Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Tawaran


__ADS_3

Telapak tangannya menyentuh jari-jariku diam-diam. Sesekali, ia melirik wajahku dan kami saling memandang. Sembari menyantap hidangan yang telah dipesan, ia masih mencuri kesempatan untuk memberikan perhatian kepadaku. Aku senang, namun juga malu-malu. Apalagi atasanku duduk, tepat dihadapan kami. Namun sekali lagi, sang pelaku memang sangat usil seperti biasanya. Tidak bisa membiarkan aku meski hanya sekejap mata. Siapa lagi, kalau bukan Mas Arlan, seorang mantan duda yang kini telah menjadi suamiku.


Ya, kini kami telah duduk berdampingan bersama Celvin yang posisinya berseberangan. Sejak pertemuan awal tadi, Mas Arlan sudah berlaku manis kepadaku. Tangannya selalu menggenggam tanganku sepanjang langkah dalam mencari meja dan ruang yang tepat. Beruntungnya restoran ini masih menyediakan beberapa bilik ruang makan yang semi tertutup.


"Emm... ma-maaf sebelumnya sudah merepotkan Om Arlan," ujar Celvin mencoba membuka perbincangan.


"Tidak masalah," jawab Mas Arlan singkat sembari merangkulkan tangannya di pinggangku.


Sontak saja, aku menelan saliva lantaran malu. Terlebih dihadapan atasanku. Apa maksud Mas Arlan yang sebenarnya? Mungkinkah ia masih menyimpan dendam kepada Celvin karena aku sempat menyukainya? Jika memang benar, rasanya kekanakan sekali. Tapi, meski begitu, entah mengapa aku malah ingin tertawa. Tampaknya yang namanya cemburu tidak memandang usia ataupun situasi. Walaupun Celvin sudah jelas-jelas sudah milik sang keponakan.


Hening. Mungkin karena jawaban Mas Arlan yang singkat, padat dan jelas itu, membuat Celvin kesulitan untuk membuka perbincangan lebih lanjut. Yah, jika aku diposisinya, aku pasti merasakan hal yang sama. Kemudian, memilih diam sebelum sang lawan bicara mulai berkata.


Namun, semakin lama, situasi canggung seperti ini terasa mengesalkan sekali. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk memberikan isyarat kepada suamiku. Pertama, aku mencubit punggung tangannya. Ia hanya melirik sekilas dan diam kembali. "Mas, timbal balik dong...," bisikku kemudian.


Mas Arlan mengeryitkan dahi. "Maksudnya, timbal balik apa, Dek...?" tanyanya lirih.


"Bahas yang bener, soal kalian dateng kesini...."


"Hmm... padahal Mas curi kesempatan aja biar ketemu kamu....".


"Tadi diajak sendiri nggak mau...?"


"Hehe... iya juga sih."


Setelah aktivitas berbisik itu, Mas Arlan menghela napas dan menghembuskannya kembali. Ia menarik tangannya dari pinggangku yang penuh lipatan lemak itu. Ia memposisikan dirinya sebaik mungkin sembari memberikan tatapan kepada Celvin.


"Jadi? Apa yang ingin anda katakan, Celvin Sanjaya?" tanyanya kemudian.


Lantas, Celvin menghentikan santapannya sejenak. Ia menunduk sebentar dan mengangkat kepalanya lagi. "Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih, Om," jawabnya.


"Tidak perlu. Saya melakukan semua itu demi keponakanku. Dan... kamu? Mengapa kamu bertindak bodoh seperti itu? Sekarang akibatnya sangat besar Saudara Celvin."


"Sa-saya tahu, Om. Sa-saya hanyut dalam pertemuan kami setelah sekian lama. Tapi, sampai sekarang, saya masih ingin bertanggung jawab dan memperjuangkan Riska."


"Anda tahu, Saudara Celvin? Nama anda sudah lama tercemar karna kasus bullying itu sudah sampai ke telinga kami. Belum lagi nama Sanjaya juga sudah tercemar di keluarga kami, kamu tidak akan bisa meraih Riska lagi."


Celvin langsung terdiam. Tidak heran jika ia merasa tersinggung, meski itu memang benar ulahnya sendiri. Namun, saat ini Celvin sedang berjuang untuk berubah. Aku rasa, ia tengah kesal lantaran kasus masa lalunya kembali diungkit-ungkit. Sedangkan diriku lebih memilih diam, bukan karena melakukan pembelaan terhadap suamiku. Namun, lebih tidak mencampuri masalah ini terlebih dahulu.


Aku hanya berharap, Mas Arlan tetap bersikap tenang. Walau, aku tahu ia kecewa atas sikap Celvin yang merenggut kehormatan Riska. Menurutku, bukan salah Celvin sepenuhnya, karena mereka sama-sama suka dan bersedia. Jika itu tindak pelecehan, mungkin Celvin bisa dijerat dengan hukuman. Seandainya keluarga Harsono menuntutnya, itu akan tetap sia-sia. Karena Riska pasti tidak akan membiarkan kekasihnya masuk ke dalam jeruji besi.


"Sudahlah, tidak perlu berdiam diri. Lakukan yang perlu anda lakukan yaitu bertanggung jawab atas diri Riska. Tapi kami, saya dan Fanni tidak bersedia ikut campur. Saya masih mengizinkan keterlibatan istri saya dalam konteks bisnis dan pekerjaan saja," jelas Mas Arlan.


"Saya sudah sangat menyesal atas peristiwa beberapa tahun yang lalu. Demi Tuhan, saya tidak berniat melakukan pembunuhan. Semua diluar perkiraan saya, Om. Tapi, saya tetap menyadari atas kesalahan saya. Uang pun tidak akan cukup untuk membayar semuanya," jawab Celvin.


"Ya ya, saya tahu. Sejujurnya, pertama kali saya melihat kamu bersama Riska, saya sangat benci dan dendam. Sampai-sampai melaporkan kerjasama kalian dengan pihak keluarga. Dan kini hal itu juga menjadi suatu kesalahan."


"Saya paham, Om. Saya minta maaf."


"Celvin Sanjaya? Kalau saja, bukan karna Fanni yang membujuk saya untuk melepas rasa benci itu, sampai sekarang rasa benci itu masih ada. Tapi, selama ini Fanni selalu anda perlakukan sebaik mungkin. Saya rasa, anda sudah cukup berusaha untuk berubah. Saya berterima kasih, karna sudah memberikan kesempatan kepada Fanni untuk berkarir."


"Yah, saya akui, Nona Fanni selalu memberikan dampak positif tersendiri untuk orang lain. Saya yang pantas untuk berterima kasih."


Astaga! Mimpi apa aku semalam? Dalam waktu singkat nama Fanni alias namaku sedang diberikan pujian oleh dua pria yang sama hebatnya. Kalau dari Mas Arlan, mungkin aku tidak heran. Namun, kalau dari Celvin rasanya lebih mengejutkan. Orang biasa mana yang hatinya tidak senang, jika sedang dipuji oleh atasan? Pasti semua akan berbunga-bunga, bukan? Bahkan diriku sampai tersenyum-senyum tidak menentu.


Namun berbeda denganku, Mas Arlan malah terdiam dengan tatapan tajam yang diarahkan kepadaku. Sontak saja, aku memalingkan wajah dan menghentikan senyuman maluku. Diam-diam, ia mencubit lipatan lemak di pinggangku sembari berbisik, "awas! Jangan tergoda...."


"I-iya, Mas. Enggak kok...," jawabku sama pelannya.


Entahlah, apa yang ada di pikiran Mas Arlan sekarang. Saat ini, ia benar-benar mengawasi gerak-gerikku, meskipun kecil sekali. Sampai Celvin seperti ingin tertawa, namun mencoba menahannya. Rasanya malu sekali. Namun, apa mau dikata? Suamiku sedang ketat-ketatnya dalam memberikan perhatian alias pengawasan bak anak remaja yang sedang pacaran.


Hingga akhirnya, kami melanjutkan aktivitas menyantap lagi. Tidak ada yang dibicarakan maupun dibahas lagi. Mungkin, karena waktu istirahat juga semakin habis. Oleh karenanya, aku dan Celvin harus segera bergegas.


****


Lambat laun, waktu telah berganti menit. Kini tinggal 15 menit lagi sebelum jam makan siang habis. Sebentar lagi aku harus berpisah dengan Mas Arlan, meninggalkan dirinya untuk sementara waktu lagi. Meski terdengar berlebihan, namun aku benar-benar rindu bila satu hati tidak bertemu. Namanya juga pengantin baru.


"Om, saya ingin membahas sesuatu sebelum kami kembali," ujar Celvin.


Mas Arlan tampak mengernyitkan dahinya. "Soal apa lagi?" tanyanya.

__ADS_1


Tiba-tiba, Celvin mengeluarkan sebuah map yang sebenarnya ia bawa sejak tadi. Namun, aku tidak mengetahu apa isi didalamnya. Bahkan tidak memikirkannya, jika akan diserahkan kepada suamiku. Dan kini, sama halnya denganku, Mas Arlan tampak keheranan. Ia hanya menatap barang tersebut tanpa membukanya sekalipun. "Apa ini?" tanyanya kemudian.


Celvin menghela dan menghebuskan napasnya terlebih dahulu. "Tolong dibaca terlebih dahulu."


Mas Arlan menatap diriku terlebih dahulu. Lantas, kuanggukkan kepalaku dengan maksud agar ia bersedia membacanya. Tak lama kemudian, Mas Arlan meraih map tersebut dan membukanya. Ia tampak serius membaca isi didalamnya yang sama sekali tidak aku ketahui.


Beberapa menit kemudian, Mas Arlan menutupnya kembali. Ia menatap Celvin dalam-dalam. Aku rasa, hal yang tercantum didalam lembar berkas tersebut adalah suatu hal yang sangat penting. Tanpa persetujuan mereka, aku menarik benda tersebut. Aku membuka perlahan dan mulai membacanya.


Tidak kusangka, ternyata isinya adalah suatu kontrak kerja. Dan jabatan yang ditawarkan oleh Celvin kepada Mas Arlan bukan main-main. Bukan karyawan bawah, bukan manager melainkan salah satu petinggi yang ditunjuk untuk menangani serta memimpin salah satu anak perusahaannya. Bisa disebut sebagai direktur.


"Apa maksud anda?" tanya Mas Arlan.


"Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya menawarkan pekerjaan yang tepat sesuai kinerja dan pendidikan Om Arlan saja," jawab Celvin.


"Kenapa harus menunjuk saya? Saya bagian dari pesaing perusahaan anda. Tidakkah anda takut, jika saya menghancurkan perusahaan anda dari dalam?"


"Tidak, Om. Saya yakin Om Arlan bisa bekerja dengan profesional. Lagipula, waktu itu, Om bilang akan bergabung dengan kami, bukan?"


"Ya, memang benar. Tapi, itu hanya gertakan saja. Saya tidak setega itu untuk mengkhianati keluarga saya sendiri."


"Ya, saya paham, Om. Tapi, mohon dipertimbangkan. Bukan maksud saya untuk masuk dan mencari kesempatan. Hanya saja, kita bisa saling menguntungkan. Lagipula mencari pekerjaan untuk orang yang sudah berusia 35 tahun keatas akan sangat sulit."


Mas Arlan terdiam bimbang. Aku rasa, didalam hatinya sedang berkecamuk tidak menentu. Satu sisi, itu adalah tawaran yang menggiurkan dan bukan main-main. Disisi lain, ia harus benar-benar mengkhianati keluarganya. Apalagi, benar yang dikatakan oleh Celvin, usia Mas Arlan tidak muda lagi untuk mencari pekerjaan. Meski, kinerja dan pendidikannya memang tinggi. Karena perusahaan jaman sekarang lebih mencari yang fresh graduate.


Mas Arlan berkali-kali menatapku dengan bingung. Aku sendiri belum bisa menganjurkan saran yang tepat. "Mungkin dipikir-pikir dulu, Mas," ujarku.


"Kamu pasti tahu apa yang Mas pikirin, Dek," jawabnya.


"Ya, aku sangat tahu."


"Baiklah, saya akan membawa berkas ini dulu. Sebelum dipikirkan lagi, Saudara Celvin."


Celvin tersenyum. "Silahkan, Om. Proyek baru juga masih lama pengembangannya. Karena kendala penyusutan peforma perusahaan, jadi harus dikesampingkan dulu."


"Apa ayah anda tahu?"


"Ya, itu memang benar."


"Baiklah, mari kita kembali, Nona Fanni. Jam sudah habis."


"Tidak! Saya yang akan mengantarkan istri saya sendiri. Boleh kan?"


"Tentu saja, Om."


Mengantarkanku? Aneh.


Celvin membayar semua hidangan yang dipesan. Meski sebenarnya, aku dan Mas Arlan menolak dan ingin membayar lebih dulu. Namun, pada akhirnya Celvin yang bergerak lebih cepat. Dalam hatiku, aku bersyukur karena makan gratis. Berbeda dengan Mas Arlan yang tampak kesal dan tentunya malu.


Kemudian, karena tidak ingin banyak bertanya lagi, aku hanya mengikuti langkah Mas Arlan yang terus menggandeng tanganku. Seolah tidak mau jika aku menghilang begitu saja. Ya! Tingkah Mas Arlan hari ini sangat aneh sekali. Tepatnya dihadapan atasanku. Suatu kecemburuan yang menurutku tidak wajar. Namun, terasa menggelikan.


Tak lama kemudian, sampailah kami di area parkir. Celvin masuk ke dalam mobilnya bersama Pak Sopir, sedangkan aku bersama Mas Arlan. Seperti biasa, aku duduk didepan dan juga disampingnya. Perlahan namun pasti, Mas Arlan mulai melaju mobilnya meninggalkan restoran ini.


"Apaan sih kamu, Mas?" tanyaku.


"Apanya, Sayang?" tanyanya kembali.


"Harus repot-repot anter aku balik? Kan tadi berangkatnya udah sama Celvin?"


"Emang nggak boleh kalau Mas mau antar?"


"Ya boleh aja, sih. Tapi, kamu cemburu ya?"


"Enggak! Cemburu apa kali?"


"Halah, iyain aja."


"Dibilangin enggak. Mas cuma nggak mau kamu berduaan sama dia aja. Kamu kan istri Mas."


"Bohong. Kamu kan kalah ganteng sama dia. Lagian aku bertiga kok sama Pak Sopir."

__ADS_1


"Tetep aja, duduknya di belakang berduaan."


"Cie cemburu hehehe."


"Enggak! Dibilangin kok."


Aku hanya tertawa pada saat melihat wajah Mas Arlan yang memerah karena malu-malu. Sejujurnya, aku merasa senang karena ia merasa cemburu secara langsung seperti ini. Meski, ia cemburu pada orang yang kurang tepat. Apalagi Celvin sangat mencintai keponakannya.


Sedangkan sepanjang perjalanan, ia terus menyanggah rasa itu. Bersama deru mobil yang mengiringi canda tawaku dalam menggodanya. Sampai ia jengah dan menghentikan mobil seketika. "Kok berhenti sih?" tanyaku kemudian.


"Iya, Mas cemburu!" tegasnya.


"Hahaha... kamu cemburunya nggak pada tempatnya, Mas. Celvin kan pacarnya keponakan kamu, gimana sih? Jalan lagi dong, mepet nih waktunya."


"Emangnya kalau emak-emak suka sama artis harus liat siapa pacarnya sang artis? Apalagi kamu kan sempet suka sama dia."


"Enggak, Sayang. Dulu itu kagum doang, aku kan sukanya sama kamu. Aku gendut banget, Celvin nggak mungkin suka sama aku."


"Mungkin ajalah, Dek. Tadi dia muji kamu tuh. Mas aja bisa suka kamu kok, apalagi cuma Celvin."


"Cuma Celvin? Maksudnya?"


"Secara Mas kan yang lebih ganteng dari dia. Jadi, bisa aja dia suka sama kamu."


"Hahaha... PD banget."


"Fakta, Sayang."


"Iya iya percaya deh. Jalan lagi gih, Sayangku."


Cup! Kecupan manis diberikan diatas keningku. Kemudian, Mas Arlan kembali melaju mobilnya yang tinggal setengah perjalanan. Sedangkan aku masih terus menatapnya sembari tersenyum-senyum. Suamiku ini memang luar biasa manis dan tentunya unik karena sikap usilnya. Aku mencintainya.


Tak lama kemudian, mobil ini sampai di gedung kantor tempat kerjaku. Aku mengecup punggung tangan suamiku, dan ia membalasnya di keningku. "Hati-hati ya, Sayang. Inget jangan genit," ujarnya.


"Iya, Sayang. Siap selalu," jawabku.


"Sebisa mungkin jangan deket-deket."


"Ih, kok posesif sih?"


"Ya kan, Mas nggak bisa jagain kamu."


"Iya iya, siap."


"Bener ya?"


"Iya."


"Harus pokoknya."


"Iyaaaa... bawelnya kayak aku ya?"


"Kamu yang ngajarin, Dek."


"Hehe... iya sih."


"Yaudah Mas pergi dulu. Kasihan, Selli udah pulang kayaknya."


"Iya, hati-hati, Mas."


Mas Arlan tersenyum. Sedangkan aku beranjak turun. Setelah itu, ia melaju mobilnya meninggalkanku. Selepas hilang dari pandangan mata, aku masuk ke dalam gedung kantor. Bersiap dengan pertempuran menghadapo kertas-kertas yang membosankan lagi. Dengan harapan, semoga hasil jerih payahku menjadi berkah.


Disisi lain, aku berharap Mas Arlan bisa mempertimbangkan tawaran Celvin dengan tepat.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen.


Selamat hari jum'at buat semuanya....

__ADS_1


__ADS_2