak perlu, Mbak. Untuk biaya Mbak dan William aja," jawabnya.
"Enggak! Ini hak kamu, Dek Arlan. Uang ini dari Dian dari dulu, aku dan William enggak membutuhkannya lagi. Kami hanya menyimpannya aja selama ini. Lagi pula, kamu pasti udah banyak mengeluarkan biaya ke Canberra dan untuk hidup di sana, kan? Tolonh jangan menolak."
"Emm ... untuk itu, Mas Gun akan mengembalikannya, Mbak." Jawaban dari Mas Arlan ini membuatku terkejut.
Sejak kapan Mas Gunawan akan mengembalikan segala biaya yang telah Mas Arlan keluarkan selama ini? Bahkan sudah mencapai ratusan juta. Uang tabungan kami dan gajinya hampir terkuras. Dan aku tidak pernah mendengar tentang hal itu. Akan bagus jika memang itu sebuah fakta, hanya saja ....
Tiba-tiba Ibu Leny terkekeh. Setelah itu, beliau berkata, "jangan bohong kamu, Dek Arlan. Enggak perlu melindungi keluargamu di hadapanku. Aku udah sangat paham. Hmm ... apalagi pada saat kamu belajar ke Amerika."
Mas Arlan terdiam.
"Aku enggak mau menjelek-jelekkan keluarga kalian. Tolong terima ini, mungkin hanya ada dua ratus lima puluh juta aja. Enggak bisa mencukupi biaya yang udah kamu keluarkan untuk meminta aku dan anakku kembali."
"Ta--" Perkataan Mas Arlan terpotong.
"Jangan menolak. Aku akan menepati janjiku untuk bertemu Dahlia, bahkan Dian. Jangan khawatir, hidupku dan William juga berangsur membaik tanpa Dian."
Mas Arlan menelan saliva, terbukti pada saat tenggorokannya bergerak naik dan turun. Uang itu, memang sangat kami butuhkan. Apalagi tabungan kami sudah menipis. Hanya ada penghasilan dari kantor dan keuntungan dari beberapa proyek yang masih belum seberapa. Namun di sisi lain, uang itu juga mampu membantu kehidupan Ibu Leny dan William.
Entahlah, biar Mas Arlan yang memutuskan.
Bersambung ....
Hai. apa kabar?
Jangan lupa like komen ya.
__ADS_1
Bolehlah aku minta vote di hari raya ini, biar nanti bisa up lagi. hehe