
Sepertinya membutuhkan waktu yang lama untuk membuat Riska memberanikan diri. Dari sesampainya kami di apartemen mewah ini, ia hanya berputar-putar tidak jelas. Aku tidak berhak untuk bersuara lagi sekarang. Toh, aku sudah berusaha meyakinkannya, namun ia tidak kunjung bergegas. Bahkan Celvin sang bapak dari anak yang belum pasti ada didalam kandungannya pun sudah hampir menyerah.
Rencana kami untuk segera kembali ke kantor dengan cepat, akhirnya tertunda. Kini, aku yang pusing sendiri. Aku khawatir sampai jam makan siang tiba, mereka belum menuntaskan urusannya. Sialnya, harus membawa diriku disini. Padahal seharusnya aku berada di kantor, setidaknya menggantikan posisi Celvin untuk sementara waktu. Aku benar-benar tidak habis pikir.
Tiba-tiba saja Celvin berdiri. Ia menghampiri kekasihnya yang masih mondar-mandir bak strikaan. Ia meraih tangan Riska, sehingga gerakannya terhenti seketika. "Ayolah Sayang, kita perlu tahu," desak Celvin.
"A-aku masih takut. Aku belum siap." Lagi dan lagi, Riska menunda tes tersebut.
"Terus mau kamu, bagaimana? Kita tidak mungkin kan diambang kegelisahan terus?"
"Aku tahu, tapi aku juga butuh waktu Celvin!"
"Lho kok...? Kok kamu malah bentak aku sih? Aku ini serius lho. Kamu tes, ketahuan hasilnya, kita cari jalan kelu-"
"Celvin!!! Kamu tu nggak tau apa yang aku rasain! Tas tes tas tes terus. Kamu pikir aku gampang ngelakuinnya?"
"Kamu tinggal tes aja, Riska! Apa susahnya sih?"
"Apa susahnya kata kamu? Heh! Kamu enak, bikin doang! Aku yang harus tersiksa kayak gini."
"Apa??? Bisa ya kamu ngomong kayak gitu? Kalau aku ngambil enaknya doang, aku nggak bakalan kesini."
Mendengar perdebatan mereka yang panjang, membuatku sedikit mual. Apalagi pusing, dua insan ini benar-benar tidak bisa saling menahan emosi. Mereka berpikir hanya mereka sendiri yang memiliki masalah. Geram sekalinya rasanya. Akhirnya aku memutuskan untuk berdiri.
"Celvin! Kamu itu ngg-" ujar Riska yang tidak selesai
"STOP!!!" seruku memotong perdebatan mereka. "Kalian ini kayak bocah banget sih? Ini jam berapa? Kalian pikir, kalian sendiri yang punya masalah???"
Keduanya diam. Mungkin merasa terkejut akan omelanku. Tentu saja, aku sampai malu dibuatnya. Karena terlalu bosan, bingung, khawatir dan pusing, aku sampai keceplosan kepada mereka. Lantas, aku menundukkan kepalaku salah tingkah karena tatapan heran mereka. Bahkan, aku tidak berani melirik barang sekali saja.
Aku membalikkan badanku dengan gerak kaku, lantaran perasaan itu serta salah tingkah yang seketika datang. Kuambil langkah dan duduk kembali diatas sofa yang tadi. Dalam posisi ini, kepalaku masih menunduk menatap lantai putih yang mengkilap. Namun, imbas dari spontanitasku sepertinya berhasil. Tidak ada suara yang berdebat lagi diantara mereka. Entah, apa yang sepasang insan itu lakukan sekarang.
Tak lama kemudian, Riska datang menghampiriku. Terbukti ada dua kaki berhias sepatu hak tinggi yang begitu cantik. Lantas, aku memberanikan diri untuk mengangkat kepala. Kutatap dirinya tengah berderai air mata sembari memasang wajah begitu memelas. Sebelum merespon Riska, aku menatap Celvin terlebih dahulu. Kini Celvin sudah menyerah, ia meminta tolong sepenuhnya kepadaku melalui gerak tangannya.
Kuhela napasku dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Seorang Fanni harus ikut andil dalam menyelesaikan permasalahan pelik ini. Sanggupkah diriku? Rasanya mustahil. Mengingat masa laluku bahwa diriku pernah dibully dan memiliki sifat minder yang luar biasa tinggi. Awalnya aku ragu, namun aku tidak sampai hati untuk membiarkan Riska yang tengah bersedih hati.
"Duduk dulu, tarik napas dalam-dalam," ujarku kemudian.
Riska mendudukkan dirinya tepat disamping. Ia berkata, "aku benar-benat takut, Kak. Ini semua nggak pernah terbayangkan dalam benakku."
Kubelai lembut rambutnya yang panjang dan indah. Merasakan kemirisan dalam hatiku. Aku berharap setelah Riska dan Celvin, semoga tidak ada orang lain lagi yang melakukan kesalahan yang sama. Meski, tidak sampai mengandung sekalipun. Karena menurutku, barang yang telah rusak memang sulit untuk laku. Dalam artian tidak banyak pria yang mau akan bekas orang lain. Bukan berarti tidak ada, hanya saja jarang. Karena sepengetahuanku, lelaki yang buruk sekalipun pasti mencari wanita yang baik-baik.
Dibalik semua pemikiranku itu, sebenarnya aku cukup bersyukur dan takjub. Lantaran Celvin tidak berlalu begitu saja, ia sudah termasuk sebagai orang yang bertanggung jawab. Mungkin, rasa cintanya yang besar teruntuk Riska, ia rela mengambil segala macam resikonya. Namun sekali lagi, ini adalah cara kotor demi mencapai sesuatu dan pada akhirnya belum tentu berujung dengan baik.
"Gimana kalau aku beneran... nggak! Aku takut," keluh Riska.
"Kamu kan belum tahu, Ris. Coba dulu aja, semoga aja nggak. Kalau kayak gini semua kan jadi ambigu." Aku hanya bisa memberikan beberapa nasehat dan usul sekiranya.
"Tapi aku takut. Aku belum siap, Kak."
"Aku tahu ini pasti sangat sulit. Maaf sebelumnya, bukan maksud aku mendesak kamu atau membela Celvin. Tapi ini harus segera dituntaskan Riska."
"Aku tahu, Kak."
"Kalau positif, Celvin bisa ambil ancang-ancang untuk melangkah lebih lanjut, demi memperjuangkan kamu. Kalau akhirnya belum, setidaknya kalian bisa menunda sampai semua urusan di perusahaan kalian selesai."
"Ta-tapi..."
Dalam beberapa saat, Riska masih saja gusar. Satu hal yang kuketahui lagi, lagak seseorang yang tenang diluar memang tidak semua benar. Terbukti pada keponakan iparku ini. Dulu, saat kami pertama kali bertemu, aku menilai Riska adalah wanita yang tegas, anggun, elegan, cantik, pintar dan elegan. Namun jika ditilik pada kondisi saat ini, semua berbanding terbalik. Riska ketakutan, gelisah, gusar, dan lemah.
Benakku tiba-tiba saja terbayang sosok Mita. Ia pun terlihat begitu kuat, angkuh dan cantik. Namun dibalik kesempuranaan itu, Mita cukup tertekan akan desakan orangtuanya. Oh... satu lagi, Celvin Hariawan Sanjaya. Yah, aku pikir dengan uang, kekuasaan dan paras yang menawan lantas membuat mereka bahagia. Namun, apa yang terjadi sekarang? Ketiganya memiliki masalah cukup pelik dalam hidupnya masing-masing. Aku rasa Tuhan itu memang sangat adil.
Aku menatap Riska dalam-dalam. "Maaf Riska. Aku sebenarnya nggak ingin ikut campur, tapi Celvin pun sudah menyerah akan kerasnya sikapmu kali ini...," ujarku lirih.
"A-aku nggak keras, Kak. Aku hanya takut, itu saja," jawabnya.
__ADS_1
"Kenapa waktu itu kamu tidak merasa takut? Maksudku saat kamu melakukan hal itu?"
Riska salah tingkah seketika. Ia menunduk, aku rasa ia sedang menahan malu. Oh... bibirku begitu tidak tahu diri. Harusnya pertanyaan itu tidak meluncur begitu saja. Namun, semua sudah terucap, mau tidak mau aku harus menunggu jawabannya sembari merutut diriku sendiri didalam hati.
"A-aku juga bingung. Aku merasa nggak ingat segala konsekuensinya saat itu," jawabnya kemudian. "Mu-mungkin, karna aku telah lama terpisah darinya."
"Aku paham. Tapi, pertemuan kalian saat ini seharusnya tidak berakhir seperti sekarang," ujarku.
"Jadi, Kak Fanni nyalahin aku."
"Heh? Bu-bukan gitu maksudnya. Sudahlah nggak perlu dibahas yang lalu. Aku minta kamu tes sekarang juga."
"Kak Fanni juga nge-desak aku kan? Kenapa sih nggak ada yang ngertiin aku? Emangnya aku semurahan itu???"
Apa yang baru saja aku katakan? Sampai Riska semarah itu. Bodohnya diri ini, seharusnya aku tidak mengganggu orang yang sedang sensitif. Kini hanya kata maaf lirih yang kuucapkan kepada Riska. Sedang ia merasa sangat terpukul dan kecewa.
Gue harus apa dong???
Kutilik jam pada dinding secara sekilas. Kemudian dilanjut kepada Celvin, pria itu masih diam membisu penuh dengan urat hijau diwajahnya. Aku semakin khawatir dibuatnya, bagaimana tidak?! Kami ditempat ini hampir dua jam lebih lamanya. Sedangkan jam makan siang akan berlangsung sekitar dua jam lagi. Jangan sampai suamiku tahu akan hal ini.
Aku mencoba membujuk Riska lagi, "ka-kamu nggak mau Om kamu tahu kan? Lakukanlah, Riska."
"Kakak ngancam aku?" tanya Riska penuh curiga.
"Bu-bukan gitu, duuuuuhhhh!!! Lekas lakukan! Mas Arlan mau jemput aku tau nggak? Kalau sampai jam makan siang aku masih disini, alasan apa yang aku pakai nanti? Ah... maaf, jadi kelepasan kan."
"Aku minta maaf, Kak."
"Makanya cepatlah. Ini urusan kalian, mengapa aku yang pusing. Astaga! Maaf lagi kesel jadinya."
"Maaf, aku akan lakukan se-sekarang."
Beruntungnya, kekesalanku yang tiba-tiba muncul mampu mempengaruhi Riska. Dengan langkah ragu-ragu, ia menuju kamar mandi tempat ini. Karena iba, akhirnya aku memutuskan mengantarkan dirinya. Bukan karena ingin memanjakan, melainkan gerak tubuh Riska terlihat sangat lemas. Aku khawatir kepadanya.
Sekitar sepulu menit berlalu, entah apa yang dilakukan wanita itu, ia tidak kunjung keluar. Kami semakin gusar, namun masih enggan untuk menghampiri. Kami takut mengganggu dan mempengaruhi persetujuannya. Aku yakin sampai saat ini, Riska belum kunjung berani mengambil sikap didalam sana.
"Aaaaaaaaaaaa!!!" pekik Riska tiba-tiba. Seketika aku dan Celvin saling memandang, dan mengambil langkah cepat untuk menemui Riska.
Celvin menggedor daun pintu kamar mandi tersebut. "Ris? Riska? Kamu nggak apa-apa kan? Sayang, Riska?" ujarnya panik.
Suara kunci pintu kamar mandi yang sedang terkunci kini terdengar dibuka. Tak lama kemudian, muncullah sosok Riska dengan wajah memelas dan basah. Aku dan Celvin tertegun. Lantas menarik pelan diri Riska untuk keluar.
"Gimana?" tanyaku kemudian.
Riska menangis. Membuatku menerka sesuatu yang sedang terjadi. Sedangkan Celvin mengusap kasar wajahnya, tampaknya ia frustasi.
"Jadi beneran positif?" tanya Celvin.
"Mu-muncul garis merah. Aku nggak tahu, aku takut baca keterangannya," jawab Riska.
"Garis berapa? Satu apa dua?"
"Nggak tauuuu."
Tanpa persetujuannya, kuraih alat tersebut dari tangannnya. Tak lupa kupungut kembalu pembungkusnya yang terjatuh dilantai. Aku membaca secara detail setiap keterangannya. Lantas, kutilik berkali-kali alat tersebut.
Setelah itu aku menatap keduanya secara bergantian. Kuhela dan kuhembuskan napasku kemudian. Lega sekali, garis yang muncul hanya satu. Dengan kata lain, Riska tidak jadi mengandung. Herannya ia tidak mengetahui tentang hal semacam ini. Yah, wajar saja, toh Riska belum menikah.
"Sepertinya kalian harus menunda dulu menjadi orang tua," ujarku.
"Ehh? Se-serius, Fann?" tanya Celvin.
"Iya. Hasil tes menunjukkan negatif dan tidak jadi mengandung."
Seketika saja, Riska terduduk lemas dan Celvin bisa bernapas dengan lega sekarang. Pria itu membantu kekasihnya supaya terbangun dan setelahnya dipeluknya dengan erat. Dan aku? Aku sebagai nyamuk didalam pemandangan romantis ini.
__ADS_1
Mas Arlan, aku rindu.
"Udah jangan seneng dulu. Perjuangan kalian masih banyak, inget! Jangan diulangi lagi," ujarku menasehati.
"Iya Kak...," jawab Riska lirih.
Setelah itu, kami kembali ke ruang tengah. Keduanya berada didepan sembari bergandengan, sedangkan aku menyaksikan dan dilupakan begitu saja. Kesal sekali rasanya, namun aku mencoba memberikan keleluasaan kepada Celvin dan Riska. Tak mengapa, justru karena ada diriku, aku tidak perlu khawatir hal bodoh itu akan terulang lagi. Anggap saja, aku adalah malaikan penjaga. Walau kesannya sangat miris saat berada diposisi ini.
Sebelum kembali ke kantor, kami dudui bertiga. Saling berebut oksigen didalam ruangan ini. Sekarang tak lagi sesak seperti tadi, namun begitu lega. Yah, tidak mengapa santai sebentar. Lagipula Riska dan Celvin memerlukan waktu sejenak untuk menenangkan diri. Sedangkan untukku, tentu saja aku bisa bersantai. Namun, tiba-tiba aku ingat akan sesuatu yang perlu aku tanyakan.
"Emm... maaf, Ris," ujarku. "Boleh aku bertanya?"
"Boleh, Kak. Soal apa?" tanyanya kembali.
"Siapa yang menangani perusahaan tempat Mas Arlan bekerja?"
"Oh... Om Dian, beliau anak kedua setelah papaku."
"Masih sanak saudara toh?"
"I-iya, Kak. Memangnya kenapa ya?"
Aku ragu-ragu. Namun, aku harus mengetahui dan menghentikan semua. Semoga keberanianku terkumpul dan menghentikan sesuatu tentang itu.
Riska masih menatapku penuh tanya. Membuatku galau, gelisah dan merana. Tengkukku kaku seketika. Haruskah aku menekannya dalam kondisi seperti sekarang? Apakah aku memiliki hak untuk itu? Bagaimana jika Mas Arlan tahu dan memarahiku? Posisiku benar-benar salah kaprah.
"Fann? Ada apa?" tanya Celvin tiba-tiba.
"Eh.. en-enggak kok," jawabku.
"Soal tadi, gimana, Kak," sambung Riska.
"Emm... sebenarnya hubungan keluarga kalian itu seperti apa? Semakin lama, aku semakin merasa suamiku tengah dikucilkan begitu saja."
Riska dan Celvin terdiam. Keduanya menatapku heran. Namun, semua terlanjur kutanyakan. Aku berharap Riska memberikan jawaban yang tepat dan memuaskan. Apalagi ini mengenai Mas Arlan. Setidaknya aku perlu sedikit mengetahui tentang hidup keluarga mereka. Terutama tentang Mas Arlan. Aku tidak ingin Mas Arlan terus-terusan diinjak-injak dan dimanfaatkan begitu saja.
Riska mulai berdeham, aku rasa ia akan mengatakan sesuatu kepadaku. Yah, semoga saja memang benar. Dengan sisa keberanian ini, aku harus berbuat sesuatu.
"Sebenarnya, kami tidak bisa memaafkan Om Arlan secara sepenuhnya," ujar Riska yang membuatku menelan ludahku seketika.
"Kami? Kenapa?" tanyaku.
"Soal penyebab perpecahan antar perusahaan yang terjadi. Beberapa kerabat kami masih tidak bisa menerima keberadaan Om Arlan, makanya pernikahan kalian tidak terlalu banyak yang datang."
"Aku tidak memperhitungkan soal saat itu. Aku hanya tidak habis pikir, penyebab itu bukan Mas Arlan yang bikin lho."
"Aku pribadi tahu, Kak. Aku pun masih bersikap seperti biasanya, hanya saja setiap orang berbeda-beda. Kala itu, Om Arlan benar-benar kekeh dan menuruti keinginan Tante Nia."
"Itu karena Selli, kan?"
"Bisa dibilang begitu. Tapi, ada beberapa kerabat yang tidak berpikir dengan sehat. Akhirnya Om Arlan menerima perlakuan buruk. Terlebih, Om Dian menaruh iri terhadap beliau. Lantaran, sebelum aku, Om Arlan sebagai anak ketiga malah dipercayakan menjabat di kantor pusat."
Ini gila!
"Lalu?"
"Mungkin, Om Dian ingin balas dendam. Dan akhirnya Om Arlan harus menanggung semua biaya yang hilang akibat penggelapan itu."
"...."
Bersambung...
Budaya like+komen.
.
__ADS_1