Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kejutan Pagi Hari


__ADS_3

Seperti biasa, jika subuh menjelang, aku membangunkan suamiku yang luar biasa ndablegnya. Mungkin membutuhkan waktu sekitar 10 menit agar ia benar-benar terbangun. Inilah salah satu sifat buruknya Mas Arlan yang luar biasa malas. Bahkan, aku selalu ia dorong begitu saja sembari bergumam tidak jelas. Belum lagi, jika ia tidur, aku menjadi sasaran empuk dari tingkah tak sadarnya itu. Misalnya saja, ia merampas sisi kasur bagianku. Aku rasa, mungkin ini menjadi salah satu alasan Nia meminta cerai.


"Bangun, Sayangku, Cintaku, Suamiku yang ganteng," ujarku dengan nada merintih sembari menggerakkan wajahnya kekanan maupun kiri.


"He'em...," jawab Mas Arlan lirih dan sekenanya.


Kuhela napas teramat panjang karenanya, setelah itu kutiupkan di lubang telinganya. Ia pun mengusap telinganya seketika sembari berkata, "tutup jendelanya."


"Astaga! Manusia satu ini! Maaaaaaaaaaas!!!"


Mas Arlan terkejut karena seruanku yang tepat dihadapan telinganya. Ia berkerut dan mendengus kesal. Kemudian menatapku tajam.


"Apa?" tanyaku kemudian.


"Aneh-aneh sih kamu, Dek," jawabnya.


"Bangun dulu, subuh lho."


"Iya iya. Alarmnya aja belum bunyi kok."


"Aku alarmnya!"


"Hmmmmmmmmmmm."


Kemudian Mas Arlan segera membangunkan dirinya. Ia mengusap wajah dan matanya. Sedangkan aku masih mengawasinya, lantaran takut jika ia berbaring kembali. Kami saling diam meski duduk bersebelahan. Saling melempar tatapan tajam. Aku rasa, Mas Arlan masih kesal kepadaku. Namun, tiba-tiba saja diraupnya wajahku. Aku tersentak dan mengibaskan tangannya seketika. "Nggak mau! Bau jigong yek," ujarku.


"Seger tauk," jawabnya sembari tersenyum usil.


"Hiiiiii... udah ah, ayo."


"Sayang dulu pipinya."


"Nggak mau. Titik! Nggak enak lho kalau didenger Riska sama yang lain."


"Oh iya ya, ada Riska disini. Mas kalau udah sama kamu mah, lupa segalanya, Dek. Yakin."


"Halah!"


Mas Arlan terkekeh. Lantas, aku segera beranjak turun dari ranjang kami. Bersyukur, ia mengikuti. Kami berjalan berdampingan dengan bahuku yang ia rangkul dari belakang. Aku hendak ke mushola rumah ini. Sedangkan Mas Arlan selalu kuperingatkan untuk pergi ke masjid selagi bisa, maksudku jika tidak sibuk sampai tidak bisa ketempat suci itu. Yah, meskipun aku belum dinilai sebagai wanita yang baik, setidaknya mengingatkan itu perlu, bukan?


Suasana rumah ini masih sepi, membuatku menunda tujuanku sebentar dan beralih ke kamar Selli, dimana Riska pun memilih tidur bersamanya. Sesampainya disana, aku membuka pintu perlahan-lahan. Beruntungnya memang tidak terkunci. Kemudian, kunyalakan lampunya. Tampak Riska dan Selli masih terlelap tidur sampai aku tidak tega untuk membangunkan. Namun, tetap saja harus aku lakukan. "Ris? Bangun, ibadah yuk...," ujarku lirih.


Berbeda dengan Mas Arlan yang luar biasa sulit, Riska begitu mudahnya untuk terjaga. Ia mengerjibkan matanya. Setelah itu berkata, "udah subuh ya, Kak?"


Aku mengangguk pelan. "Iya."


"Aku lagi libur, Kak."


"Kenapa?"


"Semalem baru dapet."


"Owalah. Wajar sih, udah telat dua hari. Jangan khawatir lagi kalau gitu, yaudah tidur lagi aja."


"Iya, Kak. Makasih."


Kini sudah benar-benar negatif hasil tes tersebut. Tidak perlu dikhawatirkan mengenai itu, mungkin respon sang ayah yang akan memberatkan hatinya. Lantas, aku meninggalkannya agar ia bisa kembali beristirahat. Niat hati ingin membangunkan Selli pun aku tunda, lantaran masih iba. Sehingga aku berjalan sendiri menuju tempat ibadah. Dan setelahnya, aku menunaikannya.


****


Selang, beberapa saat kemudian. Baju anak sudah selesai dan rapi, begitupun milik sang ayah dan juga milikku sendiri. Semuanya sempurna. Kini tinggal menyelesaikan tampilanku dan menyantap sarapan bersama keluarga. Ah... rasanya masih sulit dipercaya, bahwa aku sudah menikah dan memiliki Selli sebagai putriku. Jika membayangkan hal ini, aku merasa senang sampai tersenyum-senyum sendirian.


Dan sekarang aku masih menyisir setiap helai rambutku didepan cermin rias kamarku. Menatap pantulan diriku disana, wajah yang sudah lebih ceria dan tidak lagi murung seperti sedia kala. Mata biru abuku pun seolah memancarkan cahaya lebih terang, tidak seperti saat itu. Yah, meskipun pipi dan bentuk tubuhku masih sama saja seperti sebelumnya.


"Senyum-senyum aja ni istrinya Mas," ujar Mas Arlan tiba-tiba. Aku menatapnya. Rambutnya masih basah karena baru selesai mandi. Pria dengan tampilan seperti ini adalah pria yang paling menawan. Terlebih tubuhnya terlihat jelas, indah dan kekar. Mungkin akan membuat orang menelan ludah tatkala melihatnya.


"Hehe... kan masih pagi, jadi harus semangat, Mas," jawabku.


Mas Arlan merangkul tubuhku dari belakang. Ia tersenyum, manis sekali. "Kamu cantik, Dek," ujarnya lagi.


"Biasa aja, Mas."

__ADS_1


"Dibilangin kok. Nggak sabar pengen punya anak dari kamu, pasti nanti bule banget kayak kamu."


"Emm... sabar ya, Sayang. Pasti segera dapet kok."


"Iya, Sayang. Amin."


Berbicara soal anak, sebenarnya aku sedikit risau. Mungkin usia pernikahan kami masih seumur jagung, namun aku pun ingin sekali segera mengandung. Namun, masih banyak yang harus aku pikirkan, terutama sisa kontrak pertamaku sebagai sekretaris dari Celvin. Sebenarnya, jika aku tidak merangkak ke atas, aku pasti sudah menjadi karyawan tetap meskipun karyawan biasa. Namun, memang tidak diduga atas takdir Tuhan. Jabatan naik, dan sekarang aku ingin keluar demi keluarga.


Meski begitu, aku juga perlu melihat lagi kondisi suamiku. Maksudku perekonomian keluarga kami, jika dalam waktu sisa itu keuangan Mas Arlan belum stabil, mau tidak mau aku harus mengambil kontrak kedua. Sebenarnya aku memiliki keinginan untuk merintis usaha sendiri, namun aku masih bimbang. Lantaran tidak cukup pengalaman. Aku takut baru jalan beberapa bulan, kemudian langsung gulung tikar. Perencanaan tentang usaha yang ingin aku geluti pun, belum terpikirkan.


"Sayang? Kok bengong?" tanya Mas Arlan.


"Enggak kok, Mas," jawabku.


"Mas disini kok. Jangan dipikirin hehe."


"Dih... siapa yang mikirin kamu?"


"Ya kamulah, Dek."


"Enggak. Jangan GR."


Cupp! Sebuah kecupan manis aku dapatkan dipipiku. Menjadi sebuah sarapan diawal pagi ini. Dan kini, Mas Arlan tengah duduk dibawah dan disamping kursiku sembari menggenggam tanganku. Lalu, aku teringat akan sesuatu.


Kebetulan tas milikku saat ini berada diatas meja rias tepat dihadapanku. Lantas, aku meraihnya. Kubuka tas tersebut dan mencari keberadaan dompet. Aku membuka dompet dan mengambil sebuah kartu ATM. "Kamu bawa ini dulu, Mas," ujarku sembari menyerahkan kartu tersebut kepada Mas Arlan.


Mas Arlan mengernyitkan dahinya. Kemudian, ia menunduk sembari berkata, "ma-masih ada kok, Dek."


"Yaudah bawa aja, Sayang."


"Nanti aja, kalau Mas udah bener-bener kosong ya, Dek."


"Sayang?" Kuubah posisiku dan menghadapnya. Aku menelungkupkan telapak tanganku di wajah Mas Arlan. Ia sama sekali tidak mau menatapku lagi. Aku rasa, ia merasa malu dan terbebani dengan bantuanku.


Demi menenangkan hatinya, aku memberanikan diri untuk memberikan kecupan manis. Mas Arlan terpejam, namun begitu hangat menerima perlakuanku. Pagi yang romantis, bukan?


Hingga akhirnya, aku melepaskan tanganku dan sedikit menjauh. Aku menatap wajah suamiku dalam-dalam. Kemudian berkata, "kamu jangan sungkan sih Mas sama aku, aku kan istri kamu bukan teman kamu."


Mas Arlan tampak menghela napas begitu berat. "Ini bukan kewajiban kamu, Sayang. Jujur, Mas malu banget," jawabnya.


Dengan ragu-ragu, Mas Arlan akhirnya bersedia menerima kartu tersebut. Wajahnya memerah dengan tatapan mata yang tidak bersedia memandangku lagi. Namun, ia sangat imut sekali. Lantas, kami berdiri dan aku memeluknya seketika. Mas Arlan menyambutku dengan pelukan balasan. "Makasih ya, Sayang," ujarnya.


"Iya, Mas," jawabku.


Bahunya begitu nyaman. Jika dulu milik ayahku yang paling nyaman, kini aku memiliki satu lelaki lagi yang membuatku sama nyamannya. Aroma tubuhnya selepas mandi, masih wangi dan menyeruak masuk ke dalam hidungku yang panjang. Coba saja, kami tidak akan bekerja, pasti akan terjadi sesuatu yang luar biasa.


Namun, kemesraan ini tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja, seseorang menyerukan nama Mas Arlan dan Riska. Lantas, kami terkejut dan seketika melepas pelukan. Kami saling bertatapan penuh tanda tanya. Setelah itu, Mas Arlan segera mengambil pakaian dan dikenakannya. Kami mengambil langkah dan menuju ke sumber suara.


"Riska! Arlan!" Seruan itu seolah menggema mengisi seluruh ruangan ini. Bukan aku dan Mas Arlan saja yang terkejut, namun juga Riska dan Selli. Bahkan Bi Onah.


"Papa i-itu papa," ujar Riska. Raut wajahnya ketakutan, ia gelagapan dan akhirnya terjatuh ke lantai. Dengan sigap aku mengamankan Selli terlebih dahulu. Aku membawa gadis kecilku ke dalam kamarnya lagi.


"Kamu disini ya, Sayang. Inget tutup telinganya," ujarku.


"Emang kenapa, Ma?" tanyanya.


"Nggak apa-apa. Emm... gini aja, kamu nonton kartun dulu aja ya? Nanti Mama kesini lagi buat anter ke sekolah. Inget jangan keluar kamar, kalau Mama belum dateng lagi."


"Oke, Ma."


"Anak pinter."


Apapun yang terjadi, jika itu termasuk dalam suatu permasalahan, sebisa mungkin aku harus membawa Selli untuk menghindari. Aku takut, jiwanya ikut terguncang. Apalagi anak sekecil Selli masih sangat rentan dan sensitif. Aku khawatir teriakan kasar dari orang dewasa membuatnya terbayang-bayang. Jadi, aku memberikan nasehat kepadanya sebisa mungkin. Aku meninggalkannya di kamar bersama ponselku yang sudah kuputar sebuah film animasi khusus anak kecil.


Setelah itu, aku kembali keluar. Sudah tidak ada Mas Arlan dan Riska. Aku rasa, mereka telah turun. Sejujurnya, aku juga sangat takut. Namun, aku tidak boleh bersembunyi begitu saja. Aku hanya tidak habis pikir, ucapan dan ancaman dari Ivan tampaknya bukan omong kosong belaka. Dendam atas cinta bertepuk sebelah tangan, ia lampiaskan untuk menghancurkan Riska. Pria itu sangat gila. Dulu, disarankan untuk berlalu tidak mau. Kini, ia gila atas perasaan berlebihan itu. Sangat disayangkan sekali.


Plaakkk! Sebuah tangan keras mendarat di pipi Riska, tepat saat aku sampai di lantai bawah. Aku sangat amat terkejut sampai terpaku diam sembari menjatuhkan rahangku menganga.


"Maafin Riska, Pa. Ini diluar kendali Riska," rintih wanita cantik itu. Ia menangis dan meraung tidak karuan.


"Mas, nggak kayak gini caranya. Riska masih anak Mas Gun, bahkan seorang putri bukan putra," ujar Mas Arlan.

__ADS_1


"Diam kamu Arlan! Ini bukan urusanmu. Tak pantas kamu ikut campur, kamu sendiri adalah orang yang gagal!"


"Baik, saya memang orang yang gagal Mas. Tapi Riska bukan orang yang gagal!"


"Oh... aku rasa, kamu yang mempengaruhi anakku supaya sama gagalnya dengan kamu! Tak ada rasa terima kasihkah dirimu Arlan, aku masih bersedia menjadi wali nikahmu saat itu."


"Pa! Om Arlan nggak salah, Riska yang salah. Riska yang murah."


"Anak tidak tahu diuntung! Sudah dibesarkan, sudah diberi warisan, sudah dipercayakan menjadi pimpinan. Dan sekarang apa yang kamu lakukan, Riska?! Menjual harga diri kepada keluarga sialan itu?!"


Deg! Jantungku ikut berdegup kencang. Riska bukan lagi dilayangkan tangan, kini kerah bajunya dicengkeram kuat-kuat. Tatapan dingin penuh amarah dari Mas Gunawan begitu menyeramkan. Sangat berbeda sekali saat beliau datang melamarkan Mas Arlan untukku. Sialnya, beliau mengikut-sertakan Mas Arlan untuk dihina habis-habisan.


"Duh... Mbak Fanni, ini gimana...?" tanya Bi Onah pelan dan tiba-tiba. Lantas, aku terkejut dan sadar dari diamku.


"Nggak tahu, Bi. Aku juga bingung...," jawabku sama pelannya.


Tiba-tiba tubuh Riska dihempas kuat sampai ia terjatuh ke belakang. Sontak saja, aku dan Bi Onah berteriak karena terkejut. Usia Mas Gunawan yang tidak lagi muda, tidak membuat tenaga beliau melemah.


"Mas, cukup!" seru Mas Arlan.


"Apa yang kamu katakan kepada anakku Arlan?! Sampai dia sama bodohnya denganmu?!" Mas Gunawan merasa tidak terima atas perlawanan dari Mas Arlan.


"Aku tidak mempengaruhi apapun, Mas. Itu atas cinta mereka sendiri, tidak cukupkah kalian merajut tali permusuhan dan membuat anakmu jatuh ke lubang hitam itu?!"


"Apa maksudmu, Arlan? Jadi, kamu mau menyalahkan kami atas permusuhan itu. Apa kamu lupa, siapa penyebabnya? Dirimu Arlan!"


"Bukan aku!"


"Tak usah berkilah lagi. Kalau kamu tidak memiliki otak bodoh akan cinta itu, hubungan buruk ini tidak akan terjadi. Atau jangan-jangan, kamu merencanakan ini. Supaya putriku turun tahta dan kamu naik lagi?!"


Situasi macam apa lagi ini? Aku tidak menyangka Mas Gunawan alias kakak iparku berpikir seburuk itu terhadap Mas Arlan. Padahal, suamiku baru mengetahui hal ini dan mencoba membantu. Namun...? Sebenarnya keluarga macam apa ini? Satu kesalahan Mas Arlan bisa membuat saudaranya gelap mata dan gemar menyudutkannya.


Gue nggak ngerti, sumpah!


Lantas, Riska berdiri sekuat tenaga. Ia menghalau ayahnya agar menjauh dari Mas Arlan. Meski pada akhirnya, dirinya yang lagi-lagi terhempas dan jatuh. Namun rintihan tangisan, permohonan maaf, dan juga penyesalan terus ia ucapkan. Miris sekali nasibnya saat ini. Aku dan Bi Onah sudah tidak kuasa menahan air mata. Kami menangis sesenggukan tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Pulang kamu, Riska! Saya masih banyak perhitungan denganmu," ujar Mas Gunawan.


"Tidak! Aku melarang Riska untuk kembali. Apalagi, jika itu untuk dihajar tidak karuan," sergah Mas Arlan.


"Sudah saya bilang, kamu jangan ikut campur!"


"Riska keponakanku, Riska anakku. Aku berhak untuk itu."


Kini serangan liar dari Mas Gunawan malah menyerang Mas Arlan. Perutnya menjadi sasaran hantaman itu. Sontak saja, Mas Arlan membungkuk dan menahan sakit. Aku membungkam mulutku karena terkejut. Mas Arlan sendiri tidak melawan sama sekali. Aku rasa, ia masih menghormati kakak kandungnya sebagai kepala keluarganya.


Aku pikir itu hanya berlangsung sebentar, namun sampai lima kali tubuh Mas Arlan menjadi sasaran empuk. Belum lagi rontaan Riska sungguh menyayat hati. "Cukup!!!" seruku dengan segala keberanian.


Mas Gunawan berhenti seketika. Dengan napas memburu dan gerak kaku, aku mencoba menghampiri beliau. "Ti-tidak pantas anda memperlakukan suamiku sedemikian rupa," lanjutku.


"Anda pun tidak pantas ikut campur, Nona Fanni," jawab Mas Gunawan.


"Saya istri Mas Arlan, bukan orang lain."


"Jika anda istrinya sebagai keluarga Harsono. Seharusnya anda sudah melepas pekerjaan di Sanjaya dan bergabung bersama kami. Namun, jika anda masih berhubungan dengan keluarga itu, saya bahkan masih mengganggap anda sebagai orang luar."


"Oh... untuk apa saya harus bergabung dengan keluarga yang membuang saudaranya sendiri? Kami masih memiliki harga diri, untuk tidak mengemis belas kasih dari orang yang tidak tahu diri!"


"Kamu!"


Mas Arlan menghampiriku dengan susah payah. "Cukup, Dek," pintanya.


"Pergi! Bawa anakmu kembali! Kami tidak peduli. Bahkan jika suamiku harus dipecat dari kantor cabang itu. Itu jauh lebih baik, daripada diperlakukan tidak manusiawi."


Semua orang tampak terkejut akan ucapanku. Sejujurnya, aku tidak mengerti atas apa yang aku lakukan. Aku hanya pusing melihat suasana semacam ini. Terlebih, suamiku bukan lagi dihina, ia bahkan menjadi pelampiasan amarah itu dan difitnah tidak jelas.


Selepas aku berucap, Mas Gunawan menyeret Riska untuk dibawanya pulang. Aku iba, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan maksud hati ingin mengorbankan Riska. Hanya saja, ini memang hak Mas Gunawan sebagai ayahnya. Aku berharap Riska selalu baik-baik saja.


Namun sekarang, aku harus menghadapi suamiku yang tidak terima atas sikapku yang melepas keponakannya begitu saja.


Bersambung...

__ADS_1


Budayakan tradisi like+komen.


heheheee.. bahagianya cukup dulu ya.


__ADS_2