Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Takut Kehilangan


__ADS_3

Malam dingin telah tiba. Beberapa orang pasti sudah tidur di saat ini. Namun tidak dengan Fanni yang masih memadu kasih dengan Arlan, cari kesempatan ketika kedua putri mereka telah lelap dalam tidurnya. Saling membisikkan kata-kata cinta, sampai lupa dengan umur mereka yang setiap hari kian menua. Mungkin itulah prinsip pasangan itu, harmonis penuh hal manis tak peduli akan usia ataupun jumlah anak yang sudah dua.


Ya, tidak banyak pasangan yang bisa menjalani biduk rumah tangga seindah mereka. Kebanyakan dari pasangan-pasangan di luar sana menjadi acuh satu sama lain. Menganggap bahwa sudah menjadi hak milik, sehingga tidak perlu ini itu untuk mengikat lebih kencang pernikahan itu. Namun sesungguhnya prinsip itu adalah salah. Bahkan kerap menyebabkan konflik di dalam rumah tangga. Si istri yang bingung atas perasaan suami, ataupun sebaliknya. Tidak ada pembuktian lagi, tidak ada kata-kata manis lagi. Memang, tidak bisa dipungkiri jika setiap orang memiliki prinsip sendiri-sendiri, tidak jarang dari mereka yang menerima begitu saja.


Nyatanya, ada yang tidak seperti itu. Mungkin dari faktor pengalaman juga. Arlan menjaga pasangannya dengan sebaik mungkin, hampir setiap hari ia curahkan rasa cinta untuk istri dan anak-anaknya. Ia banyak belajar dari kisah asmaranya dengan Nia yang tidak berjalan dengan lancar, bahkan bercerai. Pun meski, tidak sedikit orang yang menganggapnya berlebihan dan menggelikan. Ia tidak perduli, toh semua untuk keluarganya dan bukan mulut julid dari orang lain di luaran sana. Jika Fanni saja justru merasa senang, mengapa harus mendengar perkataan buruk dari orang yang hanya iri? Begitu prinsip hatinya.


Arlan mengecup kening Fanni dengan lembut dan penuh dengan makna. "Mas sayang sama kamu dan anak-anak, Dek," ujarnya.


"Ya, itu perlu dan sangat wajib, Mas!" jawab Fanni.


"Emm ... emang kamu enggak merasa terganggu sama sikap Mas?"


"Terganggu? Gimana maksudnya? Sikap kamu yang mana?"


"Mas lebay dan menggelikan."


Fanni terkejut atas pengakuan dari suaminya itu. Biasanya, Arlan selalu percaya diri, kini justru merendahkan dirinya sendiri. "Kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu, Mas?"


"Enggak apa-apa sih, Dek. Cuma tiba-tiba kepikiran sama aksi-aksi Mas aja sama kamu."


"Emm ... apa ada orang yang bilang kamu kayak gitu, Mas?"


"Ya ... kalau itu sih. Tiap kita ke kafe, resto atau di mana gitu pasti ada, Dek."


Fanni tersenyum. Apa yang dikatakan Arlan memang benar, bahkan tidak sedikit yang mencibir mereka. Mengapa orang setampan Arlan bersedia menikahi wanita gemuk? Atau mungkin, istrinya gemuk karena sudah melahirkan dua kali, gaya bicaranya macam anak pacaran tidak mikir usia dan kayaknya usia mereka beda jauh deh. Beberapa pernyataan dari orang-orang yang lewat itu kerap mereka dengar, tetapi berusaha tidak dipikirkan, pun oleh Fanni atau Arlan.


Fanni merekatkan pelukannya pada tubuh sang suami yang telah terbalut piyama berwarna abu-abu. Ia merebahkan kepalanya dengan sikap yang manja-manja begitu. "Apa pun kamu, aku dan anak-anak pasti tetep sayang sama kamu, Mas," ujarnya.


"Beneran, Dek? Makin hari Mas makin tua, usia terpaut jauh sama kamu. Hampir setengah abad, Dek." Arlan membelai rambut Fanni dengan halus. Sedang matanya menatap langit-langit kamar yang masih benderang karena lampu tidak pernah dimatikan.


"Masih lama, Mas. Lima tahun lagi. Aku juga menua, kok."


"Lima tahun itu sebentar, Sayang. Mas aja enggak nyangka udah berusia empat puluh lima tahun. Rasanya masih kayak ABG aja."


"Enggak apa-apa kayak ABG, yang penting punya prinsip hidup yang bagus."


"Hmm ... iya, Sayang. Mas cuma takut, kalau udah menginjak usia lima puluhan tahun, Mas jadi lemah. Apa lagi penyakit tua pasti sering muncul. Mas takut, sebelum anak-anak dewas Mas udah enggak bisa berdiri."


"His! Ngomong apa sih? Kamu kan kekar dan kuat, mana ada penyakit yang berani masuk? Jangan ngomong gitu ah. Kita bakalan sehat-sehat aja, titik!"


"Sayang, tapi kemungkinan kayak gitu pasti akan ada. Dan ini salah satu resikonya punya suami yang udah berusia tua."


"Ih! Apaan sih kamu, Mas! Kamu tuh belum tua, enggak ada keriput kok. Jangan ngomong begitulah!"

__ADS_1


"Ya, ya, ya, tapi apa pun nanti, Mas berharap bisa temenin kalian semua. Berharap panjang umur dan sehat selalu."


Hati Fanni bak tersayat sakit saat mendengar penuturan dari suaminya itu. Ia berusaha menghilangkan beberapa kemungkinan yang telah Arlan katakan dari benaknya. Baginya, Arlan masih muda, bahkan tidak seperti orang yang telah berusia empat puluhan tahun. Namun, rasa ingin menangis tetap ada. Ia takut dan khawatir.


Benar saja, ia menangis. Ia menekan wajahnya pada tubuh sang suami, tidak peduli di bagian ketiak sekali pun. Pada akhirnya, bayangan tentang masa tua memang muncul satu persatu. Terlebih, usia manusia tidak ada yang tahu. Fanni sangat takut jika kehilangan salah satu keluarganya, bukan hanya Arlan saja, juga kedua orang tua dan juga anak-anaknya. Tangisnya kian menjadi-jadi, membuat Arlan sangat kebingungan.


Pria berparas manis itu, segera mengangkat wajah Fanni dengan susah payah karena disembunyikan. "Hei, kamu kenapa kok nangis?" tanyanya kepada sang istri berparas bule Belanda itu.


"Enggak apa-apa, kok!" tukas Fanni mengelak. Ia malu, takut jika malah ditertawakan dan dianggap sebagai wanita dewasa yang kekanak-kanakan.


"Kenapa, Sayang? Mas enggak bakalan tahu kalau kamu enggak bilang."


"Kamu nyebelin, Mas!"


"Lho?" Arlan semakin dibuat bingung oleh sikap Fanni. Menyebalkan di bagian mana? batinnya. "Mas ada salah di mana?"


"Pokoknya kamu salah! Titik!"


"Hmm ... laki-laki mah selalu salah. Heran, di mana salahnya, Mas pun enggak tahu."


"Ya udah, diem. Jangan ngomong lagi."


"...."


"...."


"Kok diem sih?"


"Katanya suruh diem."


"Ih! Maksud aku enggak diem kayak gitu, hibur kek!"


"Di mana-mana yang namanya diem yang enggak bersuara, Adek Fanni sayang." Arlan mencubit gemas pipi Fanni karena sikap imut istrinya itu. Pria memang selalu salah, bahkan jika wanita yang meminta. Ia heran, akan tetapi tidak mampu untuk geram. Ya, karena terlalu sayang.


Bak menidurkan seorang bayi, begitu pun yang dilakukan oleh Arlan kepada Fanni. Menepuk-nepuk pelan bahunya yang besar karena lemak, ia juga menyanyikan lagu indah bertajuk cinta. Romantis sekali, siapapun akan iri. Namun tidak menutup kemungkinan, seseorang justru merasa geli.


"Jadi, kenapa kamu nangis, Dek?" tanya Arlan lagi, ia berupaya untuk mengorek maksud di balik air mata sang istri yang berderai membasahi pipi.


"Emm ... aku inget orang tua dan anak-anak, juga kamu, Mas. Emang, umur manusia enggak ada yang tahu. Gara-gara kamu ngomongin soal umur, otak aku berputar ke mana-mana. Aku takut," jelas Fanni.


"Hmm ... maka dari itu, jangan lupakan ibadah, Dek. Karna mau gimana pun, iman yang bisa nyelametin kita. Sebisa mungkin juga jaga amal baik. Ya, Mas tahu kalau manusia itu tempatnya dosa. Tapi kan, ada hal yang bisa dicegah dan dikurangi resiko penyebab dosanya."


"Iya, Mas. Aku ngerti. Aku cuma kepikiran kalau salah satu dari kita udah eng--"

__ADS_1


"Jangan begitu, Sayang. Do'a yang baik-baik. Selamat dan panjang umur, ya?"


"Amin, Mas."


Kendati sudah memberikan nasehat yang bagus kepada Fanni, Arlan tetap menyesal karena telah membahas soal usia. Hal itu yang justru membuat sang istri menangis tersedu-sedu serta khawatir. Lagi-lagi, ia berbuat kesalahan. Tipikal istrinya yang mudah kepikiran sama sekali tidak ia sadari dan baru sekarang, itu pun jika ia tidak melakukannya lagi.


Hari semakin malam, semilir angin menyeruak masuk melalui ventilasi udara di atas jendela yang terpasang di kamar itu. Bahkan, ditambah oleh suhu AC yang teramat rendah. Mereka menggigil, kemudian kompak menarik selimut untuk menghangatkan badan. Remote AC yang berada di atas lemari jauh dari posisi mereka, sehingga malas untuk membuat salah satunya bergerak. Pasangan itu memilih untuk menghangatkan badan satu sama lain dengan sebuah pelukan hangat nan romantis.


"Kamu enggak tidur, Dek?"


"Aku belum ngantuk, Mas."


"Kenapa? Kecapekan, ya?"


Fanni menggeleng pelan. "Enggak, biasa aja. Cuma agak insom ini."


"Hmm ... besok pasti lemes kamunya. Sambil jaga Sella lagi."


"Emm ...."


"Ngomong-ngomong, usaha kalian gimana?"


"Masih gitu-gitu aja, satu dua orang yang dateng. Malahan, beberapa hari enggak ada yang dateng sama sekali."


"Habis kamu dibikinin di salah satu mall, malah enggak mau. Di sana kan bagus."


"Enggah ah. Biaya sewa mahal, dan lagi aku sama Mita kan baru merintis. Kalau jalannya enggak bagus, nanti rugi besar."


"Iya sih. Ya udah, ditekuni yang ini bener-bener. Jangan gampang nyerah, perusahaan besar pun pasti merintis dari bawah juga."


"Iya, Mas."


Rasa iba kini mengalir di dalam hati Arlan. Sekali lagi, ia membuat istrinya merasa kesusahan. Harus menjalankan usaha itu sembari menjaga anak. Jika Selli, mungkin bisa dibantu oleh Bi Onah. Namun tidak dengan Sella yang masih perlua diutamakan dalam penjagaannya. Dan hal itu sampai membuat Fanni mengalami insomnia. Tidak ada yang bisa dilakukan olehnya sebagai seorang suami kecuali mendukung istrinya, lantaran Fanni sangat bersemangat atas usaha baru itu dan tidak mungkin bersedia berhenti di tengah jalan. Pun meski, keuangan masih bisa dipenuhi oleh Arlan.


Sang bayi tiba-tiba menangis, sehingga mengharuskan Fanni untuk turun dari ranjang dan menemui anak keduanya itu. Ia mengangkat tubuh Sella dan dipangkunya. Memberikan ASI dan menimangnya agar tertidur.


"Tumben banget, tidurnya kejaga gini, Sayang?"


Cukup lama, Fanni menimang Sella. Bahkan, sampai Arlan tertidur karena terlalu lama menunggunya. Setelah, dirasa cukup tenang, Fanni segera menaruh kembali tubuh Sella ke dalam ranjang bayi miliknya. Kemudian, Fanni merebahkan diri di samping Arlan. Ia menatap wajah sang suami dengan serius.


"Gimana bisa kita saling kehilangan, Mas. Kita udah saling bergantung satu sama lain," gumamnya.


Fanni memeluk tubuh Arlan. Takut kehilangan kembali muncul di dalam benaknya. Seandainya itu terjadi, entah apa yang akan terjadi kepadanya atau mungkin Arlan. Ia berharap; semoga waktunya bersama Arlan akan panjang sekali. Bahkan, jika Tuhan berkenan menyatukan mereka di akherat nanti. Namun, Fanni tetaplah manusia pendosa. Ia tidak tahu kehidupan setelah meninggal suatu saat nanti.

__ADS_1


****


__ADS_2