
Kenyataan bahwa apa yang Mas Arlan mau harus terjadi. Setiap ucapannya bukan hanya isapan jempol semata. Sungguh pria yang super jahil dan aku memilikinya. Ia bahkan mengabaikan makan siangnya dan malah menerjang diriku sesaat setelah ia pulang beberapa saat yang lalu. Aku sudah menolaknya dengan berbagai macam alasan, namun rengekan manjanya terdengar sangat kasihan. Beruntung ia bersedia melaksanakan ibadahnya terlebih dahulu. Mungkin efek dari kekesalanku selama dua hari mampu membuatnya rindu, itu yang aku tahu.
Dan kini, kami sudah selesai. Merebah bersama didalam kamar dan ranjang sebagai saksi keromantisan terjadi. Mas Arlan memeluk erat diriku, seolah tidak ingin kembali bangun dan berangkat ke kantor lagi.
"Mas bolos lagi ya, Dek."
"Enak aja kalau ngomong lho! Udah sana bangun, mandi wajib!"
"Masih kangen kamu, Sayang. Dua hari ngambek, mau diajak ngobrol malah buru-buru tidur. Diajak sarapan bareng katanya sibuk ngurus Selli. Mas nyampe bingung harus mulai dari mana lagi, Sayang. Jangan kayak gitu lagi lah."
"Iya, iya, maafin aku ya, Mas. Aku cuma kesel aja kamu nggak mau jawan jujur."
"Hmm ... kalau Mas jawab nanti malah timbul masalah baru. Lagian, mana ada sih cewek betah kupingnya kalau suami ngomongin kisah sama mantan. Kalau Mas jawab tentang dia, pasti kisah kami juga harus ada. Nanti kamu cemburu, ngambek lagi. Katanya Mas nggak bisa jaga perasaan kamu dan lain-lain."
"Iya, Mas. Aku minta maaf, aku masih kayak anak kecil padahal badannya besar."
Mas Arlan hanya bergeleng-geleng kepala saja. Mungkin, ia merasa sedikit heran terhadap diriku. Meski begitu, ia tidak melanjutkan omelannya lagi. Ia semakin mengeratkan pelukannya, padahal jam istirahat kantornya tinggal setengah jam lagi. Beruntung, ia adalah seorang direktur, setidaknya tidak ada orang yang berani memberikan sangsi. Walau sebenarnya, aku merasa tidak enak jika sifat bandel Mas Arlan diketahui oleh Pak Ruddy.
Aku segera membangunkan diriku sendiri dengan harapan ia mengikutinya. Kuambil helai pakaianku yang berserakan dan langsung memakainya. Sedangkan, Mas Arlan masih menatap diriku dengan senyuman usilnya. Hal itu membuatku sedikit kikuk lantaran lemak di tubuhku sangatlah tebal. Ada kalanya aku tidak terbiasa karenanya.
"A-apa sih, Mas?! Bangun ih, udah mau habis jamnya. Kamu belum makan lho."
"Bawain bekal aja, Dek. Nanti Mas makan disana."
"Emang boleh?"
"Bolehlah, siapa yang nggak bolehin emang. Lumayankan, lima belas menitnya buat lihat istriku."
"Nggak ada, aku mau nyusul Selli. Mau lihat belajarnya kayak gimana."
Mas Arlan seketika itu menarik tanganku. Sampai aku jatuh merebah lagi, beruntung bukan perutku yang mendarat lebih dulu. Aku mencubit lengan tangan Mas Arlan dan ia pun kesakitan. "Ada anak kamu, Mas!"
Sembari masih mengusap bekas cubitanku, telapak tangannya membelai perutku. "Maafin Papa ya, Nak. Papa masih kangen sama Mama. Kamu enggak apa-apa, kan?" ujarnya.
"Yeee, minta maaf itu sama mamanya dong, Mas. Kan mamanya yang memberikan perlindungan."
"Duh ... ya udah sini, Sayang."
"A-apa lagi?!"
Mas Arlan tidak memperdulikan dengan responku yang seakan menolak. Ia melibas bibirku seketika itu juga. Ia seperti tidak ada puasnya dalam mengerjaiku. Sampai akhirnya, mau tidak mau aku menuruti keromantisannya ini. Oh, semoga memang menjadi vitamin untuk diriku dan anakku.
Setelah beberapa detik kemudian, Mas Arlan menarik dirinya dariku dan kembali merebah. Ia tersenyum-senyum bangga penuh kemenangan. Sumpah! Sebenarnya aku sangat geli melihat raut wajahnya itu. Tapi, apa mau dikata, itulah suamiku. Konyol, usil, namun tetap pintar dan bijaksana. Meski tidak semua bisa sepadan dengan pemikiranku. Namun, sejauh ini kami bisa menyelesaikan setiap kesalahpahaman dengan baik.
"Mas balik ke kantor lho."
"Mager, Dek. Gimana ini? Udah bau bantal."
"Makanya tadi nggak usah pulang, aku yang anter aja makanannya. Jadinya begini, kan?"
"Kalau kamu yang ke kantor, Mas nggak bisa minta jatah yang lain hehe."
"Kan bisa ditunda, Mas. Entar malem bisa hehe."
"Entar malem beda lagi, Sayang. Sesi kedua."
"Ma-maksud kamu?"
"Ada aja, kamu tinggal bersiap-siap."
"Jangan berlebihan, aku lagi hamil."
"Hati-hati dong, Dek."
Aku menghela napas panjang, bahkan panjang sekali. Kuhentikan semua sanggahanku terhadap perkataan dari Mas Arlan lantaran akan percuma. Aku membangunkan diriku lagi, lalu turun dari ranjang ini. Beruntung, Mas Arlan mengikutinya.
Tak lama kemudian, aku telah sampai di dapur. Kuambil tempat bekal dan menuangkan makan siang untuknya. Tentu saja hasil karya tangan dari Bi Onah. Istri macam apa aku ini? Mungkin aku harus cepat-cepat belajar memasak. Sudah gendut, masa' tidak becus dalam mengurus suami.
__ADS_1
"Lho, Den Arlan-nya nggak makan di rumah, Mbak?" tanya Bi Onah tiba-tiba.
Aku menggeleng seketika. "Iya, Bi. Tadi lembur tambahan," jawabku meng-kamuflasekan apa yang diperbuat Mas Arlan kepadaku.
"Oh gitu, Den Arlan emang rajin ya, Mbak. Pulang aja masih sempet kerja."
Rajin dalam mengerjai aku, Bi.
"Hehe ... iya, Bi. Selli mana, Bi?"
"Masih belajar sama Bu Guru, Mbak. Tadi udah makan siang kok. Bu Gurunya juga."
"Ya udah, Bi. Makasih, Bi."
Bi Onah hanya tersenyum. Sedangkan diriku, aku menyelesaikan aktivitasku ini. Lauk, sayur, nasi, dan bahkan buah sudah tersusun rapi didalam wadah bekal yang tersusun menjadi tiga bagian ini. Tidak lupa, aku membawakan sebotol muniman mineral. Supaya Mas Arlan tidak perlu kesulitan lagi untuk mencari.
Mungkin tinggal lima belas menit lagi sebelum jam istirahat habis. Tampaknya, kami tadi bermain secepat mungkin karena durasi. Namun, benar-benar melelahkan. Emm ... sekaligus menyenangkan juga. Oh, apa yang sedang aku pikirkan? Astaga! Pikiranku mulai diracuni sesuatu yang nakal.
Setelah selesai, aku membawanya lagi ke dalam kamar. Dimana akan kuberikan kepada Mas Arlan yang mungkin sedang merapikan diri. Satu persatu tangga rumah ini, aku tapaki. Dan kemudian, sampailah aku pada tempat yang dituju. Pintu kamar kami sedikit terbuka dan segera aku buka lebar. Tampak Mas Arlan yang sedang berganti pakaian disana, tubuhnya yang kekar benar-benar menyilaukan mata. Meski aku sudah sering menatapnya, tetap saja sampai saat ini aku harus menelan saliva dibuatnya. Seperti belum percaya, bahwa aku memiliki seorang suami yang manis, tampan bahkan berbadan indah.
Yah, sebenarnya ia gemar berolahraga setiap sore hari. Tidak seperti diriku yang super malas ini. Sekali bergerak, napas sudah engap-engapan. Makanya aku tidak pernah bisa menjadi kurus!
"Hei, Sayang. Kamu lihatin apa?" Pertanyaan dari Mas Arlan itu membuatku tersadar seketika. Tampaknya, aku menjadi diam lantaran masih terpana. Padahal beberapa saat yang lalu, aku telah melihatnya dengan dekat. Oh, otakku benar-benar ada kerusakan.
"En-enggak kok, Mas. Hehe ... I-ini bekal kamu, buruan udah mepet banget waktunya."
"Masa' enggak? Kenapa? Terpana ya? Mau lagi nggak?"
"A-apaan sih kamu?! Ya enggaklah. Aku sedang hamil, Sayang."
"Emm ... jadi kalau nggak sedang hamil. Mau nambah dong? Hehe."
"Apaan sih, Mas?! Udah cukup kelakarnya, buruan berangkat lagi."
"Meeting diundur, klien lagi ada urusan. Jadi ...."
"Jadi apa?"
Apa sebenarnya yang akan dibicarakan oleh Mas Arlan kepadaku? Bukankah lebih baik ia menyantap makanan disisa waktu ini, jika meeting diundur. Akhirnya, karena terlihat begitu penting, maka aku menghampirinya kuletakkan bekal tadi di atas meja kecil kamar ini. Kemudian menghampiri suamiku tersebut.
Mas Arlan menyambutku dengan pelukan beserta kecupan manis di pipiku. Ia merengkuh kepalaku ke dalam pelukannya. Hal yang kurasa biasa saja, namun ada keanehan didalamnya. Ada apa lagi? Begitulah pertanyaan yang muncul dari dalam benakku. Bahkan, aku sudah melupakan soal waktu dan tidak mendesaknya untuk segera kembali ke kantornya.
"Ada apa lagi, Mas?" Aku membangunkan kepalaku dari pelukan Mas Arlan diiringi tatapan penasaran yang terarah kepadanya.
Lantas, Mas Arlan menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Tiba-tiba saja, ia menggenggam kedua telapak tanganku. "Dek, maafin Mas ya? Kemarin kayaknya agak keterlaluan. Mas nyesel banget," jawabnya kemudian.
"Hmm ... iya, Mas. Justru aku yang terlalu gegabah, aku minta maaf."
"Enggak, bukan sepenuhnya salah kamu. Kalau dipikir-pikir lagi, Mas kesannya melindungi dia. Padahal enggak kayak gitu."
"Ya udah, lupain, Mas. Aku nggak mau bahas yang udah-udah. Aku nggak mau maksa kamu lagi. Aku percaya sama kamu dan pasti ada alasan dibalik sikap kamu kok."
"Hmm ... Nia itu nggak punya bapak, Dek."
"Hah?! Kok bisa? Meninggal, kah?"
Mas Arlan menggelengkan kepala. "Bukan, Dek. Bapaknya ninggalin keluarganya, dalam artian Nia hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Dan ... ibunya itu, bekas, bekas wani--"
"O-oke, oke, aku paham, Mas. Jangan diterusin lagi. Nggak baik untuk dibaca."
Ya, semua serba tidak bagus. Dan latar belakang Nia sungguh sangat mengejutkan. Tidak punya kasih sayang dari seorang ayah, lalu ibunya? Astaga! Ini benar-benar sangat mengejutkan. Namun tidak heran, jika sikapnya sangatlah buruk seperti itu. Pastinya ia belajar tidak benar dari pengalaman masa lalu. Hanya saja, ketika ia diselamatkan oleh Mas Arlan, seharusnya ia bersyukur.
Hidup ini sungguh banyak sekali kejutan tidak terduga. Dan semua hal yang baru-baru aku temui sangatlah luar biasa. Untuk yang kali ini, aku sangat tidak menyangka. Aku pikir, Nia sudah terbiasa hidup mewah sehingga menuntut macam hal kepada Mas Arlan. Ia meninggalkan Mas Arlan karena ternyata tidak sesuai apa yang biasa ia dapatkan. Dan ternyata bukan seperti itu.
"Jadi, gimana kamu bisa jatuh cinta sama dia, Mas? Kamu tahu kan, pasti latar belakangnya?"
"Apa kamu nggak akan marah kalau Mas ceritain?"
__ADS_1
"Kenapa aku harus marah?"
"Inikahn soal mantan, yang pastinya punya kenangan."
"Aku nggak akan marah, asal bukan urusan ranjang, Mas."
"Hmm .... kalau soal itu, kamu lebih hebat, Dek."
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Apa karna aku lebih empuk darinya?"
"Ya! Tepat sekali hahaha."
"Mas!"
Hatiku dibuat merasa sebal lagi. Bagaimana bisa suamiku membandingkan diriku karena hal itu. Empuk? Karena aku gendut, begitu? Satu nilai plus-ku adalah dari kekurangan diriku.
Mas Arlan kembali merayu-rayu, meminta maaf dengan belaian lembutnya di wajahku. Bahkan, sesekali ia mengecup kening dan pipiku. Bersikap romantis seperti biasa. Jika bukan Mas Arlan, aku pasti sudah marah besar. Yah, aku akui, bahwa yang memancing keusilannya adalah diriku sendiri.
"Maaf, Dek. Maaf, Mas becanda kok. Lagian kamu pertanyaannya aneh sih."
"Terus? Habis minta maaf, malah nyalahin lagi?"
"Eh, maaf, Dek. Maaf, Mas lupa hehe."
"Itu namanya bullying tauk! Jangan begitu."
"Yang ngomong empuk kan, dari kamu, Dek."
"Mau nyalahin aku lagi?!"
"Iya, iya, maaf. Mas yang salah, salah terus deh."
"Udahlah! Jadi, gimana tadi? Lanjutin kan udah terlanjur cerita."
"Iya, Sayang."
Aku memasang telingaku lagi. Tentu saja, dengan mempersiapkan kekuatan hati. Sebentar lagi, Mas Arlan akan menceritakan kisah cintanya dengan Nia--mantan istrinya. Aku tidak boleh merasakan cemburu, walau secuil saja. Karena inilah yang aku ingin dengar demi mengobati rasa penasaran.
Mas Arlan menghela napas sebelum memulainya lagi. Bahkan, ia menatapku beberapa kali. Aku rasa, ia tidak ingin aku cemburu nantinya. Entahlah, aku sudah bertekad untuk tidak seperti itu, untuk hasilnya aku belum tahu.
"Janji ya, Dek. Jangan marah dan malah cemburu."
Aku menegakan badanku dan memasang telinga lebih tajam lagi. Kemudian kuanggukkan kepalaku dengan mantap. "Iya, Mas. Aku janji!"
"Hmm ... Nia sempat cerita, nangis karna hidupnya yang nggak jelas. Tanpa seorang ayah, bahkan ibunya adalah orang yang kurang benar. Dia masih harus membiayai adiknya yang bernama Alla itu."
"Terus kamu bisa kenal dia dari siapa?"
"Dari restoran."
"Restoran?"
"Pemilik restorannya adalah temannya Mas. Mungkin salah satu orang yang bekerja sama dengan Roby. Jadi, ya kenal gitu aja, yaaa ... kayak gitu."
"Kayak gitu gimana?"
"Ya, Mas kepo, Dek. Namanya cowok ke cewek. Usia Nia mungkin udah tiga puluh berapa ya, lupa, pokoknya nggak jauh sama Mas. Makanya cocok aja, Mas kan tiga puluhan juga waktu itu. Terus termasuk cewek kuat aja, pas PDKT dia banyak cerita. Tanpa pikir panjang ya Mas lamar deh. Kan Mas juga udah cukup mateng umurnya."
"Hmm ... ya, ya, ya."
"Ma-maaf, Dek. Jangan marah, itu kan masa lalu."
"Enggak kok, lagian siapa sih yang mau marah sama kamu yang bodoh begitu PDKT-nya. Naif banget, sumpah! Harusnya kenalan dulu agak lama. Terus baru deh dilamar, pacaran dulu kek. Ya ampun, aku emang nggak pernah pacaran Mas. Tapi waktu sama kamu, aku juga mikir-mikir dulu kok."
Apa yang terjadi kepadaku? Ada rasa senut-senut di hatiku. Aku rasa, karena mendengar cerita dari Mas Arlan yang begitu lugunya. Bisa saja, kan? Kalau waktu itu Nia hanya berstrategi untuk menarik hatinya. Terlebih Mas Arlan adalah seorang CEO dari keluarga kaya.
Eh? Tunggu! Seharusnya aku senang, bukan? Kalau Mas Arlan tidak bodoh, mungkin aku tidak bersamanya saat ini. Mungkin ia masih langgeng dengan Nia atau bahkan orang lain. Bisa saja, ia dulu melihat wanita dari segi fisik. Karena pengalaman pahit dari Nia, ia bisa jatuh cinta kepadaku.
__ADS_1
"Oke! Baiklah! Cukup, Mas. Kamu harus balik ke kantor."
Bersambung ...