Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Golf Bersama Nur Imran


__ADS_3

Tadi malam, Arlan memutuskan untuk menghubungi Nur Imran. Ia memutuskan untuk membuat janji temu di sebuah lapangan golf, sembari bermain tongkat dan bola kecil itu. Ada sesuatu yang harus ia bicarakan dan benar, semua mengenai Jelita. Arlan tidak bisa membiarkan jika Fanni dan juga Mita terlibat terlalu banyak. Tipikal sosok Riris yang turut diceritakan oleh Jelita, membuatnya diam-diam bergidik. Wanita itu kejam sekali, jangan sampai anak dan istrinya terkena imbasnya.


Bukan tidak mau melindungi dengan tangannya sendiri. Namun karena keadaan yang memaksanya berpisah dengan istri dan anak, mengharuskannya bertindak lebih tegas. Pun meski, perpisahan hanya terjadi di siang hari saja. Setiap bahaya, memangnya bisa diterka?


"Emang enggak apa-apa nih, Mas?" tanya Fanni dengan perasaan getir. Ia takut jika Nur Imran tidak menerima kenyataan yang ada, apalagi sampai berimbas dengan perusahaan suaminya.


Arlan mendekatinya. Duduk di sampingnya, sembari membelai halus pungungnya. "Enggak apa-apa, Dek. Mas coba," jawab pria itu untuk pertanyaan dari sang istri tercinta.


"Tapi kamu, kan, orang luar, Mas. Mana bisa beliau percaya sama kata-kata kamu, dan lagi kalai justru merusak kerja sama kalian gimana?"


"Keluarga Mas jauh lebih penting, Dek."


"Iya, aku tahu. Tapi, ... sebenernya apa yang kamu khawatirin, Mas?"


"Uh!" Arlan mencubit pinggang Fanni yang berisi gumpalang lemak. "Kamu sih."


Fanni membalas ulah sang suami dengan mencubit perut yang kian membuncit itu. "Sakit tauk! Emang aku kenapa coba?"


"Kamu seenaknya ikut campur urusan orang!"


"Aku cuma kasihan, Mas ...." Fanni melemah. Ia mencoba merayu sang suami dengan wajah yang dimanja-manjakan. "Kamu jangan marah, maaf aku udah nyusahin kamu."


Arlan yang selalu lemah dengan tatapan sayu itu, membatalkan rasa kesalnya yang sempat hadir karena ulah Fanni. Ia begitu gemas dengan wajah sang istri. Tidak hanya dicubit gemas, melainkan juga dikecup habis-habisa. Di akhir ulah romantisnya, ia memberikan sentuhan halus di bibir Fanni, juga dengan bibir miliknya. Mereka jatuh ke dalam keromantisan detik itu juga.


Sayangnya, Arlan sudah harus berangkat, sehingga tidak bisa melanjutkan aksi nakalnya terhadap sang istri untuk saat ini. Ketika ia hendak berdiri, tiba-tiba saja, Fanni menarik lengannya. Spontan, ia menatap netra biru milik istrinya itu.


"Kenapa, Sayang? Mas mau berangkat dulu," tanya pria paruh baya itu.


"Kamu enggak mau tanggung jawab dulu?" tanya Fanni kembali.


"Tanggung jawab?" Arlan yang tidak mengerti dengan perkataan sang istri hanya bisa mengkerutkan dahinya, berharap Fanni bisa menjelaskan lebih jelas lagi.


"Sepuluh menit."


"Apaan sih kamu, Dek? Sepuluh menit buat apa?"


"Ih! Nyebelin?"


Diam-diam, Arlan tertawa. Ia sudah paham setelah Fanni mengatakan durasi itu. Sepuluh menit katanya, ternyata ada kalanya seorang wanita menjadi lebih berani daripada laki-laki.


"Maaf, Sayang. Nanti aja, ya? Mas udah mau telat nih, enggak enak sama Pak Nur."


"Kamu mah gitu!"


"Gitu gimana lho?"


"Ih!"


Kegelisahan Fanni berubah menjadi kekesalan. Apa yang ia mau terpaksa tidak dikabulkan. Lantas, bagaimana ia mencairkan keinginan yang mencuat dari dalam dirinya itu? Tidak mungkin ia melakukannya sendiri.


Melihat Fanni yang sedang uring-uringan, akhirnya membuat Arlan merasa tidak tega. Ia tahu betul bagaimana rasanya ditinggalkan setelah setengah jalan. Namun, wanita tidak cukup terbuka untuk mengatakan suatu keinginan. Hal itu yang terkadang membuat para pria sulit memahami apa yang terjadi kepada sang istri.


Arlan menunda keberangkatan terlebih dahulu. Rasa tidak teganya memaksanya untuk mengundur janji temu. Beruntung waktu memang sangat pagi, tidak akan terik ketika ia mengambil waktu setengah jam lagi. Lalu, ia mulai memberikan apa yang Fanni mau. Memanjakan sang istri dengan gemulai gerak lembutnya.


****


"Hmm ... begini ya kalau istri lagi mau dimanja?" ujar Arlan sembari memberikan belaian halus di kepala Fanni.


"Jangan diinget!" tegas Fanni.


"Kenapa? Imut banget tauk."


"Aku malu."


"Sok-sokan malu, tadi aja sempet uring-uringan. Enggak mau ditinggal."


"Ya udah berangkat sana, Sayang. Kamu udah ditungguin."


"Pengen nambah, tapi ada acara. Hmm ...."

__ADS_1


"Nanti disambung."


"Beneran, ya?"


"Iya, Sayang."


Kemudian, Arlan bangkit dari rebahannya. Ia memungut helai pakaiannya yang berserakan di lantai. Setelah itu, ia bergegas mandi terlebih dahulu.


Beberapa menit setelah membersihkan diri, Arlan kembali memakai pakaiannya dan merapikannya seperti penampilan sebelum kejadian romantas dengan sang istri. Benar, mengutamakan keinginan seorang istri itu, tidak ada salahnya. Justru sesuatu yang bagus ia terima.


Fanni yang telah menyiapkan keperluan Arlan, kini memberikan segala sesuatu itu agar sang suami tidak kelupaan. Setelah, dirasa siap, Arlan dan Fanni keluar dari kamar. Mereka berjalan menapaki anak tangga yang tidak pernah berubah posisinya.


"Semoga lancar ya, Mas," ujar Fanni sebagai harapan baik untuk misi suaminya.


Arlan tersenyum sembari menatapnya. "Amin, Dek. Salam sama anak-anak, Papa pulang cepet nanti, langsung bantu kamu jaga mereka."


"Iya, Mas. Hari minggu ada Selli yang bantu jaga kok."


"Enggak nitip mama lagi?"


Fanni menggeleng. "Biar mama istirahat, papa, kan, juga masih ngurus toko. Oh iya, pulang nanti mintain roti selai kacang ya, Mas?"


Dahi Arlan mengernyit. "Ngidam kamu?"


"Amin."


"Masa' udah langsung jadi?"


"Siapa yang bilang? Kamu sendiri yang bikin cerita."


"Hehe ... becanda, Sayang."


"Iya, Sayang."


Arlan mengacak lembut kepala Fanni dengan senyuman yang merekah di bibirnya.


Mobil yang sudah dipersiapkan, kini sudah dimasuki oleh suami dari Nona Fanni tersebut. Sesaat sebelum itu, ia sudah memberikan kecupan manis di kening istirnya. Mobilnya melaju, keluar melalui gerbang dan akhirnya melesat lebih cepat untuk menuju tempat tujuan. Sedangkan, Fanni kembali masuk ke dalam. Meski hari minggu, salonnya akan dibuka setelah libur di hari sabtu kemarin.


"Untung enggak macet. Dasar si istri bikin orang hampir telat hmm ... tapi imut banget dia tadi, jadi kangen," gumam Arlan sembari tersenyum-senyum sendirian.


Seharusnya, hari minggu menjadi waktu kebersamaan bersama keluarga. Namun, seandainya ia tidak pergi keluar pun, ia tidak akan bertemu dengan Fanni di rumah. Salon sang istri sedang dibuka, yang ada ia harus menjaga kedua putrinya. Tidak mungkin stay di salon karena merasa sungkan dengan adanya Mita, ya, jika hari libur, ia justru menjadi bapak pengasuh. Sebenarnya, Fanni sangat tidak enak hati. Namanya seorang ibu pasti selalu kepikiran jika meninggalkan anak-anak kepada orang lain, meskipun suaminya sendiri.


Suami dari Fanni itu memutar kemudinya ke arah kiri. Melewati jalan aspal yang masih amat panjang. Sembari membayangkan wajah istri juga anak-anaknya, ia melalui perjalanan. Ia berjanji dalam hati akan menyelesaikan semuanya, sehingga Fanni dan Mita tidak perlu terlibat lebih jauh lagi. Meski pada kenyataannya, Mita selalu menghalangi Fanni untuk ikut campur. Meski di belakang Mita, ada sosok aparat yang siap membantu juga.


Setelah setengah jam berlalu, akhirnya pria itu sampai di sebuah lapangan golf. Ia memarkir mobilnya terlebih dahulu. Baru setelah itu masuk lebih dalam. Entah kapan terakhir, ia bermain bola golf yang kecil itu. Rasanya sudah lama sekali tidak melakukannya. Apakah kemampuannya masih sama? Entahlah.


"Selamat pagi, Pak Nur. Maaf saya terlambat," sapa Arlan kepada pengusaha tersukses kedua setelah Sanjaya itu. Mereka saling berjabat tangan satu sama lain dengan senyum keramahan.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga baru sampai. Mari kita mulai," jawab Nur Imran.


Olahraga itu dimulai oleh kedua pria hebat itu. Untuk awalan, Arlan masih mencari topik hangat untuk diperbincangkan. Sebenarnya, ia cukup bergetar untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Bagaimana kalau Nur Imran tidak percaya? Pasti akan sangat merugikan perusahaan. Benar kata Fanni, beberapa saat yang lalu ia masih mengelak dan mencoba menenangkan hati sang istri. Namun sekarang? Ketika rekan bisnisnya ada di hadapannya, nyalinya ciut seketika.


Arlan menyudahi permainan yang baru beberapa kali di lakukan. Ia mencoba berpikir lagi, cara apa yang bisa digunakan untuk memulai perbincangan perihal Jelita.


"Lho, Pak Arlan? Sudahan?" celetuk Nur Imran ketika mendapati Arlan hanya terdiam.


Spontan, Arlan salah tingkah karena pertanyaan yang muncul tiba-tiba dari rekan bisnisnya. "Ah, sudah lama tidak bermain. Rasanya sedikit pegal," jawabnya.


"Memangnya sudah berapa lama, tidak pernah datang ke sini?"


"Bertahun-tahun, Pak. Haha, saya yang mengajak, malahan saya yang K.O duluan."


Nur Imran tersenyum. "Itu wajar-wajar saja, Pak Arlan. Dulu saya juga pernah seperti itu, karna pekerjaan banyak sekali. Jadi lupa sama olahraga, otot jadi kaku. Belum lagi usia sudah makin tua."


"Ah, yang penting masih awet muda, Pak. Emm ...." Arlan menatap canggung kepada Nur Imran. "Ternyata anak Pak Nur itu cukup dekat dengan istri saya lho. Anak yang baik hati dan juga lucu."


"Oh ya?" Mata Nur Imran berbinar. Syukur-syukur jika anaknya itu belajar bisnis dengan seorang Fanni. "Bagaimana bisa Jane mengenal Nona Fanni? Saya baru tahu."


"Jane?"

__ADS_1


"Lho?"


Nur Imran mendadak merasa bingung. Mengapa Arlan justru tidak mengetahui siapa Jane? Lantas, siapa yang dekat dengan Fanni? Anak yang baik dan juga lucu? Ia mengingat-ingat lagi tentang kedua anaknya. Baru ia sadari setelah berpikir, bahwasanya Jane jarang keluar rumah karena harus latihan bermain piano, juga banyak sekali khursus yang harus anak itu kunjungi.


Pengusaha besar itu menatap Arlan dengan serius. Arlan yang masih bergetar hatinya memilih menunduk dan diam terlebih dahulu. Sesungguhnya, hatinya benar-benar takut dna jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Ternyata, seorang Arlan memiliki ciut nyali juga.


"Maksud Pak Arlan, anak saya itu siapa?" tanya Nur Imran untuk kembali memastikan ucapan Arlan.


Arlan mengembuskan napasnya. "J-jelita," jawabnya gugup.


"B-bagaimana bisa?"


"Memangnya dia tidak pernah bercerita? Dia sering mengunjungi istri saya, dan mereka saling belajar. Juga untuk urusan hidup lebih sehat."


"Hidup lebih sehat?" Terlintas kebiasaan baru Jelita akhir-akhir ini. Ketika makan bersama, anak pertamanya itu memilih sayur dan nasi merah yang khusus untuk dirinya. Sempat ia bertanya-tanya, tetapi enggan untuk memastikan kebiasaan baru dari Jelita.


Sedangkan Arlan hanya bisa berbohong untuk hal ini. Pada kenyataannya, istrinya tidak mungkin ikut dalam program diet yang sedang Jelita jalankan. Ya, Fanni termasuk orang yang doyan makan. Dan herannya, ia justru senang ketika melihat sang istri makan dengan lahap.


"Jadi, sejak kapan anak saya mengenal Nona Fanni? Ah, mari duduk dulu." Nur Imran mengajak Arlan untuk menepi dan duduk di tempat yang tersedia.


Arlan menuruti permintaan dari pengusaha kaya itu. Minuman yang sudah dibawa sejak dari rumah kini dikeluarkan.


"Sudah lumayan lama, Pak. Jujur, sebenarnya saya yang salah," jawab Arlan untuk pertanyaan yang belum sempat ia jawab.


"Berbuat salah?"


Arlan mengangguk. "Saya hampir menabraknya, Pak. Saya mohon maaf soal itu."


"Hmm ... yang penting si anak tidak apa-apa dan Pak Arlan sudah bertanggung jawab. Ada untungnya juga, anak saya bisa dekat dengan Nona Fanni."


"Sebenarnya ada hal yang perlu saya bicarakan dengan Pak Nur dan ini soal Jelita." Arlan menghela napas. "Mohon maaf jika saya lancang dan terkesan ikut campur. Tapi, saya juga harus melindungi istri, teman istri dan anak-anak saya."


Dahi Nur Imran mengernyit. "Apa itu? Dan apa maksud, ah, kenapa harus sampai melindungi?"


Perasaan Arlan semakin getir. Ia menggigit bibir bawahnya. Bagaimana cara menjelaskannya? Mengenai kasus pembullyan juga kekejaman ibunda tirinya. Efek paling berat adalah putusnya kerja sama mereka. Bisa jadi, Nur Imran menarik investasi yang sudah masuk ke dalam perusahaannya. Namun, jika ia masih memikirkan tentang keuntungan perusahaan, bagaimana dengan kerugian keluarganya?


Nur Imran berdeham cukup keras agar Arlan menyudahi lamunannya. Ia harus cepat tahu perihal Jelita yang mungkin ada sangkut pautnya dengan orang lain.


"Apa Pak Nur tahu kalau anak Bapak kena kasus bully?" tanya Arlan memulai pembicaraan kembali.


Nur Imran hanya terdiam. Ia memang tahu, hanya saja tidak pernah berbuat apa-apa. Apa yang dialami oleh Jelita, ia anggap karena sikap anak itu yang selalu gemar makan. Kasus bully akan sering terjadi kepada orang-orang seperti Jelita, bahkan jika sudah lulus SMA, anak itu bisa mendapatkan hal serupa yang lebih kejam lagi.


"Begini saja, saya tidak mau basa-basi lagi. Emm ... apa Pak Nur tahu mengenai sikap ibu tiri dari Jelita?"


Semakin terkejut hati Nur Imran. Bagaimana Arlan tahu jika ia memiliki istri dan merupakan ibu tiri dari Jelita? Padahal, ia tidak pernah membuka kebenaran itu sama sekali. "A-ada apa dengan istri saya?"


"Istri Bapaklah yang membuat anak Bapak menjadi orang sedemikian rupa. Dan vitamin yang diberikan adalah obat penggemuk badan. Kenapa Jelita sangat besar pola makannya, karna anak itu selalu dipaksa untuk makan."


Nur Imran terkekeh. Ia menganggap penjelasan dari Arlan itu tidak masuk akal sama sekali. Ya, pertama mendengarnya, seorang Arlan saja tidak percaya, apalagi seorang Nur Imran. "Jangan mengada-ada Pak Arlan."


"Tidak! Untuk apa saya mengada-ada, Pak Nur? Justru, ketika saya melakukan fitnah, saya akam kehilangan Pak Nur sebagai investor perusahaan saya. Apa untungnya coba? Saya hanya tidak ingin istri saya terlibat dalam keluarga Bapak."


Benar juga, jika Pak Arlan mengatakan itu, apa untungnya baginya? Ketika aku menarik investasiku, justru perusahaan dia rugi. Istrinya juga sangat cantik dan pintar, tidak mungkin ia menghancurkan keluargaku, pikir Nur Imran. Tidak mungkin untuk langsung mempercayai ucapan orang lain, tetapi rasanya juga tidak mungkin seorang Arlan justru berbuat sesuatu yang merugikan perusahaannya sendiri. Dan pria itu sama sekali tidak masuk ke dalam perusahaan milik keluarganya.


"Lanjutkan cerita yang Anda tahu, Pak Arlan," pinta pengusaha kaya itu. Jika Jelita sudah cukul dekat dengan seseorang sepintar Fanni, pasti ia sudah banyak menceritakan beberapa hal mengenai dirinya dan juga keluarganya.


"Istri, Bapak, tidak sebaik yang Bapak tahu. Jelita menceritakan kepada istri saya, kalau dia sudah dijejal makanan sejak usia kecil. Vitamin adalah penyamaran dari pil penggemuk badan. Sayangnya, gadis itu terlambat untuk menyadarinya. Tapi, sepertinya istri Bapak juga cukup pintar. Beliau pasti meminta saran dari dokter agar memberikan dosis sesuai umur Jelita. Tidak mungkin tidak, karna Jelita masih tumbuh dengan sehat." Arlan mengulangi cerita seputar Jelita yang sudah Fanni sampaikan kepadanya.


"Saya tidak bisa menuduh istri saya tanpa bukti sama sekali, Pak Arlan. Tapi, tidak mungkin juga anak saya berbohong."


"CCTV."


"M-maksudnya?"


"Ya, pasang CCTV diam-diam. Kalau bisa di area kamar Jelita, di depannya maksud saya. Juga tempat-tempat tertentu yang sering istri Bapak kunjungi."


Nur Imran manggut-manggut. Sebenarnya, di dalam hatinya masih merasa tidak percaya. Istri yang penuh kasih, masa' berbuat sejahat itu? Namun, kembali lagi pada penuturan dari Arlan yang juga bersumber dari putrinya. Tidak ada salahnya, ia mencoba saran dari rekan bisnisnya.


****

__ADS_1


Vote ya, Guys. Nanti aku up lagi


__ADS_2